SENTUHAN YANG SALAH
"Bersihkan dirimu dan pakai kembali pakaianmu. Kita tidak punya banyak waktu sebelum kunjungan lapangan ke Bogor."
Suara bariton itu kembali seperti semula dingin, datar, penuh otoritas, dan tanpa jejak emosi sama sekali. Sikap kontras itu seolah menampar Anya kembali ke dalam realitas yang kejam. Pria di depannya bukanlah seseorang yang didorong oleh rasa cinta, kasih sayang, atau kelembutan pria ini adalah Aditama Saputra, seorang penguasa korporat yang tahu benar cara memanfaatkan kelemahan terdalam manusia untuk kepuasannya sendiri.