Steve
Saat hamil tiga bulan, aku menemukan bahwa satu-satunya kontak yang disematkan Agus di ponselnya adalah mahasiswinya.
Stiker-stiker lucu yang akhir-akhir ini dia kirim waktu kami ngobrol akhirnya ada penjelasannya.
Aku tidak larut dalam kegalauan. Aku memberi Agus dua pilihan.
“Aku gugurkan kandungan dan kita cerai atau kamu putus hubungan dengannya.”
Agus tak menjawab. Dia mengurung diri di ruang kerja semalaman.
Begitu keluar, matanya merah dan dia berlutut di dekat kakiku.
“Dia nggak tahu apa-apa. Aku yang punya perasaan padanya. Hal seperti itu nggak akan terjadi lagi.”
Enam tahun pacaran dengan penuh perjuangan, masa harus hancur gara-gara hal sepele begini. Aku tidak rela.
Hingga saat aku mengalami kesulitan dalam persalinan dan Agus menerima sebuah telepon.
“Agus, orang tuaku memaksaku menikah. Cepat datang, selamatkan aku.”
Genggamannya di tanganku langsung terlepas dan Agus langsung berlari ke arah pintu.
Dari bawah tubuhku terasa nyeri menusuk. Sambil menggertakkan gigi, aku berteriak,
“Agus, kalau hari ini kamu melangkah keluar dari ruang operasi ini, begitu kembali kita cerai.”
Langkahnya sempat terhenti, tapi dia tetap pergi.
Tangisan bayi pun terdengar dan Agus tetap tidak menoleh.
Saat itu, barulah aku sadar pernikahan tiga tahun ini sudah seharusnya berakhir sejak awal.