Share

Rapikan yang Benar!

Arsen lupa bahwa wajah mirip tidak selamanya menjadikan sifat seseorang juga sama. Hal itu terbukti pada Aileen.

Dari sisi manapun, hanya wajah perempuan itu yang mirip dengan mantan kekasihnya. Tapi sifat keduanya ... jauh berbeda.

Lagipula, perempuan kalem nan elegan mana yang akan makan sambil bersila di atas kursi? Apalagi dengan porsi sebanyak itu.

Oh ayolah! Porsi makan Aileen bahkan tiga kali lipat lebih banyak darinya. 

"Kau lapar atau memang porsi makanmu selalu sebanyak itu?" tanya Arsen dengan nada mencela.

Aileen menoleh sambil menyuapkan sesendok nasi beserta lauk ke mulutnya. "Enggak tau, Tuan. Biasanya aku juga enggak makan sebanyak ini," jawab Aileen jujur yang ditanggapi Arsen dengan anggukan seadanya.

Mungkin efek obat yang diberikan Ayres. Atau mungkin ... efek karena perempuan itu terlalu lelah karena dipaksa tidak tidur semalaman oleh Arsen.

Tidak perlu ditanya mereka melakukan apa. 

"Kau ... sudah baik-baik saja, kan?" tanya Arsen memastikan. Agak ragu karena takut jika Aileen bakal kege'eran ditanyai begitu.

Aileen menoleh sejenak sebelum kemudian mengangguk lagi. Tangannya mencomot buah sambil merangkak ke atas meja yang lebar begitu selesai makan. 

Meja yang terlalu lebar juga lengannya yang pendek membuat Aileen akhirnya melakukan itu. Arsen hanya bisa memandangi sambil melongo tidak percaya.

Tidak jaga image sekali!

"Tuan, di dekat rumahku juga ada kebun apel loh. Di bagian Sembalun. Di sana, Tuan bisa petik apel sepuasnya dan makan langsung di tempat kalau udah bayar tiket masuk. Mau dimakan semua juga enggak papa, yang penting enggak dibawa pulang. Soalnya---"

"Siapa?" tanya Arsen memotong ocehan tidak penting perempuan itu.

"Ya ak---"

Terpotong lagi.

"Yang nanya!" sarkas Arsen membuat Aileen seketika terbungkam.

Perempuan itu kali ini memilih duduk anteng sambil memakan apel merah di tangan. Melihat wajah murung Aileen, di dalam hati, Arsen menggeram marah.

Kenapa perempuan ini harus mirip sekali dengan Amanda?! 

"Jika sudah selesai, kau bisa bersihkan meja makan dan cuci piring. Kau tentu tidak berpikir untuk hanya bersantai-santai saja di sini, kan?" titah sekaligus tanya Arsen yang diangguki Aileen.

"Meski nyuci piring itu hal yang paling nggak aku sukai, aku pasti bakal nyuci kok, Tuan. Tenang aja." Perempuan itu menjawab diselingi curhat.

Arsen tidak berniat peduli. Pria itu kemudian bangkit berdiri dan segera mengancingkan jas kerjanya yang tadi sengaja ia biarkan tebruka agar leluasa duduk.

"Ambilkan tasku!" suruh Arsen begitu melihat Aileen sudah mulai menyusun piring kotor menjadi satu.

Aileen mengangguk patuh kemudian segera berlari ke kamar mereka. Beberapa saat kemudian, perempuan itu berlari ke arah Arsen lagi tanpa membawa apa-apa.

"Mana tasku?!" tanya Arsen jengkel begitu mendapati wajah planga-plongo tidak jelas istrinya.

"Aku enggak tau tasnya dimana, Tuan. Tuan taruh dimana emang?" tanya perempuan itu dengan bodohnya membuat Arsen menghadiahkan sebuah sentilan di dahi Aileen.

Perempuan itu meringis kemudian mengusap-usap dahinya yang terasa sakit akibat ulah Arsen. Matanya memandang Arsen protes tapi tidak benar-benar berani protes.

"Tasnya ada di dalam lemari kaca dekat nakas. Carilah yang benar sebelum aku mencarikanmu kacamata supaya kau dapat melihat dengan benar!" peringat Arsen yang langsung diangguki Aileen mengerti.

Perempuan itu berlari ke kamar lagi. Arsen menghela napas berat. Tidak mengerti dengan Aileen yang hobi sekali berlari-lari seolah sedang dikejar anjing.

"Ini, Tuan." Aileen menyerahkan tas kerja Arsen sekembalinya dari kamar dengan napas terengah-engah.

Arsen menerima sambil kemudian mendaratkan sebuah usapan di puncak kepala istrinya.

"Terimakasih," ucap Arsen singkat yang sialnya berhasil membuat Aileen gugup mendadak.

Untuk menyamarkan kegugupannya, perempuan itu kemudian beralih pada piring kotor di atas meja lagi. Arsen berlalu hendak pergi ke kantor untuk bekerja.

Tapi, begitu teringat sesuatu, Aileen segera mengejar pria itu.

"Tuan!" cegat Aileen kemudian berlari mendekat.

"Ap---"

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, tangan kanan Arsen sudah lebih dulu diraih Aileen kemudian dicium perempuan itu. 

"Kata Ayah, harus cium tangan suami dulu kalau suami mau bepergian atau kita yang mau pergi." Perempuan itu mengungkapkan ajaran yang diberikan Ayahnya.

"Selamat bekerja, Tuan Sakya!" ucap Aileen dibarengi senyuman manis sebelum kemudian berlari ke meja makan lagi. 

"Rapikan yang benar!" titah Arsen tiba-tiba yang rupanya masih mematung di tempatnya.

"Sudah, Tuan." Aileen menjawab begitu selesai menyusun piring kotor juga mengelap meja makan.

"Belum!" sanggah Arsen tegas.

Aileen mengernyit bingung sambil memperhatikan sekeliling meja makan.

"Memangnya ... yang berantakan apa lagi, Tuan?" tanya perempuan itu tidak mengerti.

"Hatiku!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status