LOGINHana Angelista, seorang wanita miskin yang terpaksa harus menanggung seluruh utang ayahnya. Hidupnya sudah berada di ujung tanduk dan memutuskan untuk bunuh diri. Namun, seorang kreditor datang menangkap dan mengajaknya melakukan pernikahan kontrak selama 6 bulan. Dengan begitu, ½ dari utangnya akan dihapuskan. Sayang pernikahan hanya alasan, nyatanya Hana jadi tahanan seorang kreditor pemarah yang kejam. Hana harus segera melunasi sisa utang dalam waktu 6 bulan atau dirinya dipaksa kerja di rumah bordil. Hingga suatu saat Evan datang menawarakan uang dan pekerjaan kepada Hana untuk membantunya keluar dari kekacauan. Akankah Hana berhasil melunasi utangnya? Mungkinkah Evan menjadi orang yang akhirnya membawa Hana keluar dari kekacauan? Bagaimana reaksi Jeremy saat tahu Evan ingin menolong Hana?
View MoreNangunot ang noo ko nang masulyapan ang matandang lalaki na may bilugang katawan na papalapit sa amin ni Daddy. Nakasuot ito ng magarang suit at may hawak na tungkod na sumusuporta sa paika-ika nitong paglalakad na dulot ng katandaan. Bali-balita na biyudo na ang nasabing lalaki.
"You will marry him," my father gestured his hand toward him. Is Dad really serious? Ang akala ko pa naman ay ipakikilala niya na ako bilang susunod na leader ng Dayron Organization kaya niya ako inutusang maghanda para sa party na ‘to—pero nagkamali ako. "No, I won't. Dad naman!" mariin kong sambit sa kanya. "Nakikita mo ba ang agwat ng edad naming dalawa?" inis kong dagdag. "It doesn’t matter. The most important thing is saving our business," pangangatwiran nito. My father's words stunned me, leaving me speechless. "But I am not a thing you can just use so that you can pay your debts! " I yelled at him. "How could my own dad do this to me?" "How could we pay all the debts if you don't do this?!" galit niyang bulyaw. “Ikaw lang ang makakalutas sa problema natin,” dagdag pa niya sabay buntong-hininga. "I’m leaving," galit kong sabi. I walked out in front of him because I was so angry and disappointed. "You're free to go, but keep in mind that we'll cross paths again!" While I was walking, he said it in an angry tone, and I chose to ignore him. I went to the bar where all the mobsters go to unwind and deal with tough times. This is a social club, private and exclusive to mafias. "Hindi ako papayag sa gusto niyang mangyari," sambit ko sa sarili. I ordered an espresso martini while I continued to deal with the situation. Taking a deep breath, I decided to call the mobsters in my group who might want to join me. I dialed their number. "Hello, Miss Airah?" one of the members answered. "Come to the social club and decide whether you want to join me, because I’m quitting," I said, gritting my teeth as I spoke, my frustration clear in my voice. Habang naghihintay ako sa kanila at umiinom ng alak ay may lumapit sa aking lalaki. Biglang hinawakan ang balikat ko na ikinagulat ko naman at agad ko itong nakilala dahil tauhan siya ng matanda. Nagpupumiglas ako habang kinakadlakad nila ako at pinipilit na sumama sa kanila. May mga hawak silang baril. "Sumama ka na lang kung ayaw mong may masamang mangyari sa ‘yo," pagbabanta pa ng isa. Napansin ko na nasa amin lahat ang atensiyon nilang lahat hanggang sa may nakita akong lalaking tumayo mula sa pagkakaupo nang mapansin ang sitwasyon at naglakad palapit sa direksyon namin. "Hands off her," he commanded calmly, but the men holding my hand just laughed. I gazed into his deep brown eyes and his furrowed eyebrows, which seemed to show he was losing his temper. His full, pink lips and perfectly straight nose added to his intense expression. "Ikaw ba ang amo namin para sundin ka namin?" mayabang na sambit ng isang lalaking nakahawak sa akin. He directly confronts them with a firm, authoritative tone. "Step away from her now," he says, making it clear he's in charge. "You heard me. Leave her alone, now." Steps between me and the mobsters, standing firm. His serious expression and strong stance show he means business. The crowd goes quiet, sensing that something important is happening. Tututukan na sana siya nila ng baril ngunit nakita nila kung gaano karami ang mga tauhan nito sa likod niya samantalang lima lang silang inutusan ng matanda. Agad, silang nakaramdam ng takot sa isiping iyon dahil imbes na makuha nila ako at dalhin sa matanda ay maaga silang papanaw sa mundo. Nervously looks around, realizing their out numbered. "Alright, we’re leaving since we’re in danger, but remember, we’ll find you again," one of the mobsters said before leaving. He turned to me, his tone softening. "Are you alright?" I nodded, visibly shaken but relieved. "Yes, thank you for saving me." Moments later, while we were talking, the mobsters from my group arrived and found me with the man. "What happened?" one of them asked. The stranger glanced at me and gently led me away from the scene. "Let’s get her to a quieter place," he suggested. "You’re safe now," he added. We walked outside to a quieter area. "By the way, my name is Ronald Navarra," he introduced himself, extending his hand for a handshake. "I’m Airah Jhoanne Dayron," tugon ko, habang iniabot ang kamay para sa isang mabilis na handshake bago ito bawiin. I felt a spark of attraction towards the stranger who had saved me. I believed he could help me and potentially add valuable support to my group. "Why are they forcing you to go with them?" bigla niyang tanong sa akin. "Nais kasi akong ipakasal ng aking ama sa isang matanda ngunit hindi ako pumayag at tumakas ako," sagot ko naman. "Tauhan rin iyon ng matandang ipapakasal ng aking ama," dagdag ko pa. "Dahil ba ito sa negosyo?" tanong niya. "Oo, at mababa rin ang tingin ng aking ama sa babaeng katulad ko," sagot ko habang nagmamasid naman sa paligid ang mga tauhan ko. "Don’t worry, I’ll help you," he said with a smile. "I’ll also teach you some basic self-defense and protect you for now," he added, which surprised me. Lumambot ang mga tingin ko habang tinitingnan ko siya. Hindi ko inaasahan na sasabihin niya iyon, ngunit napagtanto ko na talagang kailangan ko ang tulong niya.Tidak terasa satu jam telah berlalu, Hana telah terbangun dari tidurnya yang tidak sengaja dan langsung duduk tegap. Di sampingnya ada anak lelaki tampan yang entah sejak kapan terus menatap handphone barunya. Layar mati, hanya tampak pantulan diri.Hana tidak bisa menahan rasa yang menggelitik di hati, kemudian tertawa terbahak saat melihat wajah lucu Alan yang kebingungan. Padahal Hana sudah beritahu tombol apa saja yang ditekan agar panggilan terhubung dengannya. Namun, sepertinya dia masih agak kaget dengan benda baru canggih itu.Sungguh menggemaskan. Tidak seperti anak lainnya yang antusias dengan handphone, dia justru sangat hati-hati.“Kenapa? Apa ada yang bikin kamu bingung?” tanya Hana sembari menyisir surai sang adik lembut.“Apa aku benar-benar butuh ini, Kak?”Pertanyaan itu sungguh tidak terduga. Namun, Hana tetap tenang dan angguk kepala tanda mengiyakan pertanyaan Alan.Setelah berulang kali memikirkannya, Hana sadar bahwa di rumah ini mereka bukanlah siapa-siapa selai
“BERANI SEKALI KAMU MENINGGALKAN ANAK ITU SENDIRIAN DI RUMAH SAMPAI MALAM!!”Melihat Jeremy marah hebat membuat Hana benar-benar tidak bisa berkata apa pun lagi. Ia tahu dirinya salah, tetapi tidak biasanya Jeremy peduli tentang dirinya dan Alan. Tidak berhenti di sana, Jeremy bahkan membawa nama Evan yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.Jeremy segara mendekat ke Hana dan mengangkat sebelah tangan tinggi. Tahu akan ditampar, wanita itu tetap memandang lurus pria yang marah di depannya tanpa rasa takut.Senyum cemooh tersungging di bibir Jeremy, tanda penghinaan secara dingin. Kaget sekaligus tidak percaya, seharusnya sejak awal dia tidak bersikap lunak kepada wanita tersebut. Sekarang Hana mirip pemberontak yang siap melayangkan bendera merah kepadanya.“Kamu mengabaikan anak itu seharian. Bukannya sulit bekerja di restoran sampai malam?”“Urus saja urusanmu sendiri.” Hana tahu arah pembicaraan ini.“Kalau saja kamu mau bekerja dengan tubuhmu. Kamu bisa dapat uang yang kamu p
Lelah. Ada banyak hal yang harus Jeremy urus hari ini dan tidak semuanya selesai. Persetan dengan mereka yang sudah pinjam uang, tetapi hilang saat ditagih. Beribu alasan dibuat untuk menghindar, padahal Jeremy hanya melakukan apa yang sudah mereka janjikan sebelumnya. Mobil mewah yang dinaiki Jeremy berhenti tepat di depan anak tangga menuju pintu utama. Seorang datang dan membukakan pintu, kemudian Jeremy turun dan masuk ke dalam rumah miliknya. Pintu lebar yang sedari awal sudah terbuka menampilkan pemandangan anak kecil bernetra biru indah. Pandangannya yang berbinar menatap lurus Jeremy yang baru datang. “Apa lihat-lihat?!” tanya Jeremy galak. Anak lelaki yang baru tinggal beberapa minggu di sana nyaris menangis ketakutan. “Kakak—” Alan merengek memanggil-manggil kakaknya. Namun, dia hanya sendirian di situ. Entah di mana orang-orang yang bertugas menjaga anak kecil tersebut. Jeremy menurunkan egonya saat melihat Alan hampir menangis. Ia menepuk jidat, tidak habis pikir kare
Evan tidak bilang kalau restorannya juga disertai bar! Tapi tidak apalah, beruntung sejauh ini semua sesuai dengan apa yang dijelaskan bos. Hana hanya perlu menerima dan mengantar pesanan, serta membersihkan meja seusai digunakan pelanggan. Meskipun begitu, dia masih merasakan keanehan bekerja di rooftop bar dan restoran ini. Suasana di restoran ini terasa sangat santai dengan pemandangan luar biasa cakrawala kota. Saking santainya, Hana bisa dengar berbagai kata buruk yang dilontarkan para pelanggan. Yah, sebenarnya itu bukan hal yang mengejutkan lagi. Hal terburuk adalah Hana melihat banyak pasangan yang saling berpagut bibir ketika suasana restoran mulai sepi pelanggan. Hana mungkin bisa bersabar dengan hal itu, tetapi kesabarannya hilang saat perlahan tangan pria mulai menjamah tubuh si wanita. Saat di mana Hana ingin menghentikan aksi tak senonoh di tempat umum itu, pegawai restoran lain malah menghentikannya. Mereka memperingati Hana untuk tidak ikut campur kalau tidak mau dip
Semua ini masalah ayah Hana. Jika orang itu bisa ditemukan, maka Hana tidak perlu menanggung semua utang seperti sekarang. Namun, sebuah pertanyaan baru timbul jika orang itu berhasil ditemukan. Apakah ayah Hana bisa melunasi seluruh utangnya? Firasat Hana mengatakan bahwa pada akhirnya dialah yan
“Oke. Pilihannya adalah pelayan kafe dengan gaji sedikit atau … gaji besar dengan tinggal di rumah bordil dan hidup menghibur om-om pakai tubuhmu. Kamu … serius mau gaji yang besar?” Hana langsung melotot lebar dan menutup telinga Alan rapat-rapat. Pilihan pertama masuk akal, tetapi pilihan keduany
Sejak hari itu, Hana menjadi canggung tiap kali bertemu dengan Evan. Jangankan bertukar pandang, menatap wajah dari kejauhan saja sulit dilakukan oleh Hana. Padahal tidak ada hal besar yang Evan lakukan, namun seluruh kalimat yang pria itu lontarkan di taman terus terulang di benak Hana. “Apa … kam
Mereka bilang Hana sangat beruntung dan iri akan hal itu. Menikah dengan CEO sekaligus pewaris perusahaan besar menjadikan Hana sebagai wanita terberuntung yang mereka kenal, terlebih di mata mereka Jeremy adalah pria paling sempurna. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu kalau Jeremy bahkan tid






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.