1KG BERAS DARI IBU
Darah segar mengalir dari luka di setiap tubunya, hingga membasahi lantai kamar yang berkeramik putih.
Bibir dan kedua matanya pun membengkak dengan darah segar mengalir. Bahar terbatuk-batuk dan memuncratkan darah dari mulutnya. Namun, Diaz tak peduli itu. Ia lihat ibunya terengah, sama seperti dirinya. Lalu tatapannya beralih pada baskom berisi air dan cabai yang teronggok di kasur.
Diaz hanya tersenyum kecil lalu menggeleng-geleng kepala. Sedangkan, di lantai, Ririn masih menjerit-jerit kesakitan dan kepanasan.