ログインApakah panas, teman? Maaf ya. Semoga suka. Jangan lupa Like dan komentar yaa. hehehe.
Ruangan menjadi hening. Semua mata melihat pada Sean. Mereka sedikit takut pada pria yang sedang terluka dan kalah dengan Aisyah. Dia menjadi penurut.“Aku harus ke perusahaan.” David segera keluar.“Papa juga. Sean, kamu istirahat yang cukup. Semoga cepat pulih.” Jordan tersenyum pada Sean dan menyusul David.“Kak Sean, bagaimana kondisi kamu?” tanya Maria mendekati Sean.“Menjauh dariku!” Sean menatap tajam pada Sean.“Maria.” Leana menarik tangan Maria agar menjauh dari Sean. Dia tidak mau membuat suami Aisyah marah dan menghancurkan mereka semua.“Leon, ikuti Aisyah dan kamu harus selalu berada di dekatnya. Lindungi dan jaga dia dengan nyawa kamu!” perintah Sean pada Leon.“Baiklah.” Leon melihat pada Elio yang duduk di sofa.“Aku keluar dulu.” Leon keluar dari ruangan. Pria itu segera menyusul Aisyah dan Noah. Dia masuk dalam tim kerja istri Sean.“Elio, apa yang kamu dapatkan?” tanya Sean.“Seorang memang masuk ke ruangan ini. Dia mengenakan pakaian dokter dan menutup wajah deng
Pria itu menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur Aisyah. Dia menatap wajah lelah yang tenang dalam tidur.“Aisyah, aku menginginkan kamu,” ucap pria dengan wajah ditutupi masker.“Aisyah.” Pintu kamar diketuk.“Apa?” Pria itu keluar dari jendela dan bersembunyi di balik dinding.“Sean,” sapa Noah mendekati Sean yang berdiri di depan pintu.“Apa kamu meninggalkan Aisyah di kamar sendirian?” tanya Sean.“Aku mengambil sarapan untuknya. Dia sangat lelah.” Noah membuka pintu dan Sean segera masuk. Pria itu hampir membuat sang kakak ipar terjatuh.“Aisyah. Kamu selalu begini. Itu juga yang menjadi alasanku melarang kamu menjadi dokter.” Sean mencium dahi Aisyah.“Hm.” Aisyah membuka mata dan melihat wajah tampan Sean.“Bagaimana luka kamu?” tanya Aisyah tersenyum.“Aku tidak apa-apa, tetapi sangat tersiksa karena menahan rindu.” Sean duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.“Kursi siapa ini? Apa ada yang berkunjung?” Sean benar-benar sangat waspada.“Siapa yang berani berku
Dalam kekacauan di rumah sakit, sangat mudah bagi orang asing atau penjahat untuk masuk. Mereka menyamar menjadi relawan, tim penyelamat, dokter hingga perawat. Apalagi, para penjahat adalah orang-orang yang terlatih sehingga dengan mudah menyusup dan berkamuflase di lingkungan apa pun.Aisyah berada di dalam ruang operasi. Dia sangat fokus menolong para pasien. Tangan cekatan tidak melepaskan pisau medis. Wanita itu bersama sang kakak tidak keluar dari ruangan paling menegangkan.“Di mana dokter Aisyah?” tanya seorang pria dengan pakaian dokter. Wajahnya ditutupi masker.“Dokter Aisyah berada di dalam ruangan operasi,” jawab seorang perawat.“Kapan dia akan keluar?” tanya pria itu lagi.“Tidak tahu karena banyak pasien yang harus segera ditangani. Mereka mengalami luka bakar dan juga sobekan,” jelas perawat.“Di mana ruangannya?” Pria itu terlihat tidak sabar ingin bertemu dengan Aisyah.“Di ujung saja.” Perawat menunjukkan tangannya.“Ikut aku!” perintah pria itu pada perawat.“Baik,
Tim dokter terbaik telah menunggu Sean. Pria itu benar-benar mendapatkan perlakuan khusus. Semua orang harus menampilkan diri untuk memberikan servise terbaik untuk sang penguasa muda.“Cepat! Cepat! Tuan muda Sean terluka,” teriak kepala rumah sakit. Mereka telah menunggu Sean di atas rumah sakit. Disiapkan kursi roda dan juga tempat tidur perawat.Balutan malam masih terasa di atas kota ketika baling-baling helikopter berputar kencang, menimbulkan hembusan angin yang mengguncang kaca-kaca rumah sakit. Lampu sorot dari ekor helikopter menembus kabut tipis, menciptakan bayangan dramatis di dinding gedung.Roda pendarat menyentuh atap rumah sakit dengan hentakan tegas, suara logam beradu bergema di antara sirene ambulans yang meraung di bawah. Pintu samping terbuka perlahan, dan dari dalam, Sean melangkah turun lebih dulu—mantap, penuh kewaspadaan. Jaket hitamnya berkibar tertiup angin baling-baling, matanya tajam menyapu sekeliling, memastikan situasi aman.Aisyah menyusul, hijabnya b
Para korban mulai dievakuasi ke rumah sakit. Api telah dijinakkan. Aisyah bersama tim masih sibuk memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan serta kebakaran dari ledakan mobil.“Aisyah, di mana dia?” Sean beranjak dari aspal. Dia mencari sosok sang istri yang tidak terlihat lagi di kekacauan tim medis dalam menolong para koran.“Tuan, Nyonya terus bergerak. Dia benar-benar tidak bisa diam,” jelas Elio yang juga terluka.“Anda tidak boleh memanggil Nyonya, Tuan. Itu akan memancing para musuh,” ucap Elio.“Aku harus mencari dia. Aku benar-benar khawatir dengan tindakan Aisyah. Dia hanya peduli pada orang lain, tetapi melupakan keselamatan diri sendiri.” Sean sedikit tertatih. Dia menyusuri jalanan untuk menemukan Aisyah.“Aisyah.” Sean melihat sekeliling. Dia berharap segera melihat Aisyah.Sirene mobil polisi dan ambulans masih meraung di jalan raya dan jembatan yang basah oleh hujan. Aisyah berlari cepat menuju tubuh seorang korban kecelakaan yang tergeletak tak sadarkan d
Aisyah bisa melihat Sean yang duduk di atas aspal retak. Pria itu terluka ketika keluar dari mobil dan menolong seorang wanita yang terjebak di dalam mobil.“Jangan mendekat!” Sean mengarahkan pistol pada Aisyah. Dia tahu bahwa tim medis dengan pakaian lengkap itu adalah seorang wanita.“Menjauh dari Tuan Sean!” Elio siap menembak Aisyah yang terdiam memperhatikan sang suami yang berdarah.“Dorr!” tembakan mengenai kotak obat milik Aisyah. Wanita itu segera bersembunyi. Dia tidak berisik karena sudah mengerti dengan situasi.“Apa?” Sean dan Elio terkejut.“Tidak ada yang boleh menyelamatkan Sean,” ucap pria itu.“Dia benar-benar tim dokter.” Sean tidak mengenali sang istri dan dia selalu waspada dalam kondisi apa pun.Sean memaksakan diri berdiri dan membunuh pria yang menembaki Aisyah. Peluru pria itu tidak pernah meleset dan target pasti mati karena dia selalu menjadikan organ vital sebagai sasaran. Tidak akan memberikan kesempatan kepada musuhnya untuk bernapas.Dengan dua pistol di
Ruang terasa semakin sempit, seolah dinding merapat mendekat. Nafas Maria terputus-putus, bukan hanya karena tekanan yang mengekang, tetapi juga karena rasa panik yang merayap ke seluruh tubuh. Tangannya berusaha memukul lengan kekar Sean, mencari celah untuk melarikan diri. Pikirannya berputar anta
Seorang pria duduk di ruangan kerja yang tenggelam dalam kesunyian. Lampu tidak menyala, hanya cahaya samar dari luar yang nyaris tak menembus tirai tebal. Meja kayu penuh dengan berkas yang tertinggal, seolah menunggu tangan yang tak kunjung kembali. Kursi berputar berdiri diam, bayangannya memanja
Pagi hari semua anggota keluarga sarapan bersama. Jack dan James bersiap untuk pergi keliling dunia untuk mengawasi bisnis. Rumah besar itu tampak sepi dan tenang. Maria berjalan menuju ruang makan. Dia melihat semua orang sudah duduk di kursi masing-masing.“Selamat pagi,” salam Maria dengan ramah.
Maria melambaikan tangan kepada keluarganya yang sudah meninggalkan kastil mewah keluarga Jack. Dia sendirian di depan pintu. Jack dan James pun telah menghilang. “Sepi sekali.” Maria melihat sekeliling.“Nona Maria. Saya akan mengantarkan Anda ke kamar Tuan Sean.” Seorang wanita tua menghampiri Ma







