INICIAR SESIÓNหลังจากที่เขาหย่ากับเธอได้ไม่นาน เขาก็ไปหมั้นกับผู้หญิงที่เขารัก ซึ่งเป็นผู้หญิงที่เขาอยากให้มาเป็นภรรยาและแม่ของลูก
Ver másHujan turun deras di atas jalan-jalan sunyi, membasahi langkah seorang wanita dan anaknya yang tersesat di kota asing. Dunia tampak menutup pintu—rumah yang hilang, cinta yang retak, harapan yang terhanyut.
Namun di tengah derasnya hujan dan dinginnya malam, ada bisik halus yang tak terdengar: luka bukan akhir, melainkan permulaan.
Seperti benih yang tertanam di retakan batu, hati yang patah diam-diam menunggu kesempatan untuk berbunga. Malam itu bukan hanya tentang kehilangan, tapi tentang keberanian untuk tetap hidup, untuk tetap menanam bunga di tanah yang keras.
“Keluar! Aku bilang keluar sekarang juga!”
Suara itu menggelegar, lebih keras dari guntur yang menyambar di luar. Pintu kontrakan sempit itu bergetar saat kepalan tangan Dirga menghantamnya lagi. Di luar, hujan meraung seperti binatang buas yang terluka, menumpahkan amarahnya ke atap seng yang berisik.
Lestari berdiri mematung di tengah ruangan, tubuhnya gemetar samar. Kulit kuning langsatnya tampak pucat diterpa cahaya lampu yang berkelip karena sudah tua.
Wajahnya tidak bisa dibilang cantik—garis-garisnya sederhana, lembut, apa adanya—namun ada sesuatu yang membuat orang tak sanggup memalingkan muka darinya: kesabaran yang menenangkan, kehangatan keibuan yang memancar tanpa ia sadari.
Rambut hitamnya yang diikat asal sudah basah karena keringat dan sisa hujan yang sempat merembes sebelum ia menutup jendela tadi.
“Mas, tolong… Hujannya deras sekali,” Lestari memohon, suaranya nyaris tenggelam. Ia menarik tubuh kecil Dian ke belakang punggungnya, seolah punggung ringkihnya bisa menjadi perisai dari badai di dalam dan di luar rumah.
Dian, putrinya yang berusia enam tahun, mencengkeram ujung daster ibunya. Matanya yang besar dan jernih memantulkan ketakutan murni. “Ibu… Ayah kenapa?” bisiknya, bibirnya bergetar.
Dirga tertawa. Tawa yang kering dan mengerikan, tanpa sedikit pun kehangatan. “Kenapa? Kamu tanya kenapa?”
Ia menunjuk wajah Lestari dengan jari gemetar, matanya merah menyala. Bau alkohol murahan menguar dari napasnya, bercampur dengan aroma keputusasaan. “Karena aku muak! Muak lihat muka kalian berdua! Kalian beban!”
“Kami ini keluargamu, Mas…”
“Keluarga?” Dirga meludah ke lantai. “Keluarga macam apa yang cuma bisa bikin susah? Kamu tahu berapa utangku sekarang? Tahu?!”
Lestari menggeleng pelan, air matanya mulai menggenang. Dalam sorot matanya—mata yang biasanya ramah dan penuh ketabahan—terlihat bayangan ketakutan yang ia sembunyikan mati-matian demi anaknya. “Kita bisa cari jalan keluar sama-sama. Aku bisa jahit lebih banyak lagi. Aku…”
“Jahit? Hah!” Dirga menyambar tas ransel lusuh di sudut ruangan, satu-satunya tas yang mereka miliki, yang isinya hanya beberapa potong baju Dian dan dokumen-dokumen penting.
“Penghasilanmu itu cuma cukup buat beli garam! Tidak akan bisa bayar utangku ke rentenir!”
Tanpa peringatan, ia membuka pintu dengan kasar. Angin dingin dan tempias hujan menerobos masuk, membuat Dian menjerit kecil.
Dengan sekali sentak, Dirga melemparkan tas itu ke halaman becek di luar. Benda itu jatuh dengan bunyi gedebuk yang memilukan.
“Itu! Ambil barang rongsokan kalian dan pergi!” teriaknya. “Jangan pernah balik lagi!”
“Dirga, jangan!” Lestari maju selangkah, isak tangisnya pecah. “Dian masih kecil. Dia bisa sakit. Di luar dingin, Mas.”
“Persetan!” bentak Dirga, mendorong bahu Lestari hingga perempuan itu terhuyung ke belakang. Bahunya yang kecil tampak semakin rapuh, namun sorot matanya tetap memohon, bukan untuk dirinya, tapi untuk anaknya. “Harusnya kamu mikir dari dulu! Kenapa kamu tidak bisa jadi istri yang berguna? Kenapa kamu tidak bisa kayak perempuan lain yang suaminya kaya raya?”
“Aku sudah berusaha, Mas. Aku selalu…”
“Usahamu sampah!” potongnya tajam. “Semua ini gara-gara kamu! Pembawa sial! Sejak nikah sama kamu, hidupku hancur!”
Lestari terdiam. Tuduhan itu menusuknya lebih tajam dari pisau. Selama bertahun-tahun ia menelan semua kata-kata itu, meyakinkan dirinya bahwa di balik pria pemarah ini masih ada Dirga yang dulu ia cintai.
Pria yang melamarnya dengan janji-janji setinggi langit. Tapi malam ini, di tengah deru hujan dan tatapan kosong penuh kebencian itu, ia tidak melihat apa-apa lagi. Harapan terakhirnya padam, seperti lilin yang ditiup angin badai.
“Ayah… jangan marah sama Ibu,” cicit Dian dari belakang. Suara kecil itu berhasil menembus kebisingan.
Dirga menoleh pada Dian. Untuk sesaat, rahangnya yang tegang sedikit mengendur. Tapi kemudian, kekosongan di matanya kembali. Ia sudah terlalu jauh tenggelam dalam jurang yang ia gali sendiri. Anaknya bukan lagi sumber cinta, melainkan pengingat lain dari kegagalannya.
“Diam kamu, anak kecil!” geramnya, meski suaranya sedikit goyah. “Ini semua bukan urusanmu.”
Lestari menatap suaminya. Sorotnya berubah. Bukan lagi pasrah, bukan lagi penuh ketakutan. Ada sesuatu yang retak, patah, dan kemudian berubah menjadi ketegasan yang tak pernah ia sadari sebelumnya.
Rasa sakit karena pengkhianatan itu begitu hebat, hingga ia tidak merasakan apa-apa lagi. Kosong. Yang tersisa hanyalah satu insting purba yang membara: melindungi anaknya.
Ia tidak lagi menangis. Wajahnya yang basah oleh air mata kini mengeras. Ia berbalik, berjongkok di depan Dian, dan memegang kedua bahu mungil itu.
“Dian, dengarkan Ibu,” katanya dengan suara yang anehnya terdengar tenang dan kuat. “Kita akan pergi sebentar, ya? Kita akan cari tempat yang lebih hangat.”
“Tapi ini rumah kita, Bu,” kata Dian, matanya masih terpaku pada sosok ayahnya yang berdiri seperti monster di ambang pintu.
“Rumah adalah tempat kita merasa aman, Sayang,” bisik Lestari, matanya tak lepas dari Dian. Ia mengabaikan Dirga sepenuhnya, seolah pria itu hanyalah perabot rusak yang tak lagi berguna. “Ayo.”
Ia berdiri, menggandeng tangan Dian yang dingin. Ia berjalan melewati Dirga tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya mantap, punggungnya tegak. Dalam ketegakan itu, tampak jelas sisi dirinya yang sesungguhnya—bukan lagi perempuan lemah yang selalu menahan luka, tapi seorang ibu yang siap menghadapi dunia.
Ia tidak lagi peduli pada rumah kontrakan yang pengap itu, pada mesin jahit tuanya, atau pada sisa-sisa kehidupan yang ia coba pertahankan mati-matian.
Saat ia membungkuk untuk mengambil ransel yang basah kuyup di tengah genangan lumpur, Dirga berbicara lagi dari belakangnya. Kali ini suaranya lebih rendah, penuh racun penyesalan yang terdistorsi menjadi kebencian.
“Pergi sana. Kalian cuma beban. Aku bisa mulai hidup baru tanpa kalian.”
Lestari berhenti sejenak, tangannya mencengkeram tali ransel dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tidak berbalik. Ia tidak akan memberi pria itu kepuasan melihat kehancurannya.
Ia menegakkan tubuhnya, menyampirkan ransel di satu bahu, dan menarik tangan Dian lebih erat. Hujan mengguyur mereka tanpa ampun, membasahi pakaian mereka dalam hitungan detik. Dinginnya menembus sampai ke tulang.
“Ibu, dingin…” rintih Dian, tubuhnya mulai menggigil.
Lestari menarik napas dalam-dalam. Udara malam yang basah terasa menyesakkan paru-parunya. Ia menatap jalanan gelap di depannya yang hanya diterangi seberkas cahaya remang dari tiang listrik di kejauhan.
Tidak ada tujuan. Tidak ada tempat berlindung. Hanya ada malam, hujan, dan seorang anak kecil yang gemetar di genggamannya.
Di belakangnya, pintu dibanting dengan keras. Suara kunci diputar terdengar final, mengunci mereka di luar selamanya.
“Dian,” bisik Lestari, suaranya mantap di tengah deru angin. “Pegang tangan Ibu erat-erat.”
หนึ่งเดือนต่อมาเป็นเวลาหนึ่งเดือนแล้วที่โซลกับพราวมาอยู่ที่ไร่องุ่น หนึ่งเดือนมาแล้วที่โซลยังทำหน้าที่เก็บองุ่นตามคำสั่งของพราว ตอนกลางวันโซลจะกลับมากินข้าวพร้อมกับพราวทุกวันแล้วกลับไปเก็บองุ่นต่อ ทุกคืนโซลจะเข้าไปในห้องนอนของพราวและหอมแก้มพราวเพื่อเป็นรางวัล และตอนนี้อายุครรภ์ของพราวก็ครบสองเดือนแล้วเมื่อโซลกลับมาจากไร่ก็รีบอาบน้ำสวมใส่เสื้อผ้าแล้วเข้ามาในห้องนอนของพราวเพื่อจะหอมแก้มเธออย่างเช่นทุกคืนที่ผ่านมาฟอดด ฟอดด เสียงของจมูกโด่งเป็นสันฝังไปบนพวงแก้มนุ่มของคนตัวเล็กที่นั่งอยู่บนเตียง โดยโซลยืนอยู่ข้างเตียง“คุณหอมแก้มพราวมาเดือนนึงแล้ว เบื่อหรือยังคะ” ยิ้มบางๆ“พี่ไม่เบื่อเลย อยากหอมทั้งเช้าทั้งกลางวันด้วยซ้ำ”“แต่พราวรู้สึกเบื่อแล้วค่ะ”“พราวเบื่อพี่แล้วเหรอ” เขาสีหน้าสลดลงเมื่อเธอบอกว่าเบื่อ“พราวเบื่อที่จะให้คุณหอมแก้มแล้วค่ะ แต่พราวอยาก…ให้คุณทำมากกว่าหอมแก้มค่ะ” เธอพูดพร้อมกับส่งสายตาสื่อความนัย โซลที่เห็นอย่างนั้นจึงนึกรู้ทันที ก่อนจะเอ่ยออกไปด้วยรอยยิ้มอ่อนโยน“งั้นเรามาทำกันเลยไหม”“พี่โซลอยากมากใช่ไหมคะ เพราะตั้งสองเดือนแล้วที่พี่ไม่ได้ปลดปล่อย”โซลที่ได้ยินเมียตัว
เพ้นท์เฮาส์เมื่อเข้ามาในเพ้นท์เฮาส์ พราวก็เข้าห้องนอนไปและโซลก็เดินตามเธอเข้าไปในห้องด้วย“พราว พี่มีอะไรจะบอก”“อะไรเหรอคะ”“พราวสงสัยใช่ไหมว่าทำไมถึงท้อง ทั้งที่กินยาคุมฉุกเฉินแล้ว”“ใช่ค่ะ”“ตามหลักวิทยาศาสตร์ การคุมกำเนิดทุกชนิดมันไม่ได้ป้องกันการตั้งครรภ์ได้ร้อยเปอร์เซนต์หรอก”“พราวก็พอจะรู้ค่ะ”“แต่เรื่องของเรื่องก็คือ…ที่พราวท้องเพราะพราวไม่ได้กินยาคุมฉุกเฉินน่ะสิ” เขาบอกออกไปด้วยความประหม่า“แล้ววันนั้นที่คุณไปซื้อ มันคือยาอะไร” ดวงตาสวยฉายแววเคลือบแคลง“มันเป็นวิตามินน่ะ ไม่ใช่ยาคุมหรอก” เขาตอบด้วยน้ำเสียงสั่นเทาเพราะหวั่นเกรงพราวเมื่อรู้อย่างนั้นก็ว่าออกไปด้วยสีหน้าดุปนโกรธ“คุณโซล! ทำไมคุณถึงได้ทำแบบนี้ด้วย!” “พี่ขอโทษ ที่พี่ทำแบบนี้เพราะพี่อยากผูกมัดพราว” เขาพูดออกไปด้วยแววตารู้สึกผิดและกลัวที่เห็นเธอโกรธ“คนโกหก คนหลอกลวง ขนาดเรื่องกินยาคุมยังหลอกกันได้ เรื่องอื่นคุณคงจะหลอกพราวได้เหมือนกัน” เธอพูดออกไปด้วยความโมโหที่โดนหลอก“พราวอย่าโกรธพี่เลยนะ เรื่องอื่นพี่ไม่เคยหลอกพราวเลย มีเรื่องนี้เรื่องเดียวที่พี่จำเป็นต้องหลอกพราว ตอนนั้นพี่คิดว่าถ้าพราวท้องพี่ก็จะบอกความจริงก
เมื่อโซลทำงานบ้านเสร็จก็เข้าไปในห้องของพราวจึงเห็นว่าเธอหลับอยู่ เมื่อเห็นอย่างนั้นเขาจึงสบโอกาสขึ้นไปนอนข้างเธอ ร่างแกร่งตะแคงหันหน้าเข้าหาร่างบอบบาง ดวงตาคมมองไปยังหน้าท้องแบนราบพลางฝ่ามือหนาก็เลื่อนไปวางบนหน้าท้องเธอเหมือนกับมั่นใจว่าคนตัวเล็กต้องท้องแน่นอน จนกระทั่งยี่สิบนาทีผ่านไปพราวก็รู้สึกตัวตื่นขึ้นมา เธอที่รู้สึกว่าเหมือนมีบางอย่างมาวางอยู่บนหน้าท้องของเธอจึงมองไปยังหน้าท้อง เมื่อเห็นว่าเป็นมือของเขาจึงหันไปมองด้านข้างก็ถึงกับเบิกตากว้างอย่างตกใจ“คุณโซล คุณขึ้นมานอนบนนี้ทำไม”“คือ…พี่” เขาไม่รู้จะตอบยังไง“ออกไป ทีหลังอย่าขึ้นมานอนอีกนะ”“ได้ ทีหลังพี่จะไม่ขึ้นมานอนอีก งั้นเราไปอาบน้ำแต่งตัวกันเถอะ จะได้ไปหาหมอกัน”“ค่ะ” ว่าแล้วทั้งสองก็ลุกจากเตียง โซลออกไปจากห้องแล้วอาบน้ำแต่งตัว เมื่อทั้งสองแต่งตัวเสร็จก็พากันไปยังโรงพยาบาลเอกชนชื่อดังแห่งหนึ่งห้องตรวจแพทย์โซลพาพราวเข้ามาในห้องตรวจแพทย์ แล้วหมอก็ถามพราวว่าประจำเดือนมาครั้งล่าสุดวันที่เท่าไหร่ จึงทำให้พราวนึกขึ้นได้ว่าประจำเดือนของเธอเลยมาห้าวันแล้ว เมื่อเป็นอย่างนั้นหมอสาวที่เป็นเพื่อนของโซลก็บอกให้พราวไปเก็บปัสสาวะแล้ว
เมื่อทั้งสองดูซีรี่ย์จบก็เป็นเวลาห้าทุ่ม พราวลุกจากโซฟา“เธอจะเข้านอนแล้วเหรอ” เขาเงยหน้าถามร่างบางที่ยืนอยู่“ใช่ค่ะ”“พี่ขอเข้าไปนอนด้วยได้ไหม”“ที่นอนของคุณคือตรงนี้ ถ้าไม่อยากนอนตรงนี้ก็กลับบ้านไป”“พี่จะนอนตรงนี้ เธอไปนอนเถอะ” ว่าแล้วพราวก็เดินเข้าห้องนอนไป ก่อนที่ร่างสูงจะเข้าไปอาบน้ำใส่เสื้อผ้าและมานอนบนโซฟาเบาะผ้าราคาแพงในห้องนั่งเล่น ถึงโซฟาที่เขานอนอยู่นี้จะนุ่ม แต่ก็ไม่ได้นอนสบายเหมือนกับที่นอน แต่ถึงจะนอนไม่สบายตัวเหมือนนอนบนที่นอนคิงไซส์เขาก็ยอมนอน เพราะไม่ว่าพราวจะให้นอนตรงไหนเขาก็นอนได้ ขอแค่ให้ได้อยู่ในบ้านหลังเดียวกันกับเธอก็พอ โซลหยิบผ้านวมขึ้นมาห่ม จากนั้นไม่นานเขาก็เข้าสู่ภวังค์นิทราวันต่อมาพราวตื่นขึ้นมาก็เข้าห้องน้ำไปล้างหน้าแปรงฟันแล้วออกมาจากห้องนอน หญิงสาวเดินเข้าไปในห้องนั่งเล่นจึงเห็นว่าคนตัวสูงยังหลับอยู่ เท้าบางก้าวไปยืนข้างโซฟาพร้อมกับปลุกคนที่ยังหลับอยู่“ตื่นได้แล้ว”“…” “ตื่น!” เมื่อเห็นว่าเขายังไม่ตื่นเธอจึงเพิ่มลิมิตเสียงให้ดังขึ้น จนทำให้คนที่หลับสนิทอยู่รู้สึกตัว ชายหนุ่มค่อยๆลืมตาอย่างช้าๆด้วยความง่วงงุนก่อนจะปรับโฟกัสสายตาให้ชัดขึ้น เมื่อเห็นว
บริษัท วันต่อมาร่างสูงของทายาทเจ้าของโรงแรมหรูชื่อดังที่มีตำแหน่งเป็นรองประธานกรรมการซึ่งอยู่ในชุดสูทหรูราคาแพงสีดำขึ้นมายังชั้นผู้บริหารซึ่งอยู่ชั้นบนสุด หลังจากที่หลายเดือนมาแล้วที่เขาไม่ได้เข้ามา ก็ตั้งแต่แต่งงานกับพราวห้องทำงานโซลร่างแกร่งทิ้งตัวนั่งบนเก้าอี้เบาะหนังราคาแพงด้วยท่าทีเซ็งๆ ตั้
วันต่อมาโซลตื่นตั้งแต่เช้าตรู่แล้วเข้าครัวไปหุงข้าว จากนั้นจึงโทรสั่งของกินจากร้านอาหารชื่อดัง สามสิบนาทีต่อมาเขาก็ลงไปเอาอาหารที่พนักงานนำมาส่งขึ้นมาจัดแจงใส่จานและครอบไว้เขาเข้าห้องน้ำไปอาบน้ำแล้วใส่ชุดเดิม จากนั้นจึงออกมานั่งในห้องโถงกว้างก่อนที่โทรศัพท์จะมีเสียงดังขึ้นRrrr!‘ครับแม่’‘เมื่อค
เขตอภัยทานทั้งสามลงจากรถ โซลกับพราวช่วยกันหิ้วถุงปลาแล้วพากันเดินไปยังสระน้ำขนาดใหญ่ที่มีปลาตัวใหญ่แหวกว่ายอยู่ในนั้นเป็นจำนวนมากมาย“คุณย่าเดินระวังหน่อยนะครับเดี๋ยวลื่น”“ย่าไม่ล้มง่ายๆหรอกน่า ย่ายังแข็งแรง” ว่าแล้วทั้งสองก็จับแขนของอนงค์นาถคนละข้างแล้วพาเดินไปนั่งที่ริมสระ จากนั้นโซลก็แกะยางที่
เมื่อโซลเก็บจานบนโต๊ะเอาเข้าไปไว้ในครัว จากนั้นจึงล้างจานแล้วเดินเข้าไปในห้องนั่งเล่นที่ตอนนี้คนตัวเล็กนั่งดูทีวีอยู่ ขายาวก้าวไปหย่อนกายนั่งลงข้างๆก่อนเสียงของพราวจะเอ่ยขึ้น“เมื่อไหร่คุณจะกลับบ้าน” เธอถามในขณะที่สายตามองจอทีวี“ฉันขออยู่กับเธอด้วยนะ”“พราวไม่ให้คุณอยู่”“ตอนนี้ฉันโสด ฉันไม่มีใคร”






reseñas