เข้าสู่ระบบ"Ada dua jenis mie, kuah dan goreng. Kau mau yang mana, Kai?" tanya Elzeren setelah mengambil dua bungkus mie lalu ia tunjukkan pada Kaina. Dia menjauh sedikit dari Kaina, memberikan ruang pada adil sepupunya yang mendadak membantu. Sedangkan Kaina, dia mendongak pada Elzeren. Tatapannya campur aduk, antara bingung dan malu. Jelas-jelas pria ini mencium keningnya, akan tetapi kenapa respon Elzeren biasa saja? Kaina tahu tadi itu ketidak sengajaan. Namun, haruskan respon Elzeren sebisa ini? Seolah kejadian tadi tak pernah terjadi. "Mie goreng atau kuah?" tanya Elzeren kembali, menaikkan sebelah alis sambil mengamati Kaina yang tampak mematung. "Kuah," gumam Kaina pada akhirnya, meraih bungkus mie kuah lalu segera menjauh dari Elzeren. Gila! Tadi Elzeren mencium keningnya, tubuh Kaina lemas seketika. Jantungnya bahkan hampir berhenti berdetak. Namun, bisa-bisanya Elzeren tetap biasa. Apa artinya? 'Dia nggak punya perasaan padamu, Kai. Dia waras, memandangmu sebagai saudara pere
Dia memutar tubuh ke arah samping, membuatnya berakhir jatuh ke tanah dengan posisi tangan menyilang di dada dan tengkurap. Elzeren diam sejenak sambil menatap tangannya yang kosong. Setelah itu, dia menatap ke arah Kaina. Hell! Sepertinya sepupunya ini benar-benar menghindarinya. Elzeren mengulurkan tangan untuk membantu Kaina yang sudah duduk di atas pasir agar berdiri. "Aku bisa sendiri, Kak," tolak Kaina, menepuk pelan tangan Elzeren lalu bangkit secara mandiri. Agar kakaknya tak curiga apapun, Kaina menoleh ke arah Xavier. Dia menjulurkan lidah pada Xavier lalu setelah itu kembali lari—kabur ke villa. "Kaina!" panggil Xavier dengan nada menbentak. Anak kecil itu benar-benar memancing kesabarannya. *** "Hah." Kaina menghela napas lega. Tadi itu, sangat menegangkan. Andai saja tadi Elzeren berhasil menangkap tubuhnya, pasti wajahnya akan merah seperti tomat busuk, jantungnya akan berdebar kencang, dan tubuhnya akan tegang. Dengan kondisi seperti itu, pasti Elzeren ak
"Kamu sengaja kan melukaiku?!" tuntut Gabby dengan nada kesal, melayangkan murka pada Sera. "Kesenggol, Kak, bukan sengaja," jawab Sera santai. "Lagian cuma kejepit doang. Lebay," tambahnya dengan menatap malas ke arah Gabby. Xavier menatap sekilas pada Gabby lalu menghampiri Sera. "Ambilkan aku minum, Ghazalah," titahnya dengan nada rendah akan tetapi terkesan bossy. Sera membuka cooler box lalu mengambil satu minuman kaleng, menyerahkannya pada Xavier yang sudah duduk di depannya—di kursi yang masih sama dengan Sera. Kursi yang Sera duduki jenis kursi malas panjang—bisa duduk sambil selonjoran. Namun, karena Xavier ikut bergabung dengannya, Sera melipat kakinya dan kini duduk dengan punggung tegang—tak lagi menyandar pada kursi. "Kau kenapa?" tanya Xavier datar pada Gabby. Di sisi lain, Gavin sudah menghampiri Gabby—meraih tangan perempuan itu lalu meniupnya untuk mengurangi rasa sakit di tangan Gabby. "Istri Kakak sepertinya tidak suka padaku," ucap Gabby dengan nada re
"Gabby?" ujar Lily, Nakilla, dan Calissya secara kompak pada Ruby yang tampak muram dan cemberut. Rubby tak menjawab, memilih duduk di sebelah Calissya. Dia menghela napas cukup panjang, menyandar pada kursi santai lalu menatap langit-langit dengan raut muka menahan kesal. "Sebenarnya Gabby itu siapa?" tanya Ruby dengan nada dongkol. Ekspresi wajah perempuan 25 tahun itu terlihat tak bersahabat. Padahal dia sudah berusaha tenang akan tetapi rasanya sangat sulit. "Gabby itu teman Kak Gavin dan yang lainnya. Kalau tidak salah, dia sepupuan juga dengan Kak Gavin. Tapi sepupu jauh sih," jawab Nakilla, "eih, teman Kak Lily juga kan?" tambahnya. Lily senyum muram lalu menganggukkan kepala secara pelan. "Hanya teman biasa saja kok. Dulu kami satu kuliah dan satu fakultas juga, tetapi tidak saru jurusan. Habis kuliah kami putus kontak, tapi saat ingin menikah dengan Arlond, aku temenan lagi dengannya. Soalnya dia masih temenan dengan Arlond dan gengs-nya. Tapi kami temenan biasa saja.""O
"Di sini panas, Na. Lebih baik, kau di sana dengan Nyonya Muda," ucap Aiden, kembali mengambil handuk yang sudah sempat diambil oleh Nakilla tersebut lalu meletakkan handuk tersebut ke atas kepala Nakilla—sebagai pelindung supaya Nakilla terlindung dari panas. "Kau baik-baik saja?" tanya Elzeren tiba-tiba, sudah berada di sebelah kembarannya. Nakilla menatap Elzeren lalu menganggukkan kepala secara pelan. "Aku nggak apa-apa kok, Eiren.""Tapi kau memang lebih baik duduk di sana dengan Sera. Kau ini lemah," datar Elzeren, menatap santai pada kembarannya tetsebut. "Iya!" kesal Nakilla. Dia menghentakkan kaki lalu berjalan menuju tempat Sera. Seperginya Naikla, Elzeren langsung meminta salah satu bodyguard untuk ikut bermain dengan mereka—ganti Nakilla. "Kau ingin berhenti, Sweetheart?" tanya Xavier pada adiknya. Hari semakin terik dan panas, Xavier cukup khawatir pada adiknya. "Nggak ah. Ini duniaku," ujar Kaina tegas. "Humm." Xavier mengusap pucuk kepala Kaina lalu kembali ke
Deg deg deg''Mas katanya?' batin Sera, diam mematung dengan jantung yang berdebar sangat kencang. Namun, debaran itu sama sekali tak mengganggu, malah terasa menyenangkan hingga rasanya Sera ingin menjerit kegirangan. 'Mas Izin main.' Kalimat Xavier tersebut kembali mengulang dalam kepala Sera, membuat pipinya terasa semakin panas. Tanpa sadar, Sera senyum-senyum tak jelas. Padalah di tempat Sera ini sangat sejuk, tetapi wajahnya terasa sangat panas. Selain itu, dia rasa hatinya sedang meleleh layaknya butter dipanaskan. 'Aku nggak tahu kalau Mas Xavier itu … selain mahir bikin kepanasan, dia juga mahir bikin meleleh. Argkkk … aku pengen menjerit!' batin Sera, meraih bantalan kecil untuk leher lalu menggunakan bantalan tersebut untuk menutupi wajahnya yang sudah memerah. Dia melakukan itu saat Xavier menoleh dan menatap ke arahnya. Sedangkan Xavier, dia menyunggingkan smirk tipis ketika menatap ke arah istri dan mendapati istrinya sedang senyum-senyum. Fix, Sera Ghazalah Adam—is
Kaizen menatap mamanya dengan ekspresi flat, tetapi dengan sorot mata yang intens. Dia diam cukup lama untuk mempertimbangkan sesuatu hingga pada akhirnya mengangukkan kepala sebagai tanda setuju. Naia tiba-tiba membalik tubuh, wajah galaknya langsung hilang, bersama dengan senyuman senang yang m
Di sisi lain, Aluna yang panik langsung bersembunyi dalam selimut. Sedangkan wanita yang masuk ke kamar ini, tiba-tiba saja berlari keluar. Di dalam selimut, Aluna mencoba menangkan diri. Namun melihat pria di sebelahnya hanya mengenakan celana pendek, Aluna semakin panik. Rasa paniknya lebih tak
Kaizen segera memeriksa mobilnya, mencari keberadaan sumber suara tersebut. Saat Kaizen menoleh ke belakang mobil, dia tidak menemukan apapun. "Sssst … mmm …." Akan tetapi suara itu jelas dari arah jok belakang. Kaizen memutuskan lebih teliti memeriksa, membuka pintu jok belakang untuk melihat
"Aku sudah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanmu, Aluna Sayang." Aluna Rasya Adam (24 tahun), melebarkan mata saat mendengar ucapan pria tersebut. Ia menatap takut campur panik pada seorang pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Pria itu menjulang tinggi, memperlihatkan senyuman miring







