Gadis Muda Pengatar Makanan, Selingkuhan Suami CEO-ku
"Bu Naira, tas Birkin pink yang terakhir Ibu lihat sudah datang! Itu warna khusus yang dipesankan oleh suami Ibu, sekarang bisa diambil kapan saja ya!"
Suara sales dari Hermes terdengar antusias sekaligus mendesak.
Aku duduk di sofa sambil menggenggam remot, ujung jariku terasa sedikit dingin. "Yang terakhir kulihat?"
Padahal aku jelas-jelas menunjuk Birkin oranye merah menyala di etalase, lalu membicarakannya pada Davin selama setengah bulan.
"Kamu yakin ... pink?" Suaraku sedikit tercekat.
"Iya, Bu Naira." Nada bicara sang sales terdengar yakin. "Pak Davin sengaja menegaskan, harus warna sakura pink yang paling lembut."
Telepon ditutup.
Aku bangkit dan ingin menelepon Davin, menanyakan apakah dia salah ingat. Namun, kakiku malah menendang sebuah paket yang belum dibuka di bawah meja kerja. Di atas kotaknya tercetak logo yang sangat familiar.
Itu adalah merek lingerie mewah yang sering dia belikan untukku.
Entah kenapa, aku membungkuk dan mengambilnya. Saat pita dibuka, di dalamnya ada bra renda hitam dengan label yang bahkan belum dipotong. Tanpa sadar, aku membalik label ukurannya.
75B.
Di detik itu juga, seluruh darah di tubuhku seperti membeku.
Aku memakai 70C.
Sudah sepuluh tahun.