Waktumu nggak banyak lagi. Gunakanlah sisa waktu ini untuk berpamitan dengan baik ke keluargamu."
Suara dokter spesialis itu terdengar lembut, terselip rasa iba di dalamnya, tetapi bagiku, kata-kata itu seperti batu raksasa yang menghantam dadaku.
Meski aku sudah lama menduga hasilnya, tetap saja, saat vonis mati itu dijatuhkan, mataku tak kuasa menahan panas yang menggenang.
Aku baru 28 tahun. Demi bisa bertahan hidup, aku selalu berjuang sekuat tenaga.
Akan tetapi, tak kusangka, jantung donor yang begitu sulit kudapatkan setelah menunggu lama, justru direbut oleh istriku sendiri.
Dia memberikannya kepada Julio, si tuan muda palsu yang sebenarnya hanya menderita sedikit gangguan irama jantung prematur.
Dengan langkah gontai, aku berjalan menuju kamar rawat Julio. Di sana, kulihat kedua orang tuaku, istriku, Wanda Irsan, dan putriku, Tiara Didin, semuanya berkumpul mengelilinginya dengan penuh perhatian.
Melihatku masuk, Wanda yang sedang menyuapi Julio minum segera meletakkan gelasnya. Dia menghampiriku dan bertanya, "Apa kata dokter?"
Aku menatapnya. Dia langsung membuang muka dengan perasaan bersalah, lalu menjelaskan dengan terbata-bata, "Keadaannya sangat mendesak saat itu. Kalau Julio nggak segera menjalani transplantasi jantung, dia akan mati karena kesakitan."
Ibu menimpali dengan cepat, "Wanda benar. Farhan, ini soal nyawa. Kamu nggak mungkin sepicik itu sampai harus marah pada kami karena hal ini, 'kan?"
Kata-kata yang hampir terucap di bibirku tertahan sejenak, lalu aku menjawab dengan datar, "Aku nggak marah. Dokter bilang, seminggu lagi akan ada kabar baik."
Aku berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Kabar baik untuk kita semua."
Mata indah Wanda seketika berbinar gembira. "Sudah ada donor jantung yang cocok secepat ini? Aku tahu, keputusanku hari itu memang benar."
Ayah juga menghela napas lega dan berkata sambil tersenyum, "Julio kita ini memang pembawa keberuntungan. Kalau bukan karena kamu memberikan donor itu untuknya, dia pasti nggak akan bisa bertahan sampai minggu depan."
Ibu mengangguk berulang kali, mengusap rambut Julio dengan lembut, lalu berujar, "Keberuntungan Julio nggak akan berhenti sampai di sini saja."
"Nggak seperti seseorang, yang jelas-jelas bisa menunggu donor berikutnya, tapi malah harus membuat keributan besar sampai membuat keluarga kita kehilangan muka."
Meski aku sudah mati rasa terhadap mereka, pada saat ini, jantungku tetap terasa sakit tertusuk.
Aku mengepalkan tinjuku erat-erat, bahkan menggertakkan gigi untuk menahan diri, agar air mata yang hampir tumpah ini bisa reda.
Wanda menatapku dengan lembut, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu dingin hingga membuatku menggigil. "Hari itu kamu memang terlalu impulsif. Menurutku, kamu harus meminta maaf pada Julio."
Aku menatapnya dengan rasa tidak percaya.
Julio telah merampas jantungku dan sekarang Wanda bahkan menyuruhku meminta maaf padanya?
Ibu menimpali, "Benar. Lagi pula, kalau bukan karena kamu merundung Julio hari itu, dia nggak akan mengalami serangan jantung."
"Kamu seharusnya bersyukur dia sekarang bisa berbaring di sini dengan selamat. Kalau nggak, seumur hidup aku nggak akan sudi mengakuimu sebagai anakku."
Aku teringat hari itu, saat Julio berdiri di hadapanku dengan angkuh, memamerkan bekas-bekas merah di lehernya, menyombongkan betapa gairahnya Wanda saat bercinta dengannya.
Aku tidak tahan dan melayangkan satu pukulan padanya, tetapi sialnya, mereka justru memergokiku.
Saat itu, Wanda dengan penuh amarah menerjang maju dan mendorongku hingga menjauh.
Aku terdorong hingga jatuh tersungkur. Di tengah pandangan yang berputar hebat, Ibu menerjang maju dan mulai memukuliku.
Ayah hanya berdiri tak jauh dari sana dengan tatapan dingin, seolah dia pun merasa aku memang pantas diberi pelajaran.
Seketika itu juga, penyakit jantungku kambuh. Aku terengah-engah, nyaris tidak bisa menghirup udara.
Ibu baru saja akan bertanya dengan cemas apa yang terjadi padaku, tetapi tiba-tiba Julio juga memegangi dadanya dan merintih kesakitan.
Tanpa ragu, Ibu langsung mencampakkanku dan berlari ke arahnya.
Semua orang menganggap aku hanya berpura-pura, sementara dia benar-benar kesakitan.
Mengingat hal itu, aku menarik sudut bibirku dengan pahit dan berujar datar, "Maaf, ini salahku."
Tak ada yang menyangka aku akan meminta maaf dengan begitu penurut.
Wanda menatapku dengan sorot mata penuh selidik, sebuah benih kegelisahan mulai tumbuh di dalam hatinya.
Julio juga mengernyitkan dahi, menampakkan ekspresi wajah seolah berkata, "Wah, hebat sekali aktingmu."
Ayah dan Ibu bahkan menatapku dengan waspada, seakan takut aku akan membuat keributan lagi.
Hanya putriku, Tiara, yang berlari ke pelukanku dan berkata, "Ayah, syukurlah kalau Ayah akhirnya mau mengaku salah."
"Mulai sekarang, Ayah jangan nakal lagi pada Paman, ya? Kalau nggak, aku juga nggak akan sayang lagi pada Ayah, sama seperti Kakek dan Nenek."
Aku menunduk menatapnya. Dinginnya sikap orang tua dan istriku, kesalahpahaman mereka, hingga pilih kasih mereka, semuanya masih bisa kutahan.
Hanya dia, anak yang kubesarkan dengan tanganku sendiri, anak yang telah kucurahkan seluruh kasih sayangku, tetapi ternyata dia pun lebih memihak kepada Julio. Inilah luka yang paling tak sanggup kutanggung.
Namun, aku sudah terlalu lelah untuk terus berjuang memperebutkan hatinya.
Aku mengusap wajahnya dengan lembut, lalu berkata sambil tersenyum, "Ayah akan menuruti semua perkataanmu."
Barulah Ibu mengangguk puas dan berkata, "Eh, sepertinya, kamu akhirnya benar-benar sudah belajar untuk jadi penurut, Farhan."
Wanda pun menghela napas lega sepenuhnya, seraya berujar, "Suamiku akhirnya sudah dewasa dan mengerti keadaan."
Melihat aktingnya yang seolah-olah memanjakanku itu, aku hanya merasa mual di sekujur dadaku.
Tepat pada saat itu, Julio tiba-tiba mengerang, "Sakit sekali." Wanda, seketika itu juga langsung berlari ke arahnya.
Putriku yang baru saja memelukku pun melepaskan tangannya dan berlari ke sana, sambil berseru, "Paman, bagian mana yang sakit? Biar Tiara tiup, ya?"
Ayah dan Ibu bahkan sampai berkaca-kaca karena merasa sangat iba.
Saat ini, aku yang berdiri di kejauhan tampak seperti seorang badut.
Aku tidak tahan lagi dengan atmosfer seperti ini. Dengan alasan lelah, aku berbalik dan meninggalkan kamar rawat itu.