LOGIN"กงล้อโชคชะตาของเจ้าหญิงต้องสาป" ในฐานะพระธิดาองค์โตของจักรวรรดิ อากาธีร์ "ออเรเลีย" ควรได้รับความรักและยกย่อง—แต่เธอกลับเป็นเพียงเงาที่ถูกทอดทิ้งในวังหลวง เด็กหญิงเติบโตมาอย่างเดียวดาย ท่ามกลางสายตาเย็นชาของผู้เป็นบิดา และเสียงกระซิบเย้ยหยันของเหล่าขุนนางที่ตราหน้าว่าเธอเป็น "เจ้าหญิงไร้ค่า" ทว่ามีบางสิ่งที่แปลกประหลาดเกิดขึ้น... ความสามารถที่เกินวัย สัมผัสประหลาดเมื่อสบตากับบางคน และฝันร้ายที่ดูสมจริงจนน่าหวาดกลัว มันเกิดอะไรขึ้นกับข้ากัน...
View MoreWanita yang sedang berada di sebuah makam kedua orang tuanya, menangis tersedu - sedu dia tidak menyangka akan ditinggalkan oleh kedua orang tuanya secepat ini. Sekarang dia hidup sebatang kara tanpa kerabat ataupun keluarga. Kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan antar bus, ketika hendak kedua orang tuanya ingin berpergian ke Jakarta untuk bekerja disana tetapi naas mereka meninggal ditempat.
Sania Larasati itulah namanya wanita yang baru saja lulus dari sekolah menengah atas, sekarang dia harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri. Mau tidak mau Sania harus menggantikan kedua orangtuanya untuk bekerja di Jakarta.
Dia berpamitan ke makam kedua orangtuanya untuk berangkat ke Jakarta, sangat berat meninggalkan tempat tinggalnya apalagi makam kedua orang tuanya berada disini. Sania melangkahkan kakinya meninggalkan makam tersebut sambil menangis, sesampainya di depan ujung jalan Sania berdiri seorang diri sambil menunggu bus yang ditumpanginya Menuju ketempat kerjanya itu.
Sebenarnya dia tidak begitu takut untuk bekerja ditempat seorang milyader itu karena disana ada Yanti yang lebih dulu bekerja disana.
Didalam perjalanan tak henti - hentinya Sania berdoa memohon keselamatan menuju ke Jakarta dia masih trauma atas apa yang dialami oleh kedua orangtuanya. Antara Bandung dengan Jakarta cukuplah jauh baginya karena ini pengalaman pertamanya dia keluar dari daerah yang ia tinggali.
Sesampainya di pangkalan bus Sania turun lalu beristirahat sebentar sambil membeli makanan sekedar untuk mengganjal perutnya sebelum ia melanjutkan ketempat tujuannya. Setelah selesai mengisi perutnya Sania melanjutkan perjalanannya sambil memegang secarik kertas yang sudah ia pegang. Dilihatnya lagi kertas itu untuk membaca alamat sang majikannya. Yanti telah memberikan alamat tersebut saat pemakaman kedua orangtua Sania.
Sania memutuskan untuk menuju kerumah majikannya menggunakan ojek dan memberikan alamat tersebut.
“Pak, apa bisa antarkan saya ke alamat ini?” tanya Sania sambil memberikan secarik kertas ditangannya
“Oh bisa neng, mari saya antar” ucap tukang ojek itu setelah membaca alamat itu.
Tak butuh waktu lama mereka berhenti didepan rumah yang sangat besar melebihi rumah pada umumnya, Sania turun lalu membayar sejumlah uang kepada tukang ojek tersebut. Sekali lagi Sania menatap rumah yang begitu besar dengan gerbang yang begitu tinggi, Sania rasa tidak ada yang mampu masuk ke dalam rumah tersebut.
Dengan penuh keberanian Sania memencet bel yang berada di samping gerbang, tak lama kemudian keluarlah seorang satpam dengan sopannya.
“Cari siapa ya neng?” tanya satpam tersebut
“Saya Sania pak, saya disini disuruh kak Yanti untuk kerumah ini”
“Oh Yanti ya, kalau gitu masuk neng. Bapak panggilkan Yanti ke dalam sebentar” ucap satpam itu meninggalkan Sania di depan pos satpam
Sania melihat sekeliling rumah tersebut sangat besar dan luas dengan taman yang sanga cantik dan ada air mancurnya juga seperti istana didalam dongeng.
Tak lama kemudian datang seorang wanita yang tidak jauh umurnya dengan Sania menghampiri Sania.
“Sania, akhirnya kamu sampai juga” ucapnya sambil memeluk gadis itu
Sania tersenyum dan membalas pelukan Yanti yang ia sudah anggap kakak kandungnya sendiri.
“Ayo masuk San, aku kenalin sama majikan kita mereka sudah menunggu kedatangan kamu” Yanti mengajaknya kedalam menggandeng tangan Sania menuju kedalam rumah
Ternyata majikannya sudah menunggunya dan sedang duduk sambil menikmati cemilan diatas meja. seorang wanita Dan pria paruh baya yang terlihat elegan bangun dari kursi menghampiri Sania dan Yanti.
“Kamu Sania anaknya Pak Suryanto dan ibu Lasmi ya? Cantik banget kamu seperti Ibumu” ucap wanita itu dengan sopannya
“Iya, nyonya. Terima kasih atas pujiannya” ucap Sania
“Maaf ya San, saya dan suami tidak bisa ke pemakaman ayah dan ibumu” Ucap Wania itu dengan rasa bersalahnya
“Ahhh, tidak apa - apa nyonya, Saya mengerti” ucap Sania
“Perkenalkan saya Mariam Dimitri dan ini suami saya Erlangga Dimitri” ucap Mariam kepada Sania
Erlangga mengulurkan tangannya ke Sania dan Sania membalas uluran tersebut
“Senang berkenalan dengan kamu Sania”
“Saya juga Tuan, senang bisa bertemu dengan Tuan dan Nyonya”
“Yanti antarkan Sania ke kamarnya dan segera siapkan makan malam karena anak saya dan tunangannya akan datang” ucap Nyonya Mariam kepada Yanti dan Sania
“Baik, Nyonya akan saya kerjakan. kami permisi” ucap Yanti membungkukan badannya lalu pergi.
Yanti mengantarkan Sania ke dalam kamar yang sudah disiapkan, kamar tersebut berada di belakang tidak jauh dari dapur dan bersebelahan dengan kamar Yanti.
“Kak, aku boleh tanya?” tanya Sania saat sudah di dalam kamar
“Apa?”
“Ternyata Mereka sangat baik ya, aku kira bakalan kayak di film - film gitu”
“Ngaco kamu San, kebanyakan nonton sinetron sih” ucap Yanti sambil memukul lengan Sania. “Ya udah kamu beres - beres dulu aja San, setelah itu ke dapur ya buat makan malam” ucap Yanti lagi
“Oke”
Yanti pergi keluar meninggalkan Sania, sedangkan Sania membereskan bajunya memasukan kedalam lemari yang tidak begitu besar. Saat dirasa sudah beres Sania segera pergi menuju ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
“Wah, banyak sekali bahan masaknya kak, orang kaya mah bebas” kekeh Sania
“Wajar dong, namanya juga seorang milyader apapun bisa mereka lakukan termasuk ini”
Sania mulai mengiris bawang bawangan beserta sayur mayur sedangkan Yanti sibuk membersihkan ikan dan ayam yang lumayan banyak.
“Hari ini kita masak apa ka?” tanya Sania
“Nyonya berpesan sih disuruh masak ayam tepung pedas manis, ikan pepes, sayur capcay sama sambel terasi” ucap Yanti
“Orang kaya ternyata suka sambel terasi ya”
“Jangan salah kamu San, walaupun Nyonya dan Tuan seorang milyader tetapi dia masih suka masakan sederhana. Kecuali Tuan Arvan yang tidak suka dengan makanan sederhana apalagi sambel terasi di lihat aja tidak mungkin” ucap Yanti. “Asal kamu tau ya, Tuan Arvan dengan tunangannya itu sombong” bisiknya ke telinga Sania
“Ah masa sih kak? Orang tuanya aja baik banget”
“Entah lah” ucap Yanti menaikan kedua bahunya
Arvan Dimitri putra tunggal dan pewaris Giant Grup perusahaan terbesar di Asia, seseorang yang sombong, arogan, mau menang sendiri tetapi terhadap orang tua dan kekasihnya sangatlah penyayang. Banyak wanita tergila - gila padanya semua akan tunduk sekali kedip saja, tetapi dia sangat setia kepada tunangannya itu yang sudah ia pacari selama tiga tahun.
Mereka dengan cepat segera memasak makanan untuk makan malam. Karena sebentar lagi Arvan Margaratte akan segera datang.
Akhir selesai juga masakan yang mereka masak, mereka membawa makanan tersebut ke Meja makan.
“Mama, papa, Arvan sama Margarette datang” teriak Arvan dari luar menuju kedalam rumah.
“Hay anak calon menantu kesayangan mama, kamu makin cantik aja” ucap Maryam kepada Margarette
“Margarette aja nih yang jadi kesayangan, Arvan anak mama sendiri tidak?” rajuk Arvan
“Kamu juga sayang” ucap mama mencium pipi anaknya itu
Pertama kali Sania melihat anak majikannya dirumah ini kesan yang ia lihat ternyata Arvan sangatlah tampan dengan kulit putihnya, wajah yg nyaris sempurna, tinggi. Sedangkan margarette dia sangat cantik, tinggi, pitih seperti princess dalam dongeng. Mereka sangatlah cocok. Sania melamun sampai - sampai Yanti menyenggol lengan Sania supaya tidak melamun.
Mereka duduk Berdampingan, tampak sangat ceria keluarga tersebut. Sania membantu menuangkan minuman kepada majikannya tapi tiba - tiba saja air yang hendak ia tuangkan tumpah terkena baju Arvan. Tatapan Arvan tiba - tiba menajam memandangi Sania ingin menerkamnya. Dengan cepat Sania membersihkan air yang terkena baju Arvan, tetapi Arvan menepis tangan Sania dengan kasar.
“Berani - beraninya kamu menumpahkan air minum ke baju saya, kamu pikir bisa mengganti baju saya ini!” teriak Arvan sambil menunjuk - nunjuk wajah Sania.
Sania hanya tunduk terdiam. Air matanya mulai menetes tapi ia tahan dia tidak ingin menangis di depan majikannya.
“Sudah Arvan, Sania tidak sengaja” ucap Erlangga menengahi
“Dia siapa sih, belum pernah Arvan melihatnya disini”
“Dia Sania pembantu baru kita Van”
Dengan mata yang sudah berair Sania memberanikan diri untuk bicara. “Maa.. Maaf Tuan, saya tidak sengaja” ucapnya parau
“Ah menyebalkan. Sekali lagi saya liat kamu seperti ini kamu akan tau akibatnya” ancam Arvan
“Yanti, Sania kalian boleh pergi” ucap Maryam
“Permisi Nyonya, Tuan” ucap mereka
ผ่านไปหนึ่งสัปดาห์แล้วนับตั้งแต่พิธีราชาภิเษก ข้าก็ยังคงอยู่ในวังหลวง บรรยากาศรอบตัวเต็มไปด้วยพลังงานแห่งการเฉลิมฉลองอย่างต่อเนื่อง สถาบันเอลโดเรียยังอยู่ในช่วงปิดภาคเรียน ทำให้คาลิเบลมักวนเวียนอยู่ใกล้ ๆ ข้า เขาแวะเวียนมาที่ห้องของข้าอยู่บ่อยครั้ง ราวกับอยากชดเชยช่วงเวลาที่เราห่างหายกันไปนานและด้วยความคิดถึงกระมั้ง ข้ายินดีต้อนรับการมาเยือนของเขาเสมอ บอกตามตรงความร่าเริงของเขาเป็นเสมือนดวงไฟอุ่นที่ช่วยปลอบประโลมข้าให้คลายจากความกดดันในบรรยากาศของวังหลวงยิ่งไปกว่านั้น เฟลิกซ์กับโรซลินก็มักจะแวะมาเป็นครั้งคราว และที่น่าแปลกใจที่คือ ทั้งคู่คือเพื่อนที่คาลิเบลเคยเอ่ยถึงในจดหมายที่ส่งมาให้ข้าเมื่อก่อนหน้านี้ ไม่รู้ว่าเป็นเรื่องบังเอิญหรืออะไรแต่โลกช่างกลมยิ่งนักอย่างไรก็ตาม ข้ากลับไม่อาจสลัดความรู้สึกว่าตัวเองกำลังถูกจับตามองไปได้เลย หลังจากวันพิธี ข้าเริ่มได้รับคำเชิญไปงานน้ำชาจากขุนนางชั้นสูงอย่างต่อเนื่อง มากกว่าทุกครั้งที่เคยได้รับในช่วงที่อยู่ที่ชีทูเรีย เป็นไปได้ว่าท่าทีของข้าในวันนั้นได้กลายเป็นสิ่งที่พวกเขาจับตามอง บันทึกไว้ราวกับเป็นวัตถุจัดแสดงที่น่าสนใจ ช่างน่าขำนี่ขนาดยังไม
รองเท้าส้นสูงของข้ากระทบสู่พื้นท้องพระโรงสถานที่จัดพิธี เสียงฮือฮาแห่งความตื่นเต้นยังคงถาโถมเข้ามาราวกับคลื่นซัดหลังจากเสียง ของมหาดเล็กสิ้นสุดลง ใต้แสงระย้าจากโคมไฟระย้าหรูหรา การตกแต่งสีทองอร่ามส่องประกายเจิดจ้า ทว่าในขณะที่ข้าเดินไปที่บัลลังค์ข้างซ้ายองค์จักรพรรดิ เสียงกระซิบแห่งการดูแคลนและแปลใจต่างแทรกผ่านหมู่ชน ราวกับอสรพิษแฝงตัวกลางฝูงคนไม่หยุดหย่อน เหมือนข้าเป็น"องค์หญิงน้อยคนนั้นใช่ เจ้าหญิงออเรเลีย ใช่ไหม? ข้าพึ่งจะเคยเห็นนางครั้งแรกเลย""ข้าเองก็ไม่เคยเห็นนางออกงานสังคมที่ไหนมาก่อนเช่นกัน ขนาด ท่านคาลิเบล ข้ายังเคยเข้าเฝ้าในงานวันคล้ายวันประสูติ แต่ข้าไม่เคยเห็นนางสักครั้ง""มีเพียงขุนนางชั้นสูงบางคนที่เคยเข้าเฝ้าองค์จักรพรรดิเคยเห็นนางเท่านั้นเอง"“ข้าได้ข่าวว่า นางถูกไล่ให้ไปอยู่แถวชานเมืองจนถึงเมื่อไม่นานมานี้เองด้วยนะ”"ที่ ชิทูเรีย ใช่หรือไม่? ข้าได้ยินข่าวว่านางเปลี่ยนแปลงเมืองนั้นยกใหญ่เลยนี่""ไม่ใช่ว่านั่นเป็นฝีมือของเจ้าเมืองและนางแอบอ้างชื่อตนเองเพื่อเอาความดีไปถวายองค์จักรพรรดิหรอกหรือ?""ถ้าเป็นเช่นนั้นจริง นางน่าจะโง่เขลาพอสมควรที่จะเอาใจองค์จักรพรรดิเช่นนั้น
ข้ากวาดตามองห้องที่เคยเป็นที่พักพิงของข้ามาหลายเดือน แม้จะรู้ดีว่าสักวันจะต้องจากไป แต่เมื่อเวลานั้นมาถึงจริง ๆ หัวใจกลับรู้สึกหนักอึ้งกว่าที่คิด ข้าปิดหีบสัมภาระใบสุดท้าย ก่อนจะสูดลมหายใจเข้าลึก ๆ แล้วเดินออกจากห้องโดยไม่หันกลับไปมอง เมื่อข้ามาถึงลานกว้างหน้าเรือนหลัก รถม้ากำลังเตรียมพร้อมสำหรับการเดินทางกลับวังหลวง พวกคนรับใช้ยืนรอส่งข้าอย่างเงียบงัน ข้ารู้สึกเศร้าที่ต้องกล่าวอำลาพวกเขา โดยเฉพาะสองคนที่ยืนอยู่ใกล้ประตู เอลลี่และเซอร์ไอเดน ข้าหยุดยืนตรงหน้าเอลลี่ ก่อนจะยื่นจดหมายฉบับหนึ่งให้กับนาง "เอลลี่... หลังจากข้าไปแล้ว เจ้าค่อยเปิดอ่านจดหมายนี้นะ" ข้ากล่าวด้วยน้ำเสียงอ้อมแอ้ม ดวงตาของเอลลี่เต็มไปด้วยความลังเล ข้ารู้ว่านางอยากจะถาม แต่ข้ากลับรีบพูดต่อก่อนที่นางจะเอ่ยปาก "ลองปรึกษากับเซอร์ไอเดนดู ไม่ว่าพวกเจ้าจะตัดสินใจกันอย่างไรข้าก็จะยอมรับมัน นี่อาจเป็นคำขอที่เห็นแก่ตัว ใจจริงข้าไม่อยากลากพวกเจ้าเข้ามาเกี่ยวข้องแต่ว่า..." ข้าพูดไม่จบประโยค เพียงแค่ดึงเอลลี่เข้ามากอดแน่น ข้ารู้ว่านางกำลังสั่นเทา และข้าเองก็ไม่อาจห้ามความรู้สึกของตัวเองได้เช่นกัน "ไม่ว่าจะเกิดอะไรขึ้นเจ้าจะอย
เสียงหัวเราะและเสียงดนตรีดังก้องไปทั่วอาณาจักร แน่นอนเมืองชิทูเรียก็เช่นกันแม้จะอยู่ห่างไกลแต่ตอนนี้ก็เต็มไปด้วยบรรยากาศแห่งการเฉลิมฉลอง ธงหลากสีพลิ้วไหวตามสายลมอ่อน และแสงไฟระยิบระยับราวกับดวงดาวบนท้องฟ้ายามค่ำคืน ผู้คนออกมาร่วมงานกันอย่างคับคั่งเพื่อเฉลิมฉลองวันคล้ายวันประสูติของเจ้าชายคาลิเบล วันสำคัญที่ยิ่งใหญ่สำหรับอาณาจักรแห่งนี้ภายในวังของข้าบรรยากาศก็คึกคักไม่แพ้กัน แต่ขณะที่เสียงเฮฮาดังมาจากภายนอก ความคิดของข้ากลับล่องลอยไปที่อื่นแทนเอลลี่ที่กำลังสนุกสนานสะดุดตาข้าที่นั่งเหม่ออยู่เฉยๆ เธอเหลือบมองออกไปนอกหน้าต่าง ดวงตาเต็มไปด้วยความสงสัยเมื่อเธอเห็นบรรยากาศของงานเทศกาลที่กำลังรื่นเริงแต่ตัวข้ากลับไม่เป็นเช่นนั้น “ฝ่าบาทเพคะ” เธอเริ่มพูดด้วยน้ำเสียงที่แฝงไปด้วยความกังวล “เป็นอะไรหรือเพคะ? ท่านไม่ไปร่วมงานเทศกาลหรือ?" "ไม่ล่ะ พวกเจ้าไปเถอะ" ข้าตอบพลางก้มลงไปเขียนรายงานบนโต๊ะต่อเอลลี่ เห็นก็นึกสงสัย "วันนี้เป็นวันคล้ายวันประสูติของเจ้าชายคาลิเบล เทศกาลใหญ่แห่งปีทั้งที ฝ่าบาทจะเอาแต่อุดอู้อยู่ในห้องแบบนี้ไม่ได้นะเพคะ!" นางกล่าวพลางพยายามดึงแขนข้าให้ลุกขึ้นซึ่งข้าก็ทำตัวแข็งย






reviews