LOGINGara-gara seorang janda sebelah rumah. pernikahanku harus berada di ujung tanduk. perselingkuhan suami dan wanita sun-dal tersebut membuat anakku terpaksa menelan pil pahit perpisahan kedua orang tuanya.
View MorePESAN WA DARI JANDA SEBELAH
[Makasih loh, Mas. Kamu udah mau mampir nyicipin hasil masakan aku.][Sama-sama, cantik. Lagian, masakan kamu tuh enak banget. Beda sekali sama masakan Meisya istriku. Dia nggak becus masak. Bikin apa-apa selalu hambar. Kadang malah suka keasinan.][Besok mampir lagi ya, Mas. Nanti aku masakin rendang spesial buat kamu.][Siap, cantik.] Balas Mas Ridho disertai emotikon kiss.Aku kaget setengah mati membaca pesan yang ada di gawai suamiku. Tega sekali dia berbalas WA mesra dengan wanita lain. Padahal, nomor itu diberi nama Parman Ojol. Sungguh, ingin sekali kubogem wajahnya biar tahu rasa!Tahan Meisya! Jangan keburu terbakar dengan kelakuan buruk suamimu. Justru, sekaranglah saat yang tepat untuk membuat lelaki tak tahu diri itu akan menangis darah.Dengan perasaan tak karuan. Aku kembali meletakan ponsel Mas Ridho di atas nakas. Gemercik air dalam kamar mandi masih terdengar. Itu tandanya kalau ia masih mandi.Gegas, kaki kuayunkan ke arah dapur. Lalu membungkus lauk pauk lengkap dengan nasi yang kumasak sore ini untuk menu makan malam nanti.Dada yang masih bergemuruh. Tak hentinya mengingat pesan isi selalu terngiang. Enak saja dia bilang makananku tidak enak. Sudah payah aku berusaha agar makanan selalu tersaji ketika ia pulang. Eh malah dibanding-bandingkan dengan masakan orang lain yang entah siapa itu.Kira-kira, siapa ya, yang chat-an sama Mas Ridho. Kenapa pikirku selalu tertuju sama janda sebelah. Soalnya, pernah sekali aku mendapati Mas Ridho sedang berbincang dengan wanita berbody semok itu. Ketika aku meminta Mas Ridho untuk mengajak Arga, bayi kami untuk jalan-jalan ke sekitar komplek.Aku menghela napas. Beristighfar sejenak. Tidak baik aku suudzon padanya.Rantang tiga susun selesai kuisi dengan makanan. Dan siap kuantar ke rumah duda depan rumah yang sudah lama tinggal sendiri.Arga yang ada dalam stroller bayi lekas kugendong. Dan kubawa ia ke rumah Bang Sena, si duda muda yang ramah dan murah senyum.Tok! Tok!"Assalamualaikum …," kataku selepas mengetuk pintu."Waalaikumsalam." Tak lama, salamku terjawab. Dibersamai dengan pintu yang terbuka.Bang Sena menyambut dengan lengkungan senyum sabit yang manis."Eh, Meisya, ada apa?" tanyanya ramah."Ini Bang, tadi aku masak banyak. Daripada nggak habis, mendingan buat Bang Sena aja deh." Rantang berwarna pink kuangsurkan padanya.Bang Sena lekas menerima."Wah, makasih ya, Mei. Baik banget. Nanti biar aku balikin rantangnya ya."Mata Bang Sena menatap rantang itu sumringah."Iya, Bang. Santai aja. Ya udah, aku pulang dulu ya, assalamualaikum.""Waalaikumsalam. Sekali lagi, makasih ya Mei."Meski aku sudah jauh. Bang Sena masih berteriak berterimakasih.*Tepat pukul setengah tujuh. Mas Ridho memegang perut sambil membuka tudung saji."Loh, makanannya mana? Kok cuma tumis tauge doang?" seru Mas Ridho setengah berteriak.Aku yang sedang membuat susu untuk Arga lantas mendekatinya."Oh itu, aku kan tadi masak sop buntut sama iga. Lupa kalau kamu ada kolesterol. Ya udah, masakannya aku kasih ke duda depan rumah. Kasihan dia nggak ada yang masakin. Dari pada aku masaknya kadang hambar kadang asin. Ya udah aku kasih ke dia. Biar dapat pahala, Mas." Aku tersenyum mengatakan. Ekspresi Mas Ridho berubah seketika."Duda …," lirihnya pelan. Nyaris telingaku tak mendengarnya.Rasain emang enak! Makan tuh oseng-oseng tauge sama nasi doang.*PESAN WA DARI JANDA SEBELAHBab 16Tapi panggilan via telepon itu singkat sekali."Mei, kita sekarang pergi ke restoran kemarin. Alhamdulillah ada bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan kalau mobil aku emang disengajai orang. Dan pelakunya itu laki-laki."Kedua mataku reflek membola. Dan pikiranku pun tertuju pada seseorang, bukan menuduh, ini hanya praduga saja. Semoga tidak benar."Pelakunya laki-laki? Apa jangan-jangan Mas Ridho?" Mulutku tercelos begitu saja."Belum tahu Mei, semoga bukan dia. Lagi pula, apa motif Ridho melakukan hal untuk mencelakai aku?""Bisa aja Mas Ridho dendam ke Bang Sena soal pemecatan itu," jawabku cepat."Iya Mel, tapi jangan nuduh dulu ya sebelum kita melihat bukti." Bang Sena tersenyum, walau masih membekas beberapa memar luka sisa kemarin. Ia tetap berpikir positif."Iya, Bang. Kita jadi berangkat sekarang? Gimana keadaan Bang Sena? Udah agak enakan?" Aku memastikan. Tersempil rasa khawatir yang sejujurnya tak bisa disembunyikan."Udah baik kok. Apa l
PESAN WA DARI JANDA SEBELAHPart 15Aku hanya terdiam menatap Sena. Lelaki itu pun terus memperhatikan aku yang masih mematung.Kemudian, ia melirik ke arah nakas. Tepat pada ponsel berwarna hitam yang tergeletak di sana."Apakah itu HP-ku?" tanyanya.Kuanggukan kepala.Sena meraih benda gepeng tersebut. Lantas menyalakannya. Getar pada ponsel itu membuatku yakin kalau Sena hanya berpura-pura. Masa iya, dia amnesia sama aku. Tapi ingat password HP-nya. Sungguh janggal bukan."Ehem! Pesan dari siapa tuh?" cetusku.Sena berekspresi entah. "Masa amnesia bisa ingat password?" Dekikan lesung pipinya Sena tercetak indah. Pertanda kalau ia tengah mengulum senyum."Iya, iya, aku pura-pura. Ngerjain dikit nggak pa-pa 'kan?" Tuh kan, benar dugaanku. Dia hanya bohongan."Terus Dokter tadi? Udah sekongkol sama kamu buat bohongin aku?" tegasku."Iya, Mei. Aku tuh sebenernya udah bangun dari tadi. Cuma nggak tega lihat kamu kecapean. Ya udah aku balik merem lagi, sambil sesekali lihatin kamu."
PESAN WA DARI JANDA SEBELAHBab 14Kurasa sakit luar biasa di kepala. Sedikit demi sedikit, kukerjapkan mata ini untuk menyesuaikan cahaya yang menyambut.Terang binar lampu menyilaukan sekali. Ruangan asing dengan gorden berwarna cokelat berada di segala sisi.Pikiranku langsung tertuju pada seseorang. Sena, di mana dia? Seingatku, tadi kami kecelakaan berduan. Tapi hingga kini tak kutemui sosok pria berperawakan tinggi tersebut."Aduh …," lenguhku sedikit lirih. Suster berjilbab biru menghampiri. "Sudah sadar, Bu?" tanyanya tersenyum ramah."Iya, Sus. Di mana pria yang kecelakaan sama saya?" Pelan aku menggerakkan tubuh mencoba untuk mengatur posisi duduk."Ibu jangan bangun dulu ya." Suster agak menekan lenganku, menyuruhku untuk kembali terbaring. "saya periksa dulu, nanti kalau sudah selesai Ibu boleh menjenguk pasien bernama Adi Sena." Alat stetoskop itu Suster arahkan ke area dadaku. Memeriksa denyut nadi di sana. "Semuanya bagus. Nggak ada cidera serius. Kalau kepalanya ma
PESAN WA DARI JANDA SEBELAHPart 13"Emangnya … siapa Bang wanita cinta pertamamu?" tanyaku ingin tahu. Ternyata, jadi tukang keppo itu nggak enak. Mau tak acuh, tapi penasaran. Nyiksa batin banget, sumpah!"Kamu kenal kok siapa dia. Nanti juga tahu." Ya, jawaban Sena membungkam mulutku. Dahlah, nggak bakalan lagi aku nanya ke dia. Sikapnya masih sama seperti dulu, nggak bisa terbuka sama sekali. Padahal kita kenal cukup lama. Baiklah, aku nggak akan lagi usik privasi dia."Kenapa mukanya berubah bete gitu?" Aku menghela napas. Sena nyeletuk sambil memperhatikanku walau sekilas."Enggak. Siapa yang bete sih, orang biasa aja kok," kilahhku. Sebenarnya aku emang lagi kesal sama dia. Tapi nggak enak juga kalau ngomong gamblang soal masalah tadi."Pasti gara-gara itu 'kan?" tekannya."Itu yang mana sih, Bang?" sungutku agak cemberut."Soal gadis di masalalu." Dia meringis. "dulu, aku tuh cupu banget ya, Mei?" lanjutnya menghela napas berat."Enggak. Dulu Bang Sena tuh keren banget malah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.