Murufu
Pesan terakhir Mbah Wiryo cuma satu: jangan Ragil yang memandikan jenazahnya.
Tapi satu desa menolak menyentuh mayat pemandi jenazah yang sudah empat puluh tahun mengurus orang mati. Terlilit pinjol dan dicap "anak mayit" sejak kecil, Ragil terpaksa mengangkat siwur itu sendiri.
Saat air pertama menyentuh kulit Mbah, tulisan aksara Jawa muncul di tubuh mayat itu. Salah satunya merayap pindah ke pergelangan tangan Ragil.
Sejak malam itu, Ragil bisa membaca rahasia orang mati: cara mereka meninggal, utang yang belum lunas, dan nama asli yang disembunyikan. Tapi setiap membaca, suhu tubuhnya turun. Semakin dingin, semakin dekat dia dengan dunia yang seharusnya tidak ia lihat.
Pocong mulai mengetuk pintu. Juragan keramba yang memelihara pesugihan mengincar pekarangan Mbah. Dan seorang dalang ruwat paling dihormati di Wonogiri tersenyum setiap kali menyebut nama Ragil.
Kemarau tak kunjung reda. Waduk Gajah Mungkur terus surut. Dari dasar lumpurnya, muncul sebuah nisan tua.
Nisan itu bertuliskan nama Ragil.
450