Accueil / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Angka yang Tidak Seharusnya Ada

Partager

Angka yang Tidak Seharusnya Ada

last update Date de publication: 2026-04-01 16:25:06

Palu itu tidak keras.

Yang menghentikan ruangan — bukan bunyinya.

Jeda sebelum dan sesudahnya.

Semua sudah duduk. Sudah diam. Sudah siap, bahkan sebelum momen itu diberi bentuk.

Cahaya jatuh tepat di meja utama.

Artefak pertama sudah ada di sana.

Tidak diperkenalkan.

Tidak dijelaskan.

Dibiarkan menjadi pusat yang memaksa semua mata kembali.

Adriano berdiri sedikit di depan garis itu.

Bukan pusat.

Tapi semua garis tetap menuju padanya.

Tatapannya menyapu ruangan sekali.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Harga yang Belum Lunas

    Pagi di mansion Moretti berjalan seperti biasa bagi siapa pun yang tidak tahu cara membaca perubahan kecil.Lift servis tetap naik turun membawa kotak logistik. Langkah staff berderak pelan di lantai marmer koridor timur. Aroma kopi dari dapur menyusup sampai area administrasi, bercampur dengan bau kertas baru dari ruang arsip.Di salah satu koridor dekat sayap keluarga, dua penjaga baru berdiri di depan satu pintu.Tidak banyak bergerak.Tidak saling bicara.Hanya keberadaan mereka yang cukup membuat siapa pun memilih jalur lain.Di dalam ruang kerja, cahaya pagi jatuh miring ke atas meja kayu gelap.Berkas-berkas tertata rapi, garis tepinya sejajar sempurna. Laporan distribusi. Audit. Kontrak buyer.Tak satu pun disentuh.Ponsel Elena tergeletak di sisi kanan meja.Layar gelap.Diam.Adriano sudah berpakaian lengkap.Kemeja putih.Manset terpasang rapi.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jauh Sebelum Hari Ini

    Pintu kamar mandi masih terbuka saat Adriano berbalik. Air menetes dari ujung rambut Elena. Dari dagunya. Dari lengan yang gemetar menahan tubuhnya sendiri. Langkah Adriano sudah mencapai ambang pintu ketika sesuatu menarik ujung celananya. Ia menunduk. Jari-jari Elena mencengkeram kain celananya. Lemah. Basah. Hampir tidak memiliki tenaga. "Tolong." Suara itu pecah di tenggorokannya. Adriano tidak bergerak. Elena menelan napas yang terasa sakit. "Anak-anak di Stella Maris..." Kalimat berikutnya tersangkut. Batuk pendek mengguncang tubuhnya. Air masih terasa memenuhi dadanya. "Mereka tidak tahu apa-apa." Tatapan Adriano turun pada tangan yang mencengkeramnya. Tak lama. Cukup untuk membuat Elena berharap. "Jangan sakiti mereka." Sunyi memenuhi ruangan. Tatapan Adriano tidak berubah. "Kalau nasib mereka bergantung padamu..." Suara itu rendah. Datar. "Terlambat untuk mulai memikirkannya sekarang." Harap

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Setelah Pengampunan Berakhir

    Pintu menghantam kusennya. Gaungnya masih bergetar di dinding saat Adriano melepaskan lengan Elena. Dorongan itu membuat tubuh Elena kehilangan keseimbangan. Lututnya menghantam lantai lebih dulu, telapak tangan menyusul. Napasnya tersentak. Sunyi langsung memenuhi ruangan. Adriano tetap berdiri di depan pintu. Tak bergerak. Tatapannya turun ke Elena. Dingin. Kosong. Lebih buruk daripada amarah. "Adriano—" "Aku membiarkanmu tinggal di sini." Kalimat itu memotongnya. Elena membeku. Adriano berjalan mendekat. Satu langkah. Lalu satu lagi. "Aku membiarkan Stella Maris tetap berdiri." Rahangnya mengeras. "Aku menghentikan pembongkarannya." Elena merasakan tenggorokannya mengeri

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Ia Berhenti Mendengarkanku

    Ponsel itu tergeletak di lantai marmer.Di antara lembar audit yang berserakan.Di dekat bercak darah yang terus menetes dari hidung supervisor distribusi.Tak ada yang bergerak.Napas pria itu terdengar berat. Patah-patah.Monitor transit masih menyala di dinding.Alexandria tetap merah.Tak seorang pun melihatnya.Sebuah getaran pendek memecah ruangan.Layar ponsel menyala.Cahaya putih memantul di marmer.Nama pengirim muncul sesaat sebelum layar meredup kembali.Elena membeku.Di dekatnya, supervisor yang terluka mengerang pelan sambil memegangi rahangnya.Tak ada yang memperhatikannya lagi.Tatapan semua orang tertuju pada benda kecil di lantai.Elena bergerak lebih dulu.Refleks.Jemarinya baru terangkat beberapa inci saat bayangan Adriano sudah menutup cahaya di atas ponsel.Langkahnya berhenti tepat di depan benda itu.Tidak tergesa.Tidak ragu.Ia membungkuk.Mengambilnya.Ruangan tenggelam dalam diam yang lebih pekat.Elena berdiri perlahan.Telapak tangannya terasa dingin.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sesuatu Jatuh di Antara Kami

    Tak ada yang sempat bergerak. Kepalan tangan Adriano sudah lebih dulu menghantam. Benturan keras memecah ruangan. Kepala supervisor distribusi terlempar ke samping. Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan jatuh menghantam lantai marmer. Kursi di belakangnya ikut terguling sebelum membentur kaki meja. Tak ada yang bersuara. Monitor tetap menyala. Barisan data masih memenuhi layar transit. Tak seorang pun melihatnya. Pria itu mengerang pelan sambil menahan rahangnya. Darah mulai muncul di sudut bibir. Adriano berdiri di atasnya. Napasnya stabil. Itu jauh lebih buruk. "Bangun." Supervisor itu mengangkat wajah. Satu tangan menekan lantai untuk menopang tubuh. "Aku tidak mengirim apa pun keluar." Kalimat itu terdengar serak. Adriano mencengkeram bagian depan kemejanya. Tubuh pria itu terangkat sebelum dihantamkan ke sisi meja. Map-map bergeser. Sebuah tablet jatuh dan

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   BERDOALAH AKU SALAH

    Pagi belum benar-benar masuk ke dalam kamar saat Elena membuka mata. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong. Seprai hitam itu rata. Tidak kusut. Tidak menunjukkan bekas seseorang pernah berbaring di sana semalaman. Di dekat jendela, lampu kerja masih menyala. Cahayanya jatuh di atas beberapa map yang terbuka dan secangkir kopi yang tinggal setengah. Permukaannya diam. Dingin. Elena duduk perlahan. Pandangannya bergerak dari kursi kosong menuju meja kerja. Adriano tidak kembali ke tempat tidur. Tangannya masuk ke saku mantel yang tergantung di sandaran kursi. Ponsel kecil itu masih ada. Dingin. Diam. Layar menyala redup saat ia mengaktifkannya. Beberapa pesan baru menunggu. Julian. Buyer mulai menahan escrow. Distribusi semalam berhasil masuk. Tekanan terus naik. Elena membaca sampai akhir. Rahangnya mengeras tipis. Jemarinya bergerak di atas layar. Jangan percepat lagi. Mereka mulai meliha

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Darah Tidak Pernah Benar-Benar Hilang

    Pintu tertutup di belakang Adriano. Suara langkahnya menjauh di koridor, lalu hilang bersama sunyi yang kembali memenuhi ruangan. Elena masih berdiri di depan jendela. Kain lap tetap ada di tangannya. Lampu meja memancarkan cahaya kuning pucat yang jatuh di lantai marmer. Sesuatu tergeleta

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sekarang Kau Tahu

    Elena masih berdiri di depan jendela. Kain lap ada di tangannya. Permukaan kaca sudah bersih, namun ia tetap menggerakkan kain itu perlahan—gerakan yang sama, berulang, seolah pekerjaannya belum selesai. Pantulan dirinya samar di kaca. Di luar, lampu taman menyala pucat di antara semak-semak y

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ruangan yang Sedang Dipersiapkan

    Sore di mansion Moretti datang tanpa warna. Langit di luar jendela tinggi berubah abu-abu pucat, dan cahaya yang masuk ke dalam rumah terasa tipis—seperti sesuatu yang ragu untuk bertahan lebih lama. Koridor belakang masih lembap oleh bau sabun pembersih ketika Elena sedang merapikan ember dan k

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Jika Undangan Ditolak

    Sore perlahan turun di mansion Moretti. Cahaya matahari yang sebelumnya memenuhi jendela tinggi kini berubah lebih redup, jatuh miring di lantai marmer ruang kerja Adriano. Bayangan rangka jendela memanjang di karpet gelap seperti kisi-kisi penjara. Di luar, taman belakang mulai tenggelam dala

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status