Baby siter di Indonesia bukan sekadar profesi, tapi sudah jadi bagian dari dinamika keluarga urban. Aku perhatikan banyak ibu muda di komunitas online curhat tentang sulitnya cari pengasuh yang bisa diajak 'nyambung' culturally—misalnya paham bahasa gaul, bisa nemenin anak nonton 'Tayo the Little Bus', atau bahkan bikin konten TikTok lucu bareng si kecil. Fenomena ini bikin persyaratan baby siter sekarang nggak cuma soal bisa ganti popok, tapi juga melek tren kekinian.
Yang menarik, beberapa akun Instagram baby siter malah punya followers ribuan karena sering upload aktivitas kreatif mereka ngajar balita nyanyi lagu 'Baby Shark' versi remix atau bikin craft Dari barang bekas. Jadi semacam digital footprint buat menarik klien baru. Aku sendiri pernah lihat lowongan baby siter yang mensyaratkan 'harus bisa bikin reels'—tanda zaman memang berubah!