Godaan Mama Muda
"Kalau begitu, kita main dengan cara yang lebih keras."
Ia kembali ke mejanya, membuka laci, lalu mengeluarkan sebuah amplop.
"Ini," katanya sambil melempar amplop ke mejaku. "Surat pemutusan hubungan kerja."
Deg!
Mataku membesar, napasku tertahan di tenggorokan, tak menyangka bahwa semua ini benar-benar akan terjadi.
Sejujurnya, keinginanku untuk resign dari kantor ini hanyalah gertakan semata. Ancaman kosong yang kuharap cukup untuk membuat Bu Siska mundur, atau setidaknya berpikir ulang.