LOGINIa bahkan tidak membiarkannya menyelesaikan kalimat. “Perjalanan ke Dunholm memakan waktu berjam-jam, Alize.” Alize mengangguk lemah. “Aku tahu itu,” ujarnya. “Delapan jam menurut beberapa informasi.” Dan itu membuat Corentine menjadi semakin tegas. “Kau baru saja disekap semalam,” ujar Corentine. “Bahkan rasa cemasku belum reda sampai detik ini.” Alize bergerak gelisah di kursinya. “Aku baik-baik saja.” Corentine nyaris menatapnya dengan tajam. “Kau tidak baik-baik saja.” Nada suara Corentine mulai berubah lebih tegang. “Dan kita baru saja menemukan peti senjata milik pemberontak.” Alize mengerutkan kening. “Justru karena itu kita harus bergerak cepat.” Corentine bertambah muram. “Justru karena itu kau tidak akan pergi. Beberapa orang pemberontak berada di luar sana. Sudah berada di dalam tembok ibu kota. Mereka akan menyasar siapa pun yang menurut mereka berharga untuk dipertukarkan dengan waktu Raja.” Corentine berhenti. “Dan kau sudah tahu aku tidak a
Lady Julia membeku sesaat. Matanya menatap Alize seolah melihat sesuatu yang asing. “Aku berharap telingaku salah dengar, Duchess,” ujarnya. “Kau tidak mungkin sedang mengajakku pergi ke Biara Dunholm.” Alize mengangguk tenang. “Aku memang sedang mengajak Anda , Lady Julia.” “Tapi untuk apa?” Lady Julia sekarang menaruh rajutannya di meja kecil di sebelah kursinya. “Hanya karena kertas kecil itu...” Alize menghela napas. “Saya punya firasat bahwa itu bukan sekedar kertas kecil,” ujarnya. “Untuk apa Lord Courcy membakarnya kalau itu tidak berarti?” “Aku tidak punya jawaban untuk itu,” sahut Lady Julia datar. “Bukan aku yang suka mengejar petunjuk kesana kemari.” Dengan muram ia menggeleng. “Begitu banyak petunjuk ditemukan, tetapi semuanya tidak mengarah kemana-mana. Pelayanmu tetap hilang, kastil ini masih penuh keributan.” Alize bergerak. Rajutannya juga disisihkan. “Karena kita tidak akan tahu yang mana yang akan membawa kita pada kebenaran, Lady Julia. Kita
Lady Julia menatapnya dengan heran. “Biara Dunholm? Kenapa tiba-tiba kau menanyakan biara tua itu, Duchess?” Biara Dunholm berdiri jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, tersembunyi di antara perbukitan batu di pesisir utara. Tempat itu sudah ada jauh sebelum sebagian besar bangsawan yang hidup sekarang lahir. Orang-orang mengenalnya sebagai tempat suci. Tempat yang tenang dan aman, sehingga orang-orang berdatangan untuk berdoa. Hanya itu yang pernah Alize dengar. Karena itulah Alize tidak bisa memahami mengapa alamatnya ditemukan di kamar Cedric. Ia kembali menatap secarik kertas yang sudah hangus di tepinya, lalu menyerahkannya pada Lady Julia. “Aku menemukan ini di kamar itu.” Lady Julia menerima kertas tersebut. Kerutan di dahinya semakin dalam ketika membaca tulisan di sana. “Di mana kau menemukannya?” “Di perapian. Sepertinya Lord Courcy membakar sesuatu, dan ini adalah sisa yang tidak terbakar.” Wanita tua itu mengangkat kepala. Beberapa saat ia hanya menatap Ali
Alize tahu Corentine tidak bermaksud mengecamnya. Ia hanya mengungkapkan fakta, karena seperti itulah adanya. Raja Caergyl dari Adalran adalah orang yang sangat keras dan kebijaksanaannya konon terlalu kaku. Itu sebabnya perselisihan antar perbatasan dengan Montveraine seringkali tidak bisa sepenuhnya diakhiri, karena di meja perundingan Raja Caergyl selalu punya persyaratan baru. Dengan sikapnya yang seperti itu, akan menjadi sulit jika meminta bantuan istananya untuk menangkap Cedric begitu saja. Dalam hati Alize mengakui kecerdikan Cedric. Pria itu pasti sudah memikirkan hal semacam ini jauh sebelumnya. “Tetapi masih ada kemungkinan dia masih di Montveraine,” ujar Louis. “Benar, Yang Mulia,” ujar Tyron. “Tidak semudah itu pergi dengan sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda. Rute ke perbatasan juga tidak selalu berupa jalan yang bagus.” “Kalau begitu, teruskan pencarian di seantero ibu kota,” ujar Corentine. “Cari tahu di bengkel mana dia biasa memperbaiki keretanya.
Setelah makan siang di kamarnya, Alize sudah merasa cukup pulih dan mulai merasa bosan. Ia juga sangat penasaran ingin mengetahui kemajuan penyelidikan dan pengejaran Cedric oleh para pengawal de Mably. Ia membujuk Lady Julia agak menemaninya di ruang duduk dan untungnya wanita tua itu bersedia. Greta membawakannya keranjang rajutnya dan ia mulai merajut, demikian pula Lady Julia. Tak ada suara apa pun di kamar itu selain suara detik jarum rajut saling beradu. Sampai tiba-tiba Dom datang dengan mengendap-endap sopan. “Yang Mulia Duchess,” ujarnya. “Saya membawa pesan dari Yang Mulia Duke untuk Anda.” Alize mengangkat wajahnya. Jantungnya berdebar penuh antisipasi. Sejak tadi ia menunggu kabar seperti ini karena tahu Tyron ada di luar sana untuk menyelidiki soal kepemilikan senjata-senjata selundupan itu. Ia membayangkan jika Tyron kembali, sang kapten pasti sangat terkejut ketika diberitahu apa yang terjadi semalam. “Apakah ini berkaitan dengan berita yang dibawa Tyron, Dom?
“Apa kau baik-baik saja?” Suara Corentine terdengar pelan, namun berat, tepat di atas kepalanya. Tangannya masih melingkari tubuh Alize, erat—terlalu erat untuk seseorang yang biasanya selalu menjaga jarak dari emosi apa pun. “Maafkan aku, Alize.” Suaranya berat dan rendah. “Seandainya aku tahu kalau Lord Courcy akan…” “Tidak.” Alize memotong lembut. “Semua ini bukan salahmu.” Untuk beberapa detik, Corentine tidak bergerak. Lalu perlahan, ia mengurai pelukannya. Ada sesuatu yang nyaris tak terlihat di wajahnya, ketidaknyamanan kecil, seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang tidak sesuai kebiasaannya sendiri. Alize memperhatikannya. “Bagaimana kau tahu soal kejadian ini?” tanyanya kemudian. “Apakah baru saja?” Corentine mengangguk singkat. “Aku dan Putra Mahkota seharusnya memeriksa gerbang barat ibu kota pagi ini dan baru akan kembali nanti siang.” Ia berhenti sebentar. “Tapi rupanya beberapa pengawal utusan Lace semalaman mencari kami dan akhirnya menem
Makan siang hari itu terasa lebih menyenangkan dari yang Alize bayangkan. Mungkin karena kedatangan Troy, karena ia selalu menyukai sepupunya itu. Dan terkadang merindukannya. Meja makan hanya diisi oleh tiga orang—dirinya, Lady Julia, dan Troy. Corentine belum kembali dari istana, sementara Lad
Alize menatap Troy. “Apakah kau yakin?” Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu yang lebih tajam di baliknya. Harapan dan kewaspadaan. Troy masih memegang sobekan kain itu di antara jari-jarinya. Ia membaliknya, meraba teksturnya sekali lagi, seolah memastikan ingatannya tidak keliru. “Ya,”
Alize membuka mata perlahan, merasakan dinginnya seprai di sisi lain tempat tidur. Ia berbalik sedikit. Sisi bagian Corentine kosong. Sejenak ia hanya menatap tempat itu, bekas kusutnya sudah rapi sendiri, seolah tidak pernah ada yang berbaring di sana semalam. Ia memanggil pelayan. Mirelle mas
Makan malam berlangsung lebih tenang dari biasanya. Tidak ada tawa ringan, tidak ada percakapan panjang yang mengalir. Hanya denting peralatan makan dan suara pelayan yang sesekali bergerak. Alize duduk di tempatnya, punggung tegak, jemarinya memegang sendok dengan anggun, seperti yang seharu







