MasukSi Talya Cacho ay ang bata na ibinenta kay Geralt Monro, ang pinuno ng pinakamalaking Italian mafia sa Asia. Makalipas ang ilang taon, pinili ni Geralt si Talya para iregalo sa kanyang nag-iisang tagapagmana, ang kanyang nag-iisang anak na si Oliver Monro. Patuloy na pinaglilingkuran ni Talya ang kanyang malupit at malibog na pangalawang amo, si Oliver Monro, hanggang sa mahulog ang loob nito sa kanya. Ngunit may sikreto si Talya na isa talaga siyang sikretong espiya na itinalaga ni Geralt para sa kanyang anak. Dahil sa miscommunication at pagtataksil ng ilang miyembro, mananaig kaya ang tunggalian? Matatapos na ba ang palitan ng putok? Matatanggap kaya ni Oliver Monro na si Talya ang nakatanim na bala para sa pagbagsak ng mafia, paano na ang pag-ibig na nararamdaman ng dalawa?
Lihat lebih banyak"Ah..."
Rintihan itu lolos begitu saja dari bibir Li Lian, memecah kesunyian yang pengap. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—serak, basah, dan penuh damba.
Sentuhan itu tidak lagi sekadar menelusup, tapi menuntut. Telapak tangan yang lebar dan panas itu merayap naik dari pinggang, menekan lekuk tubuh Li Lian hingga ia terpaksa melengkungkan punggung, mencari lebih banyak kontak.
Jubah sutranya yang tipis terasa seperti gangguan, ia bisa merasakan tekstur kasar jemari pria itu yang bergesekan dengan kulitnya yang sensitif, menyulut api di setiap titik yang dilewatinya.
Li Lian memejamkan mata erat-erat, membiarkan kepalanya tersandar pada dada bidang yang keras dan kokoh. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi cendana dan hujan menyergap indra penciumannya, membuatnya pening oleh gairah yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun pernikahan dinginnya dengan Wu Chen.
Di sini, di bawah kukungan pria asing ini, Li Lian bukan lagi istri yang diabaikan. Ia adalah pusat semesta pria ini.
Napas pria itu memburu, terasa panas dan lembap saat bibirnya menyapu lembut tengkuk Li Lian, meninggalkan jejak panas yang merayap hingga ke tulang belakang. Setiap sentuhan terasa seperti klaim—sebuah kepemilikan yang begitu intens hingga membuat kaki Li Lian terasa lemas.
"Putri Li Lian..." bisik pria itu. Suaranya berat dan rendah, bergetar tepat di telinganya seperti petir yang menggelegar namun menenangkan.
Li Lian tersentak, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dalam keremangan bayangan, ia hanya bisa melihat siluet rahang yang kokoh dan garis bibir yang tegas.
Panggilan itu—Putri Li Lian—adalah racun sekaligus penawar.
Sudah terlalu lama gelar itu dikubur bersama harga dirinya. Ia adalah anak haram yang tak diinginkan, buah dari skandal bangsawan yang memalukan. Darahnya terlalu mulia untuk dibuang, namun keberadaannya dianggap sampah oleh keluarga Wu Chen.
Pria itu menghentikan gerakannya, namun tidak menjauh. Ia justru mengeratkan pelukannya, menekan tubuh Li Lian lebih rapat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Matanya yang tajam mengunci tatapan Li Lian, seolah sedang meminum seluruh luka yang selama ini ia sembunyikan.
Pria itu menarik dagunya, memaksa Li Lian menatap kedalaman matanya yang penuh badai. "Putri Li Lian, jangan pernah lupakan aku saat kau terbangun nanti. Fajar akan memisahkan kita, tapi aku butuh kau tetap hidup agar aku bisa menemukan jalan pulang."
“Tapi….”
“Aku percaya padamu, Putri Li Lian.”
Sentuhan panas itu tiba-tiba tersentak hilang. Cahaya fajar menusuk masuk melalui celah jendela, merobek kenyamanan mimpi itu dengan paksa.
Li Lian tersentak bangun. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun dengan cepat sementara paru-parunya terasa sempit. Ia meraba leher dan wajahnya yang masih terasa panas merona. Di sampingnya, ranjang itu tetap luas, rapi, dan sedingin es.
Wu Chen, suaminya, tidak ada di sana. Seperti biasanya, pasti menghabiskan malam di paviliun Mawar.
Wu Chen, suaminya, memang tidak pernah sekalipun tidur bersamanya karena sehari setelah pernikahan mereka, dia sudah memutuskan mengambil Mei Lan yang hanya seorang pelayan istana biasa sebagai selir. Namun, Mei Lan adalah satu-satunya perempuan yang ada di hati Wu Chen.
Dan ini adalah mimpi kesekian kali ketika pria itu muncul.
"Nyonya Muda, Anda sudah bangun?" suara datar dan dingin dari pelayan senior, Bibi Rumi, memecah keheningan. "Cepatlah bersiap. Tuan Besar sedang dalam suasana hati yang buruk karena perintah mendadak dari Kaisar."
Li Lian membiarkan para dayang membasuh tubuhnya. Mereka bekerja dengan gerakan kasar, tanpa rasa hormat yang seharusnya diberikan pada istri sah seorang Perdana Menteri. Pikiran Li Lian masih tertahan pada suara rendah pria di mimpinya. Putri Li Lian...
"Siapa tamu yang akan datang?" tanya Li Lian pelan saat rambutnya disanggul.
"Jenderal Chen Xu," jawab Bibi Rumi sambil memasangkan tusuk konde perak dengan gerakan menyentak. "Beliau dari perjalanan perang dalam keadaan terluka parah dan membutuhkan tempat istirahat serta menyembuhkan dirinya, tidak mungkin langsung kembali ke istana. Jadi…"
Li Lian mengernyit. Nama itu, Chen Xu, terasa asing namun memicu debaran aneh di dadanya.
“Aku mengerti, Bi…untuk sementara jenderal itu akan tinggal di sini”
Langkah kaki Li Lian bergema di koridor kayu aula utama. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat suaminya, Wu Chen, berdiri memunggungi pintu dengan sikap tubuh yang angkuh. Di hadapan WU Chen, serombongan prajurit kekaisaran berdiri tegap, mengelilingi sebuah kursi tandu.
"Li Lian…Kau terlambat," tegur Wu Chen tanpa menoleh, suaranya penuh penghinaan terselubung. "Sambutlah tamu kita. Pastikan kamu melayaninya dengan baik. Jangan membuatku kesulitan di hadapan Kaisar."
Li Lian menunduk, mencoba mengabaikan rasa sakit di hatinya. Namun, saat ia mengangkat wajah untuk memberikan salam formal, dunianya seolah berhenti berputar.
Seorang pria sedang mencoba berdiri dari kursinya, bersandar pada tongkat kayu hitam. Sosok itu tampak ringkih, kulitnya pucat seolah tak pernah tersentuh matahari, dan napasnya terdengar berat. Namun, saat pria itu mendongak, Li Lian merasa bumi bergeser dari porosnya.
Rahang itu. Garis bibir itu. Dan yang paling utama—aroma cendana yang samar terbawa angin saat pria itu bergerak.
"Jenderal Chen Xu..." Wu Chen memperkenalkan dengan nada malas. "Ini istriku, Li Lian."
Tatapan Chen Xujatuh tepat di mata Li Lian. Detik itu juga, udara di aula terasa mampat. Mata itu tidak lagi terpejam seperti dalam mimpi, mata itu kini terbuka, tajam, kelam, dan penuh dengan badai yang tak terucapkan.
Jantung Li Lian jatuh ke dasar perutnya. Ia mengenali tatapan itu. Itu adalah sorot mata yang sama yang menatapnya dengan penuh gairah dan kepedihan beberapa menit yang lalu di bawah pohon persik.
"Nyonya Muda Chen," suara Chen Xu terdengar parau, jauh lebih rendah dan pecah dibanding suaranya di dunia mimpi, namun getarannya tetap sama. Ia membungkuk sedikit, tubuhnya yang lemah terlihat gemetar, namun matanya tetap mengunci Li Lian.
Li Lian membeku. Pria ini... pria yang telah menyentuh bagian terdalam dari jiwanya, pria yang tahu setiap rahasia dan air matanya, kini berdiri hanya tiga langkah darinya. Nyata. Hidup.
Namun, kenyataan pahit menghantamnya karena ia adalah seorang Jenderal besar, dan dirinya adalah istri sah dari pria yang paling dibenci Chen Xu di kekaisaran ini.
"Selamat datang... Jenderal," bisik Li Lian, suaranya nyaris hilang.
"Mulai hari ini, kau yang akan mengurus semua keperluan Jenderal Chen Xu," perintah Wu Chen tanpa beban.
Lumingon sa akin ang aking anak, pero naka kunot noo ito ng marinig ang pagtawag sa pangalan niya."Mama.... ?" "Go to your room," instead na sagutin ko siya ay pina-paakyat ko na lamang sa kanyang kwarto. Sumunod naman ito na tumakbo sa hagdan."Bakit mo naman sinabi yan?" inis na tanong ko."Hahaha. sinusubukang ko lang naman tawagin niya akong papa. Gues what? Sinabi naba ni Alexa sa iyo na buntis siya?""Ee ano naman ngayon, do we have to celebrate that?" tanong ko sa kanya."Yes, kayong dalawa ni Ole ang special guest. Darating din ang ilan sa mga close friends ko sa negosyo." nakangiting sinabi ni Kuya Jayson. Naka uwi na pala siya at sa ganitong oras pa ako sinurpresa."Congratulations!" sinabi ko sa mahinanong boses."Hanggang ngayon ba ay galit ka pa din sa akin?" tanong niya at umupo sa sofa malapit sa akin."Wala namang saysay kung magagalit ako sayo. Gayong tapos na ang lahat." sagot ko sa kanya."Gaano ba talaga ka halaga sayo ang tumira sa Isla ng Siargao?""Hindi lang
"The deal is closed." sinabi ko sa dalawang negosyanteng kaharap ko."Abah.. gumagaling ka na ata sa pagnenegosyo!" sinabi ni Luciana na nagdadalang tao. Nakapangasawa siya ng isang mangingisda sa bayan ng Arayat. Limang taon matapos mamatay si Tantan. Ang akala ko noon ay silang dalawa ang magkakatuluyan, hindi pala."Kumusta naman si Candice..?" tanong ko kay Alice."Ayon, ayaw humiwalay sa afam niya. Parang pugita na parating nakapulupot.." nagtawanan kaming tatlo dahil sa pagbibiro ni Candice."Ehh ikaw Talya.. kumusta na kayong dalawa ng anak mo? Malaki na rin si Olifiano. Ayaw mo bang hanapan ng Tatay yan..?" tanong ni Luciana."Hindi na... Masaya na ako na kaming dalawa lang..""Eeh maghahanap pa rin ng tatay iyan.." bulong ni Luciana sa akin. Malapit lang kasi sa kinauupuan namin an
Ang lalaking ito ay masyadong mapangahas, magaspang, at mapuwersa. Siya ay 23 taong gulang at masyadong mapusok.Napahawak ako sa likod ng lalaki, senyales na nakikiusap ako na tigilan ang kasalukuyang ginagawa."Hmpp!!" unggol ko.Isang pagbulusok ang sumunod na pangyayari, na maramdaman ang hapdi na tumutusok sa aking private part. Mabilis ang pangyayari na hindi ko inaasahan. Ngunit nang mag-laon ay ginagawa na niya ito sa slow-motion na parang pagpa-plantsa lang ng damit."I want you more..." sinabi niya na itinigil ang kanyang paghalik at seryosong nakatingin sa aking mukha na naka-kunot noo.Nagpatuloy ang paglabas pasok ng dalawang daliri niya, hanggang sa ito ay parang nagugustuhan ko na rin, dahilan na nakita ng lalaki kung paano ako mag-moan.Ang naiinis na itsura ay napalitan ng pagmamakaawa. Kagat labi akong nakatingin sa lalaki na kasalukuyang gi
Hinawakan ko ang kanyang baba, itinaas ko ang aking mukha para mabasa ko ang bawat nuance ng kanyang ekspresyon."For the third time, why are you here?" tanong ko sa kanya.Ngunit ang kanyang kamay ay nagtagal, hinimas ang isang hibla ng aking buhok sa likod ng aking tainga. Nakatingin siya sa akin na para bang may kailangang sasabihin."You know why." Bumuntong hininga siya at ibinaling ang pisngi sa palad ko. Hawak niya ang aking kamay na parang aso na nagpapa-amo."Nakapag-desisyon na ako. Tungkol sa sinabi mo noon. Hayaan mo sanang pag aaralan ko ang kaso mo.""Malaking kaso ang maari mong hahawakan, maraming kilalang personalidad ang madadamay, politiko at ibang mga opisyales na nagtatrabaho sa gobyerno. Kaya mo bang maparusahan sila?" tanong ko sa kanya."Gagawin ko.." sagot nito.
Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ulasan-ulasan