INICIAR SESIÓNNanang sudah hilang dari pandangan, meluncur kencang menuju rumah wanita karier itu dengan ratusan bayangan di kepalanya.
Sementara itu, suasana di toko mendadak berubah tegang setelah kepergiannya.
Doni menyeringai, ia mendekat ke arah Salsa yang sedang merapikan rak.
"Sa, mumpung lagi sepi, ke gudang yuk?" bisiknya penuh maksud.
Salsa menatap Doni dengan tatapan tajam dan dingin.
"Sorry, gue gak mau!"
"Ayolah Sa, lo bikin ketagihan," rayu Doni lagi,
Risa menghela napas panjang, lalu tersenyum penuh arti.“Sudah, sudah! Gini saja biar adil. Hari ini, kamu harus layani kami berdua!”Nanang menyeringai lebar,Matanya berkilat nakal.“Serius??”“Ya kenapa enggak?” jawab Risa menantang. Tanpa basa-basi, ia langsung menanggalkan pakaiannya.Sisa keringat bekas olahraga masih menetes di tubuhnya yang polos, membuatnya terlihat semakin menggoda.Ningsih tak mau tinggal diam.Seolah tak ingin kalah saing, ia segera melepaskan g-string-nya.Dengan gerakan gesit, ia mulai melu cuti baju Nanang,Membiarkan hasrat mereka bertiga pecah di dalam ruangan itu.Nanang yang hasratnya sudah meledak-ledak digiring masuk ke dalam kamar.Risa dengan agresif mendo rong tubuh Nanang sampai ia terlentang di atas kasur yang empuk.Risa memberikan kedipan mata pada Ningsih, sebuah kode maut:Sikat!Tanpa aba-aba, Nin
Ia lalu bangkit dari duduknya untuk menjalankan skenario yang sudah ia siapkan.“Ning, kamu mau minum apa?” tanya Risa basa-basi.“Aku sih biasa, kopi saja, Ris,” jawab Ningsih dengan suara yang sengaja dibuat manja.“Duh, di dapur kopi sepertinya habis. Ya sudah, kamu tunggu dulu ya di sini, aku ke warung depan sebentar,” ucap Risa yang langsung bergegas keluar tanpa menunggu jawaban,Meninggalkan Nanang dan Ningsih dalam keheningan yang menyesakkan.Begitu pintu tertutup, efek Sirup tahan banting itu meledak dalam tubuh Nanang.Darahnya terasa mendi dih, dan fokusnya benar-benar hilang.“Nang... kamu kenapa? Kok menatap Kakak seperti itu?” tanya Ningsih, berpura-pura polos meski matanya berkilat nakal.“Kak Ningsih... makin cantik saja,” desis Nanang dengan napas yang mulai memburu.“Ah, masa sih, Nang?” Ningsih memancing lagi.“Serius
Nanang baru saja membanting tubuhnya ke sofa. Peluh membasahi keningnya setelah seharian berkeliling mencari kosan, namun hasilnya nihil.Tidak ada yang cocok sama sekali."Sial, masa iya gue harus terus tinggal di sini bareng Tante yang hipernya minta ampun itu?"gumam Nanang kesal sambil menatap langit-langit rumah.TOK!... TOK!... TOK..."Nang, buka pintunya. Ini Tante!"Nanang mendengus."Baru aja diomongin, sudah muncul orangnya," gumamnya malas sambil bangkit membukakan pintu.Begitu pintu terbuka, sosok Risa berdiri di sana. Namun, ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang sangat Nanang kenal yaitu Ningsih.Sebagai instruktur senam, Ningsih memiliki bentuk tubuh yang atletis dan wajah yang menawan, selalu berhasil membuat pria di lingkungan itu menoleh dua kali.“Om kamu sudah berangkat, Nang?” tanya Risa sambil melongok ke dalam.“Sudah, Tan. T
Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Risa melangkah keluar dengan penampilan yang cukup mencolok.Ia sudah mengenakan setelan baju senam yang sangat ketat, memperlihatkan lekuk tubuh matangnya yang masih berbekal sisa - sisa kehangatan semalam.Mendengar percakapan mereka, Risa langsung menyambar dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin.“Iya Nang... mending kamu tinggal di sini saja. Rumah ini sepi banget loh kalau nggak ada kamu,” ucap Risa.Kalimatnya terdengar seperti perhatian seorang Tante, namun bagi Nanang, itu adalah undangan terbuka menuju bahaya.“Tuh, dengerin kata Tante kamu,” timpal Om Iwan, memberikan dukungan penuh tanpa rasa curiga sedikit pun.Nanang hanya bisa tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya.“Ya... gimana nanti saja lah, Om.”Di balik wajah tenangnya, pikiran Nanang justru berkecamuk.Maaf ya Tan, bukannya Nanang nggak mau hemat, tapi k
Sensasi hangat, licin, dan jepitan dinding belakang Risa membuat Nanang merasa seperti sedang terbang ke langit ke tujuh.“Enak, Tan?” bisik Nanang dengan napas memburu di telinga Risa.“Enak banget, Nanang... terusss, jangan berhenti!” balas Risa dengan suara serak yang penuh gairah.PLOK... PLOK... PLOK...Hentakan kulit bertemu kulit memenuhi keheningan kamar malam itu.Mereka seolah lupa atau mungkin malah sengaja menantang bahaya, karena di kamar sebelah, Om Iwan sedang tertidur lelap.Setiap hujaman Nanang membuat ranjang berderit halus, menambah sensasi ngeri sekaligus nikmat dalam perselingkuhan yang semakin gila ini.Nanang bener-bener menghajar Risa tanpa ampun! Om Iwan kalau sampai terbangun sedikit saja pasti bakal tamat riwayat mereka.Saat Permen Nanang sudah berada di titik di dih dan siap meledak, Nanang berniat mencabutnya.Namun dengan refleks kilat, Risa bangkit dan menahannya.“Stop! Jangan dulu keluar, Nanang!”Risa langsung merunduk, mengulum habis Permen raksasa
Nanang kelojotan setengah mati di atas kasur.Sensasi dari Kain yang meraba urat-urat Permennya benar-benar nyata, mengirimkan gelombang nikmat yang membuat otaknya seolah mau pecah.“Gimana, Nanang? Celana dalam Tante enak, kan?” bisik Risa, suaranya serak menahan gairah.“Enak... enak banget, Tan... terusss!” racau Nanang dengan mata terpejam rapat.Sambil terus memompa Permen Nanang dengan kain itu, Risa merunduk, menjilati dan Menggigit kecil kelereng Nanang, memberikan serangan ganda yang membuat Nanang hampir mencapai puncaknya.“Aahhh... stop, Tan! Stop! Mau keluar nih!” teriak Nanang tertahan.Risa menyeringai puas, lalu melempar celana dalam itu ke lantai begitu saja.Namun, tiba-tiba keadaan berbalik. Nanang yang sudah dikuasai nafsu mendadak bangkit.Dengan satu dorongan bertenaga, ia membalikkan posisi hingga Risa terbaring di bawahnya.Nanang langsung menerjang, menyedot k
Dena semakin tenggelam dalam permainannya.Mulutnya bekerja keras memberikan kenikmatan maksimal, sementara tangannya sesekali meremas paha Nanang yang kokoh.Di saat yang sama, Nanang tidak membiarkan Dena menikmatinya sendirian.Lidahnya terus menari liar di area sensitif D
"Kak... itu serius?" gumam Lala dengan suara bergetar. "Mantan pacar gue... punyanya aja kecil banget nggak kayak gitu loh," ucapnya tanpa sadar, membandingkan apa yang ia lihat sekarang dengan pengalaman masa lalunya.Dena langsung mengernyitkan alis, menatap sahabatnya dengan tatapan men
Dena terkekeh, kepalanya mendongak menatap Nanang."Sama... Permen lo juga gede banget, Kak," balasnya nakal.Keduanya tertawa kecil menikmati momen itu, sampai tiba-tiba suara ketukan keras memutus kemesraan mereka.TOK... TOK....Dena tersen
Clara merogoh saku pakaiannya yang tipis, mengeluarkan beberapa lembar uang yang masih hangat.Dengan tatapan yang sulit diartikan, ia menyodorkannya pada Nanang."Ini, Nanang... ambil saja.Anggap saja uang tips pribadi dari aku," ucap Clara dengan nada suara yang sedikit re







