Inicio / Male Adult / Pesona Pria Plus-plus / bab⁶⁶—Menenangkan Vanila~

Compartir

bab⁶⁶—Menenangkan Vanila~

Autor: Na_Vya
last update Fecha de publicación: 2026-04-25 21:34:12

Setelah seharian melakukan tugas barunya sebagai asisten pribadi Maudy. Begitu selesai, Bagas bergegas mengemudikan mobilnya menuju Rumah Sakit untuk menemui Vanila.

Dan alasan Bagas pada Maudy pun tetap sama, yakni hendak menjenguk seorang teman yang dirawat di Rumah Sakit. Perempuan itu percaya dan memberi izin tanpa banyak bertanya.

Aneh tapi Bagas tidak perlu memikirkannya.

Sebab, dia merasa Maudy memang sudah memercayainya sepenuhnya.

Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan menuju R
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰⁵—Kolaps!

    Pada akhirnya, Bagaslah yang mengantar Vanila dan Rachel ke rumah Marco. Namun, sebelum itu, mereka menuju ke rumah sakit terlebih dahulu, karena kondisi Roy yang melemah benar-benar membutuhkan perawatan secepatnya."Lingga, cepet sedikit! Bokap gue ..." Rachel yang memangku kepala papinya tak berhenti menangis sedari tadi, melihat kondisi sosok yang dia sayang terbaring lemah tak berdaya. Roy nampak kesulitan bernapas, dan sekujur tubuhnya sangat dingin. Dia memang belum membuka mata, tetapi nampaknya sudah setengah sadar, lantaran mulutnya terus bergumam. Mendengar isakan Rachel, fokus Bagas malah terpecah belah. Antara menyetir dan menenangkan gadis itu. "Sabar, Chel. Bentar lagi kita sampe, kok." Laju mobil yang dikendarainya sudah di atas rata-rata.Namun, jarak yang cukup jauh membuat perjalanan menuju ke rumah sakit terasa lama. Ditambah dengan medan yang berkelok-kelok, dan aspal yang tidak rata, semakin memperlambat.Vanila yang duduk di samping Bagas juga tak tinggal di

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰⁴—Rachel cemburu~

    Maudy memutus panggilan video setelah memberikan perintah. Sedangkan Marco langsung memerintah Bagas agar melepas ikatan Rachel dan Roy. "Gas, lepas aja iketannya." Marco mengembalikan ponsel Bagas. Lalu dia berjalan menghampiri Sandi yang membawa keluar jerigen berisi bensin. Dengan dibantu Vanila, Bagas melepaskan belitan tali yang mengikat tubuh Rachel dan Roy. "Van, abis ini elo langsung ke mobil aja sama Rachel. Biar gue yang bawa Roy nyusul kalian," ucap Bagas. "Aku nunggu, apa langsung ke rumahnya Bang Marco?" tanya Vanila. Sesuai rencana, Rachel dan Roy akan tinggal sementara waktu di rumah Marco. "Tanya Bang Marco aja. Gue juga gak paham." "Gue sama papi mau dibawa ke mana, Lingga?" Rachel bertanya dengan suara rendah dan sangat pelan. Tenggorokannya lumayan terasa sakit karena terus-terusan berteriak dan menangis. Berakting rupanya menguras tenaganya. Namun, di sisi itu, hatinya juga merasa lega lantaran telah menumpahkan sumpah serapah untuk ibu tirinya yang tid

  • Pesona Pria Plus-plus    bab¹⁰³—Perintah Maudy~

    Lantas, panggilan telepon diganti dengan panggilan video oleh Bagas. Wajah perempuan yang sangat dia benci itu langsung terpampang di layar ponselnya. Maudy nampak sedang duduk tenang di kursi kebesarannya. "Hai, Tan?" Bagas menyapa dengan senyuman manis, merubah rautnya senatural mungkin. "Hai, Lingga...." Maudy membalas dengan senyuman yang manis pula. Mengarahkan kamera ponselnya tepat di depan wajahnya yang terlihat masih sangat kencang. Dari layar, Bagas bahkan tak menemukan satu pun kerutan di wajah Maudy. "Tante di kantor?" tanyanya, lalu berjalan mendekati dan Rachel dan Roy. ''Iya. Tadi ada tamu," jawab Maudy. ''Mana? Mana Rachel sama Roy?" Perempuan itu nampaknya sudah tidak sabar ingin melihat kedua orang tersebut. Kamera ponsel langsung dialihkan ke arah Rachel dan Roy. "Nih! Tante bisa liat sendiri." Bagas mengarahkan kamera bergantian. Rachel terlihat marah, ketika dia melihat wajah Maudy di layar ponsel Bagas. "Mami jahat!!" geramnya. "Mami kejam!" Tetes de

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰²—Akting~

    Suasana menjadi hening sejenak, diantara mereka tak ada satu pun yang bersuara lagi. Hingga dering ponsel menggema di seluruh ruangan dan memecah kesunyian sesaat itu. Semua mata tertuju pada Bagas, yang sibuk merogoh saku celananya. Rupanya, bunyi tersebut berasal dari ponselnya.. "Maudy?" Keningnya mengernyit saat melihat nama pemanggil yang tertera di layar. Dia lantas mengalihkan pandangan ke Marco, dan bertanya. "Bang, Maudy telepon. Gimana?" "Angkat aja. Kalo dia tanya, bilang aja lagi proses." Marco menjawab, lalu beralih pada Rachel. "Chel, gue minta kerja samanya kali ini. Elo bisa 'kan?" tanyanya, berharap gadis itu bisa diajak bekerja sama. Raut gadis itu nampak menahan kesal sedari tadi. "Terserah!" sahutnya galak. Namun, tak urung dia menuruti Marco, dan ikut bersama Vanila. "Gue keluar dulu, ya, Bang. Sementara kalian siapin semuanya," ucap Bagas. Marco mengangguk, lantas gegas menyiapkan segalanya agar terlihat seperti sebuah drama betulan. Kali ini dia akan

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰¹—Persiapan eksekusi(2)

    "Gue cuma jaga-jaga, Gas," sahut Marco, mengambil bungkusan plastik berlabel nama apotek dari tas. Dia lantas mengambil botol air mineral di meja. Bagas membuntuti Marco dari belakang, bertanya-tanya dalam hati perihal rencana yang sama sekali dia tidak tahu. Jenazah? Dapat dari mana Marco, dua jenazah sekaligus, pikir Bagas. "Nah, kalo itu obat apa, Bang?" tunjuk Bagas pada obat yang ada di tangan Marco. "Ini obat penetral. Untuk sementara kita bisa kasih ini dulu ke Roy. Baru nanti kalo udah di rumah sakit bisa dapet penanganan dari dokter," jelas Marco, yang kemudian memasukkan dua butir obat berwarna putih ke mulut Roy, tentu dengan bantuan Bagas. Kondisi Roy yang masih belum sadarkan diri cukup menyulitkan. Apalagi, selama ini Roy mengonsumsi obat tidur secara berlebih. Dan, untuk sementara waktu Marco memberikan obat penetral, untuk mengurangi kandungan yang mungkin sudah menumpuk di tubuh Roy. Sembari menunggu penanganan dari dokter ahli. Mendengar penjelasan yang

  • Pesona Pria Plus-plus    Bab¹⁰⁰—Persiapan Eksekusi(1)

    Waktu terus berjalan, dan langit sebentar lagi gelap. Suasana di gubuk itu agak tegang sekaligus mengharukan. Perasaan Bagas pun saat ini campur aduk. Untuk pertama kalinya dia menjalankan rencana besar yang melibatkan banyak orang. Walau semua ini hanya sandiwara, rasa gugup pastinya ada. Apalagi, di luar sana ada anak buah Maudy yang membuntuti. "Papi!" Rachel loncat dari bangku dan berlari, begitu melihat sosok yang baru saja masuk. Sosok yang hampir enam bulan dia tunggu-tunggu kepulangannya. Sang papi yang dia rindu selama ini. "Papi!" Gadis itu memeluk Roy yang terduduk di kursi roda dalam kondisi masih belum sadarkan diri. Menumpahkan segala kerinduannya di pundak renta sang papi, yang tak bergerak sama sekali. Tangisan Rachel pecah, disusul ucapan syukur. Sementara semua orang yang berada di gubuk itu ikut larut dalam pertemuan yang penuh haru, dan emosional. Bagas menyusut lelehan bening yang menetes di pipi dengan lengan. Hatinya cukup merasa lega, lantara

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status