Masukเขาลุ่มหลงเธอที่งามเปรียบเสมือนดอกไม้ แรกๆเขาดูแลเธอดั่งเทพธิดา สุดท้ายกลับยํ่ายีหัวใจดวงน้อยจนไม่มีชิ้นดี…
Lihat lebih banyakDaya berdecak kesal. Daya tahu seberapa sibuk tunangannya itu. Apalagi sekarang Satya memang sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan. Tapi, apa benar sesibuk itu sampai tidak bisa menerima telepon?
Daya kembali menempelkan benda pipih itu sekali lagi di telinga, tetapi lagi-lagi harus rasa kesal yang ia dapatkan. Kali ini bukan hanya tidak tersambung, tetapi dalam keadaan tidak diaktifkan. Degup jantung Daya entah kenapa seperti memberikan suatu pertanda.
“Tu-Tunggu sebentar. Bisa tolong dijelaskan lebih terperinci lagi, Pak?” Sebuah panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal seolah membenarkan ketakutan Daya sendiri.
Daya kembali menyeruput es kopi latte di meja saat mendengarkan semua penjelasan orang seberang.
“Intinya kami di sini hanya ingin menanyakan perihal pelunasan dekorasi untuk tanggal dua puluh tujuh bulan depan. Karena sampai saat ini pembayaran itu belum juga kami terima.”
Daya mulai mengernyit. “Belum diterima? Karena setahu saya pembayaran sudah dilakukan oleh tunangan saya, atas nama Satyaka Wicaksana. Tolong coba dicek dulu.”
Ada jeda beberapa detik di seberang. “Mohon maaf. Hingga saat ini belum ada pembayaran atas nama yang Ibu sebutkan barusan.”
Daya terdiam. Belum? Bagaimana bisa?
“Oke, baik. Kasih saya waktu untuk mengeceknya, ya, Pak.”
Sambungan telepon terputus. Daya mematung cukup lama. Belum hilang perasaannya yang masih kacau lantaran kesulitan menghubungi Satya, tetapi sekarang Daya harus menghadapi satu kenyataan karena harus mendengar kabar tidak mengenakkan mengenai pembayaran. Jantung Daya berdegup tidak karuan. Pikirannya dipenuhi dengan segala kemungkinan kotor yang saat ini memenuhi isi kepalanya.
Untuk kesekian kalinya ponsel Daya kembali bergetar. Sebuah nomor asing lainnya muncul di layar ponsel.
“Selamat siang, Ibu. Apa ini benar dengan Ibu Dayana Prameswari? Perkenalkan saya Aldi dari pihak persewaan gedung.”
Mendengarnya membuat jantung Daya seolah berhenti berdetak. Sekarang apalagi?
“Ya, saya Daya. Ada apa ya?”
“Kami ingin menanyakan perihal pembayaran yang sudah jatuh tempo. Sesuai kesepakatan dengan bapak Satya sebelumnya beliau akan langsung membayarnya lunas termasuk biaya-biaya lainnya.”
Daya merasa tengkuknya mulai menegang.
“Bukannya pelunasan biasanya bisa kami lakukan H-7 acara, ya?”
“Mohon maaf, Ibu. Sejak awal tidak ada DP dan sesuai dengan kesepakatan dengan bapak Satya, pembayaran akan langsung dilunasi per tanggal hari ini. Di sini dituliskan bahwa Ibu selaku penanggungjawabnya. Tapi, jika sampai besok masih belum ada kepastian mengenai pembayaran, dengan sangat terpaksa akan kami batalkan dan otomatis Ibu akan langsung dikenakan biaya pembatalan sebesar 5% dari total gedung yang di sewa.”
Daya menggenggam ponselnya lebih erat. Berengsek! Sebuah umpatan yang tidak pernah Daya lontarkan akhirnya keluar juga. Sebenarnya, ke mana perginya Satya?
Satu per satu deretan panggilan telepon pun berdatangan. Vendor katering, dokumentasi, sampai rias pengantin juga belum dibayar. Daya mulai sesak napas. Ia memaksa kepalanya untuk mengingat. Satya selalu mengatakan kalau semuanya sudah beres. Semuanya sudah aman dan juga lunas. Tapi, apa? Semuanya hanya sekadar omong kosong. Dan, sepertinya lagi Satya memang sudah lama merencanakan semua ini.
Tangan Daya mendadak berkeringat. Ponselnya kembali menempel di telinga. Nada sambung pun terdengar, namun masih tidak ada jawaban. Sampai akhirnya Daya tersadar kalau Satya telah memblokir nomornya. Dan, bertambah lemaslah kaki Daya ketika ia memeriksa aplikasi banking yang ternyata hanya menyisakan nominal dua puluh juta.
“Berengsek!” maki Daya untuk kedua kalinya.
Tanpa berpikir panjang lagi Daya langsung mentransfer sisa saldo itu ke rekening pribadinya dan langsung mengganti kode pin demi keamanan. Daya benar-benar bodoh karena begitu mudahnya percaya pada Satya. Seharusnya, gelagat mencurigakan Satya minggu lalu sudah bisa membuat Daya bersiaga. Namun, Daya terlalu mengentengkan semuanya dengan dalih toh sebentar lagi mereka akan menjadi keluarga. Jadi, tidak ada salahnya jika bersikap lebih terbuka. Dan, sekarang Daya telah merasakan hasil dari kebodohannya itu.
Kemudian sebuah nada notifikasi kembali meramaikan ponsel Daya. Daya terbelalak kaget sampai-sampai ponsel dalam genggamannya terjatuh.
Rp 200.000.000,00
Dari mana Daya mendapatkan uang sebanyak itu?
***
“Mbak harus lapor polisi.” Suara Ayu di seberang langsung berseru begitu mendengar cerita Daya selengkapnya.
“Atas dasar apa?” balas Daya menimpali.
“Ya, apalagi kalau bukan penipuan, Mbak. Bila perlu buat selebay mungkin biar tuh manusia masuk hotel prodeo. Siàlan banget sih!”
“Jangan asal kamu kalau ngomong. Terus, buktinya?”
Ayu berubah hening seolah mengiyakan perkataan Daya. “Terus, kalau ayah tahu gimana? Mbak tahu sendiri ayah orangnya gimana,” sambung Ayu pelan.
Itulah yang paling Daya takutkan. Sigit sudah terlanjur senang lantaran putri sulungnya akan menikah bulan depan. Umur Daya tergolong sudah cukup matang dalam membina rumah tangga. Bagi Sigit, sosok Satya adalah calon menantu yang sudah lama ditunggunya. Kalau sampai Sigit tahu bahwa calon menantunya itu ternyata membawa lari uang bahkan sampai meninggalkan utang ratusan juta, sudah pasti akan sangat terpukul sekali hatinya. Dan, Daya tidak mau itu terjadi.
“Mbak belum siap cerita, Yu. Mbak nggak siap melihat ayah kecewa.”
“Tapi, Mbak nggak mungkin menanggung semuanya sendiri, kan? Aku yakin semua tabungan yang Mbak punya sekarang pun jumlahnya nggak sampai segitu.”
Ucapan Ayu benar adanya. Keluarga Satya pun sepertinya juga menutup pintu. Beberapa kali Daya sudah menelepon bahkan mencoba datang ke rumah ibunya, tetap saja nihil. Keluarga Satya malah bungkam dan seolah tidak peduli kelakuan putra mereka.
Kemudian sebuah pesan lanjutan muncul di layar ponsel Daya. Sebuah pesan dari Aldi, pihak persewaan gedung.
Selamat malam Ibu Daya. Sekadar memberi tahu jika dalam waktu tujuh hari ke depan tidak ada kejelasan mengenai pembayaran, maka dengan terpaksa perkara akan kami teruskan ke jalur pidana. Hal ini sudah sesuai dengan kontrak yang sudah disepakati sebelumnya.
Jumlah saldo di rekening Daya tidak sampai sepersepuluh nominal yang mereka minta. Daya meletakkan ponselnya, menatap langit-langit kamar sejenak. Rasa takut yang sesungguhnya kini mulai berdatangan. Daya pernah membaca sebuah cuplikan kalimat di sebuah toko buku bulan lalu. Saat itu Daya menganggapnya terlalu dramatis, namun sekarang Daya tahu kalau kalimat itu benar. Kalau kehancuran tidak selalu datang karena kesalahan sendiri. Sering kali datang dari kepercayaan yang diberikan kepada orang yang salah.
กรี๊ดดดดด!! “ที่รัก..ฮึกก อดทนอีกนิดนะครับทูลหัว” “เบ่งอีกนิดเดียวนะคะคุณแม่” “ฮึกกก อร๊ายยย!” ภายในห้องคลอดที่บรรยากาศเต็มไปด้วยความวุ่นวายและเสียงกรี๊ดร้องของคนบนเตียง ผู้เป็นสามีเองมองดูภรรยาแล้วเจ็บปวดหัวใจเหลือเกิน หากเป็นไปได้เขาอยากจะเป็นคนที่นอนอยู่บนเตียงนั้นด้วยซํ้า มือหนาคอยเช็ดเหงื่อจับมือและคอยลูบหัวทุยให้กำลังใจเธออยู่ไกล้ๆไม่ยอมห่าง เพียงเห็นความทรมานของเธอเขาไม่คิดอยากจะมีลูกอีกเลยด้วยซํ้า กรี๊ดดดด! อุแว้ อุแว้! เสียงกรี๊ดเฮือกสุดท้ายดังขึ้นก่อนจะดับลงและมีเสียงเด็กน้อยดังก้องขึ้นเรียกรอยยิ้มของคนทั้งห้องรวมถึงคนที่คอยรอลุ้นอยู่หน้าห้องก็ตาม “เก่งมากเลยที่รัก… เก่งมากครับ…“ มือหนายังคงคอยลูบหัวทุยเบาๆไม่หยุด ก้มหน้าจุ๊บเหม่งเธอเบาๆก่อนผู้เป็นแม่จะหมดสติไปทั้งรอยยิ้มและคราบนํ้าตาที่เปียกชุ่มสองพวงแก้ม . . . . . ”หลานรักของปู่~” “เจ้าจิ๋วของลุงงง” “เจ้าจิ๋วของหนูต่างหาก!” เสียงเกรี้ยวกราดถกเถียงกันดังแว่วเข้ามาในหูคนที่หลับไหลอยู่บนเตียง ก่อนเปลือกตาที่หนักอื้อจะค่อยๆลืมขึ้นมองภาพตรงหน้า ซึ่งเต็มไปด้วยรอยยิ้มของทั้งป๊า ซาร่าและโอท
“ที่รักตื่นพอดีเลย มาครับ ผมพาไปล้างหน้า” เซบาสเตียนเมื่อเดินเข้ามาในห้องก็กล่าวประโยคพาคนเพิ่งตื่นมึนงงอยู่บนเตียง ”วิทำเองได้ค่ะ ก็แค่ล้างหน้าเอง ทำไมต้องพาไป“ “ไม่ได้สิครับ เกิดที่รักลื่นแล้วคงตัวไม่อยู่ทำยังไง ให้ผมเฝ้าดีกว่า” ไม่พูดเปล่า เขารีบเดินแจ้นเข้ามาสอดมือเข้าไต้ขาเธอก่อนจะอุ้มพาเข้าห้องนํ้า จนคนที่ยังมึนๆจากการตื่นปฏิเสธไม่ทัน “เสร็จแล้วไปกินข้าวนะครับ ผมทำกับข้าวไว้เยอะเลย ผมไปเสริจกูเกิ้ลมาแล้วเค้าบอกว่าแต่ละอย่างดีต่อคนท้องมากๆ พอกินข้าวเสร็จแล้วเราไปฝากครรภ์กันนะครับ” วิเวียนที่ยืนแปรงฟันได้แต่ตั้งหูฟังเขาที่ยืนรออยู่ด้านหลังไปด้วย เขายืนรอเธออยู่แบบนั้นไม่ไปไหนจนเสร็จธุระแล้วลงมากินข้าว บนโต๊ะเต็มไปด้วยอาหารอ่อนๆสารพัดที่เตรียมไว้เพื่อเธอโดยเฉพาะ จนวิเวียนต้องเงยหน้าถาม “แล้วคุณไม่กินหรอคะ” “ผมยังไม่หิวหรอก ที่รักกินให้อิ่มๆนะครับ เดี๋ยวผมกินต่อจากที่รักก็ได้” วิเวียนเงียบ ก้มหน้าตักข้าวเข้าปาก เพราะขืนมองหน้าแพรวพราวเขาต่อคงได้กลับไปเขินเหมือนตอนจีบกันแรกๆเป็นแน่ “ที่รักค่อยๆกินนะครับ เคี้ยวให้ละเอียดๆ“ เขาเหมือนพ่อที่คอยดูแลลูกสาวห้าขว
“ทำไมยังไม่กลับ…” คนรอก็ลุกรอนั่งรอยืนรอเดินรอวนอยู่แบบนั้นทั้งวันจนฟ้าเริ่มมืดก็ยิ่งใจคอไม่ดีเมื่อภรรยายังไม่ยอมกลับมาสักที หากจะไปตามก็กลัวเธอจะโกรธยิ่งกว่าเก่า แกร๊ก… เสียงประตูเปิดเหมือนหัวใจที่กระวนกระวายเมื่อครู่เลือนหายทันทีที่เห็นหน้าวิเวียน เซบาสเตียนรีบอมยิ้มแป้นเดินแจ้นเข้าไปรับคนที่เดินเข้ามา “ที่รัก“ ”เอ่อ… ที่รักเหนื่อยมั้ยครับ มานั่งก่อน“ รอยยิ้มดีใจกลายเป็นยิ้มเจื่อนทันทีเมื่อเห็นสายตานิ่งเรียบที่มองมาไม่เปลี่ยนสักที ”เดี๋ยวผมไปเอานํ้ามาให้นะ ที่รักนั่งรอก่อนนะครับ“ พูดแล้วรีบเดินแจ้นเข้าไปเอานํ้าในครัวดั่งว่ารีบร้อนกลัวเมียคอแห้งยังไงอย่างนั้น ส่วนวิเวียนนั้นได้แต่มองตามเงียบๆ เธอหนักใจอยู่ใช่เล่นกับสิ่งที่ตัดสินใจกำลังจะทำ ไม่ใช่เพื่อแก้แค้นหรือยังโกรธ แต่เพียงเพราะอยากจะมั่นใจเท่านั้น… “นํ้าครับ” แก้วนํ้าใสถูกยื่นให้กับคนบนโซฟา หญิงสาวรับมันมาอย่างว่าง่ายทว่าแทนที่เธอจะดื่มสักหน่อย กลับวางมันลงบนโต๊ะ คนมองก็เกิดน้อยใจก้มหน้างุดพร้อมรอยยิ้มที่หายไป “ฉันยังไม่หิวน่ะ” แต่พอได้ยินเสียงหวานของเธอเท่านั้นแหละ รีบเงยหน้ากลับมามองภรรยาตัวน้อยพร้อ
(สำหรับเมนูอาหารนี้นะคะ เราจะมาเริ่มจากการต้มนํ้าให้เดือดก่อน…) เสียงคริปทำอาหารในยูทูปดังแว่วออกมาจากโทรศัพท์มือถือของเซบาสเตียนที่ยืนตั้งหน้าตั้งตาทำตามอยู่ในครัว เป็นเวลาสามวันที่เขาหาข้ออ้างสารพัดมาต่อรองกับภรรยาเพื่ออยู่กับเธอต่อเพื่อดำเนินภารกิจง้อเมีย แล้วเช้านี้ชายหนุ่มก็วุ่นอยู่ในครัวคนเดียว ไม่รู้ว่านิ้วโดนมีดไปกี่ครั้ง เลือดซึมกี่ที่ เขาตั้งใจทำตามคลิปที่สอนจนเวลาผ่านไปเกือบสามชั่วโมง “ที่รักต้องชอบแน่ๆ” รอยยิ้มอิ่มใจปรากฏอยู่บนใบหน้าหล่อ เขายืนชื่นชมชามข้าวต้มฝีมือตัวเองที่ทำออกมาเป็นครั้งแรกในชีวิตสีหน้าภูมิใจ หากเธอเห็นต้องชอบแน่ๆ เพราะวิเวียนชอบกินข้าวต้มหมูสับมาก ”เอ๊ะ.. แต่ว่าเหมือนลืมบางอย่าง“ เซบาสเตียนขมวดคิ้วเหมือนเพิ่งนึกอะไรขึ้นได้ ลืมอะไรไม่ลืม แต่เขาลืมทำข้าวต้มเผื่อตัวเอง!! “แต่ช่างเถอะ ที่รักอิ่มก็พอ” ชายหนุ่มหันกลับมาสนใจชามข้าวต้มตรงหน้าด้วยสีหน้ายิ้มแย้มอิ่มใจ ก่อนจะยกไปวางบนโต๊ะ เป็นเวลาที่วิเวียนเดินออกมาจากห้องนอนพอดี “ที่รัก ผมทำข้ามต้มที่คุณชอบไว้ให้ กำลังร้อนๆเลย” เสียงทุ้มรีบเอ่ยเรียกภรรยาด้วยความตื่นเต้นอย่างลืมตัว ลืมไปว่
#วันต่อมา “คุณจะพาวิไปที่ไหนคะ” วิเวียนชักสีหน้าระแวงขึ้นมาดื้อๆ หันหน้ามาถามคนข้างๆที่กำลังจดจ่ออยู่กับการขับรถ เมื่อเส้นทางที่เขากำลังพาเธอไปมันแปลกใหม่ เรียกเสียงหัวเราะจากเซบาสเตียนเมื่อเหลือบมองเห็นสีหน้าอันเป็นกังวลของเธอก็อดเอ็นดูไม่ได้ “ฮะๆ ไม่ต้องระแวงขนาดนั้นหรอกครับ ผมไม่ทำอะไร
#ผับ AT ฟึ่บ! ทันไดที่ชายร่างโปร่งหย่อนก้นนั่งลงยันโซฟาขนาดคิงไซส์โซน VIP ในไนท์คลับหรูซึ่งเป็นที่ประจำ เสียงทักทายจากเพื่อนสนิทที่รู้จักกันมาแต่เนิ่นนานผู้ซึ่งมาถึงก่อนได้เอ่ยดังขึ้น “ไงครับคุณชาย ได้ข่าวว่าตามจีบสาวอยู่” โอทิส หรือเพื่อนสนิทของเซบาสเตียนถามขึ้นนํ้าเสียงยียวน ในขณะที
ครืดดดด!! ครืดดดด!! สายตาคมเหลือบมองโทรศัพท์มือถือที่ถูกวางไว้บนโต๊ะข้างๆ ในขณะที่เจ้าตัวกำลังยืนส่องกระจกชื่นชมความหล่อเหลาของตัวเอง ไม่ว่าจะเป็นกล้ามเนื้อเป็นหมัดๆทั้งแขนสองข้าง แถมซิคแพกเป็นก้อนๆที่เรียงกันชัด เขามั่นใจว่าวิเวียนเห็นต้องเป็นอันปลื้มแน่นอน แต่สายเรียกเข้าจากลูกน้องมันดันมาดั
“คุณนั่งเล่นไปก่อนนะคะ เดี๋ยววิไปดูชาในครัวมาให้” วิเวียนกล่าวเสียงหวาน ก่อนจะเดินเข้าไปในห้องครัวกลัวว่าอีกคนจะเกร็งในบ้านเธอ จึงพยายามทำตัวสบายๆ ให้เขาได้เห็นมากที่สุดเพื่อจะได้ทำตัวถูกกันทั้งคู่ โดยที่ไม่รู้เลยว่าคนที่มีแววจะได้เกร็งนั้นเป็นเจ้าของบ้านอย่างเธอมากกว่า ชายที่นั่งสบายอยู่บนโซฟา