RAHASIA IBU
Aku kembali memakai pakaian, hingga suara Bik Inah kembali terdengar, “Kalau diperhatikan, kamu sekilas mirip Tuan Amar.”
Deg!
Wajahku memucat, dan jantung berdegup kencang. Jika Bik Inah saja bisa berpikir demikian, pasti ayah kandungku akan sangat mudah mengenali.
“Tapi di dunia ini, kan memang banyak orang yang mirip,” ucapnya kembali.
Aku tak peduli, kalimat pertama yang terucap di bibirnya lebih aku percaya daripada yang terakhir terucap.