LOGINYarra Humairah Az Zahra adalah gadis cantik berusia dua puluh satu tahun. Dia baru menyelesaikan kuliahnya di sebuah Universitas Ternama. Siapa sangka belum genap dua bulan dia bekerja di sebuah perusahaan impiannya, ia harus terjerat cinta satu malam dengan pria asing yakni Abian Shaheer El Barra yang ternyata adalah CEO pemilik CV Abian Farma Jaya tempat dirinya baru bergelut dalam dunia bisnis dan pekerjaan. Peristiwa satu malam itu terjadi saat Humairah sedang mengikuti party perusahaan Farma Jaya yang ke sembilan tahun di sebuah gedung hotel yang telah di sulap menjadi tempat acara digelar. Tanpa sengaja baik Humairah maupun Abian menyesap minuman mengandung pil biru dosis tinggi yang diam-diam ditaruh oleh seseorang pada minuman mereka sehingga menyebabkan hubungan terlarang itu terjadi. Akankah, sang CEO mempertanggung jawabkan perbuatannya terhadap Humairah? sedangkan dia sendiri akan segera menikah dengan tunangannya dalam kurun waktu yang telah ditentukan? Atau Humairah akan menelan kekecewaan saat nama baiknya tercoreng di masyarakat luas karena telah ternoda oleh peristiwa kelam yang tak pernah ia inginkan. Lebih menyesakkan dada lagi, Humairah pun telah memiliki calon suami setara ustadz tampan yang akan mengkhitbahnya setelah peristiwa kelam itu terjadi. Siapakah yang akan menjadi pilihan hati Humairah? Abian sang CEO arogan yang telah menjadi teman satu malamnya? atau ustadz tampan, pria yang kerap kali ia sebut dalam do'anya? atau Humairah akan menghilang bak ditelan bumi? Mari simak selengkapnya di novel perdana Mommy QieS, Noda Di Balik Hijab Humairah, terimakasih.
View MoreTok Tok Tok
Suara ketukan pintu yang cukup keras, telah menyita perhatian Esmeralda yang sedang memasak di dapur, untuk makan malam suaminya.Wanita yang memiliki rambut panjang dan sedikit ikal itu bergegas mematikan kompor. Ia setengah berlari menuju ke pintu depan sambil menguncir rambutnya.Saat Esmeralda membuka pintu, ia sedikit terkejut saat melihat wanita bertubuh gemuk yang sudah sangat familiar baginya."Bu Hilda? Hehe, ada apa ya Bu bertamu malam-malam?" tanya wanita itu hendak memastikan. Ia tampak tersenyum kaku."Esme, kamu nggak lupa kan? Hari ini sudah jatuh tempo untuk bayar kontrakan," sahutnya dengan nada yang tegas."Maaf ya, Bu! Suami saya belum pulang. Nanti kalau sudah pulang, uangnya saya antar ke rumah ya, Bu?" ucap Esmeralda berusaha untuk negosiasi pada si empu pemilik kontrakan, tempat tinggalnya selama beberapa tahun ini.Wanita itu tidak langsung menyahuti. Ia tampak berpikir dengan serius."Masa ibu nggak percaya sama saya? Saya sudah lama lho tinggal di kontrakan ibu, dan nggak pernah nunggak bayar," ucapnya lagi mencoba meyakinkan wanita yang masih berdiri di hadapannya."Baiklah, saya tunggu kamu ke rumah," sahut wanita itu sebelum ia beranjak dari hadapan Esmeralda yang terlihat menghela nafas lega.Ia memperhatikan sebentar langkah Bu Hilda yang semakin menjauh dari pandangannya. Ia pun kembali menutup pintu dengan raut wajah yang tampak lesu.Esmeralda telah kehilangan semangatnya untuk menyiapkan makan malam. Ia duduk di sofa berwarna cream yang berada di ruang tamu dengan pikiran yang gelisah.Sesekali ia menatap jam yang tergantung di dinding. Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam kurang lima belas menit."Mas Franky ke mana sih? Tumben banget jam segini belum pulang." Esmeralda mendengus merasa kesal.Baru saja ia hendak beranjak dari sofa, terdengar suara ketukan pintu yang nyaring.Esmeralda cepat-cepat membuka pintu rumahnya. Dan benar saja dugaannya. Suaminya telah berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang tampak kusut."Mas Franky? Kok baru pulang? Gajinya masih belum turun ya, mas? Bu Hilda barusan datang menagih uang kontrakan," ucap Esme dengan panjang dan lebar.Lelaki bertubuh gemuk itu seolah seperti tidak menggubris keluhan istrinya. Ia berjalan masuk melewati Esme yang tampak terbengong.Lelaki itu duduk di sofa dengan wajah yang terlihat frustasi. Kepalanya ia sandarkan pada sofa sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.Esme duduk di sebelah lelaki itu, menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Ia bisa melihat bahwa situasinya tidak baik-baik saja."Ada apa, mas? apa ada masalah di kantor?" tanya wanita itu dengan penasaran. Pandangan matanya masih belum beralih dari wajah suaminya."Aku kena PHK, dek." Ucapan singkat itu telah membuat raut wajah Esme berubah. Kedua matanya tampak membelalak dengan lebar."Kok bisa, mas?""Perusahaan mengalami kebangkrutan dan mem-PHK karyawannya besar-besaran," sahutnya dengan lirih."Jadi, bagaimana dengan nasib kita, mas?"Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia tampak menarik nafas panjang, dan menghembuskan secara perlahan.Franky menatap wajah wanita yang masih duduk di sampingnya. Wanita yang telah ia nikahi selama lima tahun lebih."Kita pulang ke kampung mas, ya?" tanya lelaki itu meminta persetujuan dari istrinya yang terlihat mematung selama beberapa saat."Kenapa mas tidak mencoba mencari pekerjaan lain? Aku juga akan mencari pekerjaan untuk membantu perekonomian keluarga kita, mas. Atau aku bisa meminta temanku untuk kembali memasukkan aku ke perusahaan lama tempat aku kerja dulu," ucap Esme dengan antusias.Franky menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kamu lupa ya? Alasan mas dulu meminta kamu berhenti bekerja?" Lelaki itu menatap wajah Esme dengan tatapan mata yang dalam.Esme mendadak bungkam. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam."Mas nggak mau kamu kecapean. Kita sudah sepakat kan? Kamu juga mau memiliki momongan kan?"Esme menganggukkan kepalanya dengan lemah. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskan lagi secara kasar."Tapi situasinya berbeda, mas. Hanya sementara saja sampai mas mendapatkan pekerjaan pengganti," ucap wanita itu masih berharap mendapatkan persetujuan dari suaminya.Franky kembali menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak. Lebih baik kita pulang ke kampung mas saja, dek. Ibu sama bapak juga sudah mendengar kabar bahwa mas di PHK. Mereka meminta mas pulang ke kampung mengurusi usaha kelontong bapak. Kan kamu juga bisa bantu-bantu ibu di kampung. Apalagi dia sudah tua, dek."Esme terdiam. Ia tak bisa lagi berkata-kata.***Perjalanan yang ditempuh sangat jauh. Kampung Franky berada di dalam hutan yang jauh dari kota.Selama perjalanan, Esme menatap jalanan melalui jendela mobil travel yang ia naiki dengan tatapan mata yang kosong.Ini bukan kali pertama Esme datang ke kampung halaman suaminya. Tapi sudah beberapa kali saat hari raya, juga saat Ibu mertuanya sakit, ia pulang untuk membantu suaminya mengurus ibu.Di Kampung Sukameneng, jaringan internet tidak ada. Jangankan internet, sinyal untuk menelpon dan berkirim pesan lewat SMS pun tidak bisa karena tidak berada dalam jangkauan. Jadi percuma saja memiliki handphone di tempat seperti itu.Bahkan untuk pergi ke pasar, harus keluar lewat hutan.Suasana di kampung itu juga sangat sepi. Terlebih lagi setelah azan magrib. Tempat itu benar-benar seperti tempat yang tidak berpenghuni.Mobil travel yang ditumpangi oleh Franky dan Esme berhenti di Pasar Sukameneng. Untuk masuk ke Kampung Sukameneng, mereka harus naik ojek melewati hutan-hutan.Selama perjalanan, Esme tidak banyak berbicara. Ia hampir menyesal menikah dengan lelaki yang berasal dari kampung itu.Setibanya di rumah panggung yang terbuat dari papan kayu, keduanya langsung disambut oleh ibu dan bapak Franky. Mereka terlihat sangat bersemangat saat anak bungsu mereka telah kembali ke rumah."Pasti capek kan? Yuk makan dulu, ibu sudah masak banyak untuk kalian," ucap Bu Edith sambil merangkul tubuh putranya, menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah yang tampak sederhana."Seharusnya ibu nggak perlu repot-repot begitu, Esme kan bisa masak untuk bapak sama ibu," sahut Franky merasa sungkan."Nggak apa-apa. Ayo duduk sini!" Wanita itu menempatkan Franky di kursi makan yang telah terhidang cukup banyak makanan.Esme duduk di sebelah Franky dengan perasaan canggung."Kamu terlihat sangat kurus sekarang, nak!" ucap wanita itu lagi sambil menuangkan nasi ke piring Franky. "Makan yang banyak ya?""Iya, Bu." Lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Ia merasa sikap ibunya sedikit berlebihan."Bagaimana istrimu? Apakah dia sudah hamil?" Pertanyaan yang tiba-tiba diajukan oleh wanita itu membuat keduanya tercengang. Baik Franky, maupun Esme, keduanya saling menatap satu sama lain."Kalian sudah menikah lebih dari lima tahun lho! Kenapa belum bisa memberikan ibu cucu?"Esme terdiam membisu. Baru saja ia datang ke kampung itu, ia telah dibuat tidak nyaman dengan ibu mertuanya.Selera makan Esme mendadak hilang. Ia segera beranjak dari kursi makan."Kamu mau ke mana, dek?" tegur Franky saat melihat istrinya meninggalkan ruangan."Mau ambil barang yang tertinggal di depan mas," sahut Esme berbohong.Esme duduk di tangga depan rumah. Ia menopang dagu sambil melihat-lihat ke sekelilingnya yang mulai terlihat gelap.Tiba-tiba saja Esme menangkap sekelebat bayangan yang lewat kebun kosong yang berada di seberang rumah mertuanya.Pandangan Esme terpusat menatap sebuah pohon beringin paling besar yang baru pertama kali ia lihat. Seketika bulu kuduknya berdiri.***Abian hampir terjatuh ke lantai kalau saja Humairah dan Reza tidak dengan sigap menopang tubuhnya. Pria itu memang benar-benar mabuk berat. Tetapi, dia masih bisa merasakan kehadiran Humairah di sisinya. "Nona, tolong bantu saya merawat tuan Abian! Dia harus segera di bawa ke apartemennya. Kita tidak mungkin mengantarkannya ke rumah utama milik keluarga mereka. Ia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh tuan besar," ucap Reza penuh harap. "Sebenarnya aku tidak ingin berhubungan dengan pria yang telah merusak hidupku. Tetapi, karena rasa kemanusiaanku, aku akan ikut serta mengantarkannya ke apartemen." Humairah nampak berpikir keras. Namun, karena rasa simpatinya terhadap pria tersebut, ia pun terpaksa merawat Abian. "Baby, kau tahu baru bersamamu aku merasakan sebuah kemanisan. Aku muak hidup dalam gelimangan harta, tanpa ada yang mendampingi masa tuaku. Kata papa dan mama aku ini sudah berumur. Aku tidak mau dijodohkan dengan wanita ular itu," oceh Abian dalam keadaan mata terpej
Semua pengendara sampai beristighfar melihat Abian mengendarai mobilnya tanpa arah. Pria arogan itu nampak kesal karena tidak direspon oleh Humairah.Shitttt.Hampir saja Abian menabrak kucing yang baru saja melintasi jalan. Dia mengumpat habis-habisan. Pria itu benar-benar sedang dirundung nestapa."Kucing si4l4n! Berani-beraninya dia melintas di hadapan mobilku. Hampir saja aku pindah alam," oceh Abian. Pria bewokan tersebut kembali melajukan mobilnya menuju salah satu club malam. Dia lebih memilih pergi ke tempat maksiat daripada pulang ke rumah atau ke apartemennya."Arghhhh, gadis itu benar-benar telah membuatku gila! Jangan sampai dia menerima lamaran pria jenggotan itu. Apa kelebihannya dibandingkan aku. Dia tidak tahu saja siapa aku ini!" teriak Abian sembari memukul stir mobilnya berulang kali.Di tengah kegamangan, Abian menghubungi asisten pribadinya Reza Mahardika. Ia butuh teman untuk menemani kegamangannya saat ini."Ada apa, Bos?" tanya Reza yang sedang fokus menunggu
Humairah malah asyik mengguyurkan tubuhnya dengan mandi air panas. Dia sama tidak memperdulikan isi pesan Abian yang memenuhi WA-nya.Saat ini, gadis itu berusaha untuk melupakan apa yang terjadi di antara dirinya dan pimpinan perusahaan mereka tersebut. Dia tidak ingin larut dalam kesedihan, sehingga membuat kedua orang tuanya merasa khawatir."Abah, umma. Meskipun putrimu tidak lagi seperti dulu, tapi aku akan menunjukkan ketegaranku sebagai wanita yang tegar dalam menghadapi segala kerumitan hidup ini!" tekan Humairah di dalam hati.Wanita yang tak lagi gadis itu tidak menyadari jika sang umma sedang khawatir memikirkannya. Humairah fokus dengan keadaannya yang menang belum pulih betul. "Ya Allah, apa yang terjadi dengan putri sulungku? Mengapa dia mandi air hangat? Tidak biasanya ia seperti ini!" gumam umma Hanifah sembari menghidangkan makanan di atas meja."Apa aku harus menanyakan sesuatu pada nak Aluna? Dia yang paling dekat dengan putriku. Sejak party semalam sampai hari ini
Humairah meringis pilu. Dia tidak bermaksud untuk mengabaikan ustadz Ammar. Tetapi, memang ia tidak sadarkan diri karena efek obat yang diberikan dokter padanya. ''Jangan terlalu banyak pikiran! kesehatanmu belum pulih betul. Besok jika masih tidak enak badan, kamu boleh ambil libur." Abian memberikan perhatian kecil pada Humairah, tetapi gadis itu sama sekali tidak menanggapinya. "Aku turun di sini! Jangan injakkan kakimu di pemukimanku. Di sini hanya khusus kalangan yâng hidupnya minimalis. Tolong jangan tampakkan wajahmu di hadapan abah dan ummaku! Anggap kejadian semalam tidak pernah ada di antara kita," tekan Humairah. Gadis yâng masih dalam keadaan tidak baik-baik saja itu pun hendak keluar dari dalam mobil. Dia tidak ingin berlama-lama berada di sisi Abian. Namun, handle pintunya terkunci rapat, sehingga Humairah kesulitan untuk membukanya. "Katakan jika kamu membutuhkan bantuan ku, Baby!'' ucap Abian sembari memainkan remote control mobilnya. "Kamu gila, ya. Baru satu
"Apa yang terjadi!" seru Abian. Dia pun menyusul Humairah menuju ruang khusus dapur pribadinya. Pria bewokan tersebut nampak terkejut saat melihat Humairah tergeletak di dapur. Untung saja gadis tersebut belum sempat menyeduh air panas. Kalau tidak mungkin dia akan ketumpahan air tersebut, karena
Humairah histeris, dia benar-benar emosi saat CEO arogan itu menciumnya tanpa perasaan. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Abian. "Kamu yang memulai memancing amarahku. Jadi, mulai detik ini kamu adalah milikku," ucap Abian sesuka hatinya. Obsesi ingin memiliki gadis yang telah memberika
Humairah merasa kesal dengan kelakuan Abian. Rasanya ia ingin sekali menimpuk pria itu dengan wajan habis menggoreng telur. Tetapi, dia berusaha untuk tidak lepas kendali. Akhirnya, gadis itu pun memilih duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja sang CEO pemaksa tersebut. "Bagus! Coba jika
Humairah hanya bisa merintih dalam hati. Dia tidak ingin ustadz Ammar sampai mengetahui jika ia sudah ternoda. Sebisa mungkin gadis itu berusaha untuk menutupi aib yang sudah terlanjur membungkus hidupnya. "Baiklah, hati-hati di jalan, Ukhti. Sampai bertemu di malam khitbah nanti. Assalamu'alayku












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.