MasukRindu harus menelan pil pahit. Selama hidupnya tidak dianggap oleh sang ayah karena istri yang teramat dicintainya meninggal setelah melahirkan Rindu. Malangnya lagi, gadis itu difitnah oleh ibu sambungnya hingga sang ayah mengusir dari rumah. Namun, sebelum pergi, Rindu dipaksa menikah dengan seorang pembantu yang telah berani membelanya. Ternyata, lelaki itu punya sebuah rahasia besar.
Lihat lebih banyakJADE.
Steve loved working; I, on the other hand, loved fucking. Not just the pure feather-like blissful style of sex, my dear. I wanted to be held down, fucked, and dicked down so bad it rattled my senses. I wanted to be pounded all the way to death's doorstep, until my pussy grew so sore it would hurt, until my breath was ragged and my body was painted with cum, sweat, spit, and squirt. I wanted something obvious like that and the problem. Steve. My fiancé dragged me over for a weekend holiday only for him to work on the fucking phone all weekend, and when the hell was over, he'd figured it was a good idea for his brother Stefan and his girlfriend to come along on a bloody holiday again past our house. I didn't entirely hate the idea, except Steve was out there with his brother talking business, Stefan's girlfriend Maddison had gone out on some sort of girls' night with her friend, and I was stuck. Listening to the boys banter about lots of work and of course money. Dejectedly I stood from my seat and they hadn't even taken note of it. Frustrated, I stormed into one of the spare rooms, refusing to pay attention to whether Steve wanted me to sleep in the room with him. He'd better be open to lots of shagging. I turned off the light switch. I kicked off my flip-flops, loosened the robe, and slammed the door immediately before sinking into this bed, he would search for me when he's ready to sleep. And hopefully, my nakedness had better steer his mind and cock to work. With that, I rested against the pillow before drifting to sleep. A warm wrestling touch caressed my ass. Stroking against my crack, caused my breath to hitch as I jolted awake; I sat still. Frozen, trying to recall the last event and make sense of the sweet but oddly coarse hand touching me and near the soft skin of my puffy cunt, this close to fingering me. Goosebumps joined my skin almost immediately as soon as I felt Steve's grip across my back; of course, he'd gotten to his senses when he hadn't seen me in the room. Wet kisses trailed over to the rim of my ass before pushing me up slowly but firmly. He spread out behind my back, pinning my face into the pillow, dragging a frustrated whisper from me. He slapped me across the ass before burying my face into the pillow by constricting the air from my lungs. Tears stung my eyes; I felt a blur as my head became lightweight. What on earth was he doing?. This was what I wanted, but why was he feeling different? This...this firm hand didn't belong to Steve... No. No. I stuttered in my head, but my voice was long gone. I spasmed, cold chills running down my spine when I felt a hard fleshy object poke at my cunt. “Wet…hmmmm, I like it,” he said. And then it all dawned on me. Shock and excitement thrummed over me. I was about to be fucked. Raped…and it wasn’t Steve, it was Stefan, the elder brother who has no idea I wasn’t his girlfriend. I tapped at his arms trying to gain his attention, but he slapped his cock harder against my pussy, causing me to clench and unclench as tears streaked my face. “Resisting harder … I guess you really are into our role play. 'So why not let me top it a notch?' he whispered. I felt his teeth dig into my ass, warning me that I was scared and dejected once again. That seemed to have somehow caused something to click in his subconscious as he stumbled backwards. “Maddy?” He asked. I could feel his gaze burning through me even in the night. I suddenly felt wrong. His stronghold wasn't on me anymore, the firmness and fierceness of his touch. I didn't feel his heavy cock beating on my pussy. “I'm…not…Maddison,” I coughed. Taking sharp breaths through my words, he heard the hasty taps of footsteps as he stormed over to the light switch and flicked it on. The first thing I saw was the shocked look on his face, the embarrassment, the guilt, and lastly the arousal; his body twitched. His limbs trembled against the light switch while I glanced sideways at his cock, which was heavy between his thighs jutting upwards. Then a morbid gloom formed on his face when a loud bark of laughter coursed free from my lips. “I'm. So. Sorry. I… I'll... Please, this was a mistake.” He stuttered, but that wasn't what I was interested in anymore. Stefan looked exactly like Steve. They were brothers who shared the same hobby, the same twitch, and the same voice, but not once had I, the older brother, been into dark, kinky shit like this. “Rape me,” I ordered firmly. It wasn't a request. He was into dark shit, and I wondered why mask it and fool ourselves any longer?. “What do you mean? Are you insane?! “ he asked with a yell. But I knew he'd give in. “Oh please, Stefan. Weren't you just cutting out Maddy's airway? Aren't you busting that fat-ass juicy cock on me?” I asked, leaning back in bed and spreading my legs wide open, giving him a better view of my fat, wet and puffy cunt. Pink at the tips already. “I can't. You are my brother's fiancée.” “No one has to know; this would be our secret. If you don't do this, I'll be telling your brother a different story. Where is he right now!’ “He's out for a business dinner. It's late, and he says he'll be back tomorrow. Didn't he tell you? “ Stefan asked. Still confused about what I was playing with. A restless smile on my lips...Yes, I was finally going to get what I wanted. “Fuck me, against my will. I want to be fucked senseless…to be used, I want you to ram into my pussy until my cunt becomes too sensitive. Until you can't cum again, until your cockhead gets sore from me being overstimulated. Rape me.” He lunged toward me. Yanking my feet off the bed in one swift motion. I fell loudly against the floor when he yanked at my hair, pulling my head up and bending over me. “Fine. You want to be used so badly… I'll show you how it's done."32“Semua keputusan ada di tangan Ayah. Tentang bagaimana nasib Mama Dewi dan Dini, Ayah pasti akan mengambil keputusan dengan adil,” ujar Ukasya menanggapi ucapan sang mertua.Raden tak bicara lagi. Ia hanya berusaha membuang beban yang membelenggu di dalam dada.***“Tumben Ayah ajak kita makan begini, Ma?” tanya Dini yang sudah duduk di dalam mobil. Mereka pergi diantar sopir biar tidak repot karena Dini masih memakai kursi roda.“Ayah lagi bahagia mungkin. Jadi kita diajak makan. Padahal, dia tidak tahu kalau kita lagi rencanain sesuatu buat Rindu. Belum ada kabar lagi di grup. Pasti lagi eksekusi. Biar mampus si Rindu itu.”“Aku masih takut kalau rencana kita bakal ketahuan, Ma. Mama yakin kan, orang yang kita suruh tidak akan tertangkap?”Mereka berbicara dengan suara pelan agar tidak didengar oleh sopir. Mobil sedang melaju di jalan raya. Sopir itu tersamarkan oleh ramainya kendaraan di jalan dan konsentrasi mengemudi yang tinggi.“Mama jamin semua akan beres sesuai rencana, Di
31Dua bulan telah berlalu setelah adegan saling memaafkan yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Raden jadi sering menanyakan kabarnya Rindu melalui ponsel. Ia sungguhan ingin mengubah diri dan berusaha menjadi seorang ayah yang baik.“Sayang, beneran makannya udahan?” tanya Ukasya ketika melihat makanan di dalam piring sang isi masih lumayan banyak.Rindu mengangguk dengan raut wajah menautkan alis.“Kamu kenapa, Sayang? Ada yang sakit?” tanya Ukasya lagi mengetahui ekspresi yang dibuat oleh istrinya.“Bukan sakit, sih, Mas. Agak mual gimana gitu, rasanya, Mas.”Ukasya membeku seketika. Pikirannya jadi menduga-duga sesuatu yang membuatnya bahagia.“Kenapa, Mas? Malah diam?” tanya Rindu lagi.“Kamu sudah telat belum, Sayang?”Kali ini, Rindu yang terdiam. Ia memikirkan kapan terakhir cairan merah itu bertamu.“Iya, Mas. Baru dua hari, sih. Kadang, aku kan, haidnya mudur paling lama semingguan. Ini juga paling mundur aja, Mas.”“Ish! Doanya yang baik-baik. Kita coba ke dokter aja, yuk
Rindu mendekati Raden. Ia sudah meyakinkan diri tentang apa yang akan menjadi keputusannya. Meski di dalam hati ada yang seolah menahan dan memunculkan kembali rasa sakit yang didapat di masa lalu.Bismillah, semoga keputusanku memang yang terbaik.Tangan Raden yang saling bertaut diraih oleh Rindu. Seketika, lelaki itu menoleh pada anaknya. Tatapannya masih sendu.“Maafkan aku juga, Ayah. Selama ini, aku memang bukan anak yang baik untuk Ayah,” ujar Rindu tidak bisa melihat lama kedua mata sang ayah.Raden menggelengkan kepala.“Tidak, Rindu. Ayah yang banyak salah sama kamu. Ayah tidak bisa menerima takdir yang sudah terjadi. Ayah hanya melampiaskan keegoisan Ayaha padamu. Maafkan, Ayah.”Di waktu yang sama, Raden merengkuh Rindu yang selama ini tak pernah dilakukan.“Maafkan, Ayah. Selama kamu lahir di dunia ini, Ayah selalu menyakiti perasaanmu. Ayah tidak pernah memberikan kasih sayang layaknya orang tua yang baik. Ayah sangat egois. Kamu anak Ayah yang paling menerima semuanya,
“Su-sudah aku jelaskan tadi, kan, Yah,” sahut Dewi seakan menyembunyikan ketakutan.“Apa benar, orang yang mendonorkan darah untukku bukanlah Rindu, Ma?” tanya Raden lagi dengan penuh penekanan.Rindu dan keluarga suaminya hanya diam melihat drama suami-istri itu yang terasa mulai memanas.Kalau benar, Ayah mulai tergugah hatinya dan mulai mempercayai ucapanku, terima kasih, Tuhan. Engkau memang sangat baik padaku. Semoga Ayah benar-benar mengetahui kebenaran ini dan berubah lebih baik sehingga mau menerimaku sebagai anaknya tanpa menghardikku lagi.Wanita yang selama ini memelihara luka itu, hanya bisa berdoa di dalam dada untuk sang ayah. Rindu ingin berdamai demi ibunya yang sudah berada di alam yang berbeda. Agar dia bisa tenang melihat anak dan suaminya berhubungan layaknya keluarga yang penuh kasih sayang.“Semua bukti sudah aku pegang, Ma. Tolong, katakan yang jujur padaku, Ma!” pinta Raden lagi dengan suara yang agak ditinggikan.Dewi gusar. Ia membuang napas kasar. Tak bisa t












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.