Raditya izin untuk menikahi Sandra yang telah hamil. Tuan Anggara emosi mencekik Raditya lalu membawa dengan mobil ke arah perkebunan. Pria separuh baya ini berencana menguburkan di sana. Tubuh Raditya dimasukkan peti, tetapi dia berubah pikiran. Tuan Anggara keluar gudang mencari penjaga perkebunan. Raditya siuman lalu keluar gudang. Kemudian datang Mahendra yang mabuk dan tertidur dalam peti. Tuan Anggara dibantu penjaga mengangkat peti ke dalam mobil lalu membawanya pulang. Pria itu mengubur peti di bawah lantai dapur. Setahun kemudian, Sandra yang depresi kerasukan roh Mahendra lalu membongkar lantai dapur. Tuan Anggara pun ditangkap polisi dengan tuduhan pembunuhan dan memaksa aborsi Sandra. Motif Tuan Anggara membunuh Raditya, karena beranggapan Raditya adalah anak biologisnya dengan Maya. Dia tak menginginkan janin hasil incest di perut Sandra. Raditya adalah anak panti asuhan yang diadopsi oleh pasutri Wiratama. Tuan Anggara telah mengetahui bahwa Raditya adalah anak yang dititipkan oleh Maya. Raditya mendatangi Sandra untuk mengajak nikah. Namun sayang, hati Sandra telah tertambat kepada Vino. Raditya yang kecewa mengadu kepada Maya. Selama ini Raditya bersembunyi di rumah Maya. Wanita ini meminta bantuan dukun. Dengan ilmu hitam, Sandra dibuat kesakitan dan linglung layaknya orang gila. Vino yang tahu bahwa gilanya Sandra karena ilmu guna-guna, memberi imbalan banyak uang agar dukun melepaskan ilmu jahatnya. Raditya dan Maya yang merasa dikhianati lalu membunuh dukun dengan racun. Keduanya pun ditangkap polisi. Di saat bersamaan, jasad Mahendra dibawa kabur oleh raja serigala. Mahendra yang telah mati dihidupkan kembali untuk alat balas dendam kepada Tuan Anggara. Raja serigala marah karena kawasan hutan kekuasaannya telah dijadikan tambang batu bara oleh Tuan Anggara. Raja bertekat ingin menjadikan Sandra dan Mahendra sebagai pasangan pengantin abadi. Darah incest mereka adalah sumber keabadian raja serigala. Vino menyembunyikan Sandra di rumah keluarganya. Sandra pun tahu bahwa Vino adalah seorang vampire yang menyamar untuk melindungi darah suci dalam tubuhnya.
View MoreSandra segera menutup kedua telinga dengan tangan. Tubuhnya menggigil hebat. Dia ketakutan, cemas dan marah serta membencinya.
"Sa-yang, headphone kamu ke mana?" tanya Ny. Anggara lembut sambil mengusap rambut putrinya."Maaf, Nyonya. Tadi pagi headphonenya dirusak sama Nona," jawab Bik Sumi sambil gemetar.Wanita separuh baya tersebut khawatir si nona marah, jika dirinya mengadu ke Ny. Anggara. Namun nyatanya Sandra geming. Dia asik membungkam suara hujan. Ny. Anggara seketika menarik ujung lengan daster Bik Sumi. Kedua wanita berusia selisih lima tahun tersebut melangkah keluar kamar.Kini, Bik Sumi mengikuti langkah kaki sang majikan menuju ruang makan. Mereka duduk berhadapan dengan mempertajam pendengaran. Waspada saja, jika ada suara ganjil terdengar dari dalam kamar Sandra. Seperti biasa terjadi."Emang ada masalah lagi?" Wanita yang masih modis di usia kepala lima bertanya lirih sambil menatap Bik Sumi."A-anu, Nyonya. Tuan tanpa sengaja memakai headphone milik Non Sandra.""Emang, ambil di mana?""Di meja mini bar, Nyonya.""Sandra lupa taruh?""Enggak, Nyonya. Non Sandra sengaja taruh sana karena duduk mendengarkan musik. Begitu dengar suara motor persis punya Den Raditya, buru-buru copot headphone, langsung lari ke halaman depan."Kedua mata Ny. Anggara seketika berkaca-kaca mendengar penjelasan Bik Sumi. Wanita berpakaian formal ini ikut merasakan kesedihan yang dialami sang putri. Rasa letih sepulang kerja, tak dirasakannya."Bapak ada di mana saat Sandra lari ke depan?" tanya Ny. Raditya hati-hati. Dari potongan penjelasan ART kepercayaannya ini, dia ingin mencari titik temu penyebab depresi Sandra"Tuan ada di halaman belakang dekat kolam. Begitu Non Sandra berteriak memanggil nama Den Raditya, Tuan menyusul. Begitu tahu gerbang tergembok, langsung balik dan mengambil headphone lalu dipake. Tuan duduk lagi dekat kolam," jelas Bik Sum lebih detail."Terus Sandra balik, cari headphone?""Iya, Nyonya. Tapi mata awas menatap ke arah Tuan yang pake headphone. Non Sandra mendekat ke Tuan dan langsung menarik paksa headphone. Menginjak-injak dan langsung membuangnya ke tempat sampah.""Gimana reaksi Bapak?""Langsung minta maaf dan berusaha tenangin Non Sandra Tapi sayang, Non tambah histeris. Saya ajak ke kamar segera dan hujan.""Tambah histeris kayak tadi," sahut Ny. Anggara tersenyum miris. Bik Sumi mengangguk. Raditya adalah cinta pertama Sandra sejak menginjak sekolah menengah atas hingga tahun kemarin. Tiba-tiba Raditya tak ada kabar berita setelah mulai bekerja di lain kota. Pihak keluarga Raditya telah melaporkan ke polisi, tetapi belum ada hasil sampai hari ini.Sejak kepergian Raditya, sang putri berubah linglung. Jiwanya sedikit terganggu. Apalagi, jika hari sedang hujan. Sandra selalu histeris saat hujan datang. Seperti yang barusan terjadi, sang putri menjerit ketakutan lalu segera menyumbal telinga serta memejamkan mata. Satu hal yang membuat Ny. Anggara penasaran, sejak Raditya menghilang, Sandra membenci sang papa layaknya dendam."Nyonya, saya permisi ke kamar Non buat antar jus dulu," ucap Bik Sum sembari melangkah ke arah kulkas."Jus mangga?""Ya, Nyonya. Gak ada lagi. Kata Non Sandra, ia akan minum jus mangga setiap hari agar Den Raditya datang.""Bibik ngerasa ada yang aneh, gak?""Apa itu, Nyonya?""Kayak ada makhluk tak kasat mata di sekitar sini. Selalu seperti ini, tiap jus diambil dari kulkas. Dan selalu ada hawa panas di atas keramik yang baru," ucap Ny. Anggara sambil melangkah dan menghentak-hentakkan sepatu high heels di atas lantai yang dimaksud. Di bawah, terdengar berongga. Otak Ny. Anggara berputar sejenak."Ya, benar, Nyonya. Saya merasakan itu. Saya pikir sendirian ngerasain," balas Bik Sumi sambil meraba tengkuk. Sementara itu, tangan kanan memegang tumbler kaca berisi jus."Tiap kali Bik Sum ambil minuman itu, bulu kuduk berdiri. Ngerasa?""Iya, sih. Sama, Nyonya. Hari ini saya sudah bikin jus kedua kalinya."Ny. Anggara sudah biasa mendapat laporan Bik Sum seperti ini. Sejak Sandra mengalami gangguan mental, minuman jus mangga sudah menjadi kebutuhannya. Bahkan, tampak berlebihan, tetapi Ny. Anggara tak mempersalahkannya. Wanita tersebut tak mau sang putri bertambah beban pikiran. Menurut penjelasan psikolog, Sandra telah mengalami goncangan mental sangat dahsyat. Gangguan tersebut dialami sang putri, semenjak Raditya menghilang. Ny. Anggara mengikuti langkah kaki Bik Sum menuju kamar Sandra. Hujan mulai reda. Sisa tetesan air menempel di kaca jendela ruang makan dan juga ruang tengah. Kedua ruangan didominasi kaca jendela lebar, hingga lingkungan sekitar rumah jelas terpandang dari dalam."Kita tunggu di sini," saran Ny. Anggara ketika langkah dua wanita telah sampai di depan kamar Sandra. Tampak di dalam ada Tuan Anggara sedang mengajak bicara Sandra."Maafin Papa, Sandra. Nanti kita keluar buat beli, ya," bujuk Tuan Anggara yang duduk di sisi ranjang."Pembunuh! Pergiii!" teriak Sandra sambil mendongak dengan mata merah. Gadis berambut panjang tersebut bangkit dan seketika memukulkan guling ke arah Tuan Anggara. Nyonya Anggara yang terkejut dengan reaksi Sandra langsung berlari masuk kamar. "Apa maksud semua ini?" tanya Ny. Anggara dengan suara lantang. Tuan Anggara langsung berdiri lalu berucap," Kita harus cari psikolog baru,, Ma."Sandra langsung berlari menuju dapur diikuti oleh Bik Sumi. Gadis dengan mata sembab tersebut menggambil pisau daging lalu berjalan ke arah keramik yang terpasang baru. Perbedaan keramik lama dengan yang baru sangat mencolok karena yang lama sudah kusam. Ukuran luas keramik baru 1x2m. Sandra jongkok di atasnya sembari meracau."Radit! Di sini rumah barumu?" Tiba-tiba datang semilir angin dingin menerpa tubuh Bik Sumi. Seketika bulu kuduk wanita tersebut meremang. Sekarang, seperti ada sesuatu berdiri di dekat wanita ini. Ia bergerak mendekat ke arah Sandra. Tubuh gadis tersebut mengejang lalu kedua mata melotot. Dengan gerakan tak normal, layaknya tenaga pria, Sandra membongkar keramik dan mulai menggali dengan pisau daging."Astagfirullah!" teriak Bik Sumi yang segera didatangi oleh Ny. Anggara. Sedangkan Tuan Anggara menengok sebentar lalu berjalan ke luar rumah. Tak lama terdengar suara mobil ke arah gerbang dan hilang."Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Ny. Anggara sambil menghampiri tempat Sandra menggali.Wanita tersebut, seperti tak mengenali putrinya. Kedua mata Sandra memerah dengan gerakan gesit menggali lantai. Gadis ini tak menoleh sedikit pun. Dia terus menggali dan menggali. Hingga tampak lubang mirip liang lahat dan tengkorak kepala menyembul. Ny. Anggara dan Bik Sumi menjerit histeris langsung tak sadarkan diri. Sedangkan Sandra masih menggali sampai lubang tergali sempurna. Kini di hadapannya terbujur kerangka berpakaian lengkap, seorang pria."Akhirnya, kita ketemu Radit," ucap Sandra dengan mata berbinar-binar sambil memeluk kerangka tersebut.Terekam dengan jelas dalam ingatan Sandra. Setahun yang lalu, saat untuk pertama kalinya selama Raditya pindah kerja ke luar kota. Kekasihnya datang tanpa pemberitahuan."Kita bisa nikah secepatnya. Aku udah ada modal," ucap Raditya bersemangat. Saat keduanya duduk di teras."Papa sedang keluar cuci mobil. Nanti kamu ngomong langsung ke papa aja," balas Sandra tak kalah gembira.Tak berapa lama, Tuan Anggara datang. Setelah memarkir mobil, pria pengusaha batu bara tersebut tersenyum manis menghampiri pasangan kekasih ini. Baik Sandra maupun Raditya mencium tangan Tuan Anggara."Selamat sore, Om," sapa Raditya lalu melempar senyum manis."Selamat sore juga. Gimana kabar keluarga dan tempat kerja yang baru?" tanya Tuan Anggara sembari mengajak Raditya untuk duduk kembali."Alhamdulillah baik, Om."Sandra berpamitan ke dalam akan membuat minuman untuk kedua pria kesayangan. Tak berapa lama Sandra mendengar Tuan Anggara marah kepada Raditya. Seketika gadis berwajah manis tersebut berlari ke depan. Kini, tampak olehnya, kedua pria berhadapan dengan ekspresi tegang. Sandra terpaku."Kalian tak boleh menikah! Cepat tinggalkan Sandra!" Tuan Anggara berkata dengan emosi."Apa salahnya? Saya akan tetap menikah dengan Sandra. Saya harus bertanggung jawab,"balas Raditya dengan tegas.Bernard tersenyum mengetahui kekasihnya telah siuman. "Sabar, Sayang. Sesampai tempat kamu, aku akan pasang infus."Lift dalam keadaan sepi. Hanya mereka bertiga sampai pintu terbuka di lantai tempat mama Sandra dengan yang lain menunggu. Carol berjalan mendahului dengan senyum penuh arti. Wajah Bernard basah oleh peluh dan itu telah membasahi pakaian formal yang masih dipakainya.Begitu sampai depan pintu, Carol segera menekan bel. Pintu terbuka dan tampak beberapa wajah yang cemas akan keadaan Sandra. Tentu saja, Bernard kaget dengan semua ini."Bagaimana bisa kalian ada di sini?"tanya pria bermata biru tersebut. "Maaf, Nyonya. Sandra mabuk berat hingga pingsan.""Saya tahu, kamu adalah dokter. Segera obati anak saya!"pinta Ny.Anggara yang langsung berjalan ke arah kamar Sandra. Wanita ini membuka pintunya.Bernard membopong masuk tubuh Sandra. Kemudian merebahkan Sandra di pembaringan. Dia segera memasang infus dan menaruh kantongnya dengan mencantolkan pada sebuah hiasan di dindin
"Besok pagi kami akan ke keluarga kamu. Kami akan persiapkan semua. Kakek dan Nenek sudah ngotot ingin buru-buru menimang cucu," jelas James yang mematik sikap usil Bernard."Wah, kita harus buru-buru nikah biar bisa bikin cucu yang lucu buat Kakek dan Nenek," celetuk Bernad yang menghasilkan sebuah cubitan di punggung tangan. "Aduh, Sayang. Bilang aja mau buruan ada yang temani tidur tiap malam. Saya siap, Nona.""Apaan, sih!" Sandra cemberut padahal dalam hati senangPesta ini memang diadakan untuk memperkenalkan Sandra kepada seluruh anggota keluarga besar Bernard. Sayang Axel dan Jeanne tidak bisa pulang untuk menghadiri pesta. Namun, keduanya sangat antusias saat diajak video call oleh Bernard bersama Sandra.Malam ini Sandra telah minum champagne berlebihan. Wanita ini tidak pernah minum wine apalagi champagne. Ya, sejak diketahui Sandra memiliki darah suci, orang tuanya telah mewanti-wanti padanya untuk tidak memakan maupun meminum hasil olahan fermentasi.Kini, Bernard yang ke
"Coba aku rasakan." Bernard mengambil obat dari plastik lalu mengulum dan mencium bibir Sandra sekaligus menyalurkan obat tersebut. Keempat asisten rumah tangga segera memalingkan wajah karena malu melihat adegan mesra sejoli. "Minumnya." Bernard menyodorkan gelas ke mulut Sandra. Wanita ini segera meminumnya sampai habis."Benar-benar pasangan serasi. Semoga Tuan Muda dan Nona segera menikah," ucap ART senior.Sejoli tersenyum ke arah para ART. Akhirnya mereka mulai bersiap merias Sandra dan Bernard yang sadar diri segera mendekat ke arah Sandra. "Aku tunggu di bawah, Sayang. Jangan lama-lama! Aku gak bisa menaha rindu terlalu lama.""Gombal, ih!" Sandra manyun ke arah Bernard dan langsung dikecup bibirnya. Setelah itu, Bernard langsung kabur.Perilaku pasangan ini membuat keempat ART ikut gemas dibuatnya. Dalam waktu satu jam lebih Sandra dirias oleh keempat wanita kepercayaan. Kini, Sandra tampil begitu memesona apalagi rasa bahagianya telah mengaktifkan molekul-molekul dalam dara
Hatinya yang terluka perlahan dapat obat penawar dari pria asing di sebuah restoran. Sandra tidak akan pernah menyesali itu. Pria ini benar-benar serius ingin mempersuntingnya. Bukan sekadar kata-kata manis yang terucap dari bibir Derick dan bukan pula pernikahan di atas pengkhianatan Vino terhadap Grace."Aku kunci sebentar pintunya, Sayang," bisik Bernard sambil melepas pelukan. Sandra baru tersadar, mereka telah berada di atas ranjang. Cumbuan keduanya telah membuat melayang. Sandra tersenyum memandangi tubuh Bernard yang berjalan ke arah pintu. Pria berbadan atletis yang telah lama didambanya. Pria yang sesuai dengan ekspektasi Sandra. Lebih dari Raditya, Vino maupun si eksotis Derick.Bernard mengunci pintu lalu ia segera menghampiri Sandra. Pria itu memainkan jari jemarinya pada lekuk tubuh Sandra yang menggiurkan."Bens, aku bertanggung jawab atas drama yang terjadi," bisik Sandra yang semakin membuat Bernard semakin bergairah.Sandra berdiri di depan si pria indo ini. Ia mena
Tiba-tiba Sandra dikejutkan oleh kehadiran beberapa wanita bercode dress ala asisten rumah tangga Telenovela. Bernard lalu mendekati Sandra dan berbisik, "Sampai jumpa di pesta dansa, Sayang."Pria berparas blasteran ini mengecup pipi Sandra sekilas lalu pergi entah ke mana. Sandra memegang pipi bekas kecupan Bernard. Kurang ajar, rutuk Sandra dalam hati. Padahal dalam hatinya berbunga-bunga.Sandra diarahkan ke sebuh kamar oleh salah satu ART yang berwajah lebih dewasa dari yang lain. Sepertinya, dia adalah senior dari para ART. Sebuah ruangan yang sangat luas. Ada sebuah pembaringan besar berkasur tebal. Matanya memidai sekeliling ruangan. Seluruh dinding berwarna keemasan dengan kaca jendela lebar yang mampu membingkai langit dengan segala isinya.Lampu gantung besar tepat berada di atas pembaringan. Tak jauh dari pembaringan ada meja rias satu set. Berjarak sekitar satu meter berdiri lemari kayu jati berdampingan dengan etalase baju dan sepatu. Dalam etalase baju terdapat berbagai
"Pak, tolong, dong! Jangan dihukum kayak gini. Please," ucap Sandra mirip anak kecil merengek.“Ya. Ada yang mau saya omongin lebih banyak. Duduk!"“Nanti saya telat masuk.”“Saya bilangin staf promo kalau kamu ada urusan sama saya.”Sandra terpaksa menurut daripada dalam masalah. Wanita berambut lebat ini sadar bahwa Bernard sedang menatapnya dengan sinis.“Kenapa?” tanya Sandra malas. Padahal dalam hatinya ingin sekali mempergunakan kekuatan supranatural. Ia pun teringat akan nasihat mamanya agar berperilaku layaknya manusia. Sandra hanya ingin hidup dengan damai dan itu bisa didapatkan saat dirinya kembali menjadi manusia seutuhnya.“Kamu gak bisa kabur lagi, wanita licik.”***Dari awal pertemuan tidak sengaja mereka, Bernard ikut andil membuat skenario di mana mereka bertemu saat liburan. Hal itu sesuai dengan penjelasan Bernard kepada keluarganya.Sandra kini kembali ke ruang promo dan iklan dengan tubuh yang lemah, letih dan juga lesu. Macam orang kurang gizi. Begitu selesai k
Penjelasan dokter Ariel sampai membuat teman-temannya berbisik. “Nama akhirnya Luciano, kayaknya dia penerus direktur yang sekarang, ya?”“Kayaknya iya deh, masih pemilik rumah sakit ini.”Namun, dari pembicaraan mereka yang Sandra takutkan adalah ... Itu orang yang sama. Begitu Sandra menoleh ke belakang dan melihat kedatangan si Wakil Direktur. Saat itulah Sandra merasa dunianya seketika berputar bagai gangsing.Wanita muda ini buru-buru menoleh ke arah lain, hingga Bernard melewati. Saat pria tersebut memberi kata sambutan, Sandra segera menunduk. Ia berpura-pura membaca proposal yang akan tim lakukan.“Lu biasa bagian apa?"tanya wanita sebelah Sandra.Product placement," balas Sandra singkat."Meliputi apa saja?"tanya yang lain. Sandra merasa terganggu dengan dua orang ini yang terus-menerus tanya berbagai hal. Mereka seperti sengaja menguji kemampuannya.Masa, iya. Sudah kerja tahunan di bidang advertiser, masih tidak ngerti apa itu product placement, omel Sandra dalam hati. Namu
“Jangan kabur lu! Kita harus menikah dan lu harus punya anak agar bisa sembuh dari penyakit langka."“Iih, lepas gak? Gue mau ke kamar mandi. Kebelet."“Tanggung jawab!"“Sinting!"seru Sandra mencoba melepaskan diri. “Lepas, gak?”“Kalau kamu gak mau, kita balik lagi ke dalam dan kamu jelaskan semuanya.”“Iih, tunggu!” Sandra panic ketika Bernard menariknya berjalan. Namun, tenaga pria itu lebih besar, mustahil untuk dilawan. “Iya, iyaaa! Gue tanggung jawab! Izinin dulu gue ke kamar mandi, please! Gue janji akan tanggung jawab," ucap Sandra dengan raut wajah memelas.Tidak sia-sia Sandra untuk mengeluarkan bakat aktingnya. Akhirnya, Bernard menghentikan langkah. “Ada yang perlu gue ingin bicarakan sama lu. Penting! Kita ke apartemen gue.”“Gue mau ke kamar mandi di sini dulu. Gak kuat, pengen pup." Sandra berkata sembari menahan bagian pantat. "Atau lu lebih suka, gue buang kotoran dimari? Oke, fine!"Bernard seketika melepaskan cengkramannya. “Gue ikut sama lu.”“Terserah!" Sandra pu
Satu-satunya yang terpikirkan di kepala Sandra adalah ...."Hhhggg ....” Wanita berambut lebat tersebut memegang dadanya lalu berakting sesak. “Sa-Saya ma-mau ke to-toilet.”“Bernard antar dia! Kayak sesak gitu. Kalo perlu antar ke dokter,” ucap Cecilia khawatir.“Gak papa, Tante. Saya ke kamar mandi dulu ….” Sandra buru-buru berdiri lalu melangkah sambil menunduk tanpa mengetahui kalau ada dua pria sedang menggotong meja.BRUKK! “Aaaah!” Sandra jatuh lalu tiba-tiba pandangan matanya gelap. Wanita ini pun tak sadarkan diri.“Ya ampun, Nak!”pekik Cecelia terkejut.“Bens, buruan bawa ke rumah sakit”perintah James sambil mengulurkan kunci mobil.Dengan berat hati Bernard membopong tubuh Sandra. Tampak ada benjolan di bagian kening wanita berambut lebat tersebut. Wajah cantiknya pucat pasi seperti kapas. Timbul rasa empati dalam hati pria berpredikat es batu ini. Sementara itu, Bernard tidak menyadari bahwa Cecilia mengikuti dengan setengah berlari. Bernard dengan napas tersengal-sengal,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments