Bayang Pedang Cahaya Bulan
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh.
Ia menghitung detik, menunggu darah di lengannya perlahan mengering, menunggu kekuatan kembali ke kakinya. Sepuluh. Dua puluh. Lima puluh.
Lalu ia berdiri, perlahan, tidak stabil, tetapi tetap berdiri. Ia berjalan kembali menuju celah air, menggigil, basah, berlumuran darah, tetapi tetap melangkah.