LOGINPuspa Paramita, terjebak dalam hubungan asmara palsu bersama seorang rentenir anti-romantis, denial soal cinta, dan hanya tahu tentang bisnis. Hakam Astana, duda anak satu yang di paksa istrinya sendiri, Zara Naila, cerai tanpa alasan yang jelas. Walau begitu, Zara enggan membiarkan mantan suaminya pergi bersama wanita lain. Puspa yang terjebak 'hutang' pada Hakam, terpaksa harus mengikuti aturan dari sang rentenir yang dingin dan kurang terbuka. Belum lagi kenyataan bahwa Ibu mertuanya begitu membencinya, pun tindakan jahat yang selalu ia dapatkan dari Zara. Membuat hidup Puspa kacau, seakan terombang-ambing di tengah pusaran topan. Menghadapi semua masalah beruntun tanpa akhir ini, mampukah Puspa menyelesaikan kisah hidupnya dan berakhir bahagia?
View MoreChapter One
ALESSIA'S POV "Do you imagine I'm happy tagging this hog along every time?" Thompson cocked his chin in my direction like I was some stomp in the pasture. "That doesn't change the fact that Alessia gets to attend these functions as your wife while I stay home all night waiting for you to come back." A sly smile twitched on my lips, Annalise and my husband had their row about the grand marriage anniversary of the southern territories Alpha and his Luna. Annalise was Thompson's mate while I was his wife. "What the hell is funny?" Thompson took giant strides to where I stood by the refrigerator. The smiles on my face instantly faded. I knew how this always went. Thompson came awkwardly closer to me, towering before me, trapping me against the refrigerator and his rigid chest. His large palm cupped my chin tilting my head up so our gazes could fuse. "Let me make this clear to you, just because I have to stick to the goddamn law and have you attend these functions with me doesn't mean I give a fuck about you!" It wasn't what he said that hurt every time but how he said them. "Remind her I'm the one you love. Let her know I'm your fated mate and she's just one hell of a mistake you're trying to make right!" Annalise croaked like a drunken crazed hyena. Thompson's beautiful crystal hazel eyes softly regarding mine. A minute of silence gave him the chance to suck in a quick breath, and run his fingers through his silky strands. "She knows. How can she ever think otherwise?" "I'll go confirm the laundry," I spoke quietly, in a hurry to find an exit from Thompson's blazing gaze. Avoiding making any contact as possible, I slipped from the refrigerator, almost darting towards the door, but he steely grabbed my arm, grappling me back to the refrigerator. Hurling me hard against it. A yelp left my lips. "Don't you ever dare try to walk out on me!" He slammed his hand hard on the refrigerator, probably leaving a dent in it. He was a pretty strong wolf, and he was pretty mad. The fierceness in his eyes always made him appear even more appealing to me. But everything had changed on his twenty-fourth birthday when he returned with his mate. How could I ever forget that? "I didn't mean to, I'm sorry." I mumbled out. He must've caught the fear that momentarily seized my features, he sucked in a breath and moved away from me. Silence descended on the vast kitchen of the mansion and remained that way until I got ready to leave with Thompson for the big night. "You look pretty, mommy." Adrian, my super cute four year old complimented from where he curled up on the beanbag at the corner of the room. He was the only one I talked to around here. I offered him a weary smile and returned to the mirror. "Do you think I look fat in this yellow dress, or should I just change into the black?" When no reply came, I looked over my shoulder only to meet his confused gaze. Too young to understand. I grabbed the black dress and disappeared into the closet returning to the bedroom to catch the expression on his face. "This or the previous dress?" "You, mommy." He smiled cutely. "I know, baby, but which outfit looks better, I need to look good tonight." So your dad can appreciate me, for once. I fought the urge to add. He sprang to me from the cashmere beanbag for a hug, I lowered myself to his height and planted a kiss on his forehead. "I think this black. It conceals my stomach and makes my arms appear thinner." "What's wrong with your stomach?" How I wish he understood these things. Annalise didn't know how lucky she was to have a body like that even after having her daughter, while I looked so bloated as the day went by. I caught the negativity and instantly replaced them with a more positive thought. "I'm beautiful." But who was I kidding? "Yes mommy. You're very pretty." Now, that was the only validation I needed. "Thank you." I beamed with glistening eyes. I tucked him in his bed, kissed him before I headed out of his room to wait for Thompson in the living area. About thirty minutes later, he descended the stairs with Annalise clinging to his side in a silk and sexy nightdress, one I'd be terribly embarrassed to wear. She was a very beautiful lady. The smiles faded from her face the second her blue eyes dropped on me. Thompson's hard jaws sagged, his eyes wandering every part of me, lips intrigued. "What are you wearing?" Annalise began, as usual, "Did you not see how much of a pig you look in that dress? Who did your makeup because you look like an Oompa Loompa right now." "Okay. Five minutes, I'll go change and wipe off..." "You fuckin' kidding me," Thompson glanced at his wristwatch, "You don't expect me to wait that long?" Exactly how I ended up leaving the mansion like a pig version of Oompa Loompa. Thompson was on the phone with Annalise all through the ride but his gaze crept my way whenever he thought I wasn't looking. The car halted in front of the enormous building. My nerves quickened and my fingers began to tremble. At first, I thought it was about my social anxiety acting up. But when the sweet sandalwood wafted up my nostrils stirring up a profound excitement in the hollow pit of my soul, it snagged at me. My mate? Thompson blew a million kisses into his phone before the call ended, glanced at my way and mistook my hesitations for awkwardness. "It's another evening to embarrass yourself." He got down when the stoic security guard held the car door open for us. I stuck to his side as close as possible, ignoring the growing excitement in my soul to every step I took towards the main entrance door. I had a husband and a son, a family that I love and I'd never trade them for anyone else.Puspa berdiri di depan bangunan sederhana. Itu adalah rumahnya, rumah yang menjadi saksi pertumbuhannya dari kecil hingga dewasa. Hakam disamping Puspa, tangannya tidak pernah lepas menggenggam telapak halus itu. Hakam berkata dengan lembut, "Selamat datang." Hati Puspa bergetar mendengar ucapan itu. Matanya memerah dan ia berusaha keras menahan tangisannya agar tak pecah. "Hm, aku pulang." Balas Puspa dengan senyuman kecil. Keduanya berjalan bersamaan masuk kedalam rumah yang terasa begitu sunyi. Aroma familiar yang dejavu membuat Puspa berkhayal tentang sosok ibunya yang keluar dari dapur dan menyapanya dengan hangat. Aroma masakan sederhana itu jelas ia rindukan. Senyuman sang ibu yang menghangatkan kalbunya tentu saja membuatnya ingin menangis saat itu juga. "Tidak ada apa-apa disini." Puspa duduk di sofa dengan lemas. Ia menatap kosong ke depan, bingung harus kemana mencari sang ibu yang pergi tak berkabar. "Mungkinkah ibu benar-benar pergi meninggalkanku?" Hakam menghela n
"APA YANG KALIAN LAKUKAN! LEPASKAN AKU! LEPASKAN!"Ketika Puspa datang bersama Hakam dan Fajar, suara teriakan yang familiar langsung menyerbu ketiga orang itu. Puspa berhenti di depan pintu masuk dan mengambil napas panjang. Sementara Fajar sudah masuk lebih dulu, Hakam ikut berhenti di samping Puspa dan memperhatikan ekspresi rumit dari wajahnya.Puspa jelas merasakan perasaan campur aduk dalam hatinya. Tuhan tahu betapa bencinya ia pada wanita yang ada di dalam sana. Semua kekacauan yang terjadi ada di sana penyebabnya, ia bahkan tidak tahu apakah bisa menahan emosi ketika nanti langsung berhadapan dengan Zara.Tangan Puspa yang terkepal di samping badannya tiba-tiba dilingkupi rasa hangat. Puspa menoleh ke samping dan mendapati senyuman hangat dari Hakam. Tangan besar lelaki itu memberi sebuah kenyamanan yang menenangkan hati. "Jika kamu tidak mau masuk, kita bisa menunggu di mobil saja." Saran Hakam lembut.Namun, Puspa dengan cepat menggeleng. "Aku akan masuk. Ini adalah waktu
"Terima kasih sudah datang. Sampai jumpa lagi!" Puspa melambaikan tangannya dengan senyuman lebar. Hatinya benar-benar berbunga, ia merasa terharu berkat semua penggemar yang datang dan membuat harinya berwarna.Ketika Puspa berbalik dan hendak turun panggung, tiba-tiba ia mendengar sebuah teriakan lantang yang mengalahkan semua kericuhan yang ada. "PUSPA! AKU MENYAYANGIMU!" Hamun berteriak dengan putus asa. Urat-urat lehernya menonjol, matanya memerah dan ia sudah menangis sejak tadi. Anak itu benar-benar merindukan sosok Puspa. Ia juga merasa sedih dengan semua keadaan yang terjadi di antara mereka. Walau masih kecil, perasaannya tidak pernah salah, dan ia tidak bisa menahan perasaan sedih dalam hatinya lebih lama lagi.Mata Puspa bergetar dan ia langsung berbalik untuk mencari arah sumber suara. Semua orang tampak heran, terutama ketika melihat sang idola kembali ke tengah panggung dan mengedarkan pandangannya ke segala arah.Jantung Puspa berdetak sangat kencang, tangannya mengep
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Fajar ketika melihat Puspa melamun sepanjang perjalanan. "Kalau kamu tidak keberatan, cerita saja denganku."Puspa tampak ragu, tetapi akhirnya menghela napas. "Entahlah, aku hanya ... hanya sedang memikirkan ibuku. Sampai sekarang kami tidak berkabar satu sama lain. Aku tidak tau dia dimana dan bagaimana keadaannya." Puspa akui ia merasa marah pada ibunya. Tetapi sekarang sudah reda, justru digantikan dengan rasa khawatir, karena ia tidak tahu bagaimana keadaan ibunya. Ia khawatir sesuatu terjadi padanya, mengingat bagaimana sifat licik dan jahatnya Zara."Kita akan segera bertemu dengannya. Tetapi sekarang, kamu fokuslah untuk acaramu sebentar lagi. Aku dengar dari tim yang berada di lokasi, penggemarmu yang datang tidak main-main. Mereka memenuhi semua kursi, bahkan ada yang rela berada di luar pembatas dan berdiri disana hanya untuk melihatmu.""Maaf," Puspa merasa kecewa pada dirinya sendiri. Ia harus menyadari posisinya saat ini. Ia sudah m
Untunglah, Puspa tidak kehabisan akal. Ia dengan sekuat tenaga mengarahkan tangannya ke selangkangan Anton dan meremas benda itu dengan kekuatan penuh. Anton sontak berteriak kesakitan dan mundur beberapa langkah. Puspa pun memanfaatkan kesempatan yang ada dan berlari sekuat tenaga, mencoba menghind
Setelah semua kentang pesanan itu dimasukkan, mobil melaju menuju desa sebelah. Puspa deg-degan setengah mati, terutama ketika mobil mulai memasuki area jalanan sepi yang di kanan dan kirinya hanya ada pohon jati. Ini adalah daerah perbatasan desa, setelah melewati jalanan ini mereka akan sampai di
Puspa dan kedua orangtua Fajar bergegas ke kantor polisi. Mobil hitam itu melesat kencang menuju kantor polisi terdekat. Mereka hanya bisa berharap pihak kepolisian bisa dengan mudah membantu rencana mereka."Ada yang bisa kami bantu?" Tanya salah seorang polisi kepada ketiga orang itu.Puspa mengangg
Setelah Anton kembali, Fajar berbasa-basi sejenak, kemudian berpamitan dan langsung pergi ke studio untuk berdiskusi dengan Puspa."Apa? Kenapa?" Puspa kebingungan ketika Fajar tiba-tiba datang dengan ekspresi aneh. Dia langsung menutup pintu rapat-rapat dan membawa Puspa duduk di atas sofa.Fajar ter






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews