Perjanjian Gelap Dengan Tuan Maheswara
ucapnya, bukan sebagai pertanyaan.
Arunika tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, matanya kosong. Ia telah mematikan perasaannya, menjadikan tubuhnya sekadar cangkang. Ini adalah pembayaran. Sebuah transaksi.
Rakha mengangkat tangannya, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Arunika, memaksanya untuk menatap matanya. Di sana, Arunika tidak melihat nafsu. Ia hanya melihat kekuasaan murni yang dingin. Bibirnya kemudian menyapu bibir Arunika. Itu bukan ciuman, melainkan sebuah klaim. Keras, menuntut, dan tanpa kehangatan sedikit pun, seolah menandai properti miliknya.
Hot Chapters