LOGIN“ใช่! ฉันก็แค่อยากให้เธอรักฉัน เพราะถ้าเธอรักฉันไอ้หมอนั่นมันก็จะเจ็บปวดไง ฮึ! สุดท้ายเธอก็รักฉันจริงๆแล้วนี่ แล้วมีเหตุผลอะไรที่ฉันจะต้องเก็บเธอไว้”
View MoreAruna Maheswari menatap ruang tamu rumah itu lebih lama dari yang ia rencanakan.
Langit-langit tinggi, jendela besar dengan tirai tipis warna krem, dan lantai kayu yang selalu dibersihkan ibunya setiap Minggu pagi. Rumah itu terlalu besar untuk satu orang dan juga terlalu sunyi untuk ditinggali sendirian sejak dua tahun terakhir.
“Ma, aku mau jual rumah ini,” gumam Aruna pelan, seolah ibunya masih duduk di sofa sudut sambil menyulam.
Tak ada jawaban, tentu saja. Dan pengakuan Aruna menjadi nyata karena dua minggu kemudian, perempuan itu duduk di kantor notaris dengan punggung tegak dan wajah tenang yang selalu digunakan setiap kali harus mengambil keputusan serius.
Notaris itu, seorang pria paruh baya berkacamata, membuka map coklat tebal di depannya.
“Baik, Bu Aruna. Kita cek dulu dokumen kepemilikan,” katanya ramah.
Aruna mengangguk. “Sertifikatnya atas nama saya, kan? Setelah Mama meninggal, semua sudah diurus.”
Notaris itu tidak langsung menjawab, justru membuka halaman lain, menyesuaikan kacamatanya.
“Sebagian, Bu.”
Aruna mengerutkan dahi. “Sebagian?”
“Ya. Rumah ini tercatat atas dua nama.”
Hah?
“Nama siapa?” tanya Aruna, suaranya datar tapi tegang.
Notaris itu menggeser map sedikit ke arahnya. “Nama Ibu Aruna Maheswari dan Bapak Sagara Setjo Pratama.”
Jantung Aruna seperti berhenti sepersekian detik. Nama itu lagi? Nama yang sudah lama tidak ia dengar, pun sudah lama tidak ia temui orangnya.
“Itu nggak mungkin,” katanya cepat. “Dia gak di Indonesia.”
“Secara hukum, namanya masih tercatat sebagai pemilik bersama,” jawab notaris itu tenang. “Ada akta hibah parsial dari orang tua Ibu dan orang tua beliau. Tertanggal dua puluh lima tahun lalu.”
Dua puluh lima tahun.
Aruna menelan ludah. “Kenapa saya tidak pernah diberi tahu?”
“Itu di luar kewenangan saya, Bu. Tapi tanpa tanda tangan beliau, rumah ini tidak bisa dijual.”
Aruna bersandar ke kursi dengan tangannya mengepal di pangkuan.
“Kalau saya tidak bisa menghubunginya?”
Notaris itu terdiam sejenak. “Maka prosesnya akan sangat panjang. Pengadilan, penetapan hak, dan—”
“Tidak,” potong Aruna, “akan saya usahakan. Saya hanya perlu tanda tangannya.”
Sagara Setjo Pratama.
Nama itu seperti pintu yang lama ia kunci rapat, kini dibuka paksa oleh hukum.
“Alamat terakhir?” tanya Aruna pada Notaris tersebut.
“Kalau menurut data di luar negeri, tetapi ada pembaruan data tiga hari lalu,” jelas si Notaris.
Aruna mendongak. “Pembaruan apa?”
“Status domisili. Beliau tercatat kembali ke Indonesia.”
Dada Aruna mengencang, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Kembali?” ulangnya pelan.
“Iya. Alamat sementara di kota ini, Bu.”
Aruna menutup matanya sejenak. Keputusan praktis untuk menjual rumah mendadak berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih personal.
“Terima kasih. Saya akan mengurus sisanya,” setelah mengatakan itu, Aruna berdiri dan melangkah keluar ruangan.
Langkah kaki itu begitu lambat saat keluar dari kantor notaris, Aruna berdiri lama di trotoar. Rumah itu tidak akan bisa terjual tanpa Sagara dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, masa lalu itu kembali menyeruak, memenuhi ruang pikirnya dan membawanya kembali berdiri di depan rumah lamanya.
Kunci rumah lama terasa berat di tangan Aruna. Ia sudah lama tidak membuka pintu itu sendiri. Biasanya, hanya mampir sekadar menengok, lalu pergi. Namun, hari ini berbeda, karena kakinya membawanya masuk perlahan dan menyalakan lampu satu per satu.
Langkahnya berhenti di koridor samping, tempat pintu penghubung itu berada. Pintu kayu tua dengan gagang besi yang menghubungkan rumah ini dengan rumah di sebelah. Dua halaman yang menyatu, dua keluarga yang terlalu dekat untuk disebut tetangga biasa.
Aruna mengulurkan tangan, lalu berhenti, karena mendengar suara dari arah rumah sebelah.
Lalu, tanpa peringatan pintu itu terbuka dan di sana seseorang berdiri sambil menggenggam gagang pintu.
Kemeja biru gelap, lengan digulung rapi, rambut sedikit lebih pendek dari yang ia ingat. Wajahnya lebih dewasa, lebih matang, ada rambut halus di dagu pria itu yang semakin membuatnya dewasa dan sama sekali tidak terkejut.
“Baru pulang?” katanya dengan suara rendah.
Aruna menelan ludah. “Ngapain kamu disini?”
Sunyi menggantung di antara mereka.
“Gak tanya kabarku dulu?”
Aruna memutar bola matanya malas. “Gak penting.”
Sejenak, tak ada yang bicara lagi.
“Untuk apa membuka pintu ini?” tanya Aruna sebisa mungkin suaranya datar meski dadanya terasa sesak.
Sagara tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, seolah ia sendiri ragu apakah pintu itu seharusnya benar-benar terbuka. Matanya menyapu wajah Aruna singkat, lalu berhenti lama pada wajah yang sama sekali tidak berubah dari terakhir kali melihatnya.
“Saya ingin memastikan kalau rumah sebelah kosong,” katanya akhirnya.
Aruna mengerutkan kening, “Terus kamu pikir, rumah ini akan kosong begitu?”
“Saya baru kembali tiga hari lalu,” jelas Sagara.
Aruna menarik tangannya dari gagang pintu, melangkah mundur setengah langkah. Ruang di antara mereka tetap sempit, meski jarak fisik bertambah.
“Saya juga tidak tahu kamu berniat menjual rumah ini,” balas Sagara, nada suaranya tenang, nyaris netral.
Kalimat itu membuat Aruna menegang.
“Dari mana kamu tahu?”
“Notaris menghubungi saya tentang tanda tangan,” jawabnya singkat.
Aruna menghela napas. Tidak ada gunanya berpura-pura. “Aku kesini cuma mau memastikan kondisi rumah sebelum proses selanjutnya.”
“Sendirian?” tanya Sagara.
Ia melepas pegangan pintu dan membiarkannya terbuka, tidak menutup, tidak juga mengundang. Sebuah gestur yang menggantung.
“Masuklah kalau perlu,” katanya. “Saya hanya ingin mengecek listrik dan air.”
Aruna ragu sejenak sebelum melangkah masuk ke ruang yang dulu begitu ia kenal. Rumah sebelah itu masih sama, hanya lebih kosong. Furniture tertata rapi dan tidak ada debu, mungkin saja sudah dibersihkan mengingat sudah 3 hari pria itu di sini.
“Kamu tinggal di sini sekarang?” tanya Aruna.
“Sementara,” jawab Sagara. “Sampai urusan pekerjaan selesai.”
Mereka berdiri berhadapan di ruang tengah, tidak duduk, tidak juga saling mendekat. Sunyi yang muncul bukan canggung, melainkan penuh kehati-hatian.
“Aku nggak berniat buat ganggu. Aku cuma butuh tanda tangan kamu. Setelah itu, aku pergi,” jelas Aruna akhirnya.
Sagara menatapnya lurus. “Pergi ke mana?”
“Itu nggak penting,” Aruna mengalihkan pandangan, “itu urusan pribadiku, Sagara. Nggak perlu diperpanjang.”
Sagara diam, lalu beberapa detik setelahnya kembali berucap, “kamu tidak ingin bicara soal hal lain?”
“Tidak,” jawab Aruna cepat. “Tanda tangani ini.”
Sagara tersenyum tipis, miris saat mendengar jawaban yang penuh rasa percaya diri itu.
Luar biasa, Aruna membuatnya tidak berkutik.
“Lima belas tahun, Aruna. Selama itu pula kita tidak bertemu dan kamu hanya datang untuk membahas tanda tangan?” katanya pelan.
Aruna mengangkat kepala. “Aku nggak datang buat bahas masa lalu.”
ลูคัสกระแอมไอแก้เขิน “ก็...แค่ถามดู เห็นว่าเป็นลูกพี่ลูกน้องพวกนาย ตอนเด็กๆ ยัยนั่นเคยแย่งขนมฉันกินเฉยๆ หรอก เลยจำได้” “จริงเหรอออออ” เคย์เดนลากเสียงยาวพลางขยับเข้าไปใกล้ลูคัส “ จำได้แค่นั้นจริงเหรอ? แต่ฉันจำได้ว่าตอนเจอกันครั้งล่าสุด นายแอบเอาเปลือกหอยสวยๆ ไปวางไว้หน้าห้องพักแคลร์นะ แถมพอแคลร์เ
ตอนพิเศษ 4. เกาะอันดารา 5 ปีต่อมา น้ำทะเลสีครามจัดของเกาะอันดาราสะท้อนแสงอาทิตย์ระยิบระยับ เรือยอร์ชลำหรูเคลื่อนตัวเข้าจอดเทียบท่าอย่างนุ่มนวล ครูซ ในวัยสิบสามปี ก้าวลงจากเรือเป็นคนแรก เด็กหนุ่มที่เคยตัวเล็กในวันนั้น บัดนี้ส่วนสูงเริ่มพุ่งพรวดจนเกือบเท่าไหล่ของผู้เป็นพ่อ ใบหน้าหล่อเหลาถอดแบบ ค
“เบาๆ หน่อยเคย์เดน เดี๋ยวก็ปวดท้องเหมือนคราวก่อนหรอก” มารีน่าดุลูกชายคนเล็กอย่างไม่จริงจังนัก ข้างๆ กันนั้น มาติเนส พี่ชายคนโตที่บัดนี้กลายเป็นผู้นำตระกูลที่น่าเกรงขาม กำลังนั่งคุยเรื่องธุรกิจกับคริสเตียน โดยมีนาริกาภรรยาสาวคอยดูแล นาวิน และ นาวา ลูกชายทั้งสองที่ซนไม่แพ้ใคร ส่วนมาร์โคคุณหมอหนุ่
ตอนพิเศษ 63. กลับประเทศไทย หลายปีต่อมา สนามบินนานาชาติคึกคักตั้งแต่เช้า ครูซกับเคย์เดนในวัยเก้าขวบยืนลากกระเป๋าใบเล็กของตัวเองคนละใบ ใส่เสื้อฮู้ดเหมือนกันแต่คนละสี แม้ทั้งสองคนจะหน้าเหมือนกันเปี๊ยบ แต่ด้วยความที่นิสัยแตกต่างกันสิ้นเชิง ถ้าลองจ้องมองดีๆหลายคนก็อาจจะแยกออกได้ง่าย “แด๊ด เราจะได้นั
“ขอรอบสุดท้ายนะคนดี เดี๋ยวผัวพาลงไป” พูดจบร่างหนาก็พลิกตัวขึ้นมาอยู่ด้านบน มือแกร่งจับขาเรียวยาวสมส่วนแยกออกจากกัน ก่อนที่เขาจะมองดูเส้นทางเข้าออกที่ขยับไปมาอย่างไม่วางตา ตอนนี้เมียของเขาโคตรดูเซ็กซี่เป็นบ้า! และแล้วเวลาก็ล่วงเลยไปอีกครึ่งชั่วโมง กว่าเจ้าบ่าวเจ้าสาวจะเสด็จลงมาด้านล่าง ทุกคนก็ทา
คารีน่าที่เดินออกมารับลมบริเวณใกล้ๆโรงรถเอ่ยขึ้น วันนี้เธอเองก็แอบตื่นเต้นแทนพี่ชาย แต่ทุกอย่างก็ผ่านไปได้ด้วยดี อย่างน้อยๆเธอก็มีส่วนที่ทำให้ทั้งสองบังเอิญเดินทางมาพบกัน ถึงแม้ว่ามันจะไม่น่าจดจำเท่าไหร่ก็เถอะ แต่มารีน่าเป็นคนดี เธอเป็นผู้หญิงที่งดงามทั้งร่างและจิตใจ “เดี๋ยวก่อนเคท คือ…..เมื่อกี้
“แหม๋ เรียกน้องว่าเมียได้เต็มปากเลยนะ แกยังไม่ได้แต่งงาน น้องจะเป็นเมียแกได้ยังไงตาเนส ถ้าอยากได้น้องเป็นเมียนักก็รีบแต่งตามรีน่าไปเลยสิ” มาติเนสหลุบตามองเมียสาวด้วยแววตาสีหม่น ไม่ใช่ว่าเขาไม่อยากแต่ง เธอต่างหากที่ไม่อยากแต่งกับเขา ซึ่งนาริการู้ข้อนั้นดีเธอถึงแกล้งทำเป็นหูทวนลมแล้วหันไปเชยชมเจ้าบ่
SEP61. งานแต่งงานของเรา พิธีมงคลสมรสถูกจัดขึ้นอย่างเรียบง่ายตามคำร้องขอของเจ้าสาวคนสวย มารีน่าเป็นคนที่ไม่ชอบทำอะไรที่มันยุ่งยาก จึงเลือกจัดพิธีขึ้นที่โบสถ์ตามศาสนาคริสต์อย่างเรียบง่าย เจ้าสาวร่างบางที่ดูราวกับว่าไม่ใช่คนท้อง กำลังยืนยิ้มอยู่ในกระจกบานใหญ่ด้วยสีหน้าสดใส ตอนนี้เธออยู่ในห้องแต่งตัว





