Home / Romansa / Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris / 45. Ranjang Hangat dan Nyaman

Share

45. Ranjang Hangat dan Nyaman

Author: Sandra Dhee
last update Petsa ng paglalathala: 2025-07-18 22:10:52

Beberapa jam kemudian Rania kembali terbangun, kali ini dia tertidur dalam pelukan Bara. Bukan karena efek aneh yang ia rasakan semalam, melainkan dengan kesadaran penuh.

Rania diam sejenak dalam posisinya. Ia berbaring miring dengan tangan merangkul perut Baraz sementara pria itu memegang tangan Rania dengan erat, seakan takut Rania akan pergi darinya.

Wajah Rania memerah karena malu jika ingat apa yang baru saja terjadi antara mereka. Namun, ia tiba-tiba teringat sesuatu.

Bukankah mereka haru
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   87 Kelahiran dan Kematian

    "Nyonya Rania harus segera dioperasi secepatnya," tegas dokter yang menangani Rania. Reyhan mendelik. Selama ini kandungan Rania baik-baik saja, bahkan Rania berencana melahirkan secara normal. Tapi... Mengapa mendadak ada kejadian seperti ini? Lalu... Bagaimana dengan semua biayanya? "Apa tidak ada cara lain, Dok?" tanya Reyhan penuh harap. Dokter itu menggeleng pelan, "Kondisi Rania dan janinnya sama-sama sudah lemah. Jika tidak segera dilakukan tindakan, maka..." Reyhan menegang. Ia mengerti apa kelanjutan kalimat dokter tersebut. "Tapi... Saya butuh waktu buat..." Reyhan bingung harus menjelaskan seperti apa. Disini posisinya adalah sebagai seorang adik, yang bahkan belum memiliki pekerjaan yang mapan. Dia sadar biaya operasi cesar tidaklah kecil, jadi dia bingung harus kemana dia mencari uang sebanyak itu dalam waktu dekat. "Jangan pikirkan biayanya dulu. Tanda tangan saja, biar operasi segera dilakukan. Soal administrasi, bisa dipikirkan nanti. Takutnya kalau ditunda,

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   86. Dua Tragedi

    Rania mengusap peluh di dahinya. Nafasnya tersengal. Perutnya memang sudah membesar dan membuatnya cepat merasa lelah. Dulu ia sanggup bersih-bersih rumah seharian, tapi sekarang belum ada setengah jam membersihkan kamar mandi, dia sudah merasa capek setengah mati. Sebenarnya Reyhan sudah melarangnya terlalu bekerja keras karena khawatir pada keadaan kakaknya itu. Tapi Rania sendiri yang memaksa. HPL sudah semakin dekat, dan Rania pikir dengan banyak bergerak akan membuat proses persalinannya semakin lancar. Rania mengelus perutnya dengan lembut sambil tersenyum. Terima kasih sudah kuat dan sangat pengertian sejauh ini, batinnya. Sejak awal kehamilan, kandungannya memang sangat sehat dan hampir tak ada keluhan. Rania sangat bersyukur karena ia bisa melalui semuanya dengan mudah. Walau tanpa kehadiran seorang suami di sisinya. Rania menghela nafas, kembali meraih sikat toilet. Ia menggosok lantai toilet hingga bersih, dan beberapa kali menuangkan cairan pembersih ke lantai. "Kak,

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   85 3 Bulan Kemudian

    3 bulan berlalu. Bara mulai terbiasa menjalani hidupnya tanpa Rania. Walaupun sekarang semua terasa hampa dan kosong, tapi dia berusaha tetap berjalan. Karena ia percaya... jika memang berjodoh, sejauh apapun itu pasti mereka akan bertemu lagi. Becca juga merasa hubungannya dengan Bara mulai banyak kemajuan. Walaupun hingga detik ini Bara belum mau menyentuhnya, tapi paling tidak Bara mau membuka diri dan menerima Becca pelan-pelan. Mereka selalu menyempatkan untuk makan bersama. Bara juga tak pernah tidak mengantar jemput Becca kemanapun Becca pergi. Dan yang terpenting, Bara mau menunjukkan Becca pada dunia bahwa Becca adalah istrinya. Untuk saat ini, semua itu cukup. Becca yakin, untuk mendapatkan Bara sepenuhnya tentu tidak akan bisa terjadi secara instan. Ia harus bersabar, karena dengan bersabar maka ia akan mendapatkan lebih banyak lagi. "Kemana acaramu hari ini?" tanya Bara suatu pagi saat mereka sarapan bersama. "Nanti malam aku mendapat undangan di acara fashion show sal

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   84. Becca Keguguran?

    Aroma antiseptik menusuk ke dalam hidung Becca. Matanya terasa berat untuk dibuka, namun ia sudah sadar dan samar-samar mendengar aktivitas yang ada di sekelilingnya. Langkah kaki, percakapan, bahkan suara tetesan air yang merembes di kamar mandi. Becca berusaha bergerak, tapi seluruh tubuhnya terasa sakit. Tulang-tulangnya serasa remuk di dalam. Mau tak mau ia pun berusaha membuka matanya, ia ingin tahu apakah dia sudah berada di alam baka atau kah masih hidup di dunia ini. Yang pertama kali Becca lihat adalah langit-langit putih dengan lampu menggantung. Lalu... seorang wanita berpakaian putih yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Tunggu dulu. Apakah ini di surga? Batinnya. "Anda sudah sadar. Sebaiknya jangan bergerak terlalu banyak dulu," ujar wanita itu ramah. Wanita itu mengecek kondisi Becca dengan sangat teliti. Bagian bawah mata, lidah, serta suhu tubuh. Ia bahkan mengecek lengan Becca untuk mengukur tekanan darah. Saat itulah Becca menyadari sedari tadi ada Bara di dalam r

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   83. Seharusnya Kamu Bersamaku, Becca

    Klub itu ramai seperti biasa. Saat Bara masuk, matanya langsung tertuju ke sudut meja dimana ia biasa duduk. Dan seperti yang sudah ia duga, Tama sudah ada disana menunggunya. "Sialan. Aku harus melalui pertengkaran dulu sebelum keluar rumah. Lama-lama aku menjadi muak," gerutu Bara sambil duduk di samping Tama. Namun Tama tak berkutik. Ia hanya diam menatap gelas di tangannya seakan pikirannya sedang terbang ke suatu tempat yang jauh. Melihat itu, Bara pun mengernyit heran. "Tam! Kenapa sih?" panggil Bara sambil menyikut pundak temannya tersebut. Tama tersentak. Ia terkejut menyadari Bara sudah ada di depannya. "Sudah lama?" tanya Tama bingung. "Lah, Malah jadi bloon..." omel Bara tak jelas. Ia menuangkan campaign ke gelas kosong yang ada di meja dan meneguknya dalam sekali minum. Tama mulai gugup. Kepalanya dipenuhi dengan gambaran Rania yang sedang hamil. Ia ingin sekali memberitahu sahabatnya ini, tapi ia juga sudah berjanji pada Rania untuk menyimpan rahasia ini rapat-rapat

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   82. Kecelakaan

    "Aku suntuk. Bisakah kita bertemu?" tanya Bara di ujung telepon. Tama mempererat genggamannya sambil menelan ludah. Sungguh kebetulan sekali Bara meminta bertemu dengannya tepat setelah pertemuannya dengan Rania. Apakah ini memang takdir Tuhan? Apa Bara sudah punya feeling soal kehamilan itu? Tama menggigit bibir, bingung menjawab apa. Ia ingin sekali berteriak memberitahu Bara soal kehamilan Rania. Tapi dia juga sudah terikat janji pada wanita itu. Ia berjanji akan menyimpan rahasia ini rapat-rapat. Apalagi Rania mengancam, akan pergi lebih jauh jika sampai Bara tahu. Dan Tama percaya pada ancaman itu. "Ketemu dimana?" tanya Tama akhirnya. "Di bar." "Mau minum-minum?" "Boleh." Lalu terdengar suara wanita di ujung sana. Walaupun tidak begitu jelas wanita itu bicara apa, tapi Tama bisa menebak itu pasti suara Becca. "Berisik!" bentak Bara, "Tidur saja sana! Ini sudah malam. Wanita tidak pantas keluar malam seperti ini!" Pertengkaran pun pecah. Tama langsung menjauhkan pon

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   60. Dalam Kepanikan dan Doa

    Angin malam masih terasa hangat di atas pesawat jet pribadi yang meluncur cepat menembus langit Eropa menuju Indonesia. Di kursi yang empuk dan mewah itu, Rania duduk memeluk kedua lututnya. Matanya sembab. Air matanya tak berhenti mengalir, sejak video mengerikan itu muncul di ponsel Bara.Wajah R

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   5. Pernikahan Kontrak

    Mobil Lamorghini hitam itu meluncur perlahan di jalanan mewah di salah satu sudut kota Jakarta. Rania duduk diam di kursi penumpang, menatap keluar jendela sambil menahan napas. Ini gila. Ini semua terlalu cepat. Batinnya. Baru dua hari sejak mereka bertemu, dan sekarang Bara membawanya ke rumah ke

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   2. Tawaran yang Aneh

    Aroma antiseptik menusuk hidung Rania dan membuatnya tersadar. Rania perlahan membuka mata dan yang pertama dilihatnya adalah langit-langit rumah sakit. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, tapi seluruh tubuhnya terasa sangat sakit setiap kali ia bergerak.Ada alat infus di tangan kirinya. Ada perban

  • Terpaksa Jadi Pengantin Tuan Pewaris   1. Dunia Runtuh

    Langit sore menggelayut manja. Rania melangkah kecil di jalan setapak menuju rumahnya dengan hati gembira. Seharian ini dia melakukan pekerjaannya seperti biasa. Mengajar anak-anak TK, menyanyikan lagu “pelangi-pelangi”, dan mengikat rambut salah satu siswinya yang cengeng. Dan yang paling menyenan

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status