เข้าสู่ระบบImpian Dara untuk tetap menjadi putri keluarga konglomerat yang identitasnya disembunyikan dari media dan hidup sederhana sebagai editor buku hampir musnah karena bosnya, Sagara, secara tiba-tiba dijodohkan dengan kakak perempuannya yang membuat identitasnya akhirnya terkuak. Apakah kehidupan tenang Dara akan sirna karena kehadiran bos sekaligus calon kakak iparnya? Atau bosnya justru membantu Dara untuk menjaga identitas rahasianya? Lantas, bagaimana dengan kehubungan canggung keduanya yang tiba-tiba menjadi calon saudara ipar ini?
ดูเพิ่มเติมChapter 1
My hands were shaking, but I couldn’t afford to let my fingers slip. 98%... 99%... The loading bar on Julian Thorne’s encrypted hard drive crawled at an agonizing pace. I held my breath, the blue light of the monitor reflecting in my eyes, illuminating the dark, sprawling expanse of the CEO’s penthouse office. Downstairs, the Thorne Industries annual gala was in full swing. I was supposed to be pouring champagne, a nameless caterer in a sea of billionaires. Instead, I was plugging a flash drive into the devil’s personal computer, stealing the financial records that would send him to federal prison. 100%. Transfer Complete. "Got you," I whispered, yanking the drive free and slipping it into the lace of my thigh garter beneath my uniform skirt. I turned to leave, my heart hammering against my ribs. "I wouldn't take another step, Miss Vance." The voice was like dark velvet scraping against ice. It didn't come from the door. It came from the shadows in the corner of the room. My blood turned to lead. A single desk lamp clicked on. Julian Thorne was sitting in a leather armchair, a glass of amber whiskey in his hand. He wasn’t wearing his tuxedo jacket. His bowtie was undone, hanging loosely around his neck, and the top buttons of his shirt were open, revealing the faint edge of a dark tattoo on his collarbone. He was breathtakingly gorgeous. And he was the man who drove my father to an early grave. "Mr. Thorne," I managed to say, forcing my voice to remain steady. "I—I was lost. I was looking for the catering kitchen." Julian stood up. He was six-foot-three of pure, predatory grace. He set his glass down, the clink echoing like a gunshot in the silent room. As he walked toward me, the air in the room seemed to evaporate. He smelled of cedarwood, expensive scotch, and danger. He stopped inches from me. I had to tilt my head back to meet his piercing, slate-gray eyes. They were cold, calculating, dissecting me layer by layer. "Lost," he repeated softly. He reached out, his long fingers brushing lightly against the fabric of my skirt, hovering dangerously close to where the flash drive rested against my thigh. I suppressed a shiver. "Yes," I breathed. Julian’s lips curved into a cruel, knowing smile. He leaned in, his mouth hovering just an inch from my ear. His breath was warm, sending a treasonous spike of electricity down my spine. "Tell me, Elara," he whispered. "Do all lost caterers know my personal, 32-character alphanumeric computer password?" My breath hitched. He knows. He stepped back, his eyes flashing with a terrifying darkness. "You have two choices. You can walk out that door, and my security team will hand you over to the FBI for corporate espionage. Or..." "Or what?" I choked out, my facade crumbling. His gaze dropped to my lips, lingering there for a fraction of a second too long. "Or you come to work for me directly. As my personal assistant. You want to see my secrets so badly, Elara? I’ll show them to you." I stared at him, my mind spinning. He was offering me the keys to his kingdom. It was exactly what I wanted. So why did it feel like I had just walked into a trap? "When do I start?" I asked. Julian smiled. "Take off your apron. You start right now."Carissa membuka laci kecil yang terdapat di samping meja belajar. Ia mengambil buku dengan sampul kulit berwarna merah dari laci tersebut dan langsung duduk bersila di lantai, tepat di depan laci tersebut. Ia membuka halaman buku tersebut satu persatu. Sebuah senyuman mulai tertoreh di wajah Carissa bersamaan perhatian wanita itu terpusat kepada buku tersebut. Buku itu merupakan buku jurnal semasa ia masih di bangku kuliah. Terdapat beberapa foto dan deskripsi singkat mengenai peristiwa yang tertangkap pada foto tersebut.Senyuman Carissa sedikit memudar ketika ia melihat foto dirinya yang sedang tersenyum sumringah di samping pria yang sedang merangkul bahunya.“Ngapain lo? Lagi wisata kenangan ya?” celetuk Gavin yang langsung masuk ke kamar Carissa tanpa izin begitu melihat celah pintu yang tidak tertutup rapat. “Ngetuk dulu bisa gak? Kayak gak diajarin sopan santun aja lo, bocah!” omel Carissa. Yang diomeli hanya tertawa cengengesan bak tanpa bermasalah. Carissa juga hanya memara
Tidak ada sedetik pun Dara dan Sagara menyadari kehadiran Carissa yang sudah berdiri dengan manis di daun pintu sembari tersenyum melihat keduanya keasyikkan bercanda tawa. Dengan sigap, Carissa mengeluarkan ponselnya dan langsung membuka aplikasi kamera untuk memotret momen gemas antara sang adik dan calon tunangannya itu. Tidak mau gerak-geriknya ketahuan, Carissa pergi dari menjauh dari Kamar Dara dan menuju ke ruang makan yang ada di lantai bawah untuk menunjukkan foto tersebut ke Mamanya.“Mah, liat deh,” sahut Carissa sembari menjulurkan ponselnya ke depan wajah Mama. Mama yang sedang tidak menggunakan kacamatanya itu memicingkan mata. “Siapa itu?” tanya Mama polos. “Sagara sama Dara lagi asik ngobrol sambil liatin foto-foto Dara pas masih SMA. Mana Dara dibilang imut lagi,” ucap Carissa mencoba menggiring opini. Bukan reaksi yang diharapkan oleh Carissa yang keluar dari Mamanya. Sang Mama malah tersenyum bangga. “Bagus dong mer
“Mah, Sagara udah dateng,” sahut Carissa dengan nada acuh tak acuh untuk memberitahu kepada Ibunya bahwa tamu yang ditunggu-tunggu sudah datang.Ibu dari empat bersaudara itu langsung tersenyum sumringah dan menghentikan kegiatan memotong sayurnya sementara. “Eh, Nak Sagara sudah sampai. Tunggu ya, sebentar lagi jadi ini masakannya. Tante buat sendiri loh semuanya!” seru Mama.Sagara tertawa kecil. Sekedar basa-basi karena pria itu merasa canggung pergi ke rumah seseorang tanpa ditemani oleh kedua orang tuanya. “Santai aja, Tante, masaknya,” sahut Sagara.“Daripada Sagara bosen nunggu, mending kamu aja keliling rumah aja, Car,”saran Mama.Carissa tentu saja tidak mengelakkan permintaan Mamanya tersebut. Ia menoleh ke arah Sagara dan memberikan yang seolah-olah menyuruh pria itu untuk mengikutinya.“Lo keliling sendiri deh. Gue mau mandi dulu,” ucap Carissa setelah keduanya keluar dari area dapur. Sagara langsung mengerutkan dahi
“Ah… Lega…”Dara sudah bisa merekahkah senyum leganya ketika panggilan alam yang sedari tadi meraung-raung untuk dikeluarkan terpenuhi juga. Ia sibuk bertemu dengan penulis-penulis baru yang akan menandatangi kontrak dengan Darwis Publishing. Terkesan tidak sopan jika ia izin ke toilet di waktu diskusi.Wanita itu segera keluar dari bilik toilet dan menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Tak lama setelah itu, pintu toilet terbuka dan masuk lah seseorang. Dara langsung membelalakan matanya ketika melihat sosok yang masuk ke kamar mandi dari bayangan kaca. “Mba Sharleen…” Sapa Dara ketika mata dirinya dan Sharleen tidak sengaja bertemu melalui bayangan kaca.Sharleen membalas sapaan tersenyum hanya dengan senyum simpul lalu berdiri di wastafel sebelah Dara. Ia mengeluarkan tas riasannya dan mulai melakukan touch-up.“Gue temen kuliahnya Sagara. Kita satu kampus dulu, lo tahu, kan?” ucap Sharleen membuka topik pembicaraan.Dara s
“Woy! Woy! Kalem dulu, jangan langsung emosi,” sahut Dara panik karena takut kakaknya itu salah paham.Carissa tertawa melihat raut wajah panik Dara yang terlalu ketara. Tentu saja, sebagai kakak, kurang rasanya jika tidak menggoda adiknya. “Lo kalo mau sama Sagara kenapa gak bilang pas makan malem
“Pak!” seru Dara yang terkejut karena status melajangnya tiba-tiba berubah hanya dengan satu kalimat yang diucapkan oleh Sagara.Sagara meletakan jari telunjuknya di bibir tebal miliknya itu. Menandakan bahwa ia meminta agar Dara ikut dalam sandiwara buatannya yang mendadak itu. Tentu saja, Dara ha
"Ada apa nih?"Dara menoleh pada salah satu rekannya, Shana, yang menyenggol bahunya sambil mengerling. "Ada apa emangnya?"“Pak Sagara dari tadi senyam-senyum ngeliatin lo. Sadar gak?” Yang ditanya hanya mengernyitkan dahinya meskipun ia tahu dengan jelas apa yang dimaksud oleh Shana. Ia masih ti
Dara menengok dengan cepat ke arah Sagara. Tidak lupa dengan mata membelalak khas sitkom komedi ketika sedang terkejut. “Gimana pak?” tanya Dara memastikan bahwa wanita itu tidak salah dengar.“Saya mending dijodohin sama kamu,” jelas Sagara mengucapkan ulang kalimat yang sebelumnya telah ia lontark












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.