LOGIN"Aku tidak yakin bisa mencintaimu sebagaimana Ramona melakukanya. Tapi aku janji, aku akan berusaha!" -Dewi Maryam- *** "Tanpa mengurangi rasa hormatku sebagai anakmu, Ma, aku meminta restu Mama untuk menikahi perempuan pilihanku. Aku tau, jalannya tidak akan selalu mudah, tapi satu yang harus Mama tau. Dia akan menjadi ibu yang baik dari anak-anak Dimas." -Adimas- *** Kisah seorang gadis yang terpaksa bekerja sebagai perempuan penghibur karena kondisi perekonomian keluarga. Di mana akhirnya dia menata kembali kehidupanya setelah bertemu seorang pria baik, bernama Dimas. Yang dari pria tersebut dia merasakan kehangatan kasih, dan ketulusan cinta yang sudah sepatutnya menjadi dambaan setiap perempuan.
View More"No, please don't beat me, please I beg you. I.. I swear I'll finish all these works before evening. I swear." Ivana woke up all sweating and panting. "Not again... not again God. I thought I'd be able to sleep peacefully without having sleeping pills at least for a day but no. I was wrong. Hash! why did I even forget to keep an extra stock of pills!"
While looking at the sky full of stars and moon, a drop of tear rolled down from her brown eyes.
"Why did you leave me alone dad? mom? You were supposed to be with me right? You were supposed to be with me and support me, sing with me laugh with me, share your opinions with me, make me smile when I go through pain. Why did you leave me alone?"
"It would have been better if you'd have taken me along with you that day. I was waiting for you people in my princess gown. Your princess was waiting for you dad, that my dad is bringing my favourite chocolate cake for me on my birthday with a Barbie on top of it. I was waiting for you mom. I was waiting for the tiara you'd make for me on my every birthday. But you left me forever. You promised me mom dad that you'd come soon with my cake and tiara. But you left me alone forever. I miss you mom dad. I hope you people are watching over me from where ever you are."
When she starts thinking about her parents, she remembers every sweet moments she spent with her parents. The cookies they baked together, the cute fights between mom and dad over the dress Ivana should wear on her birthdays, the songs they used to sing together, how her father taught her to play piano. A sweet smile escaped from her lips. But then she remembered the pool of blood in front of her eyes on her eleventh birthday and reality hit her.
She looks over the star for one more time and covers up her face with a fake smile that she has been wearing since years. Then she start penning her pain to her companion, her dear diary. The only one who knows the pain inside her heart, the only one who knows pain behind her fake smile!
"DEAR DIARY, I don't know what would I do if it wasn't you with whom I'd share my pain and my feelings. Thank you for always being there for me, for always listening to me without any complaints and letting me explain what I feel and go through. Guess what, I again had that nightmare. The one I've been trying to avoid all my life."
"I just want to know whether God has planned all the worst in the universe for me? Whenever I try to forget about everything although I know it's impossible, things just go opposite. it's been six years, I need to have sleeping pills every night or else I would have to face the nightmare again. And I guess this is what will happen to me all my life."
"You know what, I just wish I could change my fate, my life and my memories. I swear I could do anything to do so but alas! That's not what is going to happen. I need to face all the pains and agonies all my life. DEAR life, you've already given me enough troubles, would you be kind enough to leave a tiny bit of happiness in my life?"
Dimas menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan gelisah. Denga langkah seribu pria itu berjalan ke ruangan bersalin. Satu per satu kamar dia periksa demi mendapati sang istri, nyaris putus asa karena Dewi tak juga ditemukan. Kini langkahnya tiba di ruangan paling ujung. Pria itu menekuk lutut dengan kedua mata terpejam. Jantungnya memompa darah begitu cepat, bayangan dari rasa bersalah telah membiarkan istrinya yang saat ini sedang membutuhkannya terus berkelibat di kepala. Dewi tidak memiliki keluarga lain selain Dimas di kota itu. Suara rintihan dari seorang perempuan yang sangat familiar masuk ke dalam telinganya. Seketika kedua mata pria itu terbuka lebar dan menegakkan badan. Bergegas Dimas membuka gorden yang berada di sebelah kiri tubuh. Dilihatnya seorang wanita yang tengah menangis sembari berpegangan pada lengan Rina, salah satu karyawati di perusahaan tempatnya bekerja."Sabar, Bu. Bu Dewi pasti kuat." wajah wanita itu terlihat panik. Dia belum memiliki pengalaman mela
Di ambang pintu berpegangan pada kusen dan satu tangan mengelus perut yang terasa berdesir karena janin di dalam perut melakukan sebuah pergerakan, Dewi menatap nanar pada Dimas yang pergi berlalu melewatinya tanpa sepatah kata. Perasaan nyeri menyerang ulu hati mendapati sang suami beraut dingin, tidak sehangat biasanya. Dewi tidak menyangka jika Dimas akan semarah itu. Biasanya pagi-pagi sekali pria itu sudah mempersiapkan makanan untuk mereka sarapan, namun pagi ini terasa jauh berbeda dari biasanya. Hanya ada roti tawar dan selai kacang di balik tudung saji. Tidak ada lagi baki berisi beragam menu masakan seperti kemarin. Pria itu pergi ke tempat kerja tanpa berpamitan (walau di waktu lalu ucapan pamitnya kerap kali dibalas ketus, bahkan seolah terkesan Dewi abaikan), tetapi Dewi merasa lega. Keberadaannya masih berada dalam jangkauan perhatian pria itu. Tetapi itu kemarin, entitasnya saat ini seperti sebuah mahluk tak kasat mata. "Ini semua salahku. Seharusnya sejak awal aku m
Pagi itu Dewi bangun dan mendapati sarapan sudah tersedia di atas nakas di samping tempat tidur. Dimas menjadi suami siaga semenjak tahu istrinya hamil. Pria itu selalu menyempatkan diri untuk memasak jika waktu subuh tiba, atau membeli masakan di warteg jika dia tak sempat. Hal itu dilakukan Dimas tanpa pamrih, meski hingga hamil memasukki trimester terakhir pun Dewi masih hemat bicara dengannya. Segala sikap dingin Dewi diakari oleh kesalah pahaman Dewi terhadap Dimas dan Anggita. Pria itu hampir putus asa. Berulang kali Dimas menjelaskan, jika antara dirinya dengan Anggita tak ada hubungan sepesial, namun hanya punggung sang istri yang dia dapat. Perlahan Dewi beringsut mendekati nakas tanpa ada keinginan untuk melepas pantat yang menempel pada benda yang ada di bawah tubuh. Perlahan dia mengambil baki makanan dengan sangat hati-hati, khawatir jika makanan di dalamnya tumpah. Namun alis tebalnya tiba-tiba bertaut, mendapati secarik kertas di sekatan baki logam.'Mas sudah siapka
Akhir-akhir ini Dewi merasa tidak enak badan. Tubuhnya mudah lelah, nafsu makan berkurang, mual disertai sakit kepala, bahkan tak jarang gadis itu muntah. Gejala-gejala tersebut selalu datang mengganggu harinya, dan semakin parah di waktu pagi.Sudah selama satu minggu Dewi tinggal di kosan Eva, Dewi enggan untuk kembali pulang. Rasa kecewanya terhadap Dimas yang membabi buta menjadikan dia lupa atas segala kebaikan sang suami."Wi, apa kau tidak ingin memeriksakan kondisimu ke dokter?" tanya Eva dengan raut wajah menunjukkan kekhawatiran. Gadis itu membaca gejala-gejala kesehatan yang Dewi alami akhir-akhir ini sebagai tanda kehamilan. Namun, melihat kondisi hati sahabatnya yang masih didera kecewa, Eva tidak ingin mengatakannya terlebih dahulu. Biarkan Dewi mengetahui sendiri."Tidak, Va, aku baik-baik saja." jawab Dewi yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah menumpahkan isi perutnya, bubur ayam yang menjadi sarapannya pagi ini.Jelas sekali gadis itu berbohong. Wajahnya yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews