เข้าสู่ระบบKawasan Menteng di pagi hari biasanya menyuguhkan suasana yang sangat tenang. Ada deretan pohon rindang, embun tipis di atas daun, dan aroma kopi hangat dari warung-warung yang mulai buka. Tapi ketenangan kawasan elit itu mendadak terganggu ketika suara sirine mobil patroli polisi berbunyi sangat nyaring, mendekat dengan cepat lalu berhenti tepat di halaman RM Jagoan Rasa.Suara rem mobil yang mendadak dan lampu sirine merah-biru yang menyala memantul di kaca bangunan restoran, merusak suasana pagi yang sepi. Para tetangga yang baru mulai menyapu halaman atau berbelanja di tukang sayur keliling langsung menghentikan aktivitas mereka. Mereka berkumpul di pinggir jalan sambil berbisik penasaran melihat kejadian itu.Di dalam rumah, Vanesha, Celine, dan Audrey yang baru saja bangun tidur langsung merasa kaget. Ketiganya saling pandang dengan tatapan bingung dan waspada."Ada apa lagi ini pagi-pagi begini?" gumam Celine sambil merapikan bajunya yang sedikit kusut.Vanesha bergegas be
Suara hantaman pintu ruang VIP yang jebol akibat tendangan serentak Vanesha, Celine, dan Audrey memecah keheningan ruangan mewah tersebut. Debu tipis berterbangan di ambang pintu, berpadu dengan aura permusuhan yang pekat. Ketiga istri Madun berdiri berjejer dengan mata menyalang tajam, menatap lurus ke arah Natasha yang masih berdiri terlalu dekat dengan suami mereka.Vanesha melangkah maju lebih dulu, jemarinya terkepal kuat di sisi tubuhnya, sementara tatapannya memancarkan kemarahan seorang wanita yang wilayah kekuasaannya diganggu musuh bebuyutan."Rupanya sang Ratu Malam yang terhormat ini belum kapok juga mencari masalah di kandang macan!" suara Vanesha menggelegar dingin, memecah ketegangan di dalam ruangan. "Berani sekali menawar posisi istri keempat di depan muka kami bertiga!"Audrey dan Celine menyusul di belakang Vanesha, berkacak pinggang dengan ekspresi wajah yang sama-sama siap menerkam. Audrey menatap Natasha dari atas ke bawah dengan cibiran tajam. "Modelan muka
Perjalanan kembali dari Pasar Induk Kramat Jati menuju kawasan Menteng ditempuh oleh Madun dalam waktu yang sangat singkat. Motor bebek Honda Lele tua miliknya melesat membelah kemacetan ibu kota bagai kilat, dikendarai dengan satu tangan sementara tangan kirinya memastikan karung-karung petai segar aman terikat di bagian belakang. Begitu tiba di pelataran RM Jagoan Rasa, Madun sama sekali tidak membuang waktu. Ia langsung mematikan mesin, melompat turun dengan sandal jepit swallow hijau keramatnya, dan melangkah lebar memasuki pintu utama restoran dengan aura wibawa yang menggentarkan siapa saja yang melihatnya.Di dalam restoran, suasana tampak tegang. Para pelayan berdiri bergerombol di dekat meja kasir dengan wajah pucat pasi, sementara Vanesha mondar-mandir mondar-mandir di ruang depan sambil menggigit kuku jemarinya menahan amarah."Di mana dia?" tanya Madun singkat kepada Vanesha dengan suara baritonnya yang berat dan berwibawa.Vanesha menunjuk ke arah koridor eksklusif di
Suasana di sudut area bongkar muat Pasar Induk Kramat Jati mendadak berubah drastis dari riuhnya aktivitas perdagangan menjadi kepompong pribadi penuh gairah yang membakar. Di balik bayangan badan truk sayur berukuran besar yang tertutup terpal gelap, Madun dan Audrey terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar. Aroma segar kubis, daun bawang, dan tanah basah khas pasar berpadu dengan wangi parfum feminin milik Audrey, menciptakan atmosfer yang pekat dan memabukkan.Audrey menyandarkan punggungnya pada dinding besi bak truk yang dingin, sementara kedua tangannya masih melingkar erat di leher suaminya. Napas gadis itu memburu, naik turun tidak beraturan akibat gelombang adrenalin sisa duel kilat melawan para preman bayaran tadi, yang kini sepenuhnya bermutasi menjadi letupan nafsu berahi yang luar biasa dahsyat."Om..." rintih Audrey tertahan, suaranya bergetar manja di sela desisan angin pagi. "Jangan lama-lama membuat aku penasaran. Badan aku sudah lemas rasanya ingin leleh..."Madun
Lorong sempit Pasar Induk Kramat Jati yang tadinya mendadak sunyi brubah jadi arena ketegangan tingkat tinggi. Delapan preman badan kekar berseragam jaket kulit hitam lencana mawar hitam berdiri ngepung, pegang sragam senjata tajam sm pipa besi. Di barisan paling dpan, pemimpin preman bekas luka sayat nyengir lebar, ngerasa di atas angin krn nira sang jagoan desa bakal terjebak di kepungan.Tapi, reaksi yang ditunjukkin Madun jauh banget dari perkiraan mereka.Alih-alih lepas rangkulan atau pasang kuda-kuda tarung kaku, Madun tetep berdiri santai banget. Kaki kanan beralaskan sandal jepit swallow hijau keramat bertumpu rileks di lantai semen pasar yang basah. Penuh PD, tangan kiri Madun tetep rangkul erat pinggang ramping Audrey, tarik tubuh istri ketiganya itu nempel aman dan nyaman di sisi tubuhnya."Wah, rupanya rombongan sirkus keliling nyasar smpe los sayur," gumam Madun suara bariton berat santai, mecah kesunyian pagi pasar induk. "Kalian salah tempat kalau mau cari panggung
Mentari pagi di langit Jakarta makin tinggi, mancarin bias cahaya keemasan yang nembus celah gedung pencakar langit ibu kota. Udara pagi yang seger berpadu kepulan asap kendaraan, ciptain ritme hidup metropolitan yang serba cepet. Di tngh hiruk-pikuk lalu lintas pagi yang padat, pemandangan kontras tapi ikonik banget nampak di ruas jalan protokol Menteng ngarah pinggiran kota.Motor bebek tua Honda Lele warna biru pudar melaju lincah nyalip deretan mobil sedan mewah sm bus kota. Di atas jok motor legendaris itu, duduk sang jagoan desa, Madun. Dia pake kaos oblong putih polos kesayangan, celana training hitam longgar, dan tentu saja—lambang keagungan abadi—sandal jepit swallow hijau keramat yang bertumpu mantap di pijakan kaki motor. Di blakangnya, melekat erat istri ketiga yang jelita dan lincah, Audrey.Perjalanan pagi itu bkn sekadar jalan-jalan biasa bwt belanja kebutuhan dapur restoran. Di atas motor bebek tua yang mesinnya menderu konstan krn racikan jamu rawa lele, tersimpen
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o
Sore menjelang malam Jum'at, Madun mau tak mau kembali ke rumah Siska sesuai jadwal periksa yang ditetapkan Siska.Sebenarnya Madun merasa aneh karena diminta ke rumah bukan ke klinik. Tapi, karena tidak tahan ingin berduaan dengan Bidan Siska yang cantik, Madun menurut saja. "Madun, sebelum kita







