بعد أن طلقني… اكتشف أنني الوريثة

بعد أن طلقني… اكتشف أنني الوريثة

last update最終更新日 : 2026-09-17
作家:  هشام عارف連載中
言語: Arab
goodnovel12goodnovel
10
1 評価. 1 レビュー
64チャプター
1.2Kビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

الرومانسية المظلمة

القصة

حب وكراهية

فتاة جيدة

وريث

ولد مؤذٍ

يتم انتهاك التوقعات

غني

حب سري

بعد أن طلقني… اكتشف أنني الوريثة «وقّعي.» كانت تلك الكلمة هي النهاية التي لم أتوقعها بعد ثلاث سنوات من الزواج. رفعت عيني إلى كيان، الرجل الذي أحببته أكثر مما أحببت نفسي، فوجدته يجلس أمامي بوجه بارد، وكأن السنوات الثلاث الماضية لم تكن تعني له شيئًا. دفع ملف الطلاق نحوي. «انتهى زواجنا يا سيرين.» نظرت إلى الأوراق طويلًا. كنت أستطيع أن أبكي. أن أصرخ. أن أسأله لماذا. لكنني اكتفيت بابتسامة صغيرة، وأمسكت القلم. «حسنًا.» وقّعت اسمي. تغيرت ملامحه للحظة، وكأنه لم يتوقع أن أوافق بهذه السهولة. دفعت الملف إليه وقلت: «أتمنى لك حياة سعيدة.» ثم غادرت القصر. لم أكن أعرف أن خروجي من ذلك الباب سيكون بداية حياتي الحقيقية. وقفت تحت المطر، أحاول منع دموعي من السقوط، حين توقفت أمامي سيارة سوداء فاخرة. نزل منها رجل مسن، وما إن رآني حتى تجمد في مكانه. اقترب مني ببطء، ثم قال بصوت مرتجف: «آنسة سيرين… هل أنتِ سيرين عادل؟» تراجعت خطوة. «نعم… من أنت؟» اغرورقت عيناه بالدموع. «بحثنا عنكِ سبعة عشر عامًا.» شعرت بقشعريرة تسري في جسدي. ثم أضاف: «والدك ينتظرك.» ضحكت بمرارة. «والدي مات منذ سنوات.» هز رأسه. «الرجل الذي رباكِ ليس والدك الحقيقي.» توقفت أنفاسي. «ماذا؟» فتح باب السيارة، وقال: «أنتِ الابنة الوحيدة لعائلة الكيلاني… وأنتِ الوريثة الشرعية لإمبراطورية تقدر بمليارات الدولارات.» لم أستطع الكلام. لكن المفاجأة الحقيقية لم تكن في الثروة. بل في الجملة التي قالها قبل أن أركب السيارة: «هناك سبب واحد فقط جعل والدك يسمح بزواجك من كيان… وهو أن عائلة كيان كانت تبحث عنكِ طوال هذه السنوات.» عندها فقط أدركت… أن طلاقي لم يكن نهاية قصتي. بل كان بداية الحرب.

もっと見る

第1話

١

#Horor #RumahEyang

"Mukenah siapa ini, Yang?"

"Mungkin mukenah Sabrina, Neng."

"Tapi kok keliatan besar, ya?"

Mukenah itu lantas berpindah tangan ke tanganku. Aku lantas menyibak sedikit dan mencoba memperhatikan ukurannya. Tapi, belum selesai tanganku menyibak, mukenah itu sudah kulempar jauh.

"Lah kok kamu lempar gitu, ambil lagi, taroh di keranjang kotor."

"Ih, bau banget, Yang!"

Magrib itu aku dan Eyang sudah siap ke masjid. Kami memang selalu rutin magriban di masjid, karena rumah Eyang termasuk rumah yang paling dekat.

Segera kutarik ujung mukenah putih itu, nampaknya bersih, tak ada noda, mirip mukenah ibuku tempo dahulu, tapi kenapa bau sekali? Aku meletakkannya sesuai perintah Eyang. Lantas mengambil mukenah milikku di dinding kamar lalu menyusul beliau keluar. Namun, baru saja melangkah dari bilik, tiba-tiba dari dalam terdengar suara dinding di pukul keras.

BUGH BUGGGHH

"Cepat, Imel!" teriak Eyang.

Aku yang hendak memeriksa seketika terkejut mendengar suara Eyang teriak dari pagar. Akhirnya, kakiku tidak meneruskan langkah menuju suara itu, melainkan meneruskan langkah keluar rumah.

Semenjak sibuk bekerja, baru kali ini aku berkunjung ke rumah Eyang selama belasan tahun. Alasannya karena aku tak punya Ibu dan Bapak, jadi rumah peninggalan orang tuaku sudah disewakan pada keluarga. Sementara aku pulang ke kampung Siliwangi, rumah Eyang yang berdiri di tengah-tengah rumpun warga Siliwangi dari sejak ayahku kecil.

Eyang menyuruhku tinggal di sana saja, katanya lebih untung karena aku bisa dapat uang dari rumah sewa milikku, juga bisa merawat Eyang.

Sebenarnya aku dulunya ngontrak di kota tempatku bekerja, hanya saja saat ini Ibu bos yang mempekerjakan aku sebagai baby sitter sedang ada perjalanan keluar negeri sampai selesai bulan ramadhan. Anak yang aku asuh sementara waktu dijaga oleh keluarga pihak ayahnya karena beliau akan menjalani operasi di Malaysia.

"Yang, Imel pulang sehabis isya sama yang lain."

"Iya, langsung pulang ya, Mel."

"Iya, Yang."

Muadzin selesai beriqamah, para jemaah sudah tak sabar menggelar sajadah begitu pun orang-orang yang masih di luar area. Mereka berlari kecil menuju pintu dengan wajah berseri-seri dan mengenakan pakaian terbaiknya.

Setelah salat magrib, aku dan para ibu-ibu seperti biasa akan melakukan pengajian, hari jumat akan diganti tauziah. Hari ahad rutin kita adakan seperti menggelar acara lomba.

Lomba baca surah pendek, lomba muadzin, lomba qosidah, lomba tilawatil al-qur'an, juga beberapa lomba lainnya. Rutinitas indah ini sudah aku lakoni dari kecil. Sayangnya, di kota sangat jarang ada yang seperti ini.

Pukul 09:12 salah isya dan kegiatan kita ditutup. Aku pulang bersama beberapa orang yang kebetulan adalah tetangga Eyang, betapa terkejutnya aku saat sampai di depan pagar rumah. Eyang tergeletak di teras dengan keadaan masih menggunakan mukenah.

"Astaghfirullah! Eyang!"

Beberapa orang yang menyaksikan ikut histeris. Kami segera masuk, melewati rumput kecil sepanjang halaman yang minim penerangan. Ini sudah jaman modern, jalan sudah mengkilap, hanya saja penerangan masih minim karena masih termasuk pelosok. Lampu hanya bertumpu dari minyak tanah, padahal jika pemerintah setempat mau membangun pusat energi listrik aku yakin orang disini sudah cukup mampu memenuhi segi biaya.

Kami berlari sambil berteriak histeris. Lalu segera umi Lasmi menyuruh yang lain menggendong tubuh Eyang, lalu kami baringkan dia di kamarnya.

"Coba kuperiksa dulu, Mel."

"Silahkan, Um."

Syukurlah keadaan Eyang katanya baik-baik saja, akhirnya beberapa orang izin pulang setelah membuatkan Eyang teh hangat.

Selama lima belas menit rasanya hatiku dilanda rasa khawatir teramat, takut Eyang kenapa-napa, takut Eyang meninggal, takut, takut, takut. Sampai aku menghembuskan nafas lega saat beliau pelan-pelan membuka mata.

Aku terperanjat, segera kuhampiri Eyang, beliau memegang keningnya, lalu memperhatikan keadaan di sekeliling.

"Neng, aduuh. Kepala Eyang sakit."

"Eyang, alhamdulillah, sudah sadar."

Kubantu Eyang bangun, sementara beliau masih meringis kesakitan. Lebam di kepalanya sedikit berbekas, membuatku semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi.

"Neng, dimana Eyang ini?"

"Di kamar, Yang. Tadi kami dapatin Eyang tidur di teras, tak kira Eyang kenapa-napa. Eyang kok bisa pingsan di luar?"

Eyang sedikit terkejut mendengarkan ucapanku. Bukannya menjawab, malah ia buru-buru bangun, mengintip keluar, lalu berlari lagi masuk ke kamar.

"Yang?"

"Sst! Tadi itu pas Eyang balek ke rumah, rencana mau langsung ke dapur ambil masakan juga mau manasin sop ayam yang kamu buat. Tiba-tiba pas lewatin kamarmu, ada kamu di dalem, lagi salat munggungin pintu."

Bulu kudukku langsung merinding. Enggak mungkin Eyang abis praktek sinetron terus keterusan akting. Aku mengedarkan pandangan, lalu mendekat diri ke tubuh Eyang. Jadilah kami saling berbisik-bisik, sementara tempo di jantungku berdegup kencang.

"Se-seriusan?"

"Demi Allah, Neng. Untung Eyang enggak mati di tempat waktu liat kembaran kamu tiba-tiba rukuk lebih dari rukuk orang biasa, kepalanya lewatin lutut terus lewat celah lututnya liatin Eyang sambil nyengir lebar!"

"Hah! Astaghfirullah!"

"Kamarmu terbuka sendiri, tidak tertutup seperti sekarang, Neng."

Malam itu Eyang mengajakku kembali ke dapur. Tak lupa aku berlari kecil menutup pintu rumah dan mengunci semua jendela. Aku tahu beliau masih shock, begitupun juga aku, saat ini kami sangat ketakutan.

'Lantas, bagaimana dengan diriku? Apa harus masuk ke kamarku setelah makan?'

Aku segera memanaskan kembali sop ayam, ikan, dan membuat acar. Setelah hidangan siap, Eyang dan aku makan, kami makan tak seperti biasanya yang heboh penuh lelucon. Malam ini, kami makan dengan suasana hening.

"Apa yang terjadi setelah itu, Yang?"

"Ya, lari. Yang Eyang ingat hanya lari, lutut Eyang lemas sampai di teras udah pingsan," bisiknya.

"Emang mirip Imel, Yang?"

"Tinggi sedikit, karena dia pakai mukenah puteh, enggak terlalu nampak!"

"Mukenah putih?"

"Iya. Mukenah puteh ujungnya kain rendah puteh juga ... "

Tak sempat Eyang melanjutkan kalimat, kami berdua saling tercengang. Mukenah putih, yang baru saja aku simpan di keranjang cucian? Itukah? Astaghfirullah. Astaghfirullah.

Akhirnya kami melanjutkan makan malam dengan pikiran berkecamuk, takut, kaget, semua campur jadi satu. Kuminta Eyang menemaniku bereskan dapur, mencuci piring, juga meletakkan piring di tempatnya. Sehabis itu, dengan berbekal nekat, Eyang dan aku berjalan keluar, posisi kami jika ke kamarku harus melewati kamar Eyang, lorong sempit sekitar satu meter lebih sampai ke kamarku yang berhubung ke ruang tamu.

"Eyang, serius mau buka? Dah lah, Imel malam ini tidur bareng Eyang aja."

"Kamu bisa tidur nyenyak tanpa periksa dulu?"

Aku menggeleng. Raut wajah Eyang seketika mencelos, kami terpaksa harus membuka kamarku yang di dalamnya sangat gelap. Aku harus masuk dulu jika mau menyalakan lampu pijar.

KREEEKKKK

Derit panjang terdengar. Segera Eyang masuk menyalakan lampu dan memeriksa ruangannya. Nihil. Tidak ada siapa-siapa disana, kamarku berantakan seperti aku meninggalkannya magrib tadi, beberapa jaket dan mukenah ganti berwarna cerah tergantung dekat pintu, juga meja dan kursi tak bergeser dari tempatnya.

"Enggak yang berubah, mungkin Eyang cuma berhalusinasi."

"Kamu pikir Eyang ini sudah tua amat? Eyang baru enam puluh lima, Neng! Enggak mungkin salah liat, apalagi wujud itu menatap Eyang cukup lama!"

"Ya sudah, Imel tidur dengan Eyang, ya."

Kami melangkah keluar, hendak mematikan lampu. Hanya saja, aku sempat tertegun, perlahan kutarik Eyang kembali dengan tubuh mendadak tegang.

"Siapa yang gelar sajadah, Yang?"

Tanganku terulur sangat pelan, kutunjuk di samping kasur, ternyata ada sajadah panjang, ukurannya lebih panjang dari sajadah kami di rumah ini, sajadah itu tergelar persis selurus dengan pintu. Bersama dengan itu bau khas mayat busuk menyeruak di rongga hidung, sama seperti bau mukenah yang kupegang tadi. Aku dan Eyang segera berlari, membiarkan pintu kamarku yang tak sempat kututup lagi.

Baru saja hendak mengatur nafas. Kami dikejutkan dengan suara lirih dari seberang kamar Eyang, persis dari kamar ku.

"Eyang," pekikku tertahan.

"Berdoa, Neng!"

Suara lirih perempuan, sedang menyayikan sesuatu yang aku tak tahu itu tembang apa. Tiba-tiba terdengar suara langkah seseorang keluar sambil membuka pintu kamarku, padahal jelas-jelas baru saja kami berlari tanpa menutup pintu.

Suara langkah itu terhenti, tepat di depan kamar Eyang. Nyaris saja aku pingsan, jika Eyang tak menarikku naik ke kasur dengan tangan bergetar hebat. Hal yang membuat kami tercengang saat suara orang di luar itu tiba-tiba berbicara hingga membuat kedua lututku terkulai lemas.

"Cah ayu. Mukenah kowe cari paku."

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

レビュー

ورده
ورده
> رواية قسوة التمساح من أجمل ما قرأت، نفس جو القهر والانتقام اللي أحبه! أنا كمان كاتبة جديدة كتبت رواية بنفس النمط اسمها عن الزوجة المظلومة اللي ترجع قوية، اتمنى تشرفوني وتقرأونها وتعطوني رأيكم، متابعتكم تفرحني ...️
2026-09-21 10:05:51
0
0
64 チャプター
١
الفصل الأولالسيارة السوداءلم أتحرك.بقيت واقفة تحت المطر، أحدق في الرجل المسن الذي كان ينتظر مني أن أصدّق كلمات بدت كأنها خرجت من رواية خيالية.والدي ينتظرني.والرجل الذي رباني ليس والدي الحقيقي.أنا الابنة المفقودة لعائلة الكيلاني.والأهم…أن زواجي من كيان لم يكن مصادفة.كل جملة كان ينطق بها كانت تجعل العالم من حولي يبدو أقل واقعية.مسحت المطر عن وجهي، ولم أعرف إن كانت قطراته هي التي بللت خدي أم دموعي.قلت بصوت خافت:«أنا لا أفهم شيئًا.»أجاب الرجل:«ولهذا جئت لأخذك.»نظرت إلى السيارة السوداء خلفه.ثم عدت أنظر إليه.«ومن يضمن لي أنك لا تكذب؟»ظهرت ابتسامة حزينة على وجهه.«لا أحد.»كانت إجابته صادمة ببساطتها.«لكنني أستطيع أن أعطيكِ شيئًا لا يستطيع أي شخص آخر إعطاءكِ إياه.»مد يده داخل سترته وأخرج صورة قديمة.كانت حوافها مهترئة، وكأنها احتفظت بها لسنوات طويلة.مدها نحوي.ترددت قبل أن آخذها.وحين رأيتها…توقفت أنفاسي.كانت الصورة لامرأة شابة تحمل طفلة رضيعة بين ذراعيها.المرأة كانت تبتسم.أما الطفلة…فكانت تضع حول معصمها سوارًا فضيًا صغيرًا.لم أحتج إلى الاقتراب أكثر.كنت أعرف ذلك ال
last update最終更新日 : 2026-08-30
続きを読む
٢
الفصل الثانيالرجل الذي عاد بعد فوات الأوانلم أكن مستعدة لسماع المزيد.ولا كنت مستعدة لرؤية كيان مرة أخرى.لكن جاد قالها بثقة جعلتني أشعر أن الأمر لم يكن مجرد توقع.كان يعرف.كان يعرف شيئًا عن كيان.شيئًا عن زواجي.شيئًا عني.وقبل أن أستطيع طرح أي سؤال، اهتز هاتف والدي فوق المكتب.نظر إليه.ثم تغير وجهه.«إنه هو.»لم أسأله من يقصد.كنت أعرف.كيان.بعد دقائق فقط من دخولي إلى المكان الذي قيل لي إنه منزلي الحقيقي، كان الرجل الذي خرجت من حياته منذ ساعات يقترب مني من جديد.وقفت.«لن أقابله.»قال والدي:«سيرين، عليك أن تسمعي ما سيقوله.»«سمعته ثلاث سنوات.»صمت.تابعت:«ثلاث سنوات كنت زوجته، ومع ذلك لم يخبرني بشيء. واليوم، بعدما انتهى الزواج، أصبح لديه ما يقوله؟»نظر إليّ جاد.«لأن الأمور تغيرت.»التفت إليه.«أنت تعرف الكثير.»«أكثر مما تتخيلين.»«إذن تكلم.»ابتسم ابتسامة صغيرة.«ليس الآن.»اشتعل الغضب بداخلي.«الجميع يعرف شيئًا إلا أنا!»ضربت يدي على الطاولة.«أريد الحقيقة!»ساد الصمت.كان والدي ينظر إليّ بعينين مليئتين بالندم.اقترب مني وقال:«الحقيقة أنني أخطأت عندما أبعدتك عني كل هذه ال
last update最終更新日 : 2026-08-30
続きを読む
٣
الفصل الثالثالرصاصة التي غيّرت كل شيءلم أسمع صوت الرصاصة.سمعت فقط صرخة كيان.ثم شعرت بجسده يصطدم بي ويدفعني إلى الأرض.سقطنا خلف الأريكة في اللحظة نفسها التي ارتطمت فيها الرصاصة بالجدار.صرخت دون وعي:«كيان!»لم يجب.كان فوقي، وذراعه تحيط برأسي.رفعت يدي إلى كتفه.«كيان! هل أصبت؟»رفع رأسه ببطء.«أنا بخير.»لكن صوته لم يكن طبيعيًا.كان متألمًا.حاولت النهوض، فأمسكني من يدي.«لا تتحركي.»رفعت عيني إلى الممر.الرجل المسلح لم يعد هناك.اختفى خلف الباب.كان جاد قد تحرك بالفعل.ركض في اتجاهه، بينما ظهر يوسف من الدرج ومعه اثنان من الحراس.سمعت أصواتًا متداخلة، وصراخًا، ثم صوت اشتباك في الطابق السفلي.أما أنا فبقيت أحدق في كيان.كان وجهه شاحبًا.ثم رأيت الدم.بقعة صغيرة بدأت تنتشر على قميصه قرب كتفه.«أنت مصاب.»«مجرد خدش.»«هذا ليس خدشًا.»«سيرين، اسمعيني.»«لا.»مزقت قطعة من طرف ثوبي وضغطت بها على مكان الإصابة.تألم للحظة، لكنه لم يبعد يدي.قال:«يجب أن نخرج من هنا.»«أين أبي؟»صمت.«كيان، أين أبي؟»«لا أعرف.»نهض بصعوبة.أمسكت بذراعه.«أنت تنزف.»«والرصاصة لم تكن موجهة إليّ.»توقفت.نظ
last update最終更新日 : 2026-08-30
続きを読む
٤
الفصل الرابعالباب الذي فتحه كيانلم أستطع النظر إليه.كنت أريد أن أسمع تفسيرًا.أي تفسير.كلمة واحدة تجعل كل ما سمعته يبدو أقل بشاعة.لكن كيان ظل واقفًا أمامي، صامتًا.وجهه لم يحمل محاولة للهرب.ولم يحمل حتى محاولة للدفاع عن نفسه.وهذا أخافني أكثر.قلت:«أنت فتحت الباب.»لم يجب.«أليس كذلك؟»رفع عيني إليّ.«نعم.»تراجعت خطوة.كانت الكلمة بسيطة.لكنها سحقت شيئًا داخلي.قال جاد:«سيرين، قبل أن تحكمي عليه—»التفت إليه بعنف.«لا تتدخل.»صمت.عدت إلى كيان.«أنت فتحت الباب.»«نعم.»«وأنا كنت خلفه؟»«نعم.»«وكان هناك أشخاص يريدون أخذي؟»أغمض عينيه.«نعم.»ضحكت.لم تكن ضحكة حقيقية.كانت محاولة لمنع نفسي من الانهيار.«إذن كل هذه السنوات…»توقفت.«كل هذه السنوات كنت أكره الرجل الخطأ.»قال كيان:«لا.»رفعت عيني.«ماذا؟»«كنتِ تكرهين الشخص الذي يستحق جزءًا من غضبك.»اقترب خطوة.«لكن ليس بالطريقة التي تتخيلينها.»«لا تقترب.»توقف.وضعت يدي على صدري.كان قلبي يؤلمني.«لماذا؟»«كنت في الثامنة عشرة.»«وهذا يعفيك؟»«لا.»«إذن لماذا فعلت ذلك؟»قال:«لأنني كنت أعتقد أنني أنقذك.»صمتُّ.ثم قلت:«من ماذا
last update最終更新日 : 2026-08-30
続きを読む
٥
الفصل الخامسالحقيقة التي دُفنت سبعة عشر عامًالم أفهم الكلمة.أو ربما فهمتها، لكن عقلي رفض أن يقبلها.ابنتي.ظل سامر واقفًا أمامي، بينما كانت عيناي تبحثان في وجهه عن أي علامة تخبرني أنه يكذب.قلت بصوت خرج بالكاد مسموعًا:«ماذا قلت؟»لم يجب فورًا.كان كيان خلفي يقترب.سمعت صوته:«ابتعد عنها.»نظر سامر إليه.«لا تزال تحميها.»رد كيان:«وسأظل أفعل.»ضحك سامر.«حتى بعد أن تعرف ما فعلته؟»تقدمت خطوة.«لا تتحدث عنه.»نظر إليّ سامر.«أنا لا أطلب منكِ أن تثقي بي.»«إذن لماذا أنت هنا؟»«لأخبرك بالحقيقة.»«أي حقيقة؟»أشار إلى المفتاح في يدي.«الحقيقة التي حاول والدك وكيان ونادين دفنها.»صرخ ريان من خلفنا:«لا تصدقيه يا سيرين.»التفت إليه.«إذن كذّبه.»صمت.كانت تلك اللحظة كافية.قلت:«أبي... هل كنت حاملًا؟»نظر إليّ ريان.لم يجب.تقدمت نحوه.«هل كنتِ أعرف أن لدي طفلة؟»ظل صامتًا.شعرت بشيء ينكسر داخلي.ثم نظرت إلى نادين.كانت تبكي.قلت:«أمي؟»وضعت يدها على فمها.«قولي شيئًا.»قالت:«كنتِ صغيرة جدًا.»«هذا ليس جوابًا.»«لم نكن نعرف ماذا نفعل.»«من هي؟»انفجرت نادين بالبكاء.«ابنتك.»أغمضت عيني
last update最終更新日 : 2026-08-30
続きを読む
٦
الفصل السادسالتوأم الذي لم أعرف بوجودهلم أستطع الحركة.كنت أنظر إلى الرجل الواقف خلف سليم، ثم إلى كيان.كان التشابه بينهما صادمًا.نفس الطول تقريبًا.نفس لون العينين.نفس ملامح الوجه الحادة.حتى طريقة وقوفهما كانت متقاربة.لكن شيئًا واحدًا كان مختلفًا.كيان كان ينظر إليّ وكأنه يخشى خسارتي.أما الرجل الآخر...فكان ينظر إليّ وكأنه يعرفني منذ زمن بعيد.قال سليم:«هذا هو سامر.»تراجعت خطوة.«سامر؟»قال الرجل:«نعم.»ثم ابتسم.«سامر العابد.»تغير وجه جاد.«كنت أظن أنك مت.»ضحك سامر.«الجميع ظن ذلك.»نظرت إلى كيان.«هل هو أخوك؟»أجاب بصوت منخفض:«نعم.»«توأمك؟»أومأ.«نعم.»شعرت أنني لم أعد أستطيع استيعاب أي شيء.قالت ليان:«ماما؟»نظرت إليها.كانت واقفة بجانبي، تمسك طرف فستانها الصغير.انحنيت واحتضنتها.قلت:«أنا هنا.»رفعت وجهها نحوي.«لن تتركيـني مرة أخرى؟»أغلقت عيني.لم أعرف ماذا أجيب.لأنني أنا نفسي لم أكن أعرف لماذا تركتها في الماضي.ولا كيف أخذت مني.ولا كيف عاشت كل هذه السنوات بعيدًا عني.قلت:«لن أتركك.»شعرت بكيان يقترب.لكني لم أنظر إليه.قال سامر:«هذه اللحظة التي انتظرناها س
last update最終更新日 : 2026-08-30
続きを読む
٧
الفصل السابعالثمن الذي طلبته إيفالم أستطع التنفس.ظللت أحدق في كيان بعد أن أخبرني بما قالته والدته.نادين محتجزة.وإيفا تريد ليان.لم يكن الأمر مجرد تهديد.كان اختيارًا.إما أن أنقذ أمي...أو أحمي ابنتي.والأسوأ أنني لم أكن أعرف إن كان هناك طريق ثالث.ضممت ليان إلى صدري بقوة.شعرت بأصابعها الصغيرة تتشبث بثوبي.قالت:«ماما... ماذا حدث؟»لم أستطع الإجابة.نظرت إلى كيان.كان واقفًا أمامي، ووجهه شاحب.قلت:«أين أمي؟»«لا أعرف.»«لكنها قالت إنها تعرف مكانها.»«قالت إنها ستعطيني المكان إذا وافقتِ على تسليم ليان.»حدقت فيه.«وأنت ماذا قلت؟»صمت.عرفت الإجابة قبل أن يقولها.«لم أوافق.»تنفست ببطء.ثم قلت:«جيد.»اقترب مني.«سيرين، لن أسلمها.»«حتى لو كانت أمي ستموت؟»تجمد.لم يجب.صرخت:«أجبني!»قال بصوت منخفض:«لن أضحي بليان.»«إنها ابنتي.»«وأنا أعرف.»«إذن لا تتصرف وكأن القرار قرارك.»«ليس قراري.»نظر إلى ليان.ثم عاد ينظر إليّ.«لكنه أيضًا ليس قرارك وحدك.»اشتعل الغضب بداخلي.«أنت لا تفهم.»«بل أفهم أكثر مما تتخيلين.»اقترب خطوة.«إيفا لا تريد ليان بسبب الانتقام.»توقفت.«إذن لماذا؟»نظ
last update最終更新日 : 2026-08-30
続きを読む
٨
الفصل الثامنأختي التي عاشت باسم آخرلم أستطع أن أرمش.كانت كلمة أختك تدور في رأسي كأنها صدى لا يريد أن ينتهي.أختي؟طوال سبعة عشر عامًا وأنا أعتقد أنني وحيدة.لا أم أتذكرها.لا أب أعرفه.لا عائلة.والآن، خلال أيام قليلة فقط، اكتشفت أن لي أبًا وأمًا وإرثًا وابنة وزوجًا سابقًا يعرف أكثر مما يقول...والآن أخت.حدقت في فارس.«أين هي؟»لم يجب.اقترب كيان خطوة.«فارس، لا تلعب معها.»ابتسم.«أنا لا ألعب.»قلت:«أين أختي؟»«قريبة منك أكثر مما تتخيلين.»شعرت بقشعريرة.نظرت إلى ميرا.كانت تبكي.«ميرا... ماذا يحدث؟»رفعت عينيها إليّ.«أنا آسفة.»تراجعت خطوة.«على ماذا؟»«كنت أريد أن أخبرك.»«منذ متى وأنت تعرفين؟»صمتت.صرخت:«منذ متى؟!»قال فارس:«منذ أن كنتما طفلتين.»تجمدت.«ميرا تعرفني منذ الطفولة؟»هزت رأسها.«لم نلتقِ عندما كنا طفلتين.»نظرت إليها باستغراب.قالت:«لكن والدي كان يعرف والدك.»فارس ابتسم.«ميرا لم تكن مجرد صديقة لك.»ثم نظر إليها.«كانت مهمتها أن تبقى قريبة منك.»شعرت بالخيانة.«مهمة؟»اقتربت منها.«كل السنوات التي قضيتها معي... كانت كذبة؟»هزت رأسها بسرعة.«لا.»«إذن لماذا؟»
last update最終更新日 : 2026-08-30
続きを読む
٩
الفصل التاسعالحقيقة التي أخفاها كيانلم أستطع الكلام.كانت المرأة تقف أمامي، تحمل ليان بذراع واحدة، وتنظر إليّ بعينين تشبهان عينيّ إلى حد جعلني أشعر بأنني أنظر إلى مرآة لم أعرف بوجودها طوال حياتي.نورا.أختي.التي بحثت عنها دون أن أعرف أنني أبحث عنها.والتي كانت تقف الآن بيني وبين ابنتي.قلت بصوت مرتجف:«اتركي ليان.»نظرت نورا إلى الصغيرة.ثم إليّ.«لن أؤذيها.»«إذن أعطيني إياها.»«بعد أن تسمعيني.»خطا كيان إلى الأمام.رفعت نورا مسدسًا.«مكانك.»توقف.لم أحتمل رؤية السلاح موجهًا نحوه.قلت:«لا تفعلي شيئًا.»نظرت نورا إليه.«لا تقلقي. لو كنت أريد قتله، لفعلت منذ لحظة دخوله.»قال كيان:«نورا، انتهى الأمر.»ضحكت.«أنت بالذات لا يحق لك أن تقول ذلك.»ثم نظرت إليّ.«أنتِ لا تعرفين ماذا فعل.»قلت:«أعرف أنه أخفى عني أشياء.»«أخفى؟»ضحكت مرة أخرى.«هذه كلمة لطيفة جدًا.»تقدمت خطوة.«ماذا فعل؟»قالت:«هل أخبرك أنه كان هناك ليلة اختفائك؟»«نعم.»«هل أخبرك لماذا كان هناك؟»نظرت إلى كيان.لم يجب.عاد بصري إليها.«لا.»قالت:«لأنه لم يكن هناك لإنقاذك.»تجمدت.«إذن لماذا؟»صمتت لحظة.ثم قالت:«كان
last update最終更新日 : 2026-08-30
続きを読む
١٠
الفصل العاشرالقصر الذي أخفى طفولتيلم أفهم ما قالته نورا.أنتِ كنتِ الخطة.ظلت الجملة معلقة في رأسي حتى بعد أن خرجنا من الفندق.لم أسألها عن معناها.ليس لأنني لم أكن أريد الإجابة، بل لأنني كنت أخشى أن تكون الإجابة أسوأ من كل ما عرفته حتى الآن.كانت ليان بين ذراعي، نائمة من شدة الإرهاق، بينما كنت أسير بجانب نورا وكيان.خلفنا، كان جاد وفارس يتوليان مراقبة الطريق.أما مالك فقد اختفى.وهذا وحده كان كافيًا ليجعلني أشعر أن الخطر لم ينتهِ.بل بدأ للتو.ركبنا السيارات واتجهنا إلى القصر القديم.طوال الطريق، لم يتحدث أحد.كنت أحدق من النافذة.القاهرة بدأت تستيقظ ببطء، لكنني شعرت أنني أتحرك بعيدًا عن حياتي القديمة إلى حياة لم أخترها.التفت إلى كيان.كان يقود السيارة بنفسه.سألته:«هل كنت تعرف أن هناك قصرًا آخر؟»«نعم.»«منذ متى؟»«منذ طفولتي.»«ولماذا لم تخبرني؟»صمت.ثم قال:«لأنني لم أكن أعرف أنك ستصلين إليه يومًا.»«وأنت تعرف الآن؟»«نعم.»«لماذا؟»نظر إليّ للحظة.«لأن المفتاح الذي معكِ لا يفتح الخزنة.»قطبت حاجبي.«إذن ماذا يفتح؟»«باب القصر.»نظرت إلى المفتاح.ثم إلى الطريق.«ولماذا احتاج
last update最終更新日 : 2026-08-30
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status