Suami Adikku, Ayah Anakku
Omongannya tadi hampir saja kutimpali dengan makian, kalau saja enggak ingat anakku bisa saja mendengarnya.
"Aku akan tanggungjawab." Dia mengulang setelah menghela napas. "Kamu benar, aku nggak bisa hadir dan menemani kamu, bertanggungjawab dalam bentuk emosi. Tapi, aku bisa lakuin yang lain."
"Yang lain?" Aku mengarahkan tubuh padanya. Penasaran aku apa yang hendak dia tawarkan.
"Biaya. Obat, vitamin, susu, makanan, check up rutin, biaya bersalin dan nafkah dia setelah lahir."