Beranda / Mafia / PEREMPUAN MILIK MORETTI / Ia Tidak Menyentuh—Tapi Memilih

Share

Ia Tidak Menyentuh—Tapi Memilih

Penulis: Pilar Waisakha
last update Tanggal publikasi: 2026-04-07 19:39:24
Mobil Adriano tiba lebih dulu.

Udara pelabuhan langsung menempel di kulit—asin, dingin, bercampur logam dan minyak yang tak pernah benar-benar hilang. Rantai bergesek pendek. Kait ditarik. Forklift melintas dalam jalur yang tak perlu diingat—tubuh yang menggerakkannya sudah hafal.

Tak satu pun menyambut.

Tak ada yang berhenti.

Sistem berjalan.

Adriano berdiri di tepi jalur utama.

Ia tidak menghalangi.

Ia juga tidak memberi jalan.

Garis-garis tetap melewatinya.

Tatapannya menyap
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ketika Perintah Tak Lagi Berarti

    Ketukan terdengar dari luar kamar. Tiga kali. “Signore, dokter sudah datang.” Adriano masih berada di lantai. Tubuh Elena terbaring di lengannya. Kepalanya bersandar pada lekuk siku, wajahnya pucat di bawah cahaya lampu. “Masuk.” Pintu terbuka. Seorang dokter masuk bersama dua perawat. Tas medis dibawa salah satunya. Perawat lain sudah mengenakan sarung tangan sebelum mencapai ranjang. Dokter langsung berlutut. Dua jarinya menekan sisi leher Elena. Ia menunggu. Kemudian mendekatkan punggung tangan ke bawah hidung perempuan itu. “Napasnya lemah.” Tatapannya turun pada luka di bahu, lengan, dan betis. “Berapa lama sejak terluka?” “Lebih dari satu jam.” Dokter mengangkat wajah. “Pindahkan ke ranjang.” Adriano bangkit. Lengannya menopang tubuh Elena dengan hati-hati. Rambut perempuan itu bergeser melewati dadanya ketika ia mengangkatnya. Darah menempel pada kemeja Adriano. Ia tidak melihatnya. Elena dibaringkan di atas ranjang. Perawat segera memasang infus. Jarum

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Di Ujung Kekuasaan

    Adriano masih berdiri di depan lemari. Dua jepit rambut merah berada di kedua tangannya. Yang kiri bersih. Yang kanan masih menyisakan tanah di sela lekukannya. Ibu jarinya mengusap permukaan yang satu, kemudian berpindah ke permukaan yang lain. Lekukan kecil di ujung. Lengkungan pengait. Goresan tipis dekat bagian dalam. Sama. Ia membalik keduanya. Tetap sama. Napasnya keluar pelan. Ingatan datang tanpa diminta. Elena saat pertama kali berdiri di hadapannya. Tatapan perempuan itu yang tetap bertahan meski tubuhnya gemetar. Tangan yang pernah ia tahan ketika mencoba menjauh. Bibir yang pernah ia cium karena ia menganggap kedekatan itu berada dalam kendalinya. Malam-malam yang tidak pernah ia pertanyakan. Tangis yang ia abaikan. Suara yang meminta berhenti. Tamparan. Ikat pinggang yang terlepas dari pinggangnya. Tubuh Elena yang tadi tergeletak di antara tiga ekor anjing. Adriano menutup mata. Dadanya mengembang. Tertahan. Kemudian turun. Satu benda telah ia

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sesuatu yang Tidak Bisa Dijelaskan

    Baru beberapa langkah Adriano melewati ambang pintu, suara Valerius terdengar dari belakang. “Dia tidak pernah mencintaimu, Adriano.” Langkah Adriano berhenti. Elena ikut terhenti di sampingnya. Berat tubuhnya hampir seluruhnya bertumpu pada lengan pria itu. Valerius masih berada di kursi rodanya. “Berapa lama lagi kau akan sadar?” Adriano menatap lurus ke depan. “Aku tidak sedang mencari hal seperti itu.” “Kalau bukan itu yang kau cari, apa?” Tidak ada jawaban. Tatapan Valerius turun pada darah yang menetes dari kaki Elena. “Dia hanya memanfaatkan kebaikanmu.” Jemari Adriano mengencang di lengan Elena. “Dan kau masih membawanya masuk ke rumah ini.” Adriano menoleh. “Bukan urusanmu.” Valerius mengangkat dagu sedikit. “Semua yang masuk ke rumah ini adalah urusanku.” Rahang Adriano mengeras. Ia tidak menjawab. Tangannya menarik Elena kembali berjalan. Jejak merah tertinggal di atas marmer. Elias masih berdiri di dekat rak buku. Tatapannya turun pada noda pertama.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Dibawanya Kembali

    Kaki Adriano turun ke marmer halaman. Pintu sedan tertutup di belakangnya. Gonggongan terdengar dari arah pagar. Adriano menoleh. Suara itu datang lagi. Tiga ekor anjing bergerak di antara semak dan pagar. Salah satunya menarik sesuatu di tanah. Adriano berjalan mendekat. Cahaya lampu sedan menyapu rerumputan. Tubuh Elena terlihat di bawah mereka. Mantelnya koyak. Blusnya robek pada bahu dan lengan. Darah merembes dari kulit yang penuh bekas gigitan. Satu tangannya melindungi kepala, sementara tangan lainnya mencengkeram rumput. "Berhenti." Gonggongan terputus. Dua anjing mengangkat kepala. Satu mundur. Yang paling dekat dengan Elena masih menggigit lengannya. Adriano maju. Tinju kanannya menghantam sisi kepala anjing itu. Buk. Hewan tersebut mengerang dan melepaskan gigitan sesaat. Rahangnya kembali mengatup. Adriano mencengkeram moncongnya. "Lepaskan." Jemarinya menekan kedua sisi rahang. Anjing itu meronta. Adriano membuka mulutnya dengan paksa. Gigitan akh

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Saat Dia Kembali

    Jemari Elena telah mencapai puncak pagar. Satu telapak mencengkeram jeruji paling atas. Kaki kirinya terangkat, mencari batang besi untuk pijakan. Suara rantai bergeser dari balik semak. Elena menoleh. Tiga ekor anjing menerobos keluar dari kegelapan. "Guk!" "Guk!" "Guk!" Tubuh mereka merendah sebelum melesat. Elena menarik tubuhnya lebih tinggi. Kaki kirinya berhasil menginjak besi. Kaki kanan menyusul. Jarak ke sisi luar pagar tinggal satu gerakan. Anjing pertama melompat. Rahangnya mengatup pada betis Elena. Tubuhnya tersentak. Kaki yang tadi mencari pijakan terlepas. Anjing kedua menerkam ujung mantelnya. Kain tertarik ke belakang. Elena mencengkeram puncak pagar dengan kedua tangan. Gigitan di kakinya semakin kuat. Mantel tertarik sampai jahitannya menegang. Sreeet. Kain robek. Pegangannya terlepas. Tubuh Elena jatuh. Bruk! Punggungnya menghantam tanah. Udara keluar dari paru-parunya. Belum sempat bangkit, bayangan hitam sudah mengelilinginya. Elena m

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Kebebasan yang Sudah Menunggunya

    Waktu terus berjalan di mansion. Lampu-lampu koridor padam satu per satu. Suara langkah staf semakin jarang terdengar dari balik pintu. Di kamar, hanya lampu tidur yang masih menyala. Elena duduk di lantai dengan punggung bersandar pada pintu. Tatapannya tertuju pada tirai jendela. Air mata di pipinya telah mengering. Telapak tangannya terbuka di atas lutut. Sobekan kertas itu masih berada di sana. Deretan angka yang tadi memenuhi permukaannya telah melebur menjadi garis-garis tinta. Salah satu bagian bahkan nyaris tidak berbentuk lagi. Ibu jarinya mengusap permukaan kertas. Berhenti. Stella Maris telah hilang. Anak-anak telah pergi. Dan Julian masih diburu. Pistol yang dibawa Adriano keluar dari mansion terlintas di kepalanya. Jemarinya menutup kertas itu.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Tidak Ada Tempat Aman di Meja Moretti

    Canapé reception kembali penuh suara saat Elena belum juga muncul di sisi Adriano. Percakapan bergerak dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa benar-benar putus. Nama kolektor disebut pendek. Jalur restorasi dibahas sambil lalu. Gelas-gelas tipis beradu pelan di bawah cahaya gantung yang mema

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Ia Tidak Lagi Sekadar Dipamerkan

    Pintu kaca terbuka.Udara di dalam lebih dingin—rata, cahaya jatuh merata di permukaan—lukisan, kaca, logam—tidak ada yang menonjol, tidak ada yang tertinggal.Percakapan sudah ada.Tidak berhenti ketika Adriano masuk.Hanya bergeser.Elena berjalan di sisinya.Sejajar.Tidak menyentuh.Tidak terti

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Yang Tidak Seharusnya Ada

    Pintu kamar mandi masih tertutup. Air mengalir tipis di baliknya—stabil, teratur. Elena berdiri di sisi ranjang, tidak duduk, tidak bergerak sepenuhnya. Ponsel di tangannya. Layar menyala. Singkat. Satu baris muncul—lalu hilang sebelum sempat dibaca utuh. Jarinya naik. Berhenti di atas kaca.

  • PEREMPUAN MILIK MORETTI   Sarapan yang Tidak Pernah Aman

    Ruang makan sudah siap sebelum siapa pun masuk. Cahaya pagi jatuh lurus dari jendela tinggi, membelah meja panjang menjadi dua sisi yang terlalu rapi untuk disentuh. Piring porselen tersusun presisi. Sendok dan garpu sejajar seperti garis komando. Cangkir kopi mengepul tipis—hangat, tapi tidak m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status