Sentuhan Adik Sahabatku
“Birru!?”
“Nggak apa-apa,” katanya, suaranya tetap tenang meski napasnya pendek-pendek. “A-aku ... cuma alergi.”
“Kamu alergi?” Jennar menatapnya kosong sesaat, lalu panik merambat cepat. “Alergi apa? Sambal? Cabai? Kacang?!”
Birru mengangguk kecil, satu tangannya kini naik ke leher, bukan mencekik, tapi menahan rasa sesak yang mulai datang bergelombang. “Kacang, Mbak.”