ログインคืนเดียวเปลี่ยนชีวิต! ก็เพราะอกหักอยากประชดชีวิตแท้ ๆ จ้างผู้ชายมานอนด้วยทั้งที แต่ก็ดันเข้าใจผิด ไปนอนด้วยผิดคน! แล้วจะทำยังไงได้ ในเมื่อฉันกระโจนใส่เขาอย่างเร่าร้อนไปแล้ว! แถมระบบบ้า ๆ นี่ก็มาจากไหนไม่รู้ นี่มันเรื่องบ้าอะไรกัน ไม่ทำตามภารกิจมันก็หักเงินฉัน! จะบ้าตายรายวัน! ฉันไม่ไหวแล้วโว้ยยย….!! เกิดแต่กับกู!!!
もっと見る"Nikah?" teriak Nina spontan.
Ia masih berharap pemanggilan dirinya ke kantor sang bos yang tak lain adalah pamannya adalah berita baik. Nina masih berharap omnya itu akan memberi berita baik tentang kenaikan gaji atau kenaikan pangkat, minimal tugas baru yang tidak terlalu rumit. Namun, justru perintah paling absurd yang didengarnya. Tak pernah terbayangkan olehnya akan dijodohkan mendadak dengan salah seorang Team Leadernya–Nick. Tanpa dasar cinta pastinya. Ia hanya dijadikan umpan untuk menyelamatkan Nick–yang berkebangsaan asing–dari deportasi.
"Ayolah Nin, mana mungkin ada yang menolak dinikahi sama Nick."
Ya, omnya itu memang benar, takkan ada wanita yang menolak Nick. Pria tampan peranakan Malaysia campur Inggris yang memiliki wajah ter-cute di kantor ini. Belum lagi posisinya sebagai pegawai khusus yang diimpor langsung dari luar, sudah mapan pula di usia yang baru akan menginjak kepala tiga. Namun, tentu berbeda dengan Nina. Menurutnya, Nick adalah pria paling dingin dan paling angkuh yang pernah ditemuinya. Menurutnya, Nick berlaku seakan dia paling superior di kantor yang bergerak di bidang telekomunikasi itu. Diantara para kaum hawa yang mengidolakan Nick, Nina bukan salah satunya. Dan sekarang ia disuruh menerima pernikahan kontrak ini? Tentu saja Nina menolaknya mentah-mentah.
"Ya sudah, kenapa gak sama yang lain aja? Kan masih banyak yang single di kantor ini. Ada Puspa, Viny, Sisca, Fani ..."
"Tapi mereka bukan keponakan om." Om Sandy terlihat cemberut dan pura-pura merajuk. Lalu pria berpenampilan klimis itu berbalik kembali duduk di balik mejanya.
Nina hapal betul tabiat omnya itu. Mereka memang sudah akrab sejak dulu. Bahkan profesi Nina sekarang sedikit banyak karena pengaruh omnya itu. Kalau sudah begini, Nina jadi salah tingkah. Menerima juga tak mungkin. Meski telah lama menjomblo, menikah buat Nina terlalu sakral jika harus dijadikan aset bisnis seperti saat ini.
"Ah, tau ah. Nikah kok dijadiin kontrak kerja," cetusnya meninggalkan kantor sang Om.
Om Sandy tak mampu mencegah. Nina sebenarnya merasakan perih di hatinya. Ia tahu, saat ini usianya yang sebentar lagi menginjak angka dua puluh delapan sering membuat keluarganya risih. Hampir setiap pertemuan keluarga masalah tentang kesendiriannya selalu menjadi topik perbincangan. Nina biasanya menganggap itu seloroh, dan ia pun mentertawakannya. Namun, tentu saja hatinya perih.
Bukan karena tak ada yang mendekatinya, hanya saja luka lama di hatinya tertutup lapisan tipis yang basah. Sulit baginya untuk menerima benturan kuat seperti cintanya dulu.
***
"Nin, Mama dan Papa mau bicara," bisik Mama saat Nina mencuci piring selepas makan malam.Nina cuma mengangguk. Hatinya langsung bisa menebak, pastilah Om Sandy sudah membicarakan rencananya pada orang tua Nina. Dan Nina yakin Papanya tak akan setuju dengan rencana Om Sandy. Setidaknya Nina yakin akan ada satu orang yang membelanya–papanya.
"Nina, kamu pasti tahu kenapa Papa dan Mama ingin bicara dengan kamu malam ini?" Papa terlihat serius saat memulai percakapannya.
"Soal Om Sandy ya, Pa?" jawab Nina yakin.
"Benar."
"Tau nih Om Sandy. Dikiranya pernikahan itu main-main apa? Masak seenaknya aja jadiin Nina tumbal perusahaan. Ya ..."
"Kami setuju kok," potong Papa.
"Ha?" Nina bengong, tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan papanya.
Nina menoleh ke arah Mama, memastikan apa yang didengarnya. Wanita berwajah teduh itu ikut mengangguk mengaminkan sambil tersenyum. Matanya pun terlihat berkaca-kaca, seakan mendengar berita yang membuatnya terharu. Hanya Nina yang tak percaya, ia kembali melirik Papa. Namun, sekali lagi pria itu mengulangi kata-katanya tegas. Seakan semua ini adalah perintah, tak dapat ditawar kembali.
"Pa, maksud Papa apa sih? Nick itu orang asing, Pa. Nina cuma dijadiin tumbal supaya dia gak dideportasi."
"Ya, awalnya Papa juga berpikir begitu. Tapi setelah kami bicara dengan Nick dan keluarganya ...."
"Tunggu... tunggu... Kalian udah bicara dan bertemu keluarga Nick? Oke, wait. Apa cuma aku yang gak tahu apa-apa tentang rencana ini?"
Nina kini merasa kesal, bagaimana mungkin ia ternyata orang terakhir yang tahu akan hal ini. Bagaimana mungkin orang tuanya, Nick, dan Om Sandy merencanakan masa depan tanpa sepengetahuan dirinya. Mata Nina mulai basah, pertahanan dirinya mulai runtuh, harga dirinya seakan dicabik-cabik saat ini.
"Ya, jujur saja saat Sandy mengusulkan ini, Papa langsung ingin bertemu dengan Nick. Ya, kita bicara, ngobrol panjang lebar, dan kita berhubungan dengan orang tuanya baru melalui video call aja. Mungkin sabtu ini orang tuanya flight ke sini."
Sekali lagi Nina merasa syock. Ternyata pembicaraan mengenai pernikahannya dengan Nick sudah sampai pada level yang cukup serius.
"Dan aku baru diberi tahu? Oke, siapa lagi, Bia tahu juga?" Mata Nina mulai memanas, ia makin merasa asing berada di tengah keluarganya sendiri.
Mama dan Papa saling berpandangan, mereka hanya bisa terdiam, tak menyangka reaksi Nina akan seperti ini.
"Na, dengar dulu. Mama dan Papa gak mungkin asal aja terima Nick sebagai calon suami kamu. Kami sudah pikirin ini matang-matang. Nick juga sebenarnya ..."
"Oh, kalau begitu aku berterima kasih sekali. Kalian sudah repot-repot merencanakan ini semua tanpa sepengetahuan aku." Pertahanan Nina pecah, air matanya kini tak terbendung hingga mengalir deras membasahi pipinya.
Mama mulai mendekati, berusaha merangkul putri kesayangannya itu. Tak ada niat untuk membuat hati Nina terluka.
"Nina, maafkan kami. Kami gak bermaksud menyakiti kamu. Semua demi kebaikan kamu juga, Sayang."
"Kebaikan Nina? Menikah dengan orang yang gak Nina suka apa itu kebaikan? Apa semua ini cuma untuk menutupi aib karena kalian takut punya anak perawan tua?"
"Cukup! Jadi karena kamu merasa tersakiti berarti kamu berhak membalas menyakiti kami?" Suara Papa kini meninggi, wajahnya memerah.
"Pa..." Mama mencoba menenangkan.
"Sudah, Ma. Padahal niat kita baik, kewajiban kita memilihkan jodoh yang baik buat anak."
"Pa, tenang dulu. Kalau sama-sama keras begini, Mama malah bingung." Wanita itu terduduk, asma kronis yang dideritanya mendadak kambuh.
Seharusnya ini menjadi berita baik buat keluarga ini. Namun, ternyata malah menjadi pemicu keributan dan perdebatan yang tiada habisnya. Mama Nina kemudian roboh, matanya terpejam.
"Mama!" Nina dan Papanya kaget karena mengira sang Mama pingsan. Mereka ikut terisak di samping tubuh wanita itu.
"Duh, kok malah kayak sinetron begini sih kalian. Vertigo Mama kambuh ini," keluh Mama sambil meringis.
"Ya sudah, kita ke rumah sakit aja, ya. Nin, siapin Mamamu! Papa keluarin mobil dulu." Papa langsung bergegas menuju garasi.
"Tunggu bentar, ya, Ma. Nina ambilin kerudung ama tasnya."
"Jangan lupa pensil alis ama lip balm Mama, ya Nin. Tadi abis salat belum sempat ngalis."
"Yaelah, Mama. Udah sakit begitu masih aja mikirin alis," sungut Nina.
Malam itu juga Mama terpaksa dibawa ke rumah sakit.
ตอนที่ 57 เหตุผลที่ทำให้อยากอยู่ต่อไป[ลิลิน]เสียงระเบิดเมื่อครู่ยังคงก้องอยู่ในหัว แม้เวลาจะผ่านมาหลายสิบนาทีแล้วก็ตามฉันนั่งนิ่งอยู่ที่มุมห้องน้ำของชั้นที่ทำงาน มือที่วางอยู่บนตักยังสั่นเล็กน้อยเขารอดแล้ว...ขอบคุณพระเจ้า… ขอบคุณที่ช่วยให้เขารอด…ฉันพยายามสูดลมหายใจเข้าลึก ๆ แต่กลับรู้สึกเหมือนมีบางอย่างอัดแน่นอยู่กลางอก น้ำตาไหลอย่างเงียบ ๆ ลงอาบแก้มโดยที่ฉันไม่รู้ตัว....[ระบบชาย] “ภารกิจพิเศษสำเร็จ เตือนภัยให้เป้าหมายระวังตัวสำเร็จ รับเงินรางวัล 100,000 บาท ยอดเงินคงเหลือ 234,700 บาท”....เสียงระบบชายดังขึ้นมาเหมือนคนมาปรบมือให้ แต่ในวินาทีนี้ฉันไม่รู้จะยิ้มหรือร้องไห้ดี....[ระบบหญิง] “เธอเก่งมากนะสาวน้อย ภารกิจครั้งนี้ไม่เพียงแค่ได้เงินเยอะสุดตั้งแต่เริ่มมา แต่ยังช่วยชีวิตคนด้วย! โอ๊ย ซึ้งจะตาย!”....ระบบหญิงพูดเสียงใส ราวกับนี่คือเกมที่ระบบเป็นดีลเลอร์“แต่นี่มันชีวิตจริงไม่ใช่เกมนะ” ฉันพึมพำเสียงแผ่วความเงียบปกคลุมไปชั่วหนึ่ง ฉันหลับตาแน่น ปล่อยให้น้ำตาไหลต่อไปหัวใจของฉันมันยังเต้นแรงอยู่ทุกครั้งที่นึกถึงภาพนั้น ถ้าเขานั่งอยู่ในรถคันนั้น ถ้าเขาไม่ฟังฉัน…มันจะเกิ
“ระบบหญิง ทำไมอยู่ ๆ ถึงเตือนฉันว่าอันตรายกำลังจะมาถึงล่ะ มีอะไรรึเปล่า?”ฉันเงยหน้าขึ้นจากหน้าจอโน้ตบุ๊กที่กำลังกรอกข้อมูลประชุมอย่างขะมักเขม้น สายตาเบลอเล็กน้อยเพราะนั่งนานเกินไป แต่เสียงแจ้งเตือนของระบบทำให้ฉันตื่นเต็มตาในทันที....[ระบบหญิง] “ภัยอันตรายระดับ 4 กำลังเข้าใกล้บุคคลเป้าหมาย โปรดระวังและหาทางเตือนเขาโดยเร็วที่สุด ถ้าเป็นไปได้ อย่าให้เขาใช้รถคันประจำ”....“หา!? อันตรายอะไรอีก” ฉันแทบจะกระโดดลุกขึ้นยืนทั้งที่เพื่อนร่วมงานยังเต็มห้องฉันคว้าสมาร์ตโฟนแทบจะในทันที มือไม้สั่นไปหมด โทรศัพท์ถูกกดไปยังเบอร์ที่ตอนนี้ฉันจำได้ขึ้นใจเสียงรอสายดังอยู่สองครั้งก่อนจะมีเสียงเรียบนิ่งรับสาย“ว่าไง” น้ำเสียงของเขายังนิ่งเฉยเหมือนเดิม ไม่มีวี่แววว่ากำลังตกอยู่ในอันตรายเลยแม้แต่น้อย“บอสกำลังจะไปที่พบพันธมิตรใช่ไหมคะ? ที่ไหนคะ”“ใช่ มีอะไรเหรอ”“เอ่อ...บอสเอารถคันไหนไปคะ”“ก็คันที่เคยใช้ประจำ”“บอสเปลี่ยนรถคันใหม่ได้ไหมคะ”“ทำไม” เขาถามกลับมาด้วยน้ำเสียงสงสัยเต็มประดา“เอาเถอะค่ะ นะคะฉันขอร้องล่ะ” ฉันพูดอย่างรวดเร็ว ใจเต้นตุบตับเขานิ่งไปครู่หนึ่งก่อนจะเอ่ยขึ้น “อย่าบอกนะว่าเธอไปฟังมา
ในตอนนั้นเอง แผนการในหัวของฉันก็ผุดขึ้นทีละขั้น...หนึ่ง ฉันต้องยืนยันว่า Sable Lines มีเงาดำอยู่เบื้องหลังสอง ดูว่าใครเอาคำนี้เข้ามาใกล้ที่สุดสาม จัดฉากให้ความจริงเดินเข้ามาหาเขาเอง....เช้าวันต่อมา ภาคินกลับมาอีกครั้ง เขาวางแฟ้มเวอร์ชันแก้ไขข้อเสนอลงบนโต๊ะ คุณพรรณราย ผู้จัดการฝ่ายบริหารแวะมาเซ็นผ่านเอกสารบางอย่าง ฉันสังเกตเห็นมือภาคินที่จับโทรศัพท์ นิ้วโป้งเลื่อนไวผิดปกติ ล็อกหน้าจอแทบจะทันทีที่เราเหลือบมองระหว่างพักเบรก ฉันตั้งใจแกล้งทำแฟ้มหล่นหน้าลิฟต์“อุ๊ย!” กระดาษกระจัดกระจาย ภาคินก้มลงช่วยเก็บ“เดี๋ยวผมช่วย”“ขอบคุณค่ะ” ฉันยิ้ม เก็บกระดาษไปพลางดูรองเท้าหนังเขาไปพลาง ส้นรองเท้ามีรอยยางคล้ำนิดนึง คล้ายกับคราบที่พื้นลานท่าเรือ ไม่ใช่คราบทั่ว ๆ ไปที่จะเปื้อนรองเท้าตามปกติ ฉันเก็บก้อนข้อมูลเล็ก ๆ นี้ไว้ในหัวบ่ายนั้น ฉันขออนุญาตคิรินลงไปคลังเอกสารเพื่อไปเอาแฟ้มสัญญาโลจิสติกส์ปีก่อน แต่จริง ๆ แล้วฉันไปหา ฉากที่ต้องการโดยอ้างเรื่องเอกสารบังหน้า ฉันขอให้ฝ่ายไอทีช่วยดึงล็อกการเชื่อมต่อไวไฟสำหรับแขก ซึ่งโชว์ อุปกรณ์ไม่รู้จัก เชื่อมผ่านพร็อกซีชื่อ Sable-r เมื่อวานช่วงกลางดึก อุปกรณ์
[ลิลิน]บ่ายวันศุกร์ เมฆทึบเคลื่อนต่ำกว่าปกติ เงาของมันทอดยาวบนพื้นหินอ่อนหน้าห้องทำงานท่านประธาน ฉันวางแฟ้มที่จัดเรียงด้วยมือสั่นน้อย ๆ เพราะเมื่อคืนยังนอนไม่เต็มอิ่มตั้งแต่เหตุการณ์ที่ฟิลิปโดนทำร้าย ฉันจิบกาแฟดำแก้วที่สอง ขมจนคิ้วขมวด ก่อนเสียงสแกนเนอร์หน้าประตูจะดังติ๊ด พร้อมประตูผลักเข้าเบา ๆ“ไม่ได้เจอกันนานคุณลิลิน”ผู้ชายร่างสูงโปร่งในสูทเทาเข้มก้าวเข้ามาพร้อมรอยยิ้มเนี้ยบ เขาชื่อ “ภาคิน” เพื่อนสนิทของคิริน คนที่ฉันเห็นบ่อยครั้งเวลาเรื่องสำคัญมาก ๆ เท่านั้น“สวัสดีค่ะ คุณภาคิน” ฉันยิ้มตามมารยาท “นัดบอสไว้เหรอคะ”“ระดับผมไม่ต้องนัดก็ได้ บอสคุณอนุญาตอยู่แล้ว”เขาหัวเราะเบา ๆ แบบคนกันเอง แต่แววตาลึก ๆ มีบางอย่างวูบผ่านเร็วมาก ฉันแยกไม่ออกว่าเป็นความกังวลหรือความตื่นเต้นไม่นาน คิรินออกมาจากห้องด้านใน เขาสวมเสื้อเชิ้ตขาวพับแขน ท่าทางเหมือนคนตื่นตั้งแต่ฟ้ายังไม่สาง “สายไปห้านาที”“รถติด” ภาคินยักไหล่ “แต่ฉันเอาของดีมาด้วย”เขาวางแฟ้มสีดำลงบนโต๊ะกาแฟ ฉันขยับถาดเครื่องดื่มให้อัตโนมัติแล้วถอยไปครึ่งก้าว เพื่อเปิดทางให้พวกเขานั่งตรงกัน ชั่วครู่ห้องก็มีเพียงเสียงกระดาษพลิกกับเสียงนาฬิกา
[ลิลิน]ฉันยืนอยู่ตรงหน้าประตู แทบไม่กล้ามองเขาตรง ๆ แต่ก็ต้องเงยหน้าในที่สุด สบเข้ากับดวงตาคมที่ฉันรู้จักดี วันนี้มันไม่ได้เย็นชาเหมือนทุกที แต่กลับเหมือนกำลังกังวล“เธอเงียบทั้งวัน ไม่ออกมากินอะไรเลย เป็นอะไรรึเปล่า” เสียงทุ้มต่ำของเขาดังขึ้น นิ่งแต่เต็มไปด้วยน้ำหนักฉันเม้มปากแน่น ไม่อยากบอกว่าฉ
วันหยุดที่ไม่ได้หยุดทั้งหัวใจและสมองเต็มไปด้วยความคิดฟุ้งซ่านฉันปิดม่านทึบจนแสงเช้าหลุดเข้ามาได้แค่ริ้วเล็ก ๆ ห้องทั้งห้องเงียบสนิทจนได้ยินเสียงนาฬิกาเดินเป็นจังหวะ ตึก…ตัก…ตึก…ตัก จังหวะซ้ำ ๆ ตอกย้ำจังหวะหัวใจของฉันเองที่ดันวิ่งแข่งไม่รู้จักเหนื่อยตั้งแต่เมื่อคืนก่อนหน้าฉันนั่งกอดเข่าอยู่ปลายเ
ฉันนั่งเงียบอยู่ในห้องรับรองของศูนย์แพทย์ ใบหน้าสะท้อนแสงไฟสีขาวหม่นจากเพดาน ความเหนื่อยล้ากับความกลัวตีกันอยู่ในอก ขณะเดียวกันมือถือในกระเป๋าก็สั่นเบา ๆครืด...ฉันหยิบออกมาอย่างงง ๆ จนหน้าจอสว่างขึ้น เป็นข้อความจากเบอร์ที่ไม่รู้จัก“หยุดโครงการใหม่ของอคินธรักษ์ มิฉะนั้น คนของคุณจะไม่มีวันได้กลับบ
ค่ำคืนนี้คฤหาสน์อคินธรักษ์เงียบกว่าทุกคืน ไร้เสียงนกร้องจากสวนสน ดอกมะลิที่ลมพัดจนกลิ่นหอมกรุ่นกลับชวนให้ใจหวิว เพราะอากาศรอบตัวเหมือนหนาแน่นขึ้นทุกนาทีฉันวางแฟ้มเอกสารลงบนโต๊ะกาแฟ ตั้งใจจะชงชาคาโมมายล์ไปให้บอสอย่างที่ทำเป็นปกติเวลาวันหนัก ๆ แต่ยังไม่ทันยกกาน้ำ ก็ได้ยินเสียงรองเท้าหนังหลายคู่กดแรง






レビューもっと