LOGINSuara gonggongan anjing pelacak memantul di dinding beton lorong pipa. Anjing herder itu terus menyalak merespons bau asing di dalam saluran drainase gelap tersebut.Leo melepaskan tekanan jarinya dari area dada atas Amel secara perlahan."Tetap di posisi ini sampai pintu air terbuka," instruksi Leo melepaskan rengkuhan ahli hidrologi itu.Amel mengangguk pelan melepaskan gigitannya dari bahu kemeja sang pria. Napas wanita itu masih memburu berusaha mengendalikan sisa-sisa lonjakan endorfin yang membakar sarafnya.Leo membalikkan badannya dan mengangkat kaki kanannya menghadap penutup pipa beton di ujung lorong.Tendangan kuat dari sepatu pantofel sang dokter menghantam jeruji penutup saluran tersebut hingga terlepas dari dudukannya. Besi penutup itu terlempar ke depan menabrak tulang kering algojo terdepan yang memegang tali anjing.Preman itu terjungkal ke belakang melepaskan tali kekang anjingnya ke tanah berlumpur.Leo melangkah merunduk keluar dari ujung pipa beton menembu
Sepatu pantofel Leo menapak pelataran semen stasiun pompa air utama bendungan sesaat sebelum fajar menyingsing.Suara gemuruh debit air tertahan menggema dari balik dinding bendungan raksasa yang menjulang setinggi puluhan meter.Leo melangkah melewati celah pagar kawat yang rusak dan menyusup masuk ke area ruang kendali pompa.Di dalam ruangan yang diterangi lampu temaram itu, Amel sedang berlutut di lantai dengan tangan terikat ke belakang. Ahli hidrologi itu mengenakan kemeja lapangan lengan pendek dan kacamata berbingkai tebal.Tiga algojo bertelanjang dada mengelilingi Amel sambil mengayunkan potongan pipa paralon."Berhenti mengutak-atik panel kontrol itu atau tanganmu yang akan kupatahkan!" ancam algojo pertama memegang dagu Amel secara kasar."Pintu air itu harus dibuka perlahan atau tekanan hidroliknya akan menghancurkan turbin utama!" tolak Amel mempertahankan argumen teknisnya dengan suara bergetar."Juragan Tirta tidak peduli pada turbin, dia hanya ingin desa dokter
Tumpukan material baja dan semen curah kembali tertata rapi di area proyek pembangunan Rumah Sakit Terpadu. Rantai derek alat berat bergerak aktif menarik pilar pondasi diiringi deru mesin tegangan tinggi.Pasokan daya listrik dari gardu induk distrik mengalir stabil tanpa interupsi.Namun, debu tanah merah di sekitar lokasi proyek beterbangan tidak terkendali akibat kekeringan parah. Saluran pembuangan sementara dan bak penampung utama proyek menyusut drastis menyisakan lapisan lumpur retak.Sekar berlari kecil melintasi pelataran proyek membawa setumpuk laporan operasional. Mandor wanita itu mengusap wajahnya yang kotor oleh debu menggunakan punggung tangan."Dokter, ada berita gawat. Debit air tanah di seluruh desa menyusut ke batas kritis pagi ini," lapor Sekar menghentikan langkah Leo."Fasilitas sterilisasi rumah sakit kita membutuhkan jutaan liter air bersih untuk beroperasi," tambah Sekar menyodorkan kertas laporannya. "Sumur bor utama proyek kita mati total."Leo mengam
Suara derap langkah sepatu bot menjauh meninggalkan area trafo tegangan tinggi. Bau tembaga panas mendominasi udara di celah sempit itu saat Leo memutus tekanan jarinya dari perut bawah Nita.Pria itu memegang kedua bahu sang insinyur menstabilkan postur tubuh wanita tersebut agar tidak jatuh.Nita mengatur napasnya yang masih memburu menahan sisa-sisa lonjakan hormon endorfin.Keringat dingin membasahi pelipis wanita berkacamata itu, menyamarkan rona merah di wajah eksotisnya."Kau akan memperbaiki meteran itu setelah aku menyingkirkan lintah darat ini," perintah Leo dengan nada sangat rendah.Leo memutar tubuhnya menghadap pintu panel trafo dan mengangkat kaki kirinya. Tendangan keras dari sepatu pantofel sang dokter menghantam engsel baja panel tersebut hingga patah.Pintu panel terlempar ke luar membentur dinding beton gardu menciptakan suara dentuman keras.Haryo yang sedang berdiri tidak jauh dari posisi itu terkesiap membalikkan badannya. Mafia kelistrikan itu memegang se
Angin malam berembus membawa hawa panas dari deretan gardu beton bertegangan tinggi di pusat distrik. Leo mematikan mesin Jeep hitamnya di balik rimbunan semak belukar yang menutupi pagar kawat berduri.Pria itu memanjat pagar kawat tersebut tanpa merobek kemeja linennya sedikit pun. Ia mendarat tanpa suara di atas pelataran aspal gardu induk kelistrikan.Ruang kontrol utama berada di sebuah bangunan beton di ujung fasilitas tersebut. Cahaya lampu neon putih menerangi ruangan yang dipenuhi deretan monitor panel sirkuit.Leo mendorong pintu ruang kontrol yang tidak terkunci rapat dan melangkah masuk menghindari pantulan cahaya.Dua preman berseragam teknisi sedang menyudutkan seorang wanita ke arah meja panel meteran. Nita berdiri kaku menahan rasa perih di sudut bibirnya yang mengeluarkan garis darah tipis.Insinyur kelistrikan wanita itu mengenakan kemeja kerja lapangan yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Kacamata minusnya sedikit miring akibat tamparan kasar barusan."Ma
Suara mesin bor beton terhenti mendadak di tengah pengerjaan fondasi Rumah Sakit Terpadu.Rantai derek alat berat menggantung kaku di udara tanpa daya penggerak.Proyek pembangunan fasilitas medis Leo membutuhkan pasokan listrik tegangan tinggi dari jaringan pusat untuk menyalakan seluruh alat berat.Namun, gardu induk distrik memutus aliran listrik ke seluruh desa secara sepihak tepat pada pertengahan hari.Bidan Ayu berlari menuruni tangga puskesmas membawa radio komunikasi portabel. Keringat membasahi dahi asisten medis itu menahan hawa panas."Dokter, seluruh mesin ventilator di ruang rawat darurat terpaksa dialihkan ke baterai cadangan," lapor Ayu dengan napas memburu. "Kapasitas daya darurat kita hanya mampu bertahan maksimal selama dua jam.""Hubungi pihak gardu induk sekarang juga dan tanyakan alasan pemadaman ini," instruksi Leo berdiri tegak menghadap jalan raya.Tiga mobil operasional pemeliharaan jaringan listrik memasuki pelataran proyek tanpa izin, menggilas papan p
Sementara itu, rahang Leonardo mengeras. Urat-urat di lehernya menonjol. Gairah yang tadi terpaksa padam kini tersulut kembali, berubah wujud menjadi amarah yang sangat pekat dan mematikan. Matanya menatap tajam ke arah ruang tamu.Siapa yang berani membuat keributan di tengah malam buta seperti in
Bibir sang dokter langsung meraup bibir ranum Maya yang sudah bergetar menantinya. Erangan tertahan lolos dari tenggorokan wanita matang itu saat sentuhan bibir yang awalnya lembut berubah menjadi lumatan liar dan rakus. Rasa haus akan sentuhan pria yang sudah bertahun-tahun terpendam, akhirnya m
Leonardo masih terpaku memandangi lekuk tubuh Maya, berusaha keras menyembunyikan kilat gairah di matanya di balik ekspresi wajah yang tenang.Otaknya yang sedang merangkai imajinasi liar tiba-tiba terhenti saat suara Kania memecah lamunan."Ibu!" Kania setengah berlari menghampiri ibunya yang masi
Senyuman nakal di bibir Leonardo Xaverius belum sempat memudar saat Kania akhirnya tersadar dari rasa syoknya. Gadis desa itu tiba-tiba menunduk, dan matanya membelalak panik melihat ikatan kemben batiknya yang merosot tajam, mengekspos belahan dadanya yang putih dan penuh di bawah cahaya remang bu







