LOGINเธอตื่นขึ้นมาในร่างใหม่ก็โดนสามีบอกเลิกซะแล้ว ได้สิถ้าเขาต้องการอย่างนั้นเธอก็ไม่ขัดข้อง แต่ลูกทั้งสองที่นั่งกอดคอกันร้องไห้นี่สิทำให้เธอตัดสินใจได้ยากยิ่ง
View More"Selira... ada tamu."
Suara petugas lapas itu terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Namun bagiku, kalimat itu seperti palu yang menghantam dada.
Tanganku yang sejak tadi memeluk lutut langsung gemetar. Aku mengangkat wajah perlahan, menatap pintu besi yang setengah terbuka.
Tamu?
Tak pernah ada yang menjengukku. Sejak hari pertama aku ditahan, tak satu pun wajah yang kukenal datang.
Tidak keluarga.
Tidak teman.
Tidak siapa-siapa.
Aku berdiri dengan langkah ragu. Sandal tipis di kakiku berbunyi pelan menyentuh lantai dingin. Jantungku berdetak semakin cepat seiring langkah yang semakin dekat ke ruang tamu lapas.
Dan saat pintu itu dibuka, dunia seolah berhenti berputar. Dia berdiri di sana, tegap dan rapi.
Wajah yang dulu begitu kukenal, kini terasa asing sekaligus menyakitkan. Tatapannya tajam, tetapi menyimpan sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan.
Raka Wiratama.
Nama itu seperti pisau yang mengiris ingatanku tanpa ampun.
"Selira..."
Suaranya masih sama, dalam juga tenang. Dan berhasil membuat dadaku terasa sesak.
Aku mematung. Kaki seakan menolak melangkah lebih jauh. Aku bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Bukan karena rindu, tapi karena luka yang belum sembuh tiba-tiba disobek lagi.
"Kenapa kamu di sini?" tanyaku dengan suara bergetar, bahkan nyaris tak keluar.
Raka menatapku lama, terlalu lama. Seolah dia sedang menimbang sesuatu yang berat di dalam dada.
"Aku... aku ke sini untuk menemui kamu."
Aku terkekeh kecil, getir. "Menemui aku? Setelah semua yang terjadi?"
Raka menghela napas, lalu menunduk sejenak sebelum kembali menatapku. "Aku dengar kamu ditahan."
"Hebat. Kabar itu cepat sekali sampai ke telingamu," sindirku pahit.
Aku ingin terlihat kuat. Ingin tampak tak peduli, tapi tubuhku berkhianat. Tanganku bergetar. Kakiku terasa lemas.
Aku masih bisa merasakan dinginnya borgol di pergelangan tangan beberapa hari lalu. Masih terngiang suara anakku yang menangis histeris saat mereka menarikku pergi.
Dan sekarang... orang yang dulu meninggalkanku, berdiri di depanku seolah-olah dia punya hak untuk peduli.
"Kamu gak seharusnya datang," ucapku lirih. "Pergilah."
Raka menggeleng pelan. "Aku nggak bisa."
Aku tertawa kecil, getir. "Lucu. Dulu kamu juga bilang begitu, tapi nyatanya kamu pergi."
Raka terdiam. Tatapannya berubah. Ada sesuatu di sana. Penyesalan, mungkin. Atau rasa bersalah yang selama ini dia kubur rapi.
"Aku nggak tau kamu akan... sejauh ini," katanya akhirnya.
"Sejauh apa?" aku menantang. "Dipenjara? Dituduh bandar narkoba?"
Napasnya tercekat.
Aku melangkah mendekat, menahan emosi yang sejak tadi bergejolak.
"Kamu tau apa yang paling menyakitkan, Raka? Bukan borgol ini. Bukan jeruji besi. Tapi kenyataan bahwa saat hidupku hancur, orang yang dulu bersumpah melindungiku justru nggak ada."
Raka memejamkan mata sesaat.
"Aku nggak tau semuanya akan seperti ini," katanya pelan.
"Nggak," potongku. "Kamu memang gak pernah tau. Karena kamu nggak pernah mau tau."
Aku memalingkan wajah, menahan air mata yang mendesak keluar. Aku tidak mau menangis di depannya.
Tidak sekarang.
Tidak lagi.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Lalu Raka berkata dengan suara rendah, "Aku datang bukan sebagai mantan suamimu."
Aku menoleh tajam.
"Lalu sebagai apa?" tanyaku sinis.
"Sebagai orang yang akan membelamu."
Kata-kata itu membuatku terdiam.
"Apa maksudmu?"
"Aku akan jadi kuasa hukummu, Selira."
Darahku seakan berhenti mengalir.
Aku menatapnya tak percaya. "Ah ya, aku lupa, Pak Pengacara.""Aku serius."
Aku tertawa pelan, tapi kali ini terdengar rapuh.
"Setelah semua yang terjadi. Setelah keluargamu menghinaku. Setelah kau menceraikanku tanpa bertanya. Sekarang kamu mau jadi pahlawan?"
"Ini bukan tentang itu."
"Lalu tentang apa?" Suaraku meninggi.
"Tentang rasa bersalahmu? Atau tentang citra dirimu sebagai pengacara hebat yang menolong mantan istrinya?"
Raka terdiam lama. Terlalu lama.
"Aku tau kamu nggak akan langsung percaya," katanya akhirnya. "Tapi aku yakin... kamu dijebak."
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
Aku menoleh tajam. "Kamu pikir aku nggak tau itu?""Kalau begitu, biarkan aku membuktikannya."
Aku menggeleng pelan. "Gak! Aku nggak butuh. Aku bisa menghadapi semuanya."
"Kamu sendirian, Selira," katanya lirih. "Kamu nggak punya siapa-siapa."
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan.
Mataku panas. Tenggorokanku tercekat.
"Pergi," bisikku. "Pergi sebelum aku benar-benar hancur di depanmu."
Raka berdiri diam beberapa detik. Lalu, dengan suara yang berat, dia berkata,
"Aku nggak akan pergi. Bukan kali ini."
Aku menatapnya dengan mata basah, campuran marah, sakit, dan sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang selama ini kupendam.
"Kalau begitu," kataku lirih, "bersiaplah melihat sisi hidupku yang paling gelap."
Pintu ruang tamu itu terbuka setengah. Bunyi engselnya berderit pelan, seperti ikut menahan napas bersamaku.
"Waktu kunjungan habis." Suara petugas terdengar datar.
Aku berdiri. Kakiku terasa kaku, tapi aku memaksa melangkah. Di belakangku, aku bisa merasakan tatapan Raka masih melekat, seolah ingin menahanku tanpa berani menyentuh.
Aku berjalan dua langkah lalu berhenti.
Entah kenapa, dadaku terasa sesak. Ada sesuatu yang belum tuntas. Sesuatu yang harus keluar, atau akan membusuk selamanya di dalam dadaku.
Aku berbalik.
Raka masih di sana dengan wajah yang tegang. Mata itu, mata yang dulu selalu menatapku penuh janjinkini terlihat ragu, bersalah, dan takut.
"Selira..." Suaranya parau.
Aku mengangkat tangan, menghentikannya.
"Jangan panggil namaku dengan suara seperti itu."
Raka terdiam.
Aku melangkah mendekat, cukup dekat hingga dia bisa melihat jelas bagaimana mataku tak lagi menyimpan harapan.
"Kamu tau kenapa aku bisa setenang ini sekarang?" tanyaku pelan.
Raka menggeleng.
"Karena aku sudah berhenti berharap padamu sejak lama."
Raka menelan ludah. Rahangnya mengeras.
Aku tersenyum tipis, senyum yang lebih menyakitkan daripada tangis.
"Dulu, saat mamamu mulai terang-terangan menjodohkanmu. Saat perempuan itu mulai sering datang ke rumah, duduk di ruang tamu seolah-olah aku nggak ada...."
Suaraku bergetar sebentar, tapi kutahan. "Aku menunggu kamu bicara. Satu kalimat saja. Tapi kamu diam."
Raka menunduk.
Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu berkata dengan suara yang lebih pelan, lebih dingin.
"Jadi, sampaikan salamku padanya."
Raka mengangkat kepala, menatapku.
"Perempuan yang diam-diam merencanakan hidupmu. Perempuan yang direstui keluargamu untuk menggantikan posisiku."
Aku tersenyum miris.
"Bilang padanya... dia menang."
Raka tampak ingin menyangkal, tapi tak satu pun kata keluar.
"Dan bilang juga," lanjutku. Suaraku kini nyaris berbisik, "bahwa perempuan yang dia singkirkan ini... sudah nggak punya apa-apa lagi untuk direbut."
Aku melangkah mundur.
"Kecuali harga diri."
Aku berbalik, melangkah pergi. Kali ini tanpa ragu.
Pintu tertutup di belakangku dengan bunyi pelan. Namun di dadaku, sesuatu runtuh dengan suara yang jauh lebih keras.
สองเดือนหลังจากนั้นอุ่นกับเอื้อจึงนัดกันกลับบ้านมาเยี่ยมพ่อกับแม่อีกครั้ง และพวกเขาเตรียมจะเซอร์ไพรส์พ่อกับแม่ด้วย เสียงโทรศัพท์ของเอื้อดังขึ้นขณะที่กำลังขับรถกลับบ้าน แฟนสาวจึงหยิบขึ้นมาดูแล้วบอก “อุ่นโทร. มา” เอื้อจึงตอบกลับไปว่า “รับให้เอื้อหน่อยจ้ะ” กิ่งฉัตรกดรับสายพร้อมกับเปิดลำโพง เอื้อจึงพูดออกไป “ว่า” “พี่เอื้อถึงไหนแล้วคะ” สองพี่น้องนั่งรถมากันคนละคัน “อยู่ข้างหลังรถแฟนอุ่นนี่ไง” อุ่นเหลือบมองกระจกหลังแล้วบอกพี่ “อ้อ โอเคค่ะ” ว่าจบเธอก็วางสายพี่ชายทันที “พี่เอื้อถึงไหนแล้วตัวเล็ก” แฟนหนุ่มเอ่ยถามคนตัวเล็กกว่าที่นั่งอยู่เบาะข้าง ๆ แต่อายุมากกว่าตนหนึ่งปี “รถคันข้างหลังเรานี่แหละค่ะ” “หอมแก้มหน่อยเดี๋ยวถึงบ้านแล้วไม่ได้หอม” แฟนหนุ่มบอกอุ่นอีกครั้ง หลังจากที่บอกแบบนี้มาตลอดทางจนนับครั้งไม่ถ้วน “ฮื้อ วันเดียวเองค่ะ” “ไม่ได้ ต้องหอมทุกวัน” “วันนี้ก็หอมมาตลอดทางแล้วนะคะ” “น้าตัวเล็ก ก็คนมันคิดถึง” เขาย่นหน้าทำตาเว้าวอนจนอุ่นต้อง
สิบห้าปีต่อมา มาลีกับสามีสร้างทุกอย่างด้วยตัวเองจนร่ำรวย เพราะเธอทำค่าใช้จ่ายในการทำการเกษตรอย่างรอบคอบ เพราะที่หมู่บ้านนี้ทำการเกษตรต้องอาศัยน้ำจากธรรมชาติเท่านั้น แต่เธอได้เปรียบคนอื่นตรงที่มีเงินทุนมาก จึงสามารถซื้ออาหารพืชมาบำรุงดินได้ ดูแลกำจัดวัชพืชให้ดี และเก็บเกี่ยวผลผลิตให้ทันเวลา เพียงเท่านี้มาลีก็ได้กำไรจากการทำเกษตรแล้ว เพราะที่นาก็ใช่ว่าจะมากเกินไปจนดูแลลำบาก ก็มีที่ของแม่ยี่สิบห้าไร่ และจากที่พ่อสามีแบ่งให้อีกแปดไร่ ยายแม้นเสียชีวิตไปได้สองปีแล้วเพราะไตวายเฉียบพลัน แต่เยี่ยมก็ยังหาเงินมาไถ่ที่นากับมาลีไม่ได้ทั้งที่ลูกสาวคนโตกับลูกเขยก็ไปทำงานต่างประเทศ แต่ยังดีที่ลูกสาวคนโตยังเอาเงินมาซื้อที่บ้านให้แม่อยู่ และตอนนี้เยี่ยมยังอาศัยอยู่ในบ้านหลังเดิมเพียงลำพัง หลานคนแรกที่เคยรักนักหนาก็แยกบ้านไปอยู่คนเดียวหลังที่พ่อกับแม่สร้างไว้ให้ อ้อนไม่เคยกลับมาดูแลยายเลย ส่วนปรานีกับปลายฝนก็ออกเรือนไปอยู่กับสามี และพวกเขาต่างหนีไปทำงานที่กรุงเทพฯ กันหมด ไม่เคยกลับมาหาแม่สักครั้ง นานครั้งจะโทร. มาหาแม่สักที รวมถึงเงินก็ไม่ค่อยส่งให้แม่ หลายครั้งที่เยี่ยม
“ไม่ ข้าไม่สนใจอะไรทั้งนั้น ข้ายังไม่อยากตาย ฮือ ๆ ในโลกนี้ผัวข้าหล่อที่สุดแล้ว” มาลียืนมองลูกและสามีที่นั่งกอดร่างเธอแล้วร้องไห้เสียงดังระงมด้วยความสงสาร “ข้าล้อเจ้าเล่นหรอกน่า ร้องไห้ฟูมฟายไปได้”ปากที่อ้ากว้างหุบลงทันควัน แล้วหันขวับมามองหน้ายมทูติตาเขียวสองมือปาดน้ำตาออกจนเหือดแห้ง แล้วถามยมทูติเสียงแข็ง “ท่านหมายความว่าอย่างไร”“ข้าจะมาลาเจ้าเพื่อไปเกิดเป็นมนุษย์แล้ว”“ทำไมล่ะ เป็นยมทูติไม่ดีหรืออย่างไร”“เบื่อ ทำงานที่นรกมาหลายร้อยปีแล้วอยากเปลี่ยนบรรยากาศบ้าง”“อย่างนี้ก็ได้เหรอคะ”“อืม อยากลองมีเมียเหมือนพวกมนุษย์ขี้เหม็นบ้าง ข้าไปแล้วนะ”“มาแค่เนี้ย” สิ้นคำมาลีก็ถูกยมทูติผลักเข้าร่างเดิม “ว้ายยย!”มาลีลืมตาตื่นขึ้นมารถกู้ภัยของตำบลก็วิ่งมาถึงพอดี แต่เธอไม่ได้เป็นอะไรมากแค่ตกใจกลัวและสลบไปเท่านั้น“แม่ฟื้นแล้ว” ลูกทั้งสองร้องไห้น้ำตานองหน้า“พี่ว่าไปหาหมอดีกว่าไหม” เคนถามพลางสะอื้นฮึก ๆ เพราะกลัวภรรยาจะไม่ฟื้นขึ้นมาอีก“ฉันไม่เป็นไรค่ะ ไม่ต้องไปก็ได้” มาลีมองพวกเขาด้วยความสงสารสุดหัวใจ เพราะยมทูติคนเดียวเลย พวกเขาถึงได้ร้องให้เป็นวรรคเป็นเวรเช่นนี้“แน่ใจนะ”“ค่ะ”
แม้นอาศัยอยู่กับมาลีและลูกเขยอย่างสุขสบายกว่าตอนที่อยู่กับเยี่ยมมาก ครบกำหนดที่หมอนัดมาลีกับสามีก็พาไปโรงพยาบาลตลอด ส่วนลูกทั้งสองเธอก็ฝากอรสาดูแลแทนในวันที่ต้องพาแม่ไปโรงพยาบาล เพราะต้องไปจองคิวแต่เช้า แต่เธอก็ไม่คิดว่าเป็นภาระแต่อย่างใด เพราะตอนนี้มาลีรู้สึกผูกพันกับแม้นเหมือนเป็นแม่แท้ ๆ ไปแล้วครบหนึ่งปีเต็มแล้วสินะที่เธอมาอยู่ที่นี่ บุญประจำปีปีนี้บ้านคำม่วงจ้างหมอลำคณะ ‘จุ๋มจิ๋มบันเทิงศิลป์’ ซึ่งเป็นคณะที่ใหญ่กว่าปีที่แล้ว แต่ปีนี้มีประกาศจากผู้ใหญ่บ้านว่าหากใครก่อเรื่องตีกันเหมือนปีที่ผ่านมาอีก บุคคลเหล่านั้นต้องจ่ายค่าหมอลำเอง ผู้ปกครองต่างกำชับบุตรหลานของตัวเองอย่างเด็ดขาด เพราะต่างก็กลัวว่าต้องจ่ายค่าหมอลำ เพราะหมอลำที่จ้างมาราคาก็หลายหมื่นอยู่เหมือนกัน วันนี้เคนพาลูกเมียออกมาดูหมอลำ พ่อจูงมือลูกสาวมืออีกข้างถือเสื่อ ส่วนแม่มือหนึ่งจูงมือลูกชายมืออีกข้างถือขวดน้ำดื่ม เป็นครั้งแรกที่มาลีมาดูหมอลำด้วยความเต็มใจ ความรู้สึกต่างจากปีที่แล้วอย่างสิ้นเชิง พวกเขาเดินไปตามถนนกลางหมู่บ้านมุ่งหน้าไปที่วัด เมื่อสกลเห็นมาลีเดินมากับครอบครัว
เคนชะงักไปเมื่อรู้ว่ามีคนรู้ทันว่าเขาแอบทำอะไร “เธอรู้?” “แน่นอนสิคะ ก็ผัวฉันทั้งคนทำไมฉันจะไม่รู้ละคะ” “ว่าแล้วว่าทำไมไม่สนใจผัวเลย” เคนพูดอย่างมันเขี้ยว “งั้นคืนนี้ต้องโดนทำโทษทั้งคืน” “ที่ไหนดีคะ” มาลีถามอย่างท้าทาย “ปากดีอย่างนี้ไปที่ป่ากล้วยดีไหม
เยี่ยมเห็นแม่เดินเข้ามาในบ้านก็ทำให้เธอรู้สึกร้อน ๆ หนาว ๆ เธอเอ่ยถามด้วยความหวาดหวั่น “แม่มีธุระอะไรเหรอคะ” แม้นเดินเข้ามาใกล้แล้วถามด้วยวาจาเกรี้ยวกราด “แกเอาทองฉันไปไว้ไหน!” แม้นมั่นใจว่าเป็นฝีมือเยี่ยมแน่ที่ขโมยทองเธอไปก่อนที่จะย้ายมาอยู่กับมาลี “เอ่อ…ฉัน…ฉันเอาไปขายแล้ว
ให้หลังเจ้าหน้าที่ธนาคาร เยี่ยมก็กำลังจะเดินเข้าบ้านเหมือนกัน แม้นจึงตะโกนตามหลังจนสุดเสียง “แกจะไปไหน” ตัวเธอสั่นเทาด้วยความโกรธจัดจนใบหน้าแดงก่ำ “ไป ไปหาเจ้าอ้อนมันค่ะ” “แม่มันก็อยู่” ตอนนี้ทั้งลูกเขยและหลานสาวทั้งสามก็อยู่บ้านกันหมด เยี่ยมหันหน้ามา
มาลีกลับมาถึงบ้านในตอนเย็นก็เห็นลูกชายหญิงของเธอกำลังนอนคว่ำหน้าเหยียดขาราบกับพื้นหันหน้าเข้าหากัน เธอเดินไปชะเง้อมองลูกนิดหนึ่งแล้วยิ้ม คนเล็กกำลังระบายสี ส่วนคนโตกำลังบวกเลข “พ่อกับแม่กลับมาแล้วเหรอครับ” “จ้ะ พากันอาบน้ำแล้วใช่ไหม” “ครับ/ค่ะ” “ถูขี้





