LOGINPernikahan Ammara di ambang kehancuran, setelah dia memergoki suaminya berselingkuh di hotel. Setelah kejadian tersebut dia pun baru mengetahui kalau dia sedang hamil. Dan ternyata selingkuhan suaminya juga sedang hamil, lalu siapakah yang akan di pilih suaminya?
View MoreSebastian POV:
I got out of the car lazily and took the bags of groceries I bought and made my way to the elevator.I was so tired and exhausted from work today it was Friday evening and I was tired.
I was happy that I finally made it to the weekend. I thought I would pass out at any moment with the numerous work I do.
I wanted to get promoted in my company so I had to work extra hard and stay late nights.
As I made my way to the elevator I saw that it was closing and a woman was in it.
"Hold the elevator please!". I yelled as I hastened my pace,the last thing I wanted was to wait for the elevator,I felt like I could pass out at any moment.
Am sure the woman in the elevator heard it but she made no move to hold it,I saw her narrow her eyes at me so I ran up to the elevator just in time to put my hand between it and it opened again.
I got in the elevator as I took a deep breath. Seriously, she made me run,I haven't seen anyone so inconsiderate of someone else.
I wanted to press the button but I noticed she was going to the same floor as me.
What's wrong with this lady?
''Tsk stupid elevator" I heard her mutter and I glanced over at her after what she did she just tsk at me.
Unbelievable,I can't believe this,she feels no remorse for not helping someone out,it's not as if it's a big deal to hold the elevator.
"Thanks for your help ". I said sarcastically and she tilted her head to the side and glared at me.
Her eyes were as hard as stone,a scowl marred her face. She doesn't want me talking to her. That's for sure, I looked away because her glare was intense.
Something tells me I shouldn't mess with her,she is wearing a leather jacket and black jeans and a pair of black sneakers,I raised an eyebrow at that.
She looks like someone who is going to a funeral,something tells me to stay away from her.
I was giving her side glances because she looked suspicious.
A message popped into her phone and she checked it 'tick' again and put the phone back into her pocket.
We finally got to our stop and the elevator down opened. She was the first to walk out as I followed suit. There was a guy standing in the hallway when he saw her he looked frightened and I saw his leg shake a bit.
Isn't that my neighbor? Before he could say anything she ran and gave him a flying kick right into the face and he staggered back and fell hard to the fall.
"I warned you not to make me come here!". She yelled at the guy writhing in pain on the floor and my eyes widened in surprise.
How could she jump so high? I should be here. I didn't want any trouble.
I stood frozen at the front of the elevator wondering what I should do next.
Calling security in front of her would be a bad idea,I don't want to get involved in something like this so I made my way towards them, I will just walk by as if I didn't see anything,she kicked him in the guy and he held onto his stomach and tried to crawl away and held onto my pants which she kicked his hand away from my trouser.
"Get lost!". She yelled with so much power and I hastened up my steps and then stopped.
She was still kicking the guy who was on the floor and the man that came out the elevator just walked by as if he saw nothing.
"I will call security if you don't stop". I said and she stopped and glanced at me and smirked.
"Oh really?". She asked as she took slow steps towards me and stopped in front of me, invading my personal space.I wanted to move back but it would seem as if I was backing down.
No matter what she's still a woman,I will not back down to any woman no matter how frightening she looks.
"Please let him go, he has nothing to do with this". The guy on the floor said as he tried to stand up.
"You should learn how to mind your own business". She warned me by jabbing her finger on my chest, I didn't even mind at all,the only thing that filled my nostrils was her breath which smelled like strawberry,nice and smoothing and her Cologne I couldn't quite get the scent of.
I dare not say anything because I didn't want the matter to escalate.
"Tsk Idiot".She said as she turned her back to me and walked closer to the guy who was barely standing and held him by the ear as they both walked into the elevator.
I shook my head as to how rude she had been,if there was anything I haven't seen is a man being beaten up by a lady.
Hitting a lady is not in my book nor should be in any man's ,I just don't want to see this lady again.
I got to my apartment door and opened it as I got in, I had forgotten how tired I was when I decided to act like a superhero.
Jantung Andra berdebar kencang, ia tak menyangka akan bisa sedekat itu dengan Ammara. Dulu dia hanya bisa mengagumi kecantikan Ammara dari jauh, tanpa berani mendekat dan memperkenalkan diri.“Udah rapi nih” ujar Ammara, kemudian duduk ke kursi lagi.“Ah, hm, terima kasih ya Ra?”“Ya, sama-sama”“Jadi gimana lanjut nggak nih, interviewnya?” ujar Ammara berseloroh“Nggak usah pakai interview deh, kamu langsung aja kerja hari ini jadi sekretaris pribadi saya”“Beneran ndra? Kamu nggak bohong kan?”“Iya, saya serius, buat apa saya bohong”“Makasih banyak ya ndra?”Andra pun mengangguk, lalu kemudian menelpon seseorang lewat telepon kantornya“Kamu ke ruangan saya sekarang” ucap Andra kepada seseorang di balik telponHingga tak berapa lama datanglah seorang perempuan muda, perutnya besar, mungkin sedang hamil.“Tania, perkenalkan ini Ammara yang nanti akan menggantikan kamu, selama cuti” ujar Andra kepada Tania sang sekretaris lama“Hai, saya Ammara” ujar Ammara sembari mengulurkan tangan
Fandi yang tidak peduli terhadap ucapan Tasya menghempaskantangan Tasya yang memegangnya, lalu mengejar Ammara yang pergi berlalumeninggalkannya dan Tasya, dia tak peduli orang-orang yang melihatnya, diahanya tak ingin bercerai dari Ammara.Waktu yang ditentukan sudah tiba, Ammara yang sudah adadi ruang tunggu pengadilan agama bersama pengacaranya duduk di bangku yangsudah di persiapkan. Hari ini adalah agenda mediasi. Hatinya hancur, dia tidakpernah membayangkan pernikahan akan berakhir dengan cara seperti ini.Fandi yang datang sendirian duduk di sebelah Ammara,hingga pegawai pengadilan agama memanggil nomor antrian yang Ammara pegang, danmeminta mereka masuk ke ruangan mediasi.Fandi dan Ammara yang sama-sama tertunduk lesu kali inimasuk ke ruangan mediasi, secara bersamaan hingga pegawai pengadilan agama memulaiacara mediasi.Fandi yang semenjak tadi terdiam kali ini memohon danberlutu di depan kaki Ammara.“Aku mohon Ammara, aku nggak mau pisah dari kamu. Akumasih cinta sama kamu
Setelah menghempaskan badan Ammara ke atas tempat tidur, Fandi pun dengan leluasa menguasai tubuh istrinya tersebut, Ammara hanya bisa mendesah, sekarang mereka berdua sudah tak berbusana, yang ada hanya kulit bertemu kulit, sudah tidak ada debar-debar di dada, hanya perasaan yang tak ingin berpisah satu sama lainnya, peluh keringat kini menghujani tubuh Fandi dan Ammara yang dipenuhi gairah nafsu. Hingga tibalah di ujung klimaks.Fandi yang kelelahan berusaha memeluk tubuh istrinya tersebut, dan menciumi seluruh wajah cantik Ammara.“Terima kasih ya sayang, semoga kita akan seperti ini selamanya. Aamiin” ucap Fandi sembari menatap mata Ammara yang berada di dalam pelukannya.Ammara yang juga puas terhadap gairah Fandi, tersenyum dan mengangguk bahagia di pelukan Fandi dan di bawah selimut yang menutup tubuh mereka.***Kembali ke masa sekarang.Ammara yang sedang berjalan pergi meninggalkan taman seketika tersadar ketika ada suara klakson mobil, dan Andra menarik tangan Ammara ke dal
maksud kamu apa mas!” ujar Ammara yang segera meletakkan Claire ke dalam stroller.“Safa udah panik nyariin kamu, ternyata kamu enak-enakan di sini main gila sama laki-laki lain” teriak Fandi sambil menunjuk Andra dengan penuh perasaan iri hatiAndra yang dari tadi diam mulai terpancing emosinya “maksud anda apa nuduh saya sama Ammara main gila? Ha!” teriak Andra sambil mendorong dada Fandi“Lo nggak usah ikut campur ya! Lu tu bukan siapa-siapa Ammara, gua suaminya, wajar kalau gue marahin dia!” teriak Fandi kembali seraya ikut-ikutan mendorong dada Andra yang kekar“Suami anda bilang? Suami macam apa anda! Di saat istri anda kehilangan bayi kalian anda ada di mana! Itu yang Anda bilang suami?”“Anda nggak ada hak untuk ngejudge suami saya seperti itu ya? Emang dasar dia nya perempuan nggak bener! ” timpal Tasya yang berada di situ ikut-ikutan membela suaminya dan menjelek-jelekan AmmaraAmmara yang dari tadi emosi berusaha untuk tidak meluapkan semua emosinya, dia menarik napas dala












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews