GAGAL MENIKAH KARENA ORANG KETIGA

GAGAL MENIKAH KARENA ORANG KETIGA

Oleh:  Bintu Hasan  Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Belum ada penilaian
100Bab
46.9KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Luka yang dirasakan Yumna bermula ketika calon suaminya yang bernama Ilham memutuskan lamaran melalui pesan aksara yang dikirim. Bukan hanya Yumna, bahkan keluarganya merasakan sakit yang luar biasa. Waktu terus bergulir, banyak hal yang membuat Yumna terkejut, baik tentang alasan Ilham memutus sepihak lamarannya dahulu atau kisah delapan tahun lalu. Apakah itu? Baca sampai akhir, ya! . Baca juga cerita lainnya: 1. Maduku Sayang 2. Perempuan Masa Lalu 3. Bekerja Sebagai Istri Simpanan 4. Menguak Kebohongan Suamiku 5. Pernikahan Yang Tidak Kuimpikan 6. Kuikhlaskan Suami Menikah Lagi

Lihat lebih banyak
GAGAL MENIKAH KARENA ORANG KETIGA Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
100 Bab
Bab 1
Ilham : Maaf, lamarannya aku batalkan karena alasan pribadi. Aku tercengang melihat pesan yang dikirim Mas Ilham via Whats*pp. Pasalnya dia datang ke rumah melamar dua minggu lalu, tetapi sekarang malah memutuskan sepihak bahkan dengan cara tidak hormat. Bukan aku ingin dihargai, tetapi hubungan yang melibatkan keluarga itu jika ingin diakhiri seharusnya dilakukan dengan baik. Tidak usah memikirkan perasaanku, cukup orang tua dan keluarga lainnya. Pesan singkat itu teramat melukai hati hingga aku kesulitan mengambil napas. "Ada apa, Yum?" tanya ibu memecah lamunan. Ponsel yang ada dalam genggaman jatuh ke lantai tanpa mampu aku cegah. "M-mas Ilham, Bu." Aku menatap kedua mata ibu yang sayu. "Kenapa dengan Ilham?" Tanpa mampu menjawab, aku langsung menghamburkan diri dalam pelukan ibu berharap semua ini hanya mimpi. Selama ini tidak ada praduga akan dilukai calon suami yang kelihatannya taat pada agama dan Tuhannya. Air mata merembes begitu cepat bahkan bahu mulai terguncang. Aku
Baca selengkapnya
Bab 2
"Maksudnya apa, ya, Bu?" "Maaf sekali karena lamaran Yumna dibatalkan sepihak oleh Ilham, Bu. Kami sebagai orangtua tidak tahu akan seperti ini bahkan sangat malu pada keluarga Yumna. Keputusan ini ditentukan Ilham seorang diri dan–" "Cukup! Tolong jangan dilanjutkan lagi, Bu." Mata ibu sudah basah oleh air mata. Ponsel itu diletakkan perlahan tanpa memutus sambungan telepon. Ibu menatap penuh luka. Aku sampai menunduk karena sesak melihat pemandangan ini. "Alasannya apa, Yum?!" tanya ibu menggoyangkan bahuku. Air mata semakin mengalir deras. Aku terlalu takut untuk mengangkat wajah. Lagi pula tidak tahu harus menjawab apa ke ibu karena Mas Ilham memberi alasan yang tidak masuk akal. Lelaki itu terlalu pecundang. Dia datang dengan sekoper janji manis yang tidak ada keinginan mewujudkan. Seharusnya tidak seperti ini karena hanya melukaiku. Ini tidak adil, bahkan bisa jadi Mas Ilham sedang bercanda ria dengan teman-temannya. Entah bagaimana marahnya ayah apalagi kemarin aku memutusk
Baca selengkapnya
Bab 3
Ayah langsung duduk di samping Mas Dika. Wajah lelahnya masih terlihat jelas, peluh membasahi tubuh lelaki yang sangat mencintaiku itu. Untuk menghindari amarah, ibu meminta ayah mandi lebih dulu untuk melepas penat. Aku bernapas lega ketika ayah tersenyum, lalu melangkah ke kamar mandi. Sekarang harus mencari tahu cara menyampaikan berita ini ke ayah. Lelaki paruh baya yang menjadi pahlawan untuk istri dan anaknya itu pasti sangat terluka ketika anak gadis satu-satunya harus ditinggal lelaki yang telah melamar dua minggu lalu. "Telepon Ilham!" titah Mas Dika membuatku membelalakkan mata. "T-tapi, Mas?" Mas Ilham mengembus napas kasar. "Telepon atau mas datangi langsung!" geramnya. Ibu memegang tanganku dengan tatapan seakan meminta segera menelepon Mas Ilham. Aku takut Mas Dika melakukan kekerasan karena mereka seumuran, yaitu tiga tahun di atasku. Dengan ragu aku merogoh ponsel dan menelepon lelaki yang saat ini masih bersemayam dalam hati. Panggilan ke tiga baru diangkat. Tan
Baca selengkapnya
Bab 4
Gemericik hujan membasahi bumi. Aku yakin langit sedang berduka atas seorang perempuan yang ditinggal setelah diberi harapan. Tentang seorang perempuan yang melambungkan harapan dan mimpi terlalu tinggi sehingga ketika jatuh teramat sakit. Pun karena seorang perempuan yang harus menjahit lukanya seorang diri. Perempuan itu adalah aku. Luka sebenarnya sudah sering aku rasakan, tetapi ini berbeda. Aku bisa saja tersenyum walau perih, tetapi ayah dan ibu sampai menangis setelah kepergian Mas Ilham dua hari yang lalu. Lelaki itu sungguh tidak memikirkan berapa banyak hati yang terluka karena sikapnya. "Bagaimana kalau kamu kejar beasiswa buat ke Mesir, Yum?" tanya Mas Dika ketika mendapatiku memeluk lutut di sudut kamar. Aku mengembus napas kasar. "Gak bisa, Mas. Aku gak ada sesuatu yang bisa diandalkan buat ke sana. Ngejar beasiswa itu tidak mudah." "Tidak usah disembunyikan, Yum. Mas tahu kamu sudah hafal 27 juz al-qur'an dan bisa baca kitab. Itu aktivitas rutin kamu setiap pulang ku
Baca selengkapnya
Bab 5
Muhammad Ilham Thalib. Seorang lelaki yang senyumnya mampu menciptakan debaran dalam dada. Dia lelaki kedua yang singgah di hati setelah Qabil yang merupakan putra tunggal Kyai Sholeh, pengasuh salah satu pondok pesantren salafy di kampungku. Aku mengenal Mas Ilham dari teman kuliah yang merupakan saudara sepersusuannya—Aisyah. Dia bilang Mas Ilham sedang mencari teman hidup dan ingin melakukan ta'aruf dengan perempuan mana saja yang siap menikah. Kala itu aku tidak begitu tertarik karena tahu kalau Mas Ilham selain tampan juga mapan. Akan tetapi, Aisyah terus meyakinkanku bahwa jodoh itu harus diusahakan bukan hanya dinanti tanpa usaha. Dalam masalah ini aku sama sekali tidak menyalahkan Aisyah karena memang bukan inginnya sehingga lamaran ini batal. Bahkan ada kemungkinan dia tidak tahu karena perempuan itu sudah berangkat ke Mesir bulan desember kemarin. "Sudah minta Ilham ke sini?" tanya Mas Dika menepuk pundakku yang sedang memandang ke luar jendela. "Belum, Mas. Masih trauma
Baca selengkapnya
Bab 6
Aku sudah tidak tahan sehingga terpaksa melakukan ini. Kalau ayah marah, itu urusan belakang. Tangan kananku mengibas tirai dengan kasar, lalu duduk di kursi yang tidak jauh dari mereka. Semua mata tertuju padaku, tidak terkecuali Mas Ilham yang sok berilmu itu. "Apa kedudukanmu sampai lupa menjaga adab kepada yang lebih tua, Mas? Jangan gede rasa karena kami minta keluargamu ke sini. Kami tidak berharap lebih, tetapi ingin klarifikasi dari kalian. Jika kamu tidak mau, bukankah ada orangtua yang seharusnya mengawal anak sejak awal?" Aku berucap tegas. "Begini, Yumna. Kami minta maaf atas nama Ilham." Abinya Ilham sudah mulai membuka suara. "Maaf, Pak. Kalau mau minta maaf itu harus Mas Ilham sendiri yang melakukannya. Lagi pula aku juga sudah tahu tentang Nurul Hafizah. Kami yang bukan dari keluarga terpandang bukan berarti bisa diperlakukan seenak jidat." Mas Ilham diam, terlihat tidak ada keinginan untuk meminta maaf. Beruntung sekali aku tidak sampai menikah dengannya, karena le
Baca selengkapnya
Bab 7
Begitu sampai di rumah, aku meletakkan garam dan uang kembalian di meja makan. Tanpa sepatah kata, aku langsung masuk ke kamar untuk menenangkan pikiran. Bisa-bisanya Bu Wenda berpikir aku ini hamil. Astagfirullah, jangankan hamil, dekat dengan lelaki lain saja aku sampai gemetaran. Memang memakai jilbab tidak menjamin perempuan itu salihah, tetapi sungguh aku sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan yang bukan mahram. Saling bertegur sapa dengan teman sekolah saja malu. Ini fitnah! Telepon berdering, itu dari Amel. Segera aku angkat dan menjawab salam. Sekarang sudah jam delapan pagi, tidak biasanya dia menelepon. "Kamu gak berangkat ngaji? Ini aku sudah di rumah Ustaz Hasan." "Astagfirullahalazim!" pekikku, "maaf, aku sampai lupa, Mel. Bisa jemput gak? Kalau jalan kaki takutnya telat." "Kebiasaan. Oke, aku ke sana sekarang." Setelah mematikan ponsel, aku buru-buru mengganti pakaian. Beruntung sehabis salat subuh tadi langsung mandi biar tidak mengantuk ketika murajaah hafala
Baca selengkapnya
Bab 8
"Mau apa kamu ke sini, Mas?" tanyaku setelah mendengkus kesal. Di rumah hanya ada ibu karena Mas Dika dan ayah sudah pergi bekerja. Lelaki yang baru kemarin memutus lamaran datang bertamu ke rumah seorang diri setelah salat dzuhur, katanya kebetulan lewat dan ada niat untuk singgah. "Hayolah, Yumna, jangan terlalu sensitif. Aku sudah menganggapmu teman dan tentu tidak ada salahnya menemuimu. Di rumah juga ada ibumu, 'kan?" Mas Ilham menjawab santai. Aku memalingkan wajah sekilas tanda tidak suka. Dada bergemuruh hebat. Entah karena masih ada rasa atau faktor bawaan yang tidak terbiasa dikunjungi tamu lelaki. Wajah mungkin sudah seperti udang rebus akibat menahan amarah. Ya, aku masih marah pada Mas Ilham yang tindakannya melampaui batas. Usaha untuk melupakan belum berhasil, dia malah sengaja datang ke rumah. Aku jadi curiga, ada motif tersembunyi di balik semua ini. Mungkinkah Mas Ilham itu sedang mencari tumbal? Huh, astagfirullah. Sebenarnya Amel juga ada di sini karena ingin m
Baca selengkapnya
Bab 9
Saat makan malam, aku hanya diam. Tidak ada obrolan hangat seperti yang biasa kami lakukan. Misalnya saja candaan ayah atau tingkah konyol Mas Dika yang bahkan bukan lagi anak kecil. Dulu sebelum lamaran dibatalkan, rumah ini berhias senyum dan kebahagiaan. "Jadi, apa yang akan kamu lakukan sekarang, Yum? Kuliah sudah berhenti, keahlian untuk bekerja juga tidak ada." Mas Dika bertanya seraya menyendokkan nasi ke dalam mulut. "Di rumah menunggu takdir baik sambil fokus ziyadah juga, Mas. Lagi pula aku malu kalau melanjutkan kuliah, teman-teman bisa saja mengejekku." Tetap saja ada rasa menyesal karena meninggalkan bangku kuliah. Padahal ayah dan ibu berharap kedua anaknya bisa meraih gelar sarjana. Minimal Strata 1 dan aku memupuskan harapan itu. Beruntung selama kuliah ada beasiswa, jadi tidak terlalu merugikan pihak keluarga. Aku hanya bisa mengembus napas kasar sambil menatap nanar nasi yang belum tersentuh sama sekali. Sendok hanya berputar mengeliringi nasi putih yang tidak lagi
Baca selengkapnya
Bab 10
Kuejakan sebaris asa dalam lantunan doaDari relung jiwa menggambarkan keinginanMencairkan napas yang tertahan di bening hatiMenepiskan kegamangan dalam perjalanan fanakuSekian waktu kumengembara dalam alam-MuMeniti langkah mencari kisah indah yang hakikiMenanti tanpa letih sebentuk karunia-MuYang akan membawaku pada kesempurnaan diriBerderet kisah indah yang telah kutemuiBerjuta kata bermakna puitis telah kusimakPenggalan bait-bait merujuk dan merayukuLelah dan jemu atas pengagungan sebuah lahiriahBila kelak datang sebentuk cinta atas karunia-MuJauhkanlah dari cinta yang mengagumi lahiriah semataTetapkanlah sebentuk cinta pada jalan rida IlahiYang terbungkus rapi dalam balutan fitrah IlahiMerenyuhkan hati pada sebening asa yang tersiratMerengkuh memeluk sebentuk berkah dari kisah indahMendampingiku dalam menyempurnakan akhlakBerjamaah mendekatkan diri pada rengku
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status