Terjerat Pesona Papa Temanku
Ada harapan kecil—sangat kecil, bahwa Kaivan akan memanggilnya.
Tapi tidak ada.
Pintu tertutup.
Begitu berada di luar, Arunika berjalan cepat menyusuri lorong. Langkahnya semakin lama semakin goyah. Saat sampai di sudut yang sepi, ia berhenti.
Air matanya jatuh.
Satu tetes, lalu pecah bersamaan.
Arunika menutup mulutnya, bahunya bergetar hebat. Tangisnya tertahan, tapi rasa sakit di dadanya tak bisa dibohongi.