เข้าสู่ระบบ"ครั้งนั้นฉันไม่ถามเหตุผลนาย ครั้งนี้ฉันอยากรู้ ทำไมนายถึงปฏิเสธฉัน" เธออยากรู้เหตุผลที่ทำให้ผู้ชายคนเดียวปฏิเสธเธอถึงสองครั้ง การก้าวข้ามเส้น Friend Zone แค่ครั้งเดียวมันก็แทบจะมองหน้ากันไม่ติด แต่เธอ เหมือนแพร หรือ เบบี๋ เธอก้าวข้ามเส้นที่เขาขีดไว้ถึงสองครั้ง ครั้งนี้เธอควรตัดใจได้สักที แต่พอจะตัดใจทีไร ก็เป็นมันหรือเปล่าที่กลับมาให้ความหวังเธออีกครั้ง หรือเพราะความใจดีของมัน ไตรฉัตร บริรักษ์ไพศาล หรือ ไตร ลูกชายเจ้าของโรงแรมหรู ที่ไม่สนใจธุรกิจของครอบครัว หลังจากเรียนจบก็ทำงานหาประสบการณ์อยู่พักใหญ่ ก่อนจะผันตัวมาเป็นเจ้าของกิจการเปิดบริษัทก่อสร้างเป็นของตัวเอง เพราะความหล่อคมเข้มทำให้เขามีสาวๆ เข้าหาอยู่ตลอด แต่ทุกคนก็เห็นเขาครองตัวเป็นโสดมาจนอายุสามสิบ แม้จะมีแฟนมาไม่น้อย แต่ก็แทบจะไม่เคยคบใครได้ถึงหนึ่งปีด้วยซ้ำ แต่เธอ เพื่อนสนิทในกลุ่มเดียวกันตั้งแต่สมัยมหาวิทยาลัย ไม่มีแม้แต่โอกาสที่จะเดินข้างเขาในฐานะผู้หญิงด้วยซ้ำไป
ดูเพิ่มเติม“Berhenti dan bayar hutang-hutangmu, sialan!"
Teriak rentenir laki-laki yang lebih mirip preman itu nekat mengejarnya dari Tanah air hingga ke London untuk menagih utang pada Tisya Rhani, mantan sekretaris pribadi di salah satu perusahaan besar di Indonesia. Terlilit utang yang bukan utangnya, mendapat fitnah keji yang menuduhnya sebagai sekretaris selangkangan, yang sialnya hal itu membuat karirnya hancur. Ditambah lagi Tisya dirampok di bandara, semuanya lenyap, yang tersisa hanya kalung, dan ponsel keluaran terbaru di saku celana jeansnya saja. “Aku harus bagaimana ini?” Tisya berlari kencang, sesekali menatap ke belakang, berharap jika rentenir bengis itu sudah berhenti, tetapi ternyata dia begitu semangat mengejarnya, membuat napas Tisya semakin terengah-engah, dan ketakutan setengah mati, apalagi melihat pisau tajam yang diacungkan sang rentenir, seketika membuat tubuh Tisya lemas. Tak ingin mati sia-sia, Tisya terus berlari semakin kencang, sampai akhirnya napasnya putus-putus, dan memilih berjongkok di antara mobil mewah yang terparkir rapi. "A–aku belum ingin mati, ya Tuhan ...," ucap Tisya lirih yang napasnya ngos-ngosan. Baru saja merasa lega, tetapi seketika tubuhnya menegang, ketika mendengar teriakan rentenir semakin mendekat. Tubuh Tisya bergetar penuh ketakutan dan semakin menggigit bibir bawah, dengan mata yang kian liar menatap, lalu secepat kilat membuka pintu mobil yang terparkir di depannya dan langsung masuk ke dalam. Namun, betapa terkejutnya Tisya saat mata coklat madunya bertemu tatapan tajam biru samudra dari laki-laki asing yang sepertinya adalah pemilik mobil itu. Dan yang membuat Tisya semakin terperangah adalah, laki-laki itu begitu tampan, dengan bibir pink alami yang terlihat sangat seksi. Belum juga laki-laki tampan ini bersuara, Tisya langsung menyela panik, “T-Tuan, tolong biarkan saya sembunyi di sini. Saya dikejar preman dan nyawa saya di ujung tanduk. Saya mohon ... Tuan.” Namun, Derren, pria pemilik mobil itu, justru menaikkan satu alisnya saat melihat sosok Tisya yang sedang panik. Bibirnya mengulas senyum tipis, sangat tipis hingga hampir tak terlihat. Detik itu juga, tanpa banyak kata, Derren membuka baju mereka, yang membuat Tisya terkejut setengah mati, langsung menutup dadanya yang berbalut bra merah, bahkan tubuhnya refleks mundur hingga membentur kaca mobil, saat Derren semakin mendekat. “T–Tuan …” “Diamlah kalau kamu ingin selamat!” Ancaman tersebut berhasil membuat tubuh Tisya membeku, dan tak berani bergerak barang satu inci pun. Wajah Derren semakin mendekat, hingga bibir keduanya saling bersentuhan. Dan saat itu juga jarinya menekan tombol membuat kaca mobilnya turun. Seketika, rentenir yang sedang berdiri di depan pintu mobil itu membulatkan matanya tak percaya dengan wajah kesal, melihat mereka sedang bercumbu. “Sial, apa-apaan ini?!” gerutu sang rentenir. Derren sedikit memberi jarak antara bibirnya dengan bibir Tisya, lalu melirik ke arah rentenir itu dan berkata, “Kalmu mau mengganggu kesenangan kami?” Rentenir itu mendengus kesal dan pergi dari sana dengan perasaan murka. Tubuh Tisya masih bergetar, disertai perasaan aneh yang mulai menjalar, tetapi ia tidak bisa melakukan apa pun, seolah membeku meskipun tahu bahwa rentenir yang mengejarnya telah pergi. Sejenak dia merasa lega, tetapi segera setelah itu, dia kembali ingat soal dirinya yang hampir telanjang, dan Derren yang masih menekan tubuhnya. “T–Tuan … bisa tolong mundur sedikit?” tanya Tisya dengan sedikit bergetar. Namun, bukannya menjauh, Derren justru bertanya, "Aku sudah membantumu, jadi mana bayaranku?" Pandangan Derren tak lepas dari wajah tegang Tisya. “M–maksud Tuan apa?” tanya Tisya bingung. “Menikahlah denganku,” jawab Derren tanpa keraguan, lalu sedikit menciptakan jarak dengan Tisya. Tisya membelalakkan matanya tak percaya. Apa pria ini gila?! "T–tapi kita tidak saling mengenal, Tuan! Ini mustahil!” tolak Tisya segera. Karena Derren tidak lagi menindih tubuhnya, ia buru-buru merapikan pakaiannya. “Tidak ada yang tidak mungkin,” ujar Derren dengan senyum tipisnya. Tisya semakin membelalakkan matanya, ia menatap Derren tak percaya. “T–Tapi saya seorang janda. Tidak mungkin Anda mau menikahi janda, kan?” kata Tisya akhirnya dengan putus aja. Meskipun status itu ia dapatkan dari pernikahan siri sesaat, tetapi jika itu bisa menyelamatkannya saat ini, tentu tidak masalah. “Itu bukan masalah bagiku,” jawab Derren segera, seolah tanpa beban. "Kalau kamu menolak, aku akan memberikanmu pada orang yang mengejarmu ... bagaimana?" Kedua bola mata Tisya membulat sempurna dan menelan ludahnya susah payah, kepalanya pun menggeleng. Bukankah ini sama saja seperti keluar dari kandang singa, lalu masuk ke kandang buaya? “Jangan … jangan serahkan saya pada mereka,” pinta Tisya semakin panik. Namun, belum sempat ia memutuskan, tiba-tiba sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Tisya. Bagai bom atom, dadanya terasa meledak ketika membaca pesan bahwa neneknya masuk rumah sakit karena mengalami pendarahan di kepalanya, dan harus segera dioperasi dengan biaya 320 juta. Setelah ditipu oleh Donal Beik, mantan pacarnya, yang membawa kabur sebagian penghasilannya ketika menjadi sekretaris pribadi, ditambah lagi pria itu juga meminjam uang pada rentenir atas namanya. Tak cukup sampai di sana, Donal Beik bahkan menyuruh perampok kelas kakap merampoknya sebelum lepas landas, membuat Tisya benar-benar menjadi gelandangan di kota London ini. Air matanya menetes, lalu kepalanya tak sengaja menoleh ke samping, masih terdapat laki-laki tampan yang diam dan menatapnya tajam. Hatinya menggeliat tak mengerti, mengapa laki-laki asing ini melihatnya seperti melihat musuh bebuyutannya saja. Padahal, ini adalah pertemuan pertama mereka. “Bagaimana?” tanya Derren tiba-tiba, yang langsung membuyarkan lamunan Tisya. Dengan sedikit ragu, Tisya menatap Darren. Sebuah pemikiran gila tiba-tiba muncul di kepala Tisya. “Kalau saya menjadi istri Tuan, apa saya akan tinggal dengan Tuan dan boleh meminta uang pada Tuan?” tanya Tisya dengan ragu. Sekarang, katakanlah Tisya tak memiliki urat malu karena sebelumnya menolak dengan keras, tetapi sekarang tiba-tiba berubah pikiran. Karena baginya, nyawa nenek satu-satunya dan hidupnya menjadi taruhannya. Derren mengangkat satu alisnya tinggi, lalu melipat tangan di dada, diam tanpa menjawab pertanyaan Tisya. Membuat jantung Tisya berdebar kencang, gugup dan malu luar biasa. "Ikuti segala aturanku. Maka semuanya bisa kamu dapatkan, Tisya!" kata Derren akhirnya. Namun, satu hal yang membuat tubuh Tisya membeku. Dari mana laki-laki ini tahu identitasnya? Mereka tak saling mengenal satu sama lain. Akan tetapi, kepalanya langsung menggeleng dan tak ingin memikirkan hal yang tak begitu penting untuk saat ini. Dengan jari-jari saling bertaut, Tisya menundukkan wajahnya, lalu berbicara lirih menatap Derren dan berkata dengan yakin, "Kalau begitu saya mau.” Derren tersenyum puas. “Bagus, kita menikah sekarang juga.” Tisya membelalakkan matanya terkejut. “Se–sekarang?” “Kenapa? Mau berubah pikiran?” Derren melirik Tisya sekilas, lalu bersiap untuk menyalakan mesin mobil. Tisya buru-buru menggelengkan kepalanya. Dia butuh uang itu cepat, juga tempat tinggal di negara ini. “Tidak … saya tidak berubah pikiran.” Tanpa menjawab, Derren langsung melajukan mobilnya menuju kantor catatan sipil. Di samping, Tisya sesekali mencuri pandang ke arah Derren. Perasaanya campur aduk, tetapi sepertinya ini memang keputusan terbaik untuk menyelamatkan hidupnya dan nyawa neneknya. Namun, saat itu Tisya menyadari sesuatu. Dia bahkan belum tahu siapa nama pria ini! “T–Tuan, saya belum tahu nama Tuan,” kata Tisya lirih. Setidaknya, Tisya harus tahu nama orang yang akan menikah dengannya, bukan? “Derren Rynegan,” jawab Darren singkat. Derren Rynegan? Tisya merasa tidak asing dengan nama itu. Namun, Tisya memang sama sekali tidak pernah melihat wajah itu sebelumnya. Apa jangan-jangan ....."เออ ไอ้ลูกคนนี้ของคุณไตรภพมันร้ายแฮะ" เสียงคุณสาโรจน์เอ่ยกับภรรยาตอนที่คุณสุพินวางสายจากลูกสาวไปแล้ว และได้รับรู้เรื่องราวที่ลูกสาวคนสวยโทรมารายงาน พร้อมทั้งอวดแหวนเพชรเม็ดใหญ่ให้ป๊ากับแม่ดู "อะไรกัน ยายลิน จะแต่งงานแต่งการไม่มาบอกป๊าก่อนเลยหรือไง" ในคราแรกผู้เป็นพ่อโวยวายเสียงเข้มดุลูกสาวไปทางโทรศัพท์ที่คุณสุพินเปิดวิดีโอคอล "ก็ไม่ใช่ป๊าหรือคะ ที่บอกที่อยู่ให้พี่พัฒน์น่ะ ไม่รู้แหละ ลินรับปากพี่พัฒน์ไปแล้ว" เมื่อโดนลูกสาวสวนกลับมา คุณสุพินได้แต่ยิ้มเยาะผู้เป็นสามี เพราะเกิดจะหวงลูกสาวขึ้นมาตอนนี้ก็คงไม่ทันเสียแล้ว แต่ท้ายที่สุดท่านก็ออกจะภูมิใจความใจเด็ด ใจนักเลง ของลูกชายคุณไตรภพคนนี้อยู่ไม่น้อย ข่าวการแต่งงานของไตรพัฒน์ที่บ้านบริรักษ์ไพศาล ถูกกระจายข่าวจากพี่ชายฝาแฝด คุณประไพรได้แต่ยกมือขึ้นทาบอกตัวเองด้วยความโล่งใจ เพราะความระแคะระคายเรื่องหนูมิลินกับเจ้าพัฒน์ ทำให้ท่านแอบถามไตรคุณแม้จะไม่ได้รู้เรื่องตื้นลึกหนาบาง แต่ก็พอได้กลิ่นตุๆ อยู่บ้าง ตั้งแต่ครั้งที่ไตรคุณขอร้องให้โทรถามเรื่องหนูมิลินจากคุณสุพิน พอรู้เรื่องวันนี้คุณนายของบ้านออกจะโล่งอกไม่น้อย เพราะออกจะเกรงใ
แหวนเพชรเม็ดใหญ่ที่อยู่ก้นถ้วยรวมกับลูกเต๋าอีกสามลูก ดึงดูดสายตาเธอจนเธอแทบไม่รู้ว่าไอ้ลูกเต๋าพวกนั้นมันมีกี่จุดกันแน่ แถมอีกลูกมันยังเอียงเพราะทับวงแหวนสีเงินนั่นไว้ "ว้าวว" เสียงร้องของเจสซี่ กับเสียงของใครอีกหลายคนเริ่มฮือฮา ทำให้เธอหลุดออกจากภวังค์ เห็นเขาเดินออกมาจากเคาน์เตอร์ที่สูงแค่เอว หยิบแหวนเพชรเม็ดใหญ่นั่นออกจากถ้วย เมื่อเดินมาถึงตรงหน้าเธอ เขาก็คุกเข่าลงในท่าที่ไม่ว่าใครมองมาก็รู้ว่าผู้ชายคนนี้กำลังคุกเข่าขอผู้หญิงตรงหน้าแต่งงาน "พี่พัฒน์" เสียงแผ่วเบาคล้ายกระซิบที่เอ่ยเรียก จนเธอไม่แน่ใจว่าเขาจะได้ยินเสียงเบาหวิวของเธอไหม "พี่พัฒน์ ทำอะไรคะ ลุกขึ้นเถอะค่ะ" มธุรินเริ่มได้สติ หันซ้ายหันขวาเมื่อเริ่มเห็นมีคนสนใจหันมามองทางนี้เธอก็รีบบอกให้เขาลุกขึ้น ใบหน้าหวานแดงเถือกกว่าครั้งไหนๆ "Marry me please" น้ำเสียงอ่อนโยนของผู้ชายที่กำลังคุกเข่าอยู่ตรงหน้าเธอ ในท่าที่เขาชูแหวนเพชรขึ้นมาอีกมือก็แบมือไว้รอรับฝ่ามือเล็กข้างซ้ายของเธอ "Say yes" เสียงเชียร์จากเจสซี่ดังขึ้น คนอื่นๆ ที่หันมายืนมองก็พร้อมใจกันส่งเสียเชียร์ จนมธุรินแทบจะทำตัวไม่ถูก เกือบอึดใจกว่าที่เธอจะตอ
ไตรพัฒน์หัวเราะเบาๆ ตอนที่คนตัวเล็กเสียงแหวขึ้นมา เขาจึงกระชับอ้อมกอดแน่นขึ้นอีกนิด จับศีรษะเธอให้ซบที่อกเขาเอาไว้ เขารับรู้เสียงหัวใจของเธอที่เต้นรัว มันคงไม่ต่างอะไรจากเขา "พี่หยอกเล่น ไม่ทำอะไรจริงๆ ถึงจะอยากมากก็เถอะ" พอเขาเอ่ยบอกเธอจึงได้เงยหน้ามอง ดูว่าใบหน้าหล่อนั้นเชื่อได้อีกหรือเปล่า "แต่ขอนอนกอดไว้ได้ไหม" เสียงแผ่วเบาที่เอ่ยบอก ราวกับอ้อนวอนทำเธอใจอ่อน เธอจึงพยักหน้าตอบอยู่ที่อก "พี่คิดว่าจะไม่มีวันได้กอดลินอีกแล้ว" อยู่ๆ เธอก็น้ำตาไหลขึ้นมาเสียดื้อๆ และเขาคงจะรู้จากเสียงสูดน้ำมูกแม้เธอจะแอบทำเบาๆ แล้วก็ตาม เขาจับคางเธอเงยหน้าขึ้น เกลี่ยน้ำตาที่ข้างแก้มให้อย่างอ่อนโยน "ร้องไห้ทำไมคะ" ไร้คำตอบ มีเพียงอ้อมกอดจากเรียวแขนเล็กที่โอบกอดคนตัวใหญ่เอาไว้ แล้วเขาคงจะรับรู้ได้ "ต่อไปนี้น้ำตาของลิน จะไม่ใช่เพราะความเสียใจอีก พี่สัญญา" น้ำตาอีกหยดยังไหลออกมาเขาก็เช็ดออกให้อีกครั้ง "ยกโทษให้พี่ได้หรือยังคะ" "ค่ะ" เธอพยักหน้าให้เขาทั้งน้ำตา "เฮ่อ ปกติซีนแบบนี้พี่ต้องจูบนะ แต่ถ้าจูบตรงนี้มันไม่จบแค่จูบแน่" เสียงเขาถอนหายใจ ก่อนจะเอ่ยอย่างพยายามตัดใจ มธุรินเอ
มธุรินไม่ตอบ ได้แต่เงยหน้ามองเขาแล้วก็ออกแรงผลักอกแกร่งนั้นอีกที ผลก็ยังเหมือนเดิมเขาไม่ขยับไปทางไหน "หิมะก็ตกหนักแล้วด้วย พี่ขับรถกลับอันตรายนะ" เธอหันสายตาไปทางหน้าต่างบานเล็กเห็นหิมะโปรยปรายอย่างเขาว่า สีหน้าลังเลเล็กน้อย "พี่ขอนอนที่นี่เฉยๆ" เขาละคำว่า 'นอนด้วยกัน' ไว้ เพราะรู้ว่าเธอยังกลัว "สาบาน สัญญา อย่างลูกผู้ชายว่าวันนี้พี่จะไม่ทำอะไรลิน" พร้อมกับทำท่ายกมือขึ้นราวกับกำลังสาบานอย่างนั้นแหละ เธอมองหน้าเขาจ้องไปที่ดวงตาคมอย่างชั่งใจ กลัวอุบัติเหตุอย่างเขาว่าก็กลัว แต่เธอก็ยังกลัวเขาด้วย ที่สำคัญเธอกลัวใจตัวเองด้วยเช่นกัน เวลาตลอดครึ่งปีที่ผ่านมา กับแรงกายที่เธอสูญเสียไปมันไม่ช่วยอะไรเลยสักนิด ยิ่งเขากลับมาป้วนเปี้ยนอยู่ใกล้ๆ เธอเช่นนี้ หัวใจที่เคยคิดว่าแห้งแล้งตายด้านไปแล้ว มันกลับยิ่งเต้นแรงกว่าเก่า มือที่ยกขึ้นทำท่าสัญญาสาบานเอาลงแล้วล้วงเข้าไปในกระเป๋ากางเกง หยิบของบางอย่างขึ้นมา เขายอมปล่อยเอวบางที่รั้งมาแนบชิดให้เป็นอิสระ จับมือเธอขึ้นมาแล้วก็ปลดนาฬิกาที่เธอใส่ออก สวมอีกเรือนเข้าไปแทน อีกเรือนที่เขาหยิบมาจากโต๊ะข้างเตียงนอนของเธอ เพราะตอนที่ถูกผลักเข้าห้องนอนอย
เป็นเช้าอีกวันที่อากาศยังเหน็บหนาวหิมะโปรยปรายแม้เพียงเล็กน้อยแต่ก็ทำให้เย็นยะเยือกได้เช่นกัน รถสีดำคันหรูยังมาจอดรอเธอที่เดิมเหมือนเมื่อวาน จะแตกต่างก็วันนี้เขาลงมายืนรอนอกรถ เดินเตร็ดเตร่ไปมาอยู่แถวนั้น เธอไม่ได้แปลกใจที่เห็นเขา แต่แปลกใจที่วันนี้หน้าตาเขาดูแปลกไป ใบหน้าที่เคยหล่อเหลาคมคายกลับ
"แล้วทำไมพวกแกต้องเลือกมาที่นี่ด้วยวะ" มธุรินเอ่ยถามเพื่อนอย่างหงุดหงิดตอนที่มาถึงร้าน Mighty Catle ผับหรูกลางกรุง แล้วก็ผับที่ทำให้เธอเกิดเรื่องราวมากมายที่นี่ เพราะไม่คิดว่าเพื่อนจะเลือกมาที่นี่ เธอโทรถามนังแมร์รี่ก็ตอนที่ขึ้นรถแท็กซี่แล้ว และพวกมันก็ดันมาถึงร้านแล้วด้วยเช่นกัน "อ้าว ก็แ
ไตรพัฒน์ยืนหัวเสียพิงรถคันหรูของตัวเอง ในมือก็ยังคีบบุหรี่ ถ้าเธอไม่รับสายจริงๆ เขาจะทุบรถเธอให้เละเชียวดูสิจะยอมลงมาเจอกันไหม เขาขยี้บุหรี่ลงที่ดับข้างๆ อย่างหงุดหงิด เดินหารถของเธอแถวที่ชอบจอดประจำแต่ก็ไม่เห็น "แฟนคุณลินหรือเปล่าครับ" รปภ.ของคอนโดเดินเข้ามาถาม คงเพราะเห็นเขาเดินวนไปวนมาอย่างน่
มธุรินนอนอยู่ที่โซฟาได้อย่างสบายๆ และบ่อยครั้งที่เธอนอนอยู่ตรงนี้พร้อมกับซีรีส์ที่ยังไม่ได้ปิด เธอตื่นมาตอนตีห้าเห็นว่านาฬิกายังไม่ปลุกจึงนอนต่ออีกนิด แต่เหมือนจะเผลอหลับลึกไปหน่อย จนร่างอรชรที่ถูกยกขึ้นลอยยังไม่รู้สึกตัว ได้กลิ่นหอมอ่อนๆ ของยาสระผม ครีมอาบน้ำกรุ่นอยู่ที่จมูก ความอบอุ่นแผ่ซ่านทั่วร