LOGINBelum puaskah kamu melukaiku hingga harus mengirimkannya untuk membuat hati ini semakin hancur? Butakah kamu dengan keadaanku selama ini yang hancur berkeping karena ulahmu? Terseok mencoba berdiri dengan hati yang luluh lantak.
View MoreDilema, itu yang aku rasakan saat ini, bagaimana tidak, satu sisi ingin pergi meninggalkan tempat yang menurutku adalah neraka, tapi di sisi lain ada seorang ibu yang memohon demi kelangsungan masa depannya. Bukan hanya soal perempuan tadi, tapi juga anak-anaknya yang masih kecil. Apakah aku harus belajar egois saat ini demi masa depan diri sendiri atau diam begitu saja?“Saya mohon, Nona,” katanya sambil menangkupkan tangan di depan dada bahkan kini dia sudah berlutut memohon belas kasihku. Aku kembali menatapnya sekilas dan kemudian menatap pintu yang masih tertutup. Melangkah atau tetap diam di sini?Sejenak aku menunduk memikirkan semuanya, masalah hidup yang jauh dari kata sedikit dan ringan selama ini membebani, aku mampu untuk berdiri di atas kakiku sendiri. Namun dia, seperti apa hidupnya sampai memohon hingga berlutut tanpa memikirkan lagi harga dirinya. Aku, apakah akan mampu berperilaku seperti itu jika hal berat menghampiri? Tentu sa
“Ada apa, Non?” tanya seorang perempuan yang diperkirakan berusia sekitar 45 tahun. Aku tidak menjawabnya hanya memandang dengan kewaspadaan tinggi—khawatir jika dia berniat tidak baik. “Saya pembantunya Tuan Thomas.” “Saya tidak apa-apa, hanya mimpi buruk,” ucapku setelah yakin dengan jawaban yang dia berikan, “saya mau pulang!” Aku beranjak dari tempat tidur dan mengambil blazer serta tas yang teronggok di atas meja rias. Perempuan yang tadi masuk berusaha untuk
“Tidak bisakah kamu istirahat saja di sana tanpa harus mengusik hidupku lagi?” tanyaku yang baru tersadar akan kenangan itu saat sebuah panggilan masuk ke ponselku. “Gabriela di sini, ada yang bisa saya bantu?”“Kamu ke ruangan saya, sekarang!” Sebuah perintah yang tidak bisa ditawar dari sang bos yang entah kenapa memilih untuk menghubungi melalui ponsel pribadi daripada telepon kantor.Setelah menutup panggilan, aku mengambil file yang tadi diserahkan Pricilia sesaat sebelum istirahat. Setiap lembar aku periksa dengan teliti untuk memastikan tidak ada hal yang terlewat meski satu kata. Setelah yakin semuanya sempurna, aku langsung beranjak ke ruangan Mr. Thomas di lantai atas gedung.Sebuah pintu kayu besar kini ada di hadapanku dalam kondisi terbuka. Di dalam sana ada sepasang kekasih yang sedang memadu kasih, ingin beranjak dari tempat ini tapi tidak mungkin karena akan membuang waktu. Tetap berada di sini pun bu
“Jelaskan, Gab!” desak Aries saat aku hanya bungkam mengenai maksud dari kata-kataku sebelumnya.“Tidak ada yang perlu dijelaskan, karena kenyataannya memang hanya di alam baka kami bisa bicara, jika Tuhan mempertemukan,” terangku sambil membuka laptop dan tidak lagi menghiraukan apa yang dikatakan Aries hingga akhirnya dia pergi.Sepeninggal Aries, aku terdiam menatap pintu yang kini telah tertutup rapat. Bayangan-bayangan mengenai Arnold bermain-main di dalam otak. Bagaimana lelaki yang dulu menghiasi hari-hari dengan keindahan kini mendengar namanya saja aku sudah sangat enggan. Apalagi jika harus bertemu dengan dia meski bukan lagi raganya.***“Non,” kata Mbok Nah di hari di mana aku baru saja kembali dari seorang psikiater, “ada Polisi di bawah ingin bertemu dengan Nona.”Polisi, sebuah instansi yang dalam mimpimu tidak ingin aku berurusan dengan mereka, tapi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.