Share

Bab 141. Seenak Jidat

Author: Dwi Maula
last update Last Updated: 2026-01-02 22:53:00
“Hah!” Bagas tampak pasrah dengan tinjuan Nilna yang terus menimpa tubuhnya.

“Aduh! Ampun! Ampun!” Pria itu malah tertawa di sela permintaan ampunnya. Ia terlihat seperti seorang anak laki-laki yang tak berdaya saat dihukum ibunya karena telah melakukan kesalahan.

“Bilang apa, tadi? Ayo, ulangi lagi!” Nilna memasang wajah galak, yang justru terlihat menggemaskan di mata Bagas. Lelaki itu tak tahan lagi dan langsung mendekap sang istri dengan kekuatan kokoh.

“Ih. Lepas!” Tubuh Nilna kini benar-benar terkunci pada pelukan Bagas yang begitu kuat bagaikan penjara. Wanita muda itu tak lagi bisa meninju tubuh sang suami karena tenaganya kalah jauh.

“Adek, sudah malam, Sayang.” Bagas menenangkan sang istri yang masih terus meronta dari dekapan. Pria itu merengkuh tubuh kurus Nilna dengan kelembutan yang justru teramat kokoh.

“Hah! Mas curang! Beraninya melawan aku yang seorang perempuan. Ya, pasti aku akan kalah.” Nilna berkata dengan galak.

“Lalu, Adek maunya bagaimana?” Bagas terkek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 145. Membekas

    “Assalamualaikum.” Ilham mengucap salam, membuat seluruh tamu yang hadir sontak menoleh ke sumber suara. Pemuda itu tampak jenjang dengan balutan kemeja dan sarung sederhana. Ia berdiri di ambang pintu dengan kepala menunduk, memancarkan kesan seorang pria yang teduh dan penuh kelembutan.“Waalaikumussalam,” jawab semua tamu serempak.“Akhirnya, Kang Ilham hadir juga.” Abah Rasyid menghela napas.“Abah,” sapa Ilham. Pemuda itu berjalan membungkuk untuk menyalami sang kiai terlebih dulu. “Ya, ya. Bagus, bagus.” Abah Rasyid tampak semringah. Pria tua itu menepuk bahu santrinya pelan.Ilham beringsut mundur, lalu menyalami tamu sesama lelaki. Untuk tamu perempuan, pria itu hanya menangkupkan dua tangan di depan dada.Tak terkecuali pada Nilna. Ada suatu hal yang membuat pemuda itu merasa hilang napas selama satu detik. Tentang ulang tahun Nilna yang selalu diingatnya, kini harus benar-benar ia lupakan.‘Ning Nilna, kamu selalu cantik apa adanya. Itu yang membuat aku belum bisa melupakan

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 144. Mutlak

    “Nggak apa-apa, nggak apa-apa.” Nilna menggeleng dengan ekspresi panik.“Hm.” Bagas menghela napas. Lelaki itu tak lagi memperpanjang perdebatan.“Ya sudah, ayo masuk.” Bagas menggandeng tangan Nilna, menunjukkan kemesraan dan kepemilikan yang mutlak kepada semua orang.“Hah!” Nilna sedikit tersentak dengan gerakan Bagas yang frontal dan terburu-buru.“Silakan masuk, Gus Bagas, Ning Nilna.” Begitu selesai mengucap salam, seorang santri ndalem langsung menyambut kedatangan pasangan suami istri itu dengan hormat.“Terima kasih,” balas Bagas dengan suara yang datar. Di sebelahnya, Nilna agak keteteran karena harus mengikuti langkah sang suami yang cepat dan lebar.“Nah, itu dia. Mereka sudah datang.” Abah Rasyid tersenyum lebar di kursinya. Diikuti oleh warga pesantren lain yang turut menyorot ke arah depan.“Abah.” Bagas mempercepat jalannya. Pria itu melakukan sungkem terlebih dulu pada sang ayah.“Syukurlah, kalian berdua sudah tiba dengan selamat,” sambung Zidni yang juga turut hadir

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 143. Puas

    “Belum, Mas. Aku mau salat subuh dulu sebelum buka kotak birunya,” jawab Nilna sembari berjalan dan mendongak pada sang suami. “Istri kecil Mas yang pintar,” puji Bagas dengan senyum yang lebar, menepuk bahu Nilna dengan lembut.Nilna masih mendongak dengan senyum kecut yang terpampang nyata. Wanita belia itu tak suka dipanggil istri kecil.Begitu selesai salat berjamaah, keduanya duduk berhadapan di atas ranjang. Saling pandang dengan senyum penuh arti tanpa bersuara.“Ehm.” Bagas melipat tangan di dada dengan santai, serta memberi kode berupa gerakan mata.“Hehe.” Nilna tersenyum malu-malu, sementara kedua tangan perempuan itu memeluk kotak kejutan berwarna biru muda dengan erat.“Apa harus dibuka sekarang?” Nilna membolak-balikkan posisi kotak dengan ekspresi sayang. “Ya iya, dong.” Bagas mengusap wajah dengan ekspresi payah.“Kotak biru muda berhiaskan pita pink yang menjuntai, begitu cantik dan menggemaskan. Sayang sekali jika harus dibuka. Itu artinya, aku harus merusak kecant

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 142. Kotak Kejutan

    “Abah berpesan, besok malam kita diutus ke ndalem.” Bagas memeluk Nilna erat-erat ketika wanita muda itu baru hendak belajar.“Yah!” Nilna cemberut melihat bukunya terjatuh ke lantai. Ia menunduk hendak mengambil. Namun, suara final Bagas langsung terdengar dan menghentikan pergerakan Nilna.“Biar aku yang ambil.” Bagas melepaskan pelukan dan segera berjongkok untuk mengambil buku yang tergeletak di permukaan lantai.“Hm.” Nilna menatap pergerakan Bagas, kemudian bertanya, “Memangnya ada acara apa, Mas?”“Itu, acara untuk Ilham. Dia mau melamar seorang santriwati yang baru saja lulus Aliyyah.” Bagas tersenyum lega, dengan tangan yang meletakkan kembali buku ke atas meja.“Apa?!” Nilna terkejut, tetapi ia segera tersadar dan menenangkan diri. Istri direktur itu refleks menutup mulut dengan gestur agak canggung.“Kaget?” Bagas memicingkan mata pada Nilna.“Ehm. Iya.” Nilna tampak kelabakan.“Nggak apa-apa. Wajar.” Bagas tersenyum lembut pada Nilna.Pria itu membawa istrinya duduk di tep

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 141. Seenak Jidat

    “Hah!” Bagas tampak pasrah dengan tinjuan Nilna yang terus menimpa tubuhnya. “Aduh! Ampun! Ampun!” Pria itu malah tertawa di sela permintaan ampunnya. Ia terlihat seperti seorang anak laki-laki yang tak berdaya saat dihukum ibunya karena telah melakukan kesalahan. “Bilang apa, tadi? Ayo, ulangi lagi!” Nilna memasang wajah galak, yang justru terlihat menggemaskan di mata Bagas. Lelaki itu tak tahan lagi dan langsung mendekap sang istri dengan kekuatan kokoh. “Ih. Lepas!” Tubuh Nilna kini benar-benar terkunci pada pelukan Bagas yang begitu kuat bagaikan penjara. Wanita muda itu tak lagi bisa meninju tubuh sang suami karena tenaganya kalah jauh. “Adek, sudah malam, Sayang.” Bagas menenangkan sang istri yang masih terus meronta dari dekapan. Pria itu merengkuh tubuh kurus Nilna dengan kelembutan yang justru teramat kokoh. “Hah! Mas curang! Beraninya melawan aku yang seorang perempuan. Ya, pasti aku akan kalah.” Nilna berkata dengan galak. “Lalu, Adek maunya bagaimana?” Bagas terkek

  • Mendadak Dinikahi Direktur Syar'i   Bab 140. Merajuk

    Bagas telah merasakan puncak kenikmatan yang terasa begitu mencekiknya. Pria itu memeluk tubuh Nilna hingga wanita muda itu merasa sesak.“Mas, perih, basah, sakit,” rintih Nilna.“Mas, badan aku rasanya kayak nggak ada tenaga.” Nilna terus meracau dengan rasa tak nyaman yang menyelimutinya.Bagas merenggangkan pelukan, lalu berkata, “Ya, Dek. Maafkan Mas, ya. Sudah melakukan hubungan saat kamu tertidur.”Nilna hanya bisa menangis, merasakan rasa campur aduk yang membuatnya terusik.“Kamu selalu begitu, Mas. Percuma aku mau bilang apa juga.” Nilna meringkuk dengan perasaan putus asa.“Maaf, Sayang. Apa kamu mau maafkan Mas-mu?” Bagas segera duduk, mengamati sosok Nilna yang menangis sesenggukan.“Sayang, apa sekarang masih sakit? Mas bantu kamu ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ya.” Bagas tampak kebingungan. Hasrat memanglah berbahaya, ia bertindak begitu jauh di luar kendali Bagas, serta membuang akal sehatnya hingga tak bersisa.Nilna masih terdiam di tempat, membuat Bagas men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status