LOGINPintu kamar terbuka. Adriano masuk tanpa suara. Tatapannya langsung menuju ranjang. Elena sudah membuka mata. Wajahnya masih pucat. Selang oksigen telah dilepas, menyisakan bekas tipis di belakang telinga. Rambutnya berantakan di atas bantal. Salah satu tangannya berada di atas selimut, jarum infus masih terpasang di punggung tangan. Adriano mendekat. “Elena.” Tatapan perempuan itu bergeser kepadanya. Tidak ada kata. Adriano meraih jemarinya. Hangat. Genggamannya menutup perlahan. “Kau sudah sadar?” Kelopak mata Elena berkedip sekali. Adriano mengembuskan napas. “Aku kira kau tidak akan membuka mata lagi.” Jemari Elena bergerak kecil di dalam tangannya. Ketukan terdengar. Seorang suster masuk membawa cairan infus baru. Ia memeriksa selang, mengganti kantong yang hampir kosong, kemudian memastikan alirannya tetap lancar. “Signore, dokter sebentar lagi datang untuk memeriksa Signora.” Adriano mengangguk. Suster menyingkir. Beberapa menit kemudian, ketukan kembali t
Malam berlalu di sisi ranjang Elena. Adriano tidak beranjak dari kursinya. Kantong darah telah kosong sejak beberapa jam lalu. Selang transfusi diganti. Infus masih menetes melalui punggung tangan Elena. Cahaya monitor bergerak di dinding, bergantian dengan bayangan tipis dari tirai. Sesekali mata Adriano jatuh pada angka di layar. Lebih sering berhenti pada wajah Elena. Tangannya berada di atas sandaran kursi. Tidak menyentuh perempuan itu. Ketika cahaya pagi mulai masuk melalui celah tirai, seorang suster datang membawa catatan medis. Ia memeriksa infus. Mengecek monitor. Mencatat sesuatu. Adriano mengangkat kepala. “Masih belum ada tanda-tanda dia akan sadar?” Suster melihat Elena sebelum menjawab. “Belum, Signore.” Ujung penanya bergerak di atas kertas. “Tapi kondisinya jauh lebih baik dari semalam. Tekanan darahnya mulai stabil.” Adriano mengangguk. “Perhatikan dia.” “Baik.” Adriano berdiri. Jas yang dikenakannya sejak semalam telah kehilan
Ketukan terdengar dari luar kamar. Tiga kali. “Signore, dokter sudah datang.” Adriano masih berada di lantai. Tubuh Elena terbaring di lengannya. Kepalanya bersandar pada lekuk siku, wajahnya pucat di bawah cahaya lampu. “Masuk.” Pintu terbuka. Seorang dokter masuk bersama dua perawat. Tas medis dibawa salah satunya. Perawat lain sudah mengenakan sarung tangan sebelum mencapai ranjang. Dokter langsung berlutut. Dua jarinya menekan sisi leher Elena. Ia menunggu. Kemudian mendekatkan punggung tangan ke bawah hidung perempuan itu. “Napasnya lemah.” Tatapannya turun pada luka di bahu, lengan, dan betis. “Berapa lama sejak terluka?” “Lebih dari satu jam.” Dokter mengangkat wajah. “Pindahkan ke ranjang.” Adriano bangkit. Lengannya menopang tubuh Elena dengan hati-hati. Rambut perempuan itu bergeser melewati dadanya ketika ia mengangkatnya. Darah menempel pada kemeja Adriano. Ia tidak melihatnya. Elena dibaringkan di atas ranjang. Perawat segera memasang infus. Jarum
Adriano masih berdiri di depan lemari. Dua jepit rambut merah berada di kedua tangannya. Yang kiri bersih. Yang kanan masih menyisakan tanah di sela lekukannya. Ibu jarinya mengusap permukaan yang satu, kemudian berpindah ke permukaan yang lain. Lekukan kecil di ujung. Lengkungan pengait. Goresan tipis dekat bagian dalam. Sama. Ia membalik keduanya. Tetap sama. Napasnya keluar pelan. Ingatan datang tanpa diminta. Elena saat pertama kali berdiri di hadapannya. Tatapan perempuan itu yang tetap bertahan meski tubuhnya gemetar. Tangan yang pernah ia tahan ketika mencoba menjauh. Bibir yang pernah ia cium karena ia menganggap kedekatan itu berada dalam kendalinya. Malam-malam yang tidak pernah ia pertanyakan. Tangis yang ia abaikan. Suara yang meminta berhenti. Tamparan. Ikat pinggang yang terlepas dari pinggangnya. Tubuh Elena yang tadi tergeletak di antara tiga ekor anjing. Adriano menutup mata. Dadanya mengembang. Tertahan. Kemudian turun. Satu benda telah ia
Baru beberapa langkah Adriano melewati ambang pintu, suara Valerius terdengar dari belakang. “Dia tidak pernah mencintaimu, Adriano.” Langkah Adriano berhenti. Elena ikut terhenti di sampingnya. Berat tubuhnya hampir seluruhnya bertumpu pada lengan pria itu. Valerius masih berada di kursi rodanya. “Berapa lama lagi kau akan sadar?” Adriano menatap lurus ke depan. “Aku tidak sedang mencari hal seperti itu.” “Kalau bukan itu yang kau cari, apa?” Tidak ada jawaban. Tatapan Valerius turun pada darah yang menetes dari kaki Elena. “Dia hanya memanfaatkan kebaikanmu.” Jemari Adriano mengencang di lengan Elena. “Dan kau masih membawanya masuk ke rumah ini.” Adriano menoleh. “Bukan urusanmu.” Valerius mengangkat dagu sedikit. “Semua yang masuk ke rumah ini adalah urusanku.” Rahang Adriano mengeras. Ia tidak menjawab. Tangannya menarik Elena kembali berjalan. Jejak merah tertinggal di atas marmer. Elias masih berdiri di dekat rak buku. Tatapannya turun pada noda pertama.
Kaki Adriano turun ke marmer halaman. Pintu sedan tertutup di belakangnya. Gonggongan terdengar dari arah pagar. Adriano menoleh. Suara itu datang lagi. Tiga ekor anjing bergerak di antara semak dan pagar. Salah satunya menarik sesuatu di tanah. Adriano berjalan mendekat. Cahaya lampu sedan menyapu rerumputan. Tubuh Elena terlihat di bawah mereka. Mantelnya koyak. Blusnya robek pada bahu dan lengan. Darah merembes dari kulit yang penuh bekas gigitan. Satu tangannya melindungi kepala, sementara tangan lainnya mencengkeram rumput. "Berhenti." Gonggongan terputus. Dua anjing mengangkat kepala. Satu mundur. Yang paling dekat dengan Elena masih menggigit lengannya. Adriano maju. Tinju kanannya menghantam sisi kepala anjing itu. Buk. Hewan tersebut mengerang dan melepaskan gigitan sesaat. Rahangnya kembali mengatup. Adriano mencengkeram moncongnya. "Lepaskan." Jemarinya menekan kedua sisi rahang. Anjing itu meronta. Adriano membuka mulutnya dengan paksa. Gigitan akh
Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema
Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti
Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.
Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m







