로그인'ข้าวหอม'ซึ่งโคตรขี้เหร่ ใส่แว่นโคตรหนา ถักผมเปียสองข้าง เชยๆ ไม่สวยอะไรเลย ( ถ้าถอดแว่นหนาๆออกจะเป็นคนที่โคตรน่ารักมากเลย) แต่โชคโคตรดีที่เธอได้สามีที่เป็นถึงหนุ่มฮอตของมหาลัย ซึ่งก็คือ 'ซันเดย์'
더 보기"Paket pelet semar mesem ampuh, gak ya?"
Almira menghela nafas panjang saat duduk menatap dirinya di depan cermin. Ucapan Nyonya Stella terus terngiang di telinga. Rambut panjangnya di gerai, make up tipis hasil tutorial dari youtube berhasil dilakukan. Hanya satu misinya yang belum berhasil, yaitu membuat Ziandra sang suami menyentuhnya. "Kenapa mirip LC sih?" gumamnya saat melihat gaun tidur bahan satin pendek melekat pada tubuhnya. "Nggak apa-apa lah. Mau jadi speak LC, ani-ani, atau sugar baby juga yang penting goda suami sendiri. Bukan godain laki orang. Pokoknya malam ini harus berhasil." Almira melirik ponsel yang ada di atas nakas. Tangannya meraih benda pipih itu dengan wajah penuh harap. Saat menyalakan ponsel, kepalanya langsung tertunduk lesu. "Aku nikah sama manusia apa robot? Masa dari sekian banyak pesan nggak ada satupun yang dibales. Dasar manusia balok es," gerutunya. "Jadi orang kok kayak pohon pisang. Punya jantung tapi nggak punya hati." Almira menghela nafas panjang. Sejujurnya menikahi pria bernama Ziandra seperti sebuah mimpi buruk baginya. Jika bukan karena Nyonya Stella membiayai semua pengobatan nenek Sarmila, mungkin Almira tidak akan pernah ada di kamar yang luas, mewah dan dingin. "Jangan gugup Almira! Rileks, anggap saja lagi ujian mental," gumamnya. Drap! Drap! Suara langkah kaki terdengar mendekat. Bola mata Almira langsung melebar. Ia merapikan rambutnya, memasang senyum terbaiknya. Srek! Pintu kamar terbuka. Sesosok pria tinggi tampan, mata tajam dengan setelan jasnya masuk. Seperti biasa, pandanganya dingin pada Almira. "Selamat datang suamiku," sapa Almira mendekat. Ia menyodorkan tangan pada Ziandra. "Mau apa kamu?" tanyanya dingin. "Kenapa kamu ada di kamarku?" "Salim dong, Bang. Kan suami baru pulang kerja, jadi aku harus salim menyambut kepulangan suamiku," jawab Almira. Ziandra menyodorkan tangan tanpa membalas lagi. Almira langsung salim takzim pada pria yang sudah menjadi suaminya dua minggu. "Apa kamu tidak merasa dingin? Cuaca hujan AC menyala,” kata Ziandra datar. Almira menggulung-gulung rambutnya. "Kenapa, aku seksi ya? Kalau Abang mau aku bisa pakai baju lebih pendek dari ini tiap hari." "Terserah," sahut Ziandra ketus. "Aku mau mandi. Cepat keluar dari kamarku sekarang!" Ziandra melepas jaket kulit dan menaruhnya di atas sofa. Ia melangkah menuju kamar mandi. Seperti biasa, ia tidak pernah menoleh kebelakang jika sudah berjalan. Almira menundukan wajah, tangannya meremas ujung gaun. Ia menatap wajahnya di cermin. Almira sendiri merasa geli melihat penampilannya yang menurutnya terlalu seksi. “Aku juga merasa mau muntah melihat diriku seperti ini. Cantik sih, tapi kayak tante girang kesepian. ” Almira duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Dia mengetik posisi untuk menggoda pria. Bola matanya membaca setiap tips yang diberikan dan memperagakannya. “Ok, saatnya beraksi, ready? Go!” gumam Almira penuh tekad. Dia duduk di atas ranjang dengan menyilangkan kaki. Gaun tidur satin yang di pakainya terangkat mengekspos pahanya yang mulus dan jenjang. Srek! Pintu kamar mandi terbuka. Seorang pria tampan, dengan tubuh tinggi proporsional keluar. Rambutnya yang basah menetesi dadanya yang bidang. Almira menelan ludah. Batinnya menjerit. "Bahu lebar, otot kekar, perut kayak roti sobek. Ah, betapa indah ciptaan Mu!" Mata Ziandra menyipit, wajah dinginnya menatap Almira seperti biasa. “Apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya dingin, eskpresinya datar seolah melihat boneka annabelle. "Hamili aku, Komandan. Masa punya istri cakep begini dianggurin sih? Nanti ada yang naksir nyesel lho!" "Dasar gadis gila. Mau sampai kapan kamu akan berhenti menggangguku? Apa kamu tidak sadar, jika sikapmu begini membuatku mual?" Dada Almira naik turun. Hidungnya kembang kempis mendengar ucapan Ziandra yang selalu menguji kesabarannya. Dia menarik tangan Ziandra hingga terbaring ke atas ranjang. "Mau apa kamu?" tanya Ziandra kaget. "Mau bikin dede bayi sama Abang." Almira memajukan bibirnya. Ziandra menahan wajah Almira dengan telapak tangannya yang lebar. Almira tidak kehilangan akal. Dia mencium telapak tangan Ziandra. Bola mata Ziandra melotot lalu menurunkan tangannya. “Almira. Apa kamu tidak bisa tidak menggangguku sehari saja?” Almira menggeleng. “Nggak bisa. Tuhan memberiku nyawa untuk aku bergerak. Pokoknya aku mau menggoda suamiku sampai menyentuhku.” Ziandra mendesah frustasi. Menikah dengan Almira seperti mimpi buruk baginya. “Bisa-bisanya Mama menyuruhku menikahi gadis aneh ini.” “Aku nggak aneh, Bang. Aku unik,” tegas Almira mengoreksi ucapan Ziandra dengan gelengan kepala. Jarinya menyentuh bibir Ziandra. “Mau sampai kapan kamu akan berhenti mengganggu saya? Apa kamu tidak sadar, sikapmu begini membuatku mual?” Dada Almira naik turun mendengarnya. Daripada menangis, amarahnya yang meledak. Dia menarik tangan Ziandra, dengan kekuatan yang mengejutkan untuk tubuh mungilnya hingga komandan yang biasanya sangat berwibawa itu terjatuh terkejut di atas ranjang. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Ziandra, kaget bukan main. Almira menarik napas dalam-dalam, lalu naik ke atas tubuh Ziandra yang kekar berotot. Ia mengumumkan dengan suara lantang yang lebih cocok untuk deklarasi perang daripada adegan mesra. "Kan aku bilang, mau bikin dede bayi sama Komandan!” Suasana mendadak hening. Hanya detak jam dinding yang terdengar. Wajah Ziandra terlihat campuran antara syok, tidak percaya. Almira baru tersadar pada apa yang baru saja diucapkannya. Pipinya memerah membara. “Ya ampun, malu banget sebenernya, tapi demi nenek, aku harus muka tembok!" batinnya berteriak. Ziandra terdiam sejenak, lalu mendorong Almira hingga terbaring. "Begitu ya?" ucap Ziandra akhirnya. Dia bangkit, merapikan piyamanya yang sudah agak kusut. "Aku sudah bilang tidak mau menyentuhmu. Aku menikahimu karena mama yang memaksa. Aku akan menyentuhmu jika aku mau, tapi sayangnya aku tidak ingin melakukan kannya. " Almira terdiam. Ucapan Ziandra kembali menghantam dadanya seperti pedang. Dadanya bergemuruh, bola matanya memanas. Tapi Almira tidak boleh terlihat lemah. Tidak mendapat jawaban, Ziandra mendengus sinis. “Sepertinya kamu gadis yang punya prinsip teguh. Tapi terserah yang jelas sudah aku bilang sejak awal. Aku tidak menyukaimu.” Ziandra membuka pintu lalu melangkah keluar. Seperti biasa dia pergi ke ruang kerja yang ada di ujung lorong. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya. “Buatkan aku kopi dan bawa ke ruang kerja!” Pintu kamar tertutup. Almira tertelungkup di atas kasur, wajahnya merendam pada bantal. “Ok, masih belum berhasil. Tapi masih banyak waktu,” pikirnya. "Ini baru misi pertama. Siapa tahu besok, aku bisa coba rayuan yang tidak membuatku merasa ingin pindah planet.” Almira mengelus perutnya yang keroncongan. “Lapar, makan mie instan kuah kayaknya enak,” gumamnya seraya beranjak dari tempat tidur. Ia mengganti gaun tidurnya dengan setelan piyama. Mengikat asal rambutan yang panjang dan berwarna hitam. Ia melirik ke kiri dan kanan ruangan itu terasa sepi. “Ini kopi pesanan Anda,” ucap seorang pria mengusik indra pendengaran Almira. Kepalanya spontan menoleh ke arah pintu ruang kerja Ziandra yang terbuka. “Kamu boleh pergi!” kata Ziandra pada Dave, asisten sekaligus supir pribadinya. “Saya permisi,” pamit Dave. Kakinya tidak sengaja tersandung kaki kursi. “Awas!” Ziandra spontan menarik Dave. “Pak Komandan!" Ziandra dan Dave menoleh ke arah pintu bersamaan. Posisi tangan Ziandra memegang pinggang Dave. “Pantas saja dia menolakku. Ternyata dia belok. Silahkan dilanjutkan. Maaf mengganggu.” "Almira ini tidak—"ตอนพิเศษ ครอบครัว ณ บ้านซันเดย์ “อุแว๊ๆ อุแว๊ๆ” เสียงเด็กดังขึ้นอีกครั้งในรอบหนึ่งปีที่ผ่านมา...เป็นเด็กทารกเพศหญิงชื่อว่า “ใบข้าว” ลูกสาวคนสุดท้องของซันเดย์หลังจากตอนนั้นคุณพ่อสุดหล่อได้หมายมั่นเอาไว้ว่าจะมีน้องให้ลูกชายฝาแฝดของเขาในที่สุดเขาก็ทำมันได้สำเร็จ “ไอ้ซันกูว่ามึงเบาๆ หน่อยก็ได้มีลูกท
“ลูกมึงร้องทำไมวะ” “คงหิวแล้วแหล่ะส่วนผมมึงเห็นหน้าหลานก็กับกันไปได้แล้วกวนเวลาการพักผ่อนเมียกู” ผมบอกพวกมัน “เออพวกกูอยู่เล่นกับหลานแป๊บนึงเดี๋ยวก็จะกลับแล้วเนี้ย” “ไอ้ซันพวกกูดีใจกับมึงด้วยจริงๆ นะเว้ยที่ได้มีครอบครัวที่อบอุ้นแบบนี้...” “เออกูรู้เดี๋ยวสักวันพวกมึงก็มีเหมือนกู” “ของกูคงอีกนาน.
ตอนพิเศษวันคลอด ณ โรงพยาบาลแห่งหนึ่ง เก้าเดือนต่อมา อุ๊แว๊ๆ อุ๊แว๊ๆ อุ๊แว๊ๆ อุ๊แว๊ๆ เสียงเด็กทารกเพศชายร้องดังขึ้นทำให้ผู้เป็นพ่อดีใจจนน้ำตาลที่กั้นมันเอาไว้ไหลออกมาด้วยความดีใจเขามองไปที่ภรรยาด้วยสายตาที่สื่อความหมายด้วยความรักและห่วงใยแล้วมองไปยังเด็กทารกเพศชายทั้งสองคน.... “ยินดีด้วยนะครับคุ
“จ้าพ่อกับแม่ก็รักลูกกับหลายยายมากๆเลย” แม่บอกฉันพร้อมกับยื่นมือมาลูบที่หน้าท้องของฉันเบาๆ “ตาด้วยตาก็รักลูกกับหลานมากเหมือนกัน” พ่อบอกฉันพร้อมกับลูบหน้าท้องฉันเบาๆ ทางด้านเจ้าบ่าว ซันเดย์ที่อยู่ในชุดสูทสีขาวสะอาดตอนนี้กำลังอยู่ในขั้นตอนการผ่านประตูเงินประตูทองตามธรรมเนียมไทยโดยมีคนที่อยู่หน้าประ
" นี้!! ...ถ้าพี่ยังไม่หันหน้ามาคุยกับน้องข้าว...น้องข้าวจะ..เอ่อ...จะไม่ให้'ตั้ม'นะ!! " อืมมม ไม่ให้หรอ...วันนี้ยังไงก็ไม่น่ารอดนะ หึๆ ๆ " →_→ -_- " ผมทำเป็นเฉยแต่น้องชายผมนี้สิอยากจะเข้าไปอย่างเดียวเลย...อดทนไว้ซันน้อย " นี่ๆ ...ไม่อยากตั้มเค้าหรอ" "  ̄ˍ ̄ →_→ " " เอ่อ...ถ้ายังเงียบแบบนี้อยู่น่ะ
ตอนพิเศษ1 คอนโด (เวล) 10 : 10 น. ตอนนี้ผมโคตรมีความสุขเลยยิ่งคิดถึงเรื่องเมื่อคืนแล้วมันยิ่งมีความสุข แล้วทำไมวันนี้ผมต้องมานั่งทำโปรเจคกับพวกไอ้เวลด้วยเนี้ยจะดูแลลูกเมียไม่ได้เลยหรือไงวะ " เฮ้ย! ว่าไงไอ้คุณชายยิ้มน้อยยิ้มใหญ่เลย...มีเรื่องอะไรให้ยินดีวะ! น้องข้าวดีด้วยแล้วรึไงห๊ะ! " เสียงของเจ
“อ๊าาาห์...ทะ...ที่รักเค้าไม่ไหวแล้วเอาจริงแล้วนะ” พูดจบไม่ฟังคำตอบของร่างบ้างสะโพกหนาก็ตอกอัดเข้ากลางใจสวยอย่างรวดเร็วย้ำๆ “อะ...อะ...อ๊าห์...สะ...เสียวจัง” ข้าวหอมพูดพร้อมกับยกมือทั้งสองข้างคล้องคอซันเดย์ไว้แน่น “อื้มมห์..ทะ...ที่รักทำแบบนี้เค้าจะเสร็จเอานะ...” ซันเดย์พูดพร้อมกับมองไปที่ข้าวหอมท
ตอนพิเศษวันแต่งงาน!! "จะเอาชุดนี้แล้ว! " "ไม่เอา...เลือกใหม่มันสั้นไป!" และนี้คือเสียงที่ฉันได้ยินมาตลอดหนึ่งชั่วโมงที่เลือกชุดแต่งงานกันจากรูปภาพที่ร้านส่งมาให้เลือก...และเสียงนี้ไม่ใช่เสียงใครที่ไหนเสียงนายซันเดย์ยังไงละ "งั้นเอาชุดนี้! " ฉันชี้ไปที่อีกชุดที่อยู่ใกล้ๆด้วยความหงุดหงิด " อืมมมม!