Duda Tetangga
Wati terkejut, memegang wajahnya sendiri setelah mendengar curhatan Ica.
"Sssst!" Ica memberi kode kepada Wati untuk mengecilkan suaranya. Mata Ica melirik ke arah Caca yang sedang asik memainkan beras. Gadis kecil itu tidak boleh mendengar pembicaraan ini.
Wati mengangguk. "Kok, bisa?"
"Bisa lah, karena cataplexy." Ica menunduk sedih.
Wati ikutan sedih, tapi tak lama wajahnya berseri karena sebuah ide muncul di kepala. Tanpa pikir panjang, Wati pun membisikkan ide gilanya kepada Ica.