Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia
Dan pagi itu, di ruangan kecil penuh kertas dan laptop tua, dua orang duduk berhadapan—tanpa urusan pekerjaan, tanpa tenggat, hanya secangkir kopi, tiga empat potong batagor, dan percakapan ringan yang mengalir seperti Bandung yang sedang tidak tergesa-gesa.
Sari menyodorkan cangkir kopi ke arah Bumi. Uapnya naik perlahan, aromanya menenangkan.
“Coba tebak, kopi ini rasa apa?” tanya Sari, matanya menyipit menggoda.
Bumi mencium aromanya dulu sebelum menyesap sedikit. Ia mengangguk pelan. “Hmm… robusta. Dan kamu tambahkan sedikit kayu manis.”
الفصول الرائجة