Masukเมื่อเธอได้รับภารกิจลับจากป้าผู้มีพระคุณโดยทำวิธีไหนก็ได้ให้เขาตกหลุมรักเธอและไม่ต้องเดินทางกลับต่างประเทศอีก โดยแลกกับการที่คุณป้าจะชดใช้หนี้ก้อนโตของครอบครัวให้ “ยัยบ้า เธอเข้ามาอยู่ในห้องฉันได้อย่างไง” “ทำไมคุณพูดกับหนูแบบนี้ ฮือ..ฮือ..ฮือ..คุณจำเรื่องเมื่อคืนไม่ได้จริง ๆ เหรอ” “ก็ฉันไม่ได้ทำอะไร เธอนั้นแหละมาอยู่ในห้องฉันได้ไง ฉันไม่มีทางทำเรื่องแบบนี้แน่ ๆ เธอรีบออกจากห้องฉันไปเลยนะก่อนที่แม่ฉันจะเข้ามาเห็น” และนี่คือสิ่งที่ผมบอกเธอแต่เรื่องช็อตฟิลก็เกินขึ้นเมื่อแม่ผมเปิดประตูเข้ามาและเรื่องทุกอย่างดำเนินไปคือ แม่ของผมจับให้ผมหมั้นหมายกับเธอ
Lihat lebih banyakLampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kelas atas. Namun di balik semua kemewahan itu, ada sesuatu yang jauh lebih samar dan tidak kalah menyengat. Keserakahan yang dibungkus dengan sopan santun para elit.
Malam ini bukan sekadar pesta merger antara Mahardika Group dan Wijaya Group. Bagi Naura Callista Wijaya, malam ini terasa lebih seperti perjamuan para predator.
Naura berdiri di sudut ruangan, memegang gelas sampanye yang hampir tidak ia sentuh sejak tadi. Gaun satin berwarna nude membalut tubuh rampingnya dengan sempurna, kainnya jatuh lembut mengikuti lekuk pinggang hingga paha. Riasan natural menonjolkan wajah mungilnya—mata kecokelatan yang biasanya tampak cerah kini menyimpan sesuatu yang lebih waspada.
Sebagai model papan atas, Naura tahu persis bagaimana cara berdiri agar terlihat rapuh sekaligus memikat. Bahunya sedikit merosot, dagunya terangkat tipis, dan tatapannya dibiarkan lembut seolah ia sama sekali tidak menyadari puluhan pasang mata yang diam-diam mengamatinya.
Padahal Naura sangat sadar bahwa hampir semua pria di ruangan ini memandangnya seperti barang lelang. Dan mereka tidak sepenuhnya salah.
Di balik kain halus yang menyentuh pahanya, tersembunyi sebuah belati keramik kecil yang terikat rapat dengan strap tipis.
Dingin logamnya menempel pada kulit Naura, menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa sedikit aman di ruangan yang dipenuhi para serigala berbulu tuksedo ini.
“Tersenyumlah, Naura. Kamera ada di mana-mana.”
Suara bariton rendah itu muncul di sampingnya dengan nada tenang yang tidak memberi ruang untuk bantahan.
Naura menoleh sedikit.
Rafael Adrian Wijaya, berdiri di sana. Dalam setelan tuksedo hitamnya, Rafael tampak seperti sosok CEO muda yang sempurna, tenang, percaya diri, dan penuh karisma. Naura cukup mengenalnya untuk tahu bahwa guratan halus di sekitar mata kakaknya bukan hanya karena kelelahan.
Itu ambisi.
Ambisi yang terlalu besar untuk ditahan.
Naura meneguk sampanyenya sedikit sebelum berbisik pelan, nyaris tanpa membuka bibirnya.
“Jadi… berapa harga yang kalian pasang untukku malam ini, Kak?”
Rafael menatapnya sekilas, jelas tidak menyukai arah pembicaraan ini.
“Naura—”
“Ratusan Milyar?” lanjut Naura dengan nada ringan, seolah sedang bercanda. Ia memutar gelas di tangannya, menatap cairan keemasan di dalamnya. “Atau... lebih?”
Kalimatnya terdengar santai. Namun matanya tidak tersenyum.
Rafael menghela napas pelan sambil melirik sekeliling mereka, memastikan tidak ada tamu yang berdiri cukup dekat untuk mendengar percakapan itu.
“Jangan dramatis, kamu tahu kondisi perusahaan.” katanya akhirnya.
Naura terkekeh pelan. Tawa yang singkat dan kering.
“Benarkah? Karena dari posisiku, ini terlihat sangat dramatis.” Ia menoleh menatap kakaknya. “Kalian menjualku pada Arka Rajendra Mahardika.”
Rafael menegang sedikit.
“Ini hanya pernikahan bisnis, Naura.”
“Dengan pria yang dijuluki Monster oleh dunia bisnis?” Naura mengangkat alis tipis. “Kedengarannya seperti keputusan yang sangat waras.”
“Dua tahun, hanya dua tahun. Setelah itu kamu bisa bebas.” kata Rafael datar.
Naura menatap kakaknya cukup lama hingga Rafael mulai terlihat tidak nyaman. Lalu ia tersenyum tipis.
“Kamu benar-benar gila ya, Kak.”
“Aku hanya menyelamatkan warisan Ayah!” tegas Rafael.
“Dengan menjual adiknya sendiri pada iblis?” Nada suara Naura masih lembut, tapi sesuatu di dalamnya mulai retak.
Rafael akhirnya kehilangan kesabarannya. Ia mendekat sedikit, suaranya turun menjadi bisikan tajam.
“Jangan membuatku mengingatkanmu tentang Dion.”
Nama itu menghantam Naura seperti pukulan. Jari-jarinya langsung menegang di sekitar gelas sampanye.
“Jika kamu menolak ini, aku hanya perlu satu telepon untuk memastikan karier fotografer kecil itu berakhir sebelum matahari terbit.” lanjut Rafael dengan nada yang terlalu santai untuk ancaman seperti itu
Naura terdiam. Ia mematung selama beberapa detik. Sampai kerumunan di dekat pintu aula tiba-tiba bergeser, diikuti riuh kecil yang langsung menyebar di antara para tamu. Beberapa orang menoleh, para fotografer mengangkat kamera mereka, dan dalam hitungan detik perhatian seluruh ruangan tertuju pada satu titik yang sama.
Arka Rajendra Mahardika melangkah masuk.
Ia mengenakan setelan jas navy yang dijahit sempurna, membungkus tubuhnya yang tinggi dan atletis. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara senyum ramah yang menghiasi wajah tampannya membuat beberapa wanita di sekitar pintu masuk langsung berbisik kagum satu sama lain.
Jenis senyum yang membuat para pemegang saham percaya bahwa uang mereka berada di tangan yang tepat. Sedangkan untuk para wanita, senyum itu cukup untuk membuat mereka tersihir.
“Selamat malam semuanya,” sapa Arka dengan suara bariton yang tenang dan mudah didengar bahkan di tengah riuh pesta. “Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk hadir malam ini. Selamat menikmati acara malam ini.”Ia tersenyum tipis ketika semua orang memberikan tepuk tangan yang meriah padanya.
Lalu ia berjalan dengan langkah santai, menyapa beberapa investor dengan jabat tangan singkat sebelum akhirnya mendekat ke arah keluarga Wijaya.
Matanya menemukan Naura hampir seketika. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat bulu kuduk Naura meremang.
“Arka, senang kamu bisa datang tepat waktu.” Surya Wijaya menyambutnya dengan jabat tangan hangat yang sedikit terlalu antusias.
“Tentu saja, Tuan Wijaya. Saya tidak mungkin melewatkan malam ketika saya akhirnya bisa memiliki permata paling berharga di keluarga Anda.” jawab Arka dengan senyum sopan.
Kalimat itu disambut tawa kecil dari beberapa tamu di sekitar mereka, seolah hanya sebuah pujian biasa.
Namun Naura merasakan sesuatu yang lain di baliknya.
Arka kemudian menoleh ke Rafael.
“Rafael. Kudengar progres pembangunan infrastruktur di proyek Kalimantan kalian mengalami sedikit kendala logistik ya.”ujar Arka pelan.
Rafael langsung mengangguk. “Kami memang sedang mengevaluasi beberapa jalur distribusi.”
“Kita bicarakan itu besok di kantorku, aku yakin kita bisa menemukan solusi yang lebih efisien.” kata Arka santai.
“Tentu, dukunganmu sangat berarti bagi kami.” jawab Rafael dengan cepat. Nada suaranya hampir terdengar seperti bawahan yang sedang berbicara pada atasannya.
Kemudian, tanpa tergesa, perhatian Arka beralih sepenuhnya pada Naura.
Ia melangkah mendekat.
Jarak di antara mereka menyusut perlahan hingga Naura bisa mencium aroma sandalwood yang samar dari tubuh pria itu, aroma yang bersih, mahal, dan entah kenapa terasa berbahaya.
Arka mengambil tangan Naura dengan gerakan yang halus. Ia menunduk sedikit, lalu mengecup punggung tangan itu. Kecupannya sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
“Naura Callista Wijaya,” gumamnya lembut.
Ketika Arka mengangkat wajahnya kembali, matanya menatap langsung ke dalam mata coklat Naura dengan intensitas yang sulit dijelaskan.
“Senang akhirnya bisa bertemu dengan calon istriku secara resmi.” senyumnya melebar tipis.
“Kamu bahkan lebih cantik daripada di majalah Vogue.” pujinya tulus.
Kilatan kamera langsung memenuhi ruangan. Para fotografer berebut mengabadikan momen yang terlihat seperti adegan romantis sempurna.
Naura tersenyum dengan profesional, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun di depan kamera. “Terima kasih, Tuan Mahardika.”
Arka sedikit memiringkan kepala, seolah tidak menyukai panggilan formal itu.
“Panggil aku Arka, Sayang. Kita akan segera menjadi satu keluarga, bukan?”
Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Naura, cukup dekat sehingga hanya Naura yang bisa mendengar kalimat berikutnya.
“Simpan ketakutanmu untuk malam pengantin kita sayang.”
Tubuh Naura langsung menegang.
“Aku tahu kamu punya banyak rahasia di balik wajah cantik ini. Dan aku sangat tidak sabar mengulitinya satu per satu.” lanjut Arka pelan.
Arka menarik diri sebelum Naura sempat bereaksi.
Senyumnya kembali sempurna ketika ia menoleh ke arah kamera-kamera yang masih menyala.
Di depan publik, mereka tampak seperti pasangan impian. Namun bagi Naura, perang baru saja dimulai.
Arka melingkarkan tangan Naura ke lengannya seolah itu hal yang biasa.
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.
Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.
Ini perintah.
****
2 อาทิตย์ต่อมา ม่านน้ำที่นั่งมองดูตัวเองในกระจกที่ตอนนี้ร่างบางที่มีหน้าท้องนู้นขึ้นมาเล็กน้อยสวมใส่ชุดแต่งงานสายเดี่ยวสีขาวกระโปรงยาวแค่เข่า ใบหน้าหวานถูกแต่งแต้มสีสันอย่างสวยงาน ขณะช่างที่ถูกจ้างมากำลังจับผมออกเป็นช่อเล็ก ๆ แล้วถักสานจนเกิดเป็นผมเปียอย่างสวยงาม เมื่อถักเปียจนครบสองข้างแล้วช่างก็รวบตึงเปียผมทั้งสองมาอยู่ทางด้านหลังก่อนจะมัดและติดกิฟฝั่งเพชรรูปหัวใจและแซมด้วยไข่มุกเม็ดเล็ก ๆ สีขาวลงบนกลุ่มผมเป็นอันเสร็จสิ้น "เสร็จแล้ว สวยมากกกเลยค่าคุณน้อง "เสียงของช่างเอ่ยบอกเมื่อจัดแต่งผมเสร็จและติดกิฟท์ฝั่งเพชรรูปหัวใจเป็นลำดับสุดท้าย ฉันที่มองตัวเองผ่านกระจกเงาใช่สวย วันนี้ฉันสวยแปลกตามากไม่คิดว่าพี่ช่างแต่งหน้าจะมีฝีมือมากขนาดนี้ ก่อนฉันจะได้ยินเสียงเปิดประตู แก๊บ! ตามมาด้วยเสียงทุ้มคุ้นหูเอ่ยเรียก "เสร็จหรือยังครับเจ้าสาวของพี่ แม่ให้มาเรียก พระใกล้จะถึงแล้วนะครับ" ฉันที่มองไปตามเสียงก่อนจะส่งยิ้มหวาน ๆ ไปให้คนเรียก ก่อนจะลุกออกจากเก้าอี้เดินมาหาเจ้าบ่าวในเวลาต่อมา ขณะพี่สายฟ้าที่ตอนนี้อยู่ในชุดสูทสีขาวเซ็ทผมออกมาจนดูหล่อและยิ่งมาอยู่ในชุดสูทยิ่งทำให้คนตัวสูงที่ดูหล่อดูสมา
แต่ในวินาทีถัดมาแสงไฟที่ส่องให้แสงสว่างภายในรีสอร์ทกับดับลง หลงเหลือแต่ความมืดสนิท มีเพียงแสงนวลผ่องของพระจันทร์ที่ส่องให้ความสว่างเท่านั้น "พี่สายฟ้า" มือบางคว้าท่อนแขนคนนั่งอยู่ข้าง ฉับพลันกับคิดถึงเหตุการณ์ร้าย ๆ เมื่อคราวก่อนผุดเข้ามาในหัวก่อนเสียงหวานจะเอ่ยเรียกคนข้างกายด้วยน้ำเสียงสั่นเครือเพราะความกลัว "ไม่ต้องกลัวครับพี่นั่งอยู่นี่"เสียงทุ้มเอ่ยบอกพรางโอบกอดคนตัวเล็กไว้ในแนบอกที่ตอนนี้ร่างบอบบางขยับสั่นไหวเบา ๆ จนสายฟ้าพอจะรับรู้อาการของคนในอ้อมกอดนี้ได้ อยู่ ๆ ก็รู้สึกผิดและกลัวที่ตัวเองสร้างสถานการณ์ตรงนี้ขึ้นมา แล้วถ้าคนตัวเล็กโกรธไม่ยอมตกลงที่จะแต่งงานกับตัวเองจะทำอย่างไร "เอาวะ สู้โว้ย ถ้าวันนี้ไม่ตกลง อย่างไงเขาก็จะตื้อให้คนในออมอ้อมยอมตกลงแต่งงานกับตัวเองให้ได้"สายฟ้าได้แต่คิดในใจ ผิดกับทุกคนที่มาร่วมงานเลี้ยง พวกเขาทุกคนรู้ว่าสถานการณ์ตอนนี้เกิดจากฝีมือของคนจัดเตรียมงานที่อยากจะเซอร์ไพรส์เมียรัก แต่ไหนเลยคนที่โดนเซอร์ไพรส์กับกลัวแทนที่จะมีอาการประหลาดใจ "ทำไมไฟดับคะพี่"ม่านน้ำถามขึ้นอีกรอบเมื่อคนตัวสูงไม่ได้ให้คำตอบในคราวแรก แต่แล้วสิ้นเสียงหวานเอ่ยถามเท่านั้นไฟ
3 เดือนต่อมา ร่างบอบบางที่อยู่ในชุดนักศึกษาและคลุมทับด้วยชุดครุยตัวยาวสีกรม ผมสีแดงในตอนแรกถูกย้อมเป็นสีน้ำตาลธรรมชาติถูกเกล้าม้วนขึ้นเป็นทรงสวย เผยให้เห็นใบหน้าเรียวเล็กได้รูปที่ถูกเติมแต่งสีสันด้วยเครื่องสำอางเพียงบางเบา ริมฝีอวบอิ่มฉาบด้วยลิปสติกสีชมพูอ่อนยกยิ้มหวานจนตาหยี ร่วมเฟรมถ่ายรูปกับกลุ่มเพื่อน ๆ ในคลาสเรียน ใช่แล้ววันนี้เป็นวันที่ม่านน้ำแล้วเพื่อน ๆ จบการศึกษาและเข้ารับพระราชทานปริญญาบัตร เมื่อเสร็จพิธีจากหอประชุมเรียบร้อยแล้ว เพื่อน ๆ ในคลาสต่างพากันมาร่วมกลุ่มถ่ายรูป โดยช่างภาพที่ถูกว่าจ้างจากมหาวิทยาลัยเป็นคนหามา "123" แชะ ! เสียงตากล้องนับให้เป็นสัญญาณก่อนที่จะชัตเตอร์ "สวยแล้ว ผมขอถ่ายกันเสียอีก 2-3 รูปนะครับ"พูดจบตากล้องก็กดชัตเตอร์อีก 2-3 ครั้ง "เสร็จแล้วนะครับ เดี๋ยวรูปจะส่งไปให้ตามที่น้อง ๆ กรอกที่อยู่ให้นะครับ"ช่างภาพหนุ่มเอ่ยบอกก่อนที่บัณฑิตจะทะยอยเดินออกจากเฟรม เพราะมีบัณฑิตจากคลาสอื่น ๆ รอถ่ายรูปเช่นกัน "น้ำแกจะรีบเดินไปไหน"เสียงเพชรชี่เอ่ยทักเพื่อนเมื่อเห็นว่าม่านน้ำกำลังสาวเท้าด้วยความเร็วไปทางโต๊ะม้าหินอ่อนที่อยู่ใต้ร่มไม้ใหญ่ "พี่สายฟ้านั่งรอเราอยู
ช่วงเช้าของวัน หลังจากทานอาหารเช้าเสร็จผมพาคนตัวเล็กมาฝากครรภ์ที่โรงพยาบาลเอกชนชื่อดังในตัวจังหวัดตามที่ตั้งใจไว้ตั้งแต่เมื่อวาน เราสองใช้เวลาตรวจ รับยา รอบัตรนัดครั้งต่อไปกว่าจะเสร็จทุกขั้นตอนก็กินเวลาไปเกือบครึ่งวัน และเมื่อเราสองคนขึ้นมาบนรถยนต์ตอนแรกผมคิดว่าจะพาคนตัวเล็กกลับรีสอร์ท แต่เมื่อสายตาของผมไปประทะกับตัวเลขที่โชว์เวลาที่หน้าปัดด้านหน้าคอนโซลรถอีกแค่ครึ่งชั่วโมงก็จะเที่ยงแล้ว และคาดการว่าเวลาในไม่ช้าคนที่นั่งข้าง ๆ ต้องมีอาการอยากอาหารแน่ ๆ เพราะเมื่อเช้าเราสองคนทานเพียงข้าวต้มกุ้งแค่ถ้วยเดียวก่อนออกมาโรงพยาบาล ฉับพลันคำพูดของคุณหมอสาวก็ลอยแวบขึ้นมาในหัว "ช่วงนี้คุณแม่อาจจะหิวบ่อยนะคะ ถ้าเป็นไปได้ก็อย่าปล่อยให้คุณแม่หิวหรือคุณพ่อจะหาซื้อพวกแครกเกอร์ติดไว้ก็ได้ ถึงมันจะช่วยไม่ได้มาก แต่มันก็ยังช่วยในระดับหนึ่งคุณแม่จะได้ไม่เหวี่ยงวีน ตามอารมณ์ที่แปรปรวนง่าย ๆ " และนี่คือคำพูดที่คุณหมอสาวเอ่ยบอกผมตอบรับคำในทันที ถึงว่าช่วงนี้อารมณ์ของคนตัวเล็กถึงขึ้น ๆ ลง ๆ คงเป็นเพราะฮอร์โมนของคนท้องนี่เอง ผมจึงไม่รอเวลาให้เนิ่นนานรีบหันไปถามคนที่นั่งข้าง ๆ ในทันที "ใกล้จะเที่ยงแล้ว หนู
ช่วงเช้าของวันใหม่ขณะที่สายฟ้าผู้ตื่นก่อนคู่หมั้นสาว ร่างหนาจัดการอาบน้ำแต่งตัวส่วมใส่เสื้อเชิ้ตสีดำกางเกงยีนส์ผ้าหนาสีเข้ม ก่อนจะสาวเท้าไปที่เตียงนอนไปหาคนตัวเล็กที่ยังไม่ตื่นนอน ริมฝีปากหนาประทับจูบลงพ่วงแก้มเนียนใสก่อนที่จะเลื่อนจูบที่หน้าผากขยับลงมาที่จมูกและขยับลงมาจูบกลีบปากบางที่ปิดสนิทขณะม
เวลาล่วงเลยไปนานเท่าไหร่ไม่รู้ ฉันที่เผลอหลับไปเพราะความอ่อนเพลียอยู่บนเตียงคนไข้ ก่อนจะรู้สึกตัวตอนที่พยาบาลสาวเดินเข้ามาถอดสายน้ำเกลือออกจากแขน ในเวลานั้นฉันเห็นคนตัวสูงฟุบหลับข้างตัวฉันโดยมีอุ้มมือใหญ่กอบกุมมือฉันไว้แน่น "พี่สายฟ้าตื่นเถอะคะ พยาบาลมาถอดสายน้ำเกลือให้แล้ว"ฉันยกมือเขย่าร่างหนาเพื
รถยนต์คันหรูสีดำขับมุ่งหน้าเพื่ิอกลับรีสอร์ท ใบหน้าคมแสดงอาการบูดบึ้งตลอดทางขณะคนตัวเล็กก็เข้าใจถึงความรู้สึกของคนตัวสูงดีจึงไม่ได้เอ่ยบอกอะไรให้เสียบรรยากาศเพิ่มขึ้น จนบรรยากาศภายในรถที่เงียบสงบนิ่งเพราะไม่มีแม้คำพูดสักคนที่เอ่ยขึ้นมา ขณะที่ม่านน้ำค่อย ๆ เอื้อมมือไปกุมมือคู่หมั้นหนุ่มที่วางอยู่บน
"พี่ท้าหนูเหรอ ระวังพี่จะขาอ่อนนะ"เสียงหวานเอ่ยบอกพร้อมวาดเท้าขึ้นคร่อมนั่งทับตักแกร่ง ก่อนจะจงใจเบียดเนินเนื้อนางถูไถท่อนเอ็นลำใหญ่อย่างตั้งใจ ขณะสายฟ้าถึงกับใจเต้นถี่แรง ใบหน้าคมยกยิ้มเล็กน้อยไม่คิดว่าคนตัวเล็กจะทำถึงขนาดนี้ ยิ่งเนื้อส่วนนุ่มนิ่มที่มีความเปียกชื้นถูกลูบผิวท่อนเอ็นตั้งแต่ส่วนหัวหย